Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Mencari Editor untuk Foto dan Video Berkuda


__ADS_3

Azam dan Vanessa berpisah dengan Devina setelah makan siang, karena Devina masih perlu berlatih berkuda. Meskipun tidak sedang ada kompetisi, tapi Devina tetap rajin berlatih selama beberapa kali seminggu.


Tapi yang membuat Azam terkejut adalah perkembangan hubungan antara Vanessa dengan Devina. Mereka berdua sudah dekat, bahkan sudah saling bertukar nomor ponsel dan akun sosial media.


Nah sekarang, setelah berpisah dengan Devina, Azam dan Vanessa sedang duduk di bangku taman. Mereka berdua sedang mencari apakah ada editor yang sedang mencari pekerjaan.


"Kenapa kamu tidak mencari pekerja freelance saja? Pasti ada banyak editor yang siap menerima pekerjaan darimu." tanya Vanessa kepada Azam.


"Hm, apapun itu aku tidak masalah sebenarnya. Yang penting aku bisa bertemu dengan orangnya. Entah kenapa aku kurang percaya sama orang yang tidak aku temui," ungkap Azam sambil menghela napas panjang.


"Yah, kamu benar. Meskipun sekarang zamannya online, tapi aku masih kurang percaya. Bahkan saat belanja online, aku cari toko yang sudah terverifikasi," balas Vanessa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nah kan? Kalau hanya mencari freelance mudah sekali, tapi yang bisa bertemu cukup sulit," kata Azam.


Setelah beberapa saat mencari, mereka tidak kunjung menemukan editor yang bisa diajak bertemu. Jadi, Azam dan Vanessa memutuskan untuk pulang saja.


Tapi saat mereka hendak naik motor, ponsel Azam berdering. Azam memeriksanya dan melihat kalau Rafa yang menelepon. Jadi dia menekan tombol jawab dengan ibu jarinya.


"Halo, Azam?" panggil Rafa kepada Azam setelah panggilan terhubung.


"Rafa, kenapa?" sahut Azam. Dia penasaran kenapa Rafa meneleponnya karena mereka berdua selalu membalas chat, bukan telepon.


"Aku mau bertanya! Kamu bakal tanding kuda besok!?" tanya Rafa dengan suara keras yang membuat Azam menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Gimana kamu bisa tahu?" tanya Azam sambil mengerutkan keningnya. Karena dia tidak memberitahu siapapun, dia berpikir kalau ini adalah perbuatan Doni.


"Berita ini sudah tersebar luas," kata Rafa. Dia kemudian menjelaskan bagaimana dirinya bisa tahu berita ini.

__ADS_1


Singkatnya, ini bermula saat ada sebuah pesan di grup tertentu. Pesan itu sepertinya disebar oleh temannya Doni, dan pesan itu mulai menyebar dengan sangat cepat.


Hanya dalam beberapa jam saja, pesan itu sudah menyebar ke seluruh Universitas Indonesia. Hampir semua mahasiswa sudah membaca atau mendengar berita itu. Itulah kenapa Rafa bisa tahu dengan cepat.


"Memangnya ini sepenting apa sampai semua mahasiswa tahu?" tanya Azam sambil memijat pangkal hidungnya. Dia terheran-heran karena beritanya tidak terlalu penting, tapi malah menyebar dengan cepat.


"Kamu tidak tahu? Doni itu cukup terkenal di kalangan gadis sejak SMA. Jadi sekarang, yah kamu tahu tanpa aku beritahu," jelas Rafa kepada Azam.


Itu artinya yang membuat berita ini menyebar dengan cepat adalah gadis-gadis yang menyukai Doni. Azam malah tambah pusing karena masalahnya menjadi lebih merepotkan dari yang dia duga.


"Terus, apa kamu cuma berkata ini?" tanya Azam setelah menenangkan dirinya.


Rafa tertegun, karena dia memang tidak tahu harus berkata apa lagi. Jadi dia bertanya, "Um, ya. Aku cuma penasaran saja. Ngomong-ngomong, kamu sedang apa?"


"Ah, benar. Bisa tolong bantu aku carikan editor video dan foto?" Azam menjelaskan kalau dirinya ada kerja sama dengan Equestrian UI kepada Rafa.


"Editor? Azam, aku bisa," kata Rafa secara tiba-tiba yang membuat Azam terkejut sampai melebarkan matanya.


"Kenapa malah seperti wawancara, tapi yah, okelah." Rafa sedikit terdiam, tapi dia lalu mulai menceritakan tentang dirinya.


Ternyata, Rafa memiliki hobi editing. Pertamanya, dia mulai mengedit foto yang sederhana. Lalu lama-kelamaan, dia mulai mengedit video sampai membuat editan yang bagus.


Tapi ditengah pembicaraan, Azam bertanya kepada Rafa, tentang kenapa dia mengambil jurusan manajemen padahal dia adalah orang yang cukup ahli dalam bidang editing foto dan video.


Rafa memberikan jawaban yang bisa dipahami oleh Azam. Rafa menjawab kalau dia kekurangan uang untuk membeli peralatan yang mumpuni. Meskipun skill Rafa memang hebat, tapi peralatannya tidak bisa mengimbangi.


Itulah kenapa Rafa memutuskan untuk mengambil jurusan manajemen, agar dia bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang bagus. Karena nantinya gajinya akan dia gunakan untuk membeli peralatan.

__ADS_1


"Cerita yang menyedihkan. Tapi maaf, aku tidak menangis," kata Azam sambil bercanda agar suasana tidak menjadi menyedihkan.


"Aku tidak berharap belas kasihan, sial," balas Rafa sambil tertawa kecil. Dia juga paham dengan maksud Azam mengatakan hal itu.


"Rafa. Aku kirim video mentahan untuk kamu edit. Tergantung hasilnya, kamu mungkin bakal dapat uang yang banyak. Lalu, kalau hasilnya bagus, akan aku pinjamkan laptopku," kata Azam.


Rafa, yang sedang makan di kafetaria memiliki mata yang berapi-api saat ini. Dia tidak meragukan perkataan Azam, karena dia sudah mengenal Azam dengan baik meskipun baru kenal saat masuk universitas.


"Oke, serahkan ini padaku, Azam!!" teriak Rafa dengan penuh semangat, karena saat ini adalah momen yang bisa mengubah hidupnya.


"Oke, aku serahkan ini padamu," balas Azam sambil tersenyum dengan semangat Rafa.


Mereka berdua berbicara sebentar, lalu Azam mengakhiri panggilannya. Dia segera mengirim video rekaman berkuda tadi kepada Rafa, setelah itu dia menghela napas lega karena berhasil menembak editor.


"Dapat?" tanya Vanessa sambil tersenyum karena dia mendengar Azam menelepon dengan temannya.


"Ya, untunglah. Rafa itu temanku di universitas, dia bisa dipercaya," angguk Azam sambil tersenyum.


Vanessa juga tersenyum, lalu dia berkata, "Baguslah kalau begitu. Lalu, kita pulang sekarang?"


Azam melihat jam di ponselnya, lalu dia mengangguk dan berkata, "Ya, ayo pulang, sudah sore."


Mereka kembali ke area parkir. Azam dan Vanessa naik ke atas motor setelah memakai helm. Setelah itu, Azam menyalakan mesin motor dan memutar gas. Mereka segera melaju ke apartemen.


Setelah sampai di apartemen, mereka hanya berbincang-bincang sambil menonton televisi. Kemudian Vanessa masuk ke dalam kamarnya karena harus menulis novelnya.


Sementara itu Azam sedang mencari ide agar Equestrian UI bisa mendapat banyak pendaftar. Meskipun sebenarnya dia tidak perlu melakukan ini, tapi Azam tidak mau membantu dengan setengah hati.

__ADS_1


Lagipula teknik memberi informasi itu sangat diperlukan, apalagi untuk jurusannya, yaitu jurusan manajemen. Meskipun tindakannya mungkin terkesan biasa saja, tapi akan menjadi dalam jika dilihat lebih jauh.


[Host, gunakan duel berkuda besok untuk siaran langsung.] Pada saat ini, Sistem memberikan sebuah ide yang menarik untuk Azam yang sedang bingung.


__ADS_2