Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Menyelamatkan Elina dan Muncul Pengawal (Revisi)


__ADS_3

"Lepaskan aku!!" Elina berteriak dengan keras dan mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman manajer ktv.


Beberapa saat sebelumnya, Elina sedang duduk sambil mengamati orang yang dia curigai sebagai pengedar obat-obatan.


Kemudian terjadi kerusuhan di lantai dua di mana Yasir berteriak dengan suara keras dan muncul banyak pengawal di sekiranya. Elina tetap duduk di tempatnya karena itu bukan urusannya.


Tapi tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seorang pria yang seperti wanita dengan paksa menuju suatu ruangan yang mencurigakan.


"Apa aku dipaksa untuk melayani pria tua itu!?" Elina membelalakkan matanya karena berpikir kalau dia akan menjadi wanita penghibur bagi pria tua di depannya.


Pria tua yang Elina maksud adalah Yasir yang sedang merokok dengan cerutu dan di atas meja ada banyak sekali botol-botol minuman keras yang berserakan.


"Oh? Wanita yang cantik! Manajer, kamu sudah melakukan pekerjaanmu dengan bagus!" Yasir menatap Elina dengan mata penuh nafsu.


Yasir sudah meminum banyak alkohol setelah kejadian barusan, jadi sekarang dia sudah mabuk parah dan pikirannya hanya dipenuhi dengan kesenangan saja.


Hal ini membuat dia tidak bisa mengenali Elina meskipun dia sudah sering bertemu dengannya saat menyerahkan laporan kepada Deva.


Tapi Elina bisa mengenali Yasir hanya dalam satu pandangan. Dia terkejut dengan kemunculan salah satu petinggi Perusahaan Fiota Grup tempat dia bekerja.


"Jadi itu sebabnya Azam ada di sini. Lalu, apa keributan tadi disebabkan oleh Azam?" Elina langsung berpikir kalau ini ada sangkut pautnya dengan Azam.


Kemudian dia menjadi kesal karena gara-gara Azam dia bisa sampai ke ruangan ini. Dia melihat seisi ruangan mencoba mencari kesempatan untuk kabur dari sana.


"Kemu mau ke mana?" Yasir memegangi tangan Elina dan berkata dengan senyum penuh nafsu di wajahnya.


"Lepaskan aku, sialan!" Elina menarik tangan yang dipegang oleh Yasir mencoba untuk melepaskan diri. Tapi cengkraman tangan Yasir sangat kuat sehingga dia kesulitan.


Elina sampai mengeluarkan air mata karena dia ketakutan. Wanita mana yang tidak takut saat berada di dalam sebuah ruangan yang ada pria mabuk, apalagi pria itu adalah pria tua yang gemuk.


...----------------...


Sementara itu di tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan dua. Azam sedang berhadapan dengan dua orang pengawal dengan perawakan tubuh yang besar dan tinggi.


"Kamu siapa?" Salah satu pengawal bertanya dengan nada agresif yang tidak disukai oleh Azam.

__ADS_1


Alasannya adalah karena pengawal itu habis kena marah dari Yasir karena membiarkan ada kamera mini tanpa sepengetahuan para pengawal meskipun mereka ada cukup banyak.


"Aku? Ayahmu." Azam mengangkat wajahnya dan berkata dengan nada sombong.


Sekarang dia sedang memakai masker berwarna hitam yang menutupi sebagai besar wajahnya. Hal ini dia lakukan agar tidak ada yang mengetahui identitasnya dari melihat wajahnya.


Memang tidak ada kamera CCTV di sini, tapi jika ada orang yang melihat wajahnya, pasti orang tersebut akan mengatakan kepada Yasir.


Dengan kekuasaan dan otoritas Yasir sebagai salah satu petinggi Perusahaan Fiota Grup, dia bisa saja menemukan Azam dengan mudah. Apalagi Fiota Grup adalah perusahaan media dengan banyak informasi.


Azam tidak mau kehidupannya terancam gara-gara masalah kecil ini. Jadi dia harus berhati-hati sekaligus waspada dan berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Sialan! Anak muda zaman sekarang memang tidak tahu sopan santun!" Pengawal itu sangat marah dengan perkataan Azam, dia memegang bahu Azam dan menekannya dengan keras.


"Perbedaan berat memang berpengaruh," batin Azam. Dia bisa merasakan kalau tubuhnya akan segera jatuh jika dia tidak menahannya karena tekanan dari tangan pengawal sangat berat.


"Tapi, aku juga bukan orang lemah!" Azam menyeringai. Dia menendang perut pengawal itu dengan kaki kanannya dengan keras sampai tersungkur ke lantai.


Lalu Azam melompat ke samping menghindari pukulan dari pengawal yang lain. Setelah itu dia menendang belakang lututnya dengan keras, dan memukul wajahnya.


"Yah, aku cuma orang lewat. Majikanmu itu sudah berbuat kejahatan, jadi kalian diam saja di sini jika tidak mau terlibat dengan polisi," kata Azam, dia segera naik ke lantai dua dengan cepat.


"Sistem, cari uang milik Elina!" Azam segera memberi perintah kepada Sistem untuk mencari uang milik Elina agar dia bisa menemukan lokasinya.


[Ditemukan uang sebesar 300 ribu rupiah milik Elina dalam jarak 9 meter dari Host.] Tanpa basa-basi, Sistem segera melakukan perintah dari Azam.


"Oke." Azam berhenti di depan pintu ruangan tempat Elina berada. Saat dia hendak mendobrak pintu secara paksa, dia mendengar teriakan Elina dan perkataannya.


Azam menyeringai karena dia kepikiran ide yang bagus, dia segera mengambil kamera mini yang lain dari sakunya dan menaruhnya di kerah bajunya yang berwarna hitam yang membuat kamera mininya tersamarkan.


Baru setelah itu Azam mengangkat kaki kanannya, dia mengumpulkan banyak kekuatan di kakinya, lalu dia segera menendang pintu ruangan di depannya dengan sekuat tenaga.


*BOOM!


Pintu ruangan terhempas dengan kencang ke belakang, tendangan Azam begitu kuat sampai bisa menghancurkan kusen pintu tersebut.

__ADS_1


Pintu sudah disingkirkan, dan pada saa ini kamera mini di kerah baju Azam bisa merekam apa yang sedang terjadi di dalam ruangan, yaitu Yasir yang sedang memegangi tangan Elina.


"Siapa kamu!?" Yasir menjadi marah karena kesenangannya terganggu. Hal ini juga membuat rasa mabuknya berkurang dan sudah sedikit sadar.


"Hey! Pakai masker!" Azam melemparkan masker kepada Elina tanpa menyebut namanya karena tahu kalau Yasir pasti akan mengenali Elina jika dia menyebut namanya.


Dia juga menutupi sebagian kamera mininya agar wajah Elina tidak direkam sebelum dia memakai maskernya agar tidak jadi masalah kenapa sekretaris Deva ada di Magic KTV.


"Ah, ya!" Elina juga paham dengan apa yang terjadi, dia langsung menangkap masker yang dilempar oleh Azam dan segera dipakai di wajahnya.


"Aku tanya siapa kamu!?" Yasir menjadi semakin marah, dia berdiri, mengambil botol alkohol di atas meja dan bersiap untuk menyerang Azam.


"Aku orang lewat!" Azam menunduk untuk menghindari serangan Yasir. Kemudian dia menarik tangan Elina dan berlari dari ruangan itu.


"Jangan lari!!" Yasir hendak mengejar Azam dan Elina tapi dia tersandung botol alkohol yang tergeletak di lantai yang membuatnya tersungkur ke lantai.


"Kenapa kita lari!?" Elina berteriak dengan bingung, karena dia berpikir kalau tadi adalah kesempatan yang bagus untuk menjatuhkan Yasir.


"Kamu bodoh atau gimana? Kalau kita menyerang Yasir, kita juga bakal kena masalah. Untuk sekarang, rekaman tadi sudah cukup, ayo pergi." Azam menjelaskan alasan kenapa dia lari daripada bertarung dengan Yasir.


Karena rekaman ini akan Azam serahkan kepada Deva dan dia yakin juga kalau Deva akan menyebarkan rekaman ini menggunakan Fiota Grup.


Azam bisa saja merekam semua kejadian yang terjadi dan dia hanya tinggal memotong videonya jika ada bagian yang tidak diinginkan.


Tapi hal ini akan membuat orang-orang yang menontonnya merasa curiga kepada Fiota Grup mengapa mereka memotong beberapa bagian video yang disebarkan.


"Ah, benar juga." Elina tersadar. Kemudian dia berpikir kalau dia masih belum berpengalaman dalam hal semacam ini meskipun sudah cukup lama bekerja di Perusahaan Fiota Grup.


Lalu Elina melirik Azam, meskipun usia Azam masih 18 tahun, tapi Elina merasa kalau Azam seperti sudah dewasa saat melihat pemikiran Azam yang sudah sangat dewasa, tidak seperti remaja seusianya.


"Pintu keluar sudah ada di depan, ayo lari lebih cepat." Azam melepaskan tangan Elina, kemudian mereka berdua berlari dengan cepat menuju pintu keluar ktv.


Tapi pada saat ini ada banyak pengawal yang masuk ke dalam ktv, para pengawal itu langsung melihat ke arah Azam dan Elina yang sedang berlari.


"Oh sial," kata Azam.

__ADS_1


__ADS_2