
"100 juta untuk informasi lengkap," pikir Azam sambil menyetir mobil untuk menjemput Vanessa di Tangerang karena dia dikirim pesan olehnya barusan.
...----------------...
Beberapa waktu sebelumnya, saat Azam masih berada di rumah Devina. Dia sedang memikirkan apakah dia harus menerima pekerjaan tentang penyelidikan Yasir dari Deva atau tidak.
Imbalan 100 juta itu sangat menggiurkan apalagi untuk Azam yang sedang kekurangan uang untuk pembangunan Panti Asuhan Matahari.
Jadi setelah mempertimbangkan pro dan kontra, Azam memutuskan untuk menerima pekerjaan tersebut. Selain karena dia butuh uang, dia juga perlu melakukan itu untuk menaikkan level.
Dia masih terjebak di level 2, Sistem juga tidak tahu berapa lama lagi yang waktu yang dibutuhkan untuk naik ke level selanjutnya, jadi Azam harus terus mencoba.
"Pak, aku menerima pekerjaan ini. Tapi, berapa batas waktunya?" Azam bertanya karena dia ingin istirahat sebentar setelah melakukan penyelidikan kalung zamrud.
"Hm, satu bulan adalah batas waktu terlama. Bagaimana? Bisakah kamu menyelesaikannya dalam waktu satu bulan?" tanya Deva kepada Azam.
"Satu bulan? Itu cukup, oke, aku terima." Azam menganggukkan kepalanya karena merasa kalau satu bulan itu sudah lebih dari cukup.
Mungkin akan sulit jika dia melakukan penyelidikan dengan cara biasa, tapi dia punya Sistem Pemindai yang bisa memindai sekitar dengan sangat akurat.
Jadi Azam percaya diri bisa memberikan hasil yang memuaskan hanya dalam waktu kurang dari satu bulan dengan bantuan Sistem Pemindai.
"Bagus, kirim hasil penyelidikannya ke alamat email atau nomor ini." Deva memberikan kartu namanya kepada Azam.
"Oke." Azam mengangguk, dia menerima kartu nama tersebut dan disimpan di dalam sakunya.
Mereka berdua berbincang-bincang sebentar, Devina tidak bergabung dan hanya mendengarkan dari samping. Setengah jam kemudian, Azam beranjak dari sofa dan keluar dari sana.
...----------------...
Kembali ke waktu sekarang, Azam sedang melaju dengan kencang menuju Tangerang untuk menjemput Vanessa. Butuh waktu hampir satu jam dengan mobil, dan ini jika tidak ada kemacetan.
__ADS_1
Azam mengemudi dengan cepat sambil memindai sekitar. Tapi karena kecepatan Ferrari yang sangat cepat, Sistem jadi tidak bisa mengimbanginya.
Baru satu jam kemudian, Azam sampai di Tangerang dan saat ini dia berada di depan salah satu hotel terkenal di sana. Azam menunggu Vanessa di dalam mobil karena Vanessa berkata kalau dia sedang turun.
Kemudian, seorang wanita cantik berambut pendek dengan pakaian yang sangat indah keluar dari pintu Hotel. Dia adalah Vanessa yang baru saja keluar setelah selesai melakukan pertemuan.
"Azam, menunggu lama?" Vanessa membuka pintu mobil dan bertanya kepada Azam. Dia langsung mengenali Ferrari miliknya hanya dalam satu pandangan.
"Tidak, baru sampai. Mau langsung pulang?" tanya Azam kepada Vanessa sambil menyalakan mesin mobil.
Vanessa berpikir sejenak, lalu dia bertanya kepada Azam, "Makan dulu, eh, mau makan di restoran atau di mobil sambil pulang?"
"Restoran, aku juga belum makan." Azam menjawab sambil menyetir mobil keluar dari area hotel.
"Oke, pergi ke sini." Vanessa mengangguk, dia mengatakan alamat sebuah restoran yang dia suka kepada Azam.
Azam mengangguk, dia segera pergi ke alamat yang dikatakan oleh Vanessa. Tidak butuh waktu lama sebelum mereka sampai ke sana. Azam memarkirkan mobilnya di area parkir dan mereka berdua masuk ke dalam restoran.
"Um, belum." Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baik, apakah kalian ingin makan di lantai satu atau di lantai dua?" tanya pelayan kepada mereka berdua.
"Lantai dua." Vanessa langsung menjawab tanpa berpikir.
Karena ada perbedaan antara lantai satu dan lantai dua. Lantai satu adalah tempat umum di mana semua pelanggan bisa makan di sana tanpa harus mengeluarkan uang tambahan.
Sementara itu lantai dua adalah sebuah ruangan pribadi jika pelanggan ingin makan dengan privasi dan suasananya yang tenang. Di lantai dua, pelanggan harus mengeluarkan uang lebih.
Vanessa tentu saja memilih untuk makan di lantai dua karena dia punya uang. Di lantai dua juga bisa makan lebih nyaman tanpa resah karena suara-suara dari pelanggan lain seperti di lantai satu.
"Baik, silakan ikuti saya." Pelayan itu mengangguk dan mengantarkan mereka berdua ke lantai dua, ke salah satu ruangan yang ada di dekat tangga.
__ADS_1
Kemudian Azam dan Vanessa memesan sesuatu yang mereka inginkan. Azam memesan banyak makanan karena dia sangat lapar karena belum makan dari tadi, dan setengah jam kemudian, makanan diantar.
"Azam, pesananmu banyak sekali." Vanessa tertegun saat melihat makanan yang dipesan oleh Azam karena itu sangatlah banyak.
"Hehe, aku lapar sekali." Azam tersenyum, kemudian dia langsung mulai makan. Dia makan dengan lahap, bahkan dia terlihat seperti langsung menelannya karena makannya yang sangat cepat.
Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia mengambil garpu dan pisau di samping, lalu dia juga mulai memakan makanan yang dia pesan.
"Azam, aku sudah berbicara dengan ayahku terkait pertemuan amal. Ayahku berkata kalau pertemuannya bisa dilakukan lusa," kata Vanessa kepada Azam.
Rencananya, ayah Vanessa yang akan mengadakan pertemuan amal dan akan mengundang semua pengusaha atau orang kaya lainnya ke dalam pertemuan ini.
Dan nanti Azam bisa mendaftarkan Panti Asuhan Matahari sebagai penerima donasi dari para orang kaya yang memberikan uang mereka di dalam pertemuan amal ini.
"Lusa? Oke, aku bisa. Gimana cara mendaftarnya?" Azam bertanya karena dia tidak pernah terlibat dalam pertemuan amal.
"Ah, kamu kirim saja informasi tentang Panti Asuhan Matahari, nanti biar Ayahku yang mengurusnya," jawab Vanessa atas pertanyaan Azam.
"Okelah, aku akan kirimkan ke email mu." Azam mengangguk paham.
Mereka makan sambil berbincang-bincang dengan santai. Karena mereka ada di ruangan pribadi, suasananya sangat nyaman tanpa ada gangguan, apalagi saat sinar matahari masuk lewat jendela.
Setelah selesai makan, mereka langsung turun untuk membayar biaya makanan yang mereka pesan masing-masing. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil dan pulang ke apartemen.
Di sepanjang perjalanan, Vanessa tertidur dengan pulas, Azam menyalakan musik yang menenangkan dan tidak bersuara agar tidak mengganggunya Vanessa.
"Hm, mungkin dia sangat lelah. Tapi yah, aku juga lelah. Aku bakal langsung tidur setelah sampai di apartemen," batin Azam sambil menguap karena dia benar-benar lelah.
Karena hari ini ada cukup banyak kegiatan, mulai dari penyelidikan kalung zamrud yang hilang, dikejar oleh warga karena dianggap maling, bertamu ayan Devina, dan menjemput Vanessa dari Tangerang.
Semua itu terjadi secara berurutan sehingga Azam sama sekali tidak punya waktu untuk beristirahat. Itulah mengapa tenaganya sedang terkuras drastis saat ini.
__ADS_1