Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Mendapatkan Imbalan dan Pesan dari Devina (Revisi)


__ADS_3

"Toko Perhiasan Brijaya di Jakarta Timur tidak kalah besar dengan yang ada di Jakarta Selatan," pikir Azam yang melihat bangunan tiga lantai di depannya.


Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan membuang pemikiran yang tidak perlu. Dia langsung masuk ke dalam toko tanpa ragu-ragu.


"Halo, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pramuniaga berkata dengan suara lembut kepada Azam yang baru saja masuk ke dalam toko.


"Aku sudah ada janji dengan Pak Hendri," angguk Azam sambil mengatakan tujuannya ke sini.


"Pak Hendri? Baik, tolong ikuti saya." Pramuniaga itu cukup terkejut karena ada seorang remaja yang memiliki janji dengan bosnya.


Kemudian pramuniaga tersebut mengantarkan Azam ke lantai tiga di mana di sana ada kantor milik Hendri. Dia mengetuk pintunya dan membuka pintu setelah mendapat izin dari Hendri yang ada di dalam.


"Permisi." Azam masuk ke dalam kantor setelah pramuniaga itu membukakan pintu untuknya.


"Azam, kamu punya buktinya?" Hendri mempersilakan Azam untuk duduk, kemudian dia langsung menuju topik karena ini terkait masalah reputasi tokonya.


"Ya. Tapi, lihat dulu video yang aku rekam." Azam mengangguk, dia lalu mengeluarkan kotak perhiasan, kain pelindung perhiasan, dan ponselnya.


"Oke, aku lihat videonya dulu." Hendri mengangguk. Dia segera menonton video rekaman di ponsel Azam yang merekam aksi Azam saat di rumah Andi.


Hendri memiliki raut wajah yang jelek saat menontonnya, tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak saat videonya sudah selesai. Itu karena saat Azam yang dikejar warga karena dianggap maling juga terekam.


"Azam, kamu sangat totalitas sampai dikejar oleh warga!" Hendri mencoba untuk menenangkan dirinya tapi berulang kali gagal karena itu terlalu lucu.


Azam terdiam sampai tidak bisa berkata-kata karena melihat Hendri yang tertawa terbahak-bahak. Tapi dia juga tersenyum karena momen dia yang dikejar oleh warga memang sangat lucu.


Setelah beberapa saat, Hendri menghentikan tawanya dan sudah menenangkan diri. Dia langsung memasang wajah yang sangat serius dan mulai membahas permasalahan yang sedang terjadi.


"Jadi, Andi pelakunya ya. Tapi melihat dia punya banyak barang curian, mungkin dia punya komplotan di luar sana." Hendri berkata dengan suara yang dalam.


"Mungkin, aku tidak tahu. Tapi tugasku sudah selesai di sini, aku sudah mendapatkan bukti kalau Andi adalah pelakunya." Azam mengangkat bahunya dan berkata dengan nada tidak peduli.

__ADS_1


Karena dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang terjadi selanjutnya karena itu bukanlah urusannya. Tugasnya sudah selesai dan dia sedang menunggu imbalannya dari Hendri.


"Azam, gimana kalau kamu membantuku mencari tahu?" Hendri terdiam sebentar, kemudian dia memberikan Azam tawaran pekerjaan.


Meskipun Hendri tidak tahu bagaimana Azam menemukan buktinya, tapi insting pebisnisnya mengatakan kalau Azam adalah individu yang sangat berbakat sehingga harus didekati.


Namun Azam menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada tegas. "Maaf, aku menolak. Aku tidak mau berhubungan dengan hukum ataupun polisi meskipun bukan aku yang melakukan kejahatan."


"Okelah, aku juga tidak bisa memaksa." Hendri menghela napas, dia benar-benar ingin membuat Azam bekerja di bawahnya, tapi mau bagaimana lagi karena Azam menolak.


Dia juga tidak bisa memaksa Azam karena itu akan membuat hubungan mereka menjadi buruk dan itu malah akan merugikannya di kemudian hari.


Hendri mengambil ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Azam. Setelah itu dia meminta Azam untuk mengirimkan videonya.


"Terima kasih, Pak Hendri." Azam berjabat tangan dengan Hendri dan berkata sambil tersenyum.


Hendri tersenyum dan mengangguk, lalu dia berkata, "Terima kasih juga."


Azam bangkit dari tempat duduknya, dia membuka pintu kantor dan hendak keluar. Tapi kemudian dia berhenti dan bertanya kepada Hendri. "Ngomong-ngomong, Pak. Kenapa Bapak mempercayaiku?"


"Aku tidak mempercayaimu untuk melakukan pekerjaan ini. Tapi aku juga sedang butuh banyak orang, aku mempekerjakan banyak orang mulai dari polisi, detektif, bahkan orang luar seperti dirimu," jelas Hendri.


"Oh, jadi begitu. Oke, sampai jumpa dilain waktu!" Azam mengangguk paham, kemudian dia keluar dari kantor dengan wajah bahagia karena dia mendapat uang tambahan lagi.


Dia baru saja melihat catatan transfernya, ada banyak uang tambahan di rekeningnya. Uang yang dikirim oleh Hendri berjumlah 40 juga rupiah.


Alasannya adalah karena Azam menemukan buktinya secara langsung yang mana para polisi tidak bisa menemukannya meskipun sudah tiga hari melakukan penyelidikan.


Bagi Keluarga Brijaya yang memiliki aset triliunan rupiah, uang sebesar itu bisa dikeluarkan dengan santai tanpa mengedipkan mata mereka.


Itulah mengapa bagi orang-orang kaya dan berstatus tinggi, yang paling penting bukanlah uang melainkan reputasi. Mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk membuat reputasi mereka menjadi baik.

__ADS_1


"Itulah enaknya menjadi orang kaya." Azam menghembuskan napas panjang. Tapi dia tidak terlalu iri karena dia juga bisa menjadi kaya hanya dengan Sistem Pemindai.


Azam memesan ojek online untuk kembali ke Universitas Indonesia. Di mengambil mobil Vanessa dan akan kembali ke apartemen, namun pada saat ini ada pesan yang masuk di ponselnya.


Devina Fiorenza: Ada waktu luang sekarang? Aku mau membicarakan sesuatu denganmu. Segera balas jika kamu ada waktu.


"Devina mau membicarakan sesuatu? Yah, aku juga sedang luang sih." Azam segera membalas pesan Devina, dan tak lama kemudian dia mendapatkan balasan dari Devina.


Devina Fiorenza: Oke, tunggu sebentar, aku masih ada di gedung fakultas bisnis.


Azam membalas kalau dia akan menjemput Devina di sana, kemudian dia memasukkan ponselnya, menyalakan mesin mobil, dan langsung menginjak pedal gas menuju gedung fakultas bisnis.


Para mahasiswa di sana terkejut karena ada mobil mewah di sana. Meskipun ini adalah Kota Jakarta, tapi sangat jarang ada mobil mewah di universitas.


Kebanyakan mobil mewah ada di jalanan atau di tempat yang mewah seperti hotel atau restoran. Kemudian mereka juga akan muncul saat ada pameran atau konvoi mobil.


"Hm, jadi ini yang dirasakan oleh para orang kaya yang menyetir mobil mewah." Azam tertawa karena bisa merasakan tatapan mata iri dari para mahasiswa di sekitarnya.


Beberapa menit kemudian, Devina menelepon Azam kalau dirinya sudah keluar dari gedung dan bertanya di mana lokasi Azam.


Azam menurunkan jendela mobil dan berteriak, "Devina! Di sini!" Teriakan tersebut membuat para mahasiswa di sekitar sangat terkejut.


"Azam?" Devina terkejut karena Azam menyetir mobil Ferrari padahal dia tahu kalau Azam adalah yatim piatu. Kemudian dia berpikir kalau Azam melakukan sesuatu yang ilegal.


Jadi Devina masuk ke dalam mobil dan hendak bertanya. Kemudian pikirannya menjadi semakin kuat saat mencium aroma wanita di dalam mobil.


"Devina, jangan berpikir yang buruk. Ini punya temanku." Azam berkata dengan nada tidak berdaya karena bisa tahu maksud dari ekspresi Devina.


"Benarkah?" Devina bertanya dengan nada curiga karena tidak mempercayai Azam.


"Benar." Azam mengangguk dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia mengubah topik, "Jadi, ada sesuatu yang perlu dibicarakan?"

__ADS_1


"Ah, iya. Kamu pergi ke alamat ini, kamu tahu?" Devina terkecoh dan segera menyebutkan sebuah alamat kepada Azam.


"Ya, itu kan kawasan orang kaya." Azam tersebut, dia segera pergi ke alamat yang dikatakan oleh Devina.


__ADS_2