Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Fakta tentang Monica, Teman Masa Kecil Gian


__ADS_3

"Jangan salahkan dirimu, Azam," kata Gian kepada Azam karena dia berpikir kalau Azam sedang terpuruk karena ketahuan menyelidiki dirinya.


"Hah? Kenapa aku harus menyalahkan diriku?" Azam mengernyitkan dahinya karena tidak paham mengapa Gian berkata seperti itu.


Padahal Azam sendiri sama sekali tidak terpuruk atau murung karena dia berpikir kalau sudah ketahuan ya sudah. Dia hanya perlu menjelaskan secukupnya saja agar Gian tidak berpikir yang aneh-aneh.


Tapi Gian sedikit terdiam dan tidak bisa berkata-kata saat mendengar perkataan Azam. Dia kira Azam bakalan terpuruk karena pekerjaan untuk menyelidiki dirinya ketahuan dan artinya dia sudah gagal.


"Ternyata kamu tidak kenapa-napa ya. Tapi, boleh aku tahu kenapa kamu menyelidiki diriku?" Gian menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia bertanya alasan Azam menyelidiki dirinya.


"Sebelum itu, bisakah kamu mengatakan bagaimana kamu tahu? Maksudku, cuma karena aku mengambil foto bukan berarti aku sedang menyelidikimu kan?" tanya Azam dengan penasaran.


Gian menghela napas dan menjawab, "Baiklah. Perasaanku itu kuat, aku sadar kalau kamu sedang berusaha untuk berbaur denganku dan artis lain. Itu bukan semacam fans yang ingin dekat dengan idola, tapi seperti orang yang punya tujuan tertentu."


Azam tercengang karena Gian bisa tahu hanya karena hal sederhana seperti itu. Dia kemudian tersadar kalau masih banyak orang yang tidak sederhana di dunia ini yang punya kemampuan aneh.


Jadi Azam mendesah kalau dia tidak bisa mendekati seseorang secara hanya setelah dia melihat informasi dasar. Dia berpikir kalau dia harus mengetahui secara dalam orang yang ingin dia dekati terlebih dahulu.


"Aneh, tapi masuk akal." Azam menghembuskan napas panjang dan menganggukkan kepalanya.


"Sekarang giliranmu," kata Gian sambil melirik Azam.


"Ya, ya. Ini bermula pas kamu memintaku untuk mengambil tas warna biru muda di mobil." Azam segera menjelaskan semua kejadiannya dengan lengkap karena itu bukanlah hal yang harus disembunyikan juga.


Gian juga mengangguk-anggukkan kepalanya dan tidak terlihat terkejut atau memiliki reaksi yang lain. Azam berpikir kalau Gian sudah menduga semuanya yang membuatnya tidak terlalu terkejut.

__ADS_1


"Kalau begitu, maukah kamu mendengar ceritaku dengan Monica?" Gian menyandarkan tubuhnya dan bertanya kepada Azam sambil menatap langit malam yang gelap tanpa bintang-bintang.


"Oh? Ini yang aku tunggu. Silakan bercerita," kata Azam sambil tersenyum karena dia sudah menunggu untuk mendapat informasi dari Gian.


"Baiklah, dengarkan baik-baik. Aku hanya akan bercerita satu kali saja," kata Gian sambil menghela napas panjang.


Gian diam sejenak, lalu dia mulai menjelaskan. Betapa terkejutnya Azam saat mengetahui cerita yang sebenarnya sedang terjadi antara Gian dan Monica dan alasan mengapa Monica bersikap kekanak-kanakan.


Ternyata, Monica punya orang tua yang terlalu protektif kepadanya. Hal ini membuat Monica sangat terlindungi dari berbagai hal yang ada di dunia yang membuat Monica bersikap kekanak-kanakan.


Tapi semuanya bermula saat orang tua Monica meninggal karena kecelakaan. Monica yang selalu dilindungi oleh kedua orang tuanya tidak bisa menerima kenyataan dan dia tidak bisa menahan emosinya.


Hal ini membuat Monica mengatasi emosi yang meluap-luap dengan cara mengesampingkannya, bukan dengan cara melawan atau menenangkan diri.


Jadi intinya, Monica bersikap kekanak-kanakan karena dia sedang melarikan diri dari ingatan-ingatan masa lalu yang menimpanya.


"Kamu berpikir seperti itu kan? Apalagi aku yang merupakan teman masa kecilnya," kata Gian dengan raut wajah yang terlihat sedih.


Azam melirik Gian, lalu dia berkata, "Jadi itu sebabnya kamu berhubungan dengan Monica karena Monica juga sadar dengan sikapnya dan bisa berubah dari yang kekanak-kanakan menjadi normal?"


"Ya, kaya gitu. Monica bisa kembali normal, tapi dia masih sekali mengingat ingatan di masa lalu. Itulah mengapa sikap normalnya sangat sebentar," kata Gian sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua diam dan tidak ada yang berbicara lagi karena topik yang sedang dibahas cukup berat. Apalagi tentang Monica yang hidup dengan pikiran yang kekanak-kanakan karena dia sedang lari dari kenyataan.


Azam juga tidak mengomentari apapun tentang Monica karena dia tidak berhak untuk itu. Monica pasti menjalankan hidup yang terlalu nyaman karena terlalu dilindungi oleh orang tuanya dan tidak bisa menerima perubahan yang terjadi.

__ADS_1


Azam berdiri, dia menepuk bahu Gian dan berkata, "Hubunganmu dengan Monica tidak diketahui oleh publik. Tapi saranku adalah publikasikan saja hal ini agar tidak menimbulkan skandal yang malah akan merepotkan."


"Memang tidak pasti, tapi Monica bisa saja berani menghadapi kenyataan karena dia diberi dukungan oleh seluruh fansmu."


"Intinya, tunjukkan hubungan kalian yang harmonis agar semua fansmu terharu dan mendukung hubunganmu dengan Monica dan ini bisa menjadi hal yang baik untuk Monica."


Setalah mengatakan hal itu, Azam berjalan untuk pergi dari sana. Dia sudah menyelesaikan urusannya dengan Gian karena Gian sudah memberitahu semua hal yang terjadi antara dirinya dengan Monica.


Gian terdiam setelah mendengar perkataan Azam. Dia ragu-ragu sejenak, lalu dia berdiri dan berkata, "Azam! Akan aku coba! Terima kasih banyak!"


Azam menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang dan berkata, "Jangan berterima kasih padaku. Aku hanya tidak mau kamu membuat kerugian bagi film yang sedang kamu bintangi. Karena itu adalah film yang diadaptasi dari novel milik temanku."


Kemudian Azam melanjutkan langkahnya tanpa menunggu tanggapan dari Gian. Jauh di belakang Azam, Gian memiliki raut wajah yang sangat terkejut sampai mulutnya terbuka lebar.


Alasannya tentu saja karena dia tahu siapa penulis dari novel yang sedang diadaptasi menjadi film. Karena penulis itu cukup terkenal di dunia sastra Indonesia.


"Azam, siapa sebenarnya dirimu?" itu adalah pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada Azam karena dia penasaran dengan identitas Azam.


Memang patut Gian untuk penasaran karena Azam terlihat dekat dengan Sandra, pemilik Perusahaan Kosmetik Yanna, dan Vanessa, penulis novel online yang namanya cukup terkenal.


...----------------...


Sementara itu Azam sedang berjalan kaki untuk kembali ke apartemen. Dia tidak memesan ojek online karena ingin menikmati udara yang dingin karena habis hujan.


Suasana yang sepi dan sunyi ditambah dengan udara dingin membuat Azam menjadi tenang. Azam menarik napas dalam-dalam untuk menikmati udara segar yang ada di sekitar.

__ADS_1


"Semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka. Mereka yang terlibat bahagia belum tentu punya kehidupan yang bahagia dan sebaliknya," pikir Azam.


Azam semakin paham dengan orang-orang di sekitarnya. Hal ini membuatnya berpikir untuk tidak sembarangan menerima misi atau pekerjaan untuk menyelidiki seseorang karena tidak semua orang sama seperti yang ada di informasi.


__ADS_2