Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Menjenguk Dinda yang ada di Rumah Sakit


__ADS_3

Saat sudah dekat dengan rumah sakit, Azam melihat ada toko buah di pinggir jalan. Jadi Azam berhenti sejenak untuk membeli beberapa buah untuk Dinda karena Dinda butuh banyak vitamin.


"Terima kasih." Azam berterima kasih kepada penjual setelah membayar buah-buahan yang sudah dia beli. Kemudian, dia keluar dari toko dan masuk ke dalam mobil.


"Sudah?" tanya Vanessa yang ada di dalam mobil.


"Ya, sudah." Azam mengangguk. Dia menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas menuju rumah sakit yang sudah dekat.


...----------------...


Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati cukup sampai hari ini. Azam segera pergi ke area parkir untuk memarkirkan mobil. Lalu mereka keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam gedung.


"Cukup ramai di sini," kata Vanessa sambil melihat ke sekeliling yang ada cukup banyak orang.


"Ya. Tapi santai saja, kita ada lantai VIP." Azam tersenyum dan membalas.


Mereka menggunakan lift untuk pergi ke lantai VIP. Kemudian, setelah keluar dari lift, mereka bertemu dengan Astri. Azam melihat kalau Astri sedang berbicara dengan suster yang baru saja keluar dari kamar.


"Bu Astri!" panggil Azam setelah mereka berjalan menghampiri Astri.


"Azam!" Astri terkejut dengan kedatangan Azam. Dia menganggukkan kepalanya kepada suster tadi, lalu meminta Azam dan Vanessa untuk masuk ke dal bangsal.


"Azam!" Di dalam bangsal juga ada Adeng yang sedang menyuapi Dinda makan bubur lembut. Dia sama seperti Astri yang terkejut dengan kedatangan Azam.


"Halo Kek." Azam tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Adeng.


Dinda juga senang dengan kedatangan Azam. Dia sudah tau dari Adeng kalau biaya pengobatannya dibayar oleh Azam. Jadi, Dinda sangat ingin berterima kasih, tapi tidak bisa karena Azam tidak kunjung datang.


"Dinda, maaf ya kakak baru datang. Soalnya Kakak harus bekerja. Tapi Dinda tentang saja, seharian ini Kakak akan ada di rumah sakit," kata Azam dengan tersenyum sambil mengelus-elus kepala Dinda


"Um!" Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Lalu dia berkata, "Tidak apa-apa! Dinda juga mau berterima kasih karena sudah membayar biaya pengobatan Dinda!"

__ADS_1


Dinda tersenyum polos yang membuat hati siapapun yang melihatnya meleleh. Lalu, Dinda melihat kalau ada wanita asing di samping Azam yang tidak dia kenali.


Jadi Dinda bertanya, "Kak Azam, siapa ini?"


Azam menepuk dahinya dan berkata, "Aku lupa! Kakek, Bu Astri, Dinda, ini temanku Vanessa!"


Vanessa menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu dia berkata, "Halo semaunya, aku Vanessa, teman Azam."


Adeng dan Astri memiliki senyum cerah di wajah mereka sekarang. Dia sangat bahagia karena Azam mempunyai teman, apalagi temannya adalah seorang wanita yang sangat cantik.


Adeng dan Astri adalah pengurus panti asuhan sejak awal. Jadi mereka juga tahu bagaimana perlakuan anak yatim piatu di masyarakat.


Mereka takut Azam tidak bisa menemukan teman sebaya karena kondisinya yang merupakan seorang yatim piatu. Jadi sekarang, mereka sangat bahagia karena akhirnya Azam bisa hidup seperti remaja yang lain.


"Oh iya, Kakek. Vanessa itu yang meminjami aku mobil," kata Azam kepada Adeng karena saat itu Adeng bertanya tentang mobil milik siapa yang dikendarai oleh Azam.


"Oh, jadi itu kamu? Terima kasih ya." Adeng sedikit terkejut karena tidak menyangka kalau pemilik mobil itu adalah Vanessa. Dia kira malah seorang pria seperti Azam.


"Hahaha, panggil saja Kakek sama seperti Azam." Adeng menyentuh janggutnya dan berkata dengan wajah bahagia.


"Oke, Kek." Vanessa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mereka berbincang-bincang dengan canda tawa. Namun Azam tidak bergabung dengan obrolan karena dari tadi Adeng, Astri, dan Dinda selalu mengajukan pertanyaan kepada Vanessa, bukan dirinya.


Hal ini membuat Azam hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berdiri dan keluar dari bangsal untuk menghirup udara segar. Kemudian dia bertemu dengan seorang wanita yang familiar.


"Kamu... Azam kan?" Wanita yang mengenakan kemeja biru dengan jas panjang berwarna putih bertanya kepada Azam dengan ragu-ragu.


"Ya, ini aku. Dokter Susan." Azam tersenyum sopan, lalu dia mengangguk.


"Nah, pas sekali. Lihat ini." Susan memberi sebuah dokumen yang dia bawa kepada Azam. Kemudian dia duduk di bangku yang ada di depan bangsal.

__ADS_1


Azam mengangkat alisnya, dia segera membuka segel dokumen dan mengeluarkan kertas-kertasnya. Setelah itu, dia segera membaca isi dari dokumen tersebut dengan serius karena takut kalau ada informasi yang terlewat.


"Dinda bisa pulang?" kata Azam dengan gembira. Karena dokumen tersebut berisi kalau Dinda sudah boleh pulang dari rumah sakit.


"Ya. Tapi ada beberapa hal yang perlu dikatakan," angguk Susan. Azam memasukkan kertas-kertasnya kembali, lalu dia segera duduk di sebelah Susan.


Susan lalu berkata, "Dinda punya otot-otot tubuh yang lemah. Jadi disarankan untuk jangan melakukan hal berat," kata Susan dengan serius.


"Pasti." Azam mengangguk dengan serius.


"Lalu, sudah beberapa kali aku mengobrol sama Dinda. Dia memang tidak cocok di pekerjaan yang butuh banyak gerak. Tapi, dia cocok sebagai konsultan atau psikiater karena dia sangat peka terhadap emosi dan perasaan," kata Susan sambil tersenyum.


"Oh ya?" Azam mengangkat alisnya karena sedikit terkejut dengan perkataan Susan. Tapi ini adalah hal yang bagus karena Azam bisa tahu ke mana arah perkembangan Dinda.


"Ya. Itu saja yang aku ingin katakan, sampai jumpa lagi." Susan berdiri, kemudian dia mengambil langkah pergi sambil melambaikan tangannya.


"Terima kasih." Azam berdiri juga dan membungkukkan badannya sedikit sebagai ucapan terima kasih kepada Susan.


Kemudian, Azam duduk lagi. Dia sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar perkataan dari Susan. Dia belum tahu apa tujuan atau impian anak-anak di panti asuhan.


Hal ini membuat Azam ingin melakukan sesuatu agar anak-anak panti asuhan bisa menjadi orang yang terarah di masa depan dan agar mereka tidak bingung atau tersesat di jalan yang salah.


"Tapi yah, mari kita pikirkan ini nanti. Bangun ulang bangunan panti saja belum, malah memikirkan hal ini," batin Azam. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pemikiran yang tidak perlu.


Lalu Azam berdiri dan masuk ke dalam bangsal. Dia segera memberikan sudah izin pulang kepada Adeng dan Astri. Lalu dia melihat kalau Dinda sangat akrab dengan Vanessa.


"Kak Azam! Kak Vanessa punya banyak cerita yang menarik!" Dinda berkata kepada Azam dengan mata yang berbinar-binar.


"Oh ya?" Azam mengangkat alisnya, kemudian dia mengambil kursi dan duduk di sebelah mereka.


Setelah mendengar cerita dari Vanessa, Azam akhirnya tahu. Kalau Vanessa menceritakan beberapa ide yang ada di dalam kepalanya saat dia sedang memberi inspirasi untuk menulis novel.

__ADS_1


"Yah, otak seorang penulis memang berbeda," batin Azam yang kagum dengan berbagai ide-ide menarik yang dikatakan oleh Vanessa kepada Dinda.


__ADS_2