Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Bertemu Elina untuk Membicarakan Sesuatu


__ADS_3

Menurut GPS, Yasir sedang berada di lokasi yang cukup jauh dari Universitas Indonesia, tepatnya di Jakarta Selatan bagian utara di area world trade center.


Butuh waktu sekitar setengah jam untuk Azam sampai ke sana, itupun harus pintar-pintar mencari jalan kecil ataupun celah di antara kendaraan yang sedang terjebak macet.


"Untung saja aku menggunakan motor sendiri," batin Azam sambil menghembuskan napas panjang setelah sampai di lokasi.


Punggung Azam basah oleh keringat karena cuacanya yang panas di tambah kondisi jalan yang macet membuat ada banyak polusi udara karena asap kendaraan yang keluar.


Azam segera pergi ke toilet umum yang ada di dekatnya untuk mengganti pakaian yang sudah ia bawa di dalam bagasi motor sementara pakaiannya di simpan di dalam kantung plastik lalu di taruh di bagasi motor.


"Jadi, di mana Yasir sekarang?" Azam melihat ke ponselnya yang sedang menunjukkan lokasi mobil Yasir. Azam berjalan kaki karena lokasinya masuk ke area pemukiman warga.


Setelah beberapa menit berjalan kaki, Azam menemukan mobil sedan milik Yasir yang diparkiran di pinggir jalan. Azam segera bertanya kepada orang yang lewat sambil menunjukkan foto Yasir di ponselnya.


Setelah bertanya kepada beberapa orang, akhirnya ada satu orang yang melihat Yasir pergi ke dalam gang. Jadi setelah berterima kasih kepada orang itu, Azam langsung berlari ke dalam.


Beruntung gang nya tidak bercabang sehingga Azam hanya perlu berlari lurus sambil melihat ke sekitarnya apakah ada Yasir atau tidak. Azam juga memberi perintah kepada Sistem untuk mencari Yasir.


Kemudian, di penghujung gang, Sistem memberitahu kepada Azam kalau Yasir sudah ditemukan. Azam berhenti berlari dan berjalan dengan diam-diam menuju lokasi Yasir seusai dengan arahan Sistem.


Itu adalah sebuah rumah yang tampak biasa saja dari luar, tapi Azam yakin kalau itu bukanlah rumah biasa karena Yasir datang ke sana.


Azam mengendap-endap menuju rumah tersebut, kemudian dia sedikit mengintip dari celah jendela dan melihat kalau Yasir sedang berbicara dengan seorang nenek-nenek.


"Lah? Kenapa malah nenek-nenek?" Azam mengerutkan keningnya karena situasi yang dia lihat diluar perkiraannya.


[Mereka mungkin sedang membicarakan hal penting, jadi dengarkan saja dulu Host.] Sistem mengatakan sesuatu kepada Azam dan Azam menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.


...----------------...


"Yasir, apa kamu yakin ini tidak merepotkan?" Nenek itu bertanya dengan suara ramah sambil memegangi tangan Yasir.


"Ya Nek, ini tidak apa-apa. Aku sudah memberikan uang kepada Asri tapi katanya dia pakai uang itu untuk melunasi hutang," kata Yasir kepada nenek itu.


"Iya, hutang keluarga ini memang banyak sekali. Nenek juga kasihan dengan Asri yang bekerja sendirian dan nenek hanya bisa duduk di dalam rumah ini," kata nenek itu sambil menghembuskan napas panjang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, yang penting Nenek selalu ada untuk Asri. Aku yakin kalau yang diinginkan Asri saat pulang adalah kehadiran Nenek," kata Yasir sambil tersenyum.


"Benar... benar..." Nenek itu juga tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


...----------------...


Azam semakin mengerutkan keningnya saat mendengar pembicaraan mereka setelah beberapa menit. Sekarang Azam tahu kalau wanita yang pernah di jemput oleh Yasir dan Agus bernama Asri.


Asri itu seperti wanita simpanan Yasir dan Agus. Mereka berdua memberikannya uang yang ternyata untuk melunasi hutang keluarga yang ditinggalkan oleh orang tua Asri.


"Cerita yang menyedihkan, aku juga merasa kasihan. Tapi, kalau hanya begini kenapa Yasir menggelapkan uang perusahaan?" Azam mencoba untuk berpikir alasannya.


Karena jika hanya memberikan uang kepada Asri, maka gaji yang didapatkan oleh Yasir dan Agus pasti sudah sangat cukup karena mereka berdua merupakan petinggi di Perusahaan Fiota Grup.


Tapi Yasir menggelapkan uang perusahaan yang tidak bisa dipahami oleh Azam. Tapi pada saat ini Sistem mengatakan sesuatu yang membuat mata Azam cerah.


[Host, mungkin ini ada sangkut-pautnya dengan obat-obatan yang diselidiki oleh Elina?]


"Benar! Kenapa aku tidak kepikiran!" Azam menepuk dahinya karena berpikir kalau dia terlalu fokus dengan masala Yasir sampai tidak memperhatikan sekitar.


"Kalau begitu, ayo bertemu Elina." Azam melirik ke dalam rumah, kemudian dia pergi dari sana sebelum ketahuan oleh warga sekitar.


Azam keluar dari gang menuju motornya sambil mengirimkan pesan kepada Elina apakah Elina ada waktu untuk bertemu karena dia ingin membicarakan sesuatu.


Azam punya nomor ponselnya Elina karena dia sudah saling bertukar nomor telepon dengan Elina. Kemudian tidak butuh waktu lama sebelum Elina mengirimkan balasan.


Elina sekretaris Pak Deva: Sebentar lagi waktunya makan siang, aku bebas. Kamu yang tentukan tempatnya.


Azam: Oke, restoran ikan yang ada di dekat perusahaan saja.


Elina sekretaris Pak Deva: Ya.


Azam menyimpan ponselnya, kemudian dia segera memakai helm dan menyalakan mesin motor. Lalu Azam segera pergi ke restoran ikan yang ada di dekat Perusahaan Fiota Grup.


Butuh setengah jam untuk sampai ke sana. Setelah sampai, Azam segera memesan tempat yang agak sepi karena takut pembicaraannya dengan Elina akan didengar oleh orang di sekitar.

__ADS_1


Kemudian sekitar 10 menit kemudian, Elina datang sambil membawa tasnya. Azam mengangkat alisnya karena berpikir kalau Elina akan pergi karena dia membawa tas.


"Elina!" Azam mengangkat tangannya dan memanggil nama Elina agar dia bisa melihatnya.


"Oh, di sana." Elina mengangguk dan segera berjalan ke tempat duduk Azam, kemudian dia duduk di seberangnya.


"Ngomong-ngomong, aku lebih tua dariku, jangan panggil dengan namaku," kata Elina sambil memutar matanya, meskipun sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli karena perbedaan usia keduanya tidak terlalu jauh.


"Oke, Kak." Azam mengangguk dan merasa tidak ada yang aneh karena memang dia kurang sopan karena memanggil nama orang yang lebih tua darinya secara langsung.


"Kak?" Elina membuka mulutnya karena tidak menyangka Azam akan langsung setuju.


"Kenapa?" Azam merasa aneh dengan respon Elina.


"Tidak apa-apa." Elina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Tapi dia merasa sedikit malu di dalam hatinya karena tidak pernah dipanggil 'kak' oleh siapapun kecuali adik kelasnya.


"Ngomong-ngomong, kamu mau pergi? Aku lihat kamu bawa tas." Azam bertanya kepada Elina.


"Ah, ya. Aku harus pergi ke Jakarta Pusat setelah ini untuk menggantikan Pak Deva yang masih ada urusan lain." Elina mengangguk menanggapi pertanyaan Azam.


"Ohh, jauh juga." Azam menganggukkan kepalanya.


"Jadi, kenapa kamu memanggilku?" tanya Elina.


Azam tidak langsung menjawab, tapi mempersilakan Elina untuk memesan makanan terlebih dahulu. Kemudian setelah mereka berdua sudah memilih, Azam memanggil pelayan dan mengatakan pesanannya.


Sambil menunggu, Azam berkata, "Kak, aku mau bertanya tentang obat-obatan yang kamu selidiki. Bisakah kamu menjelaskannya?"


Elina mengangkat alisnya karena yang ditanya oleh Azam adalah topik yang penting. Dia menengok ke kanan dan kiri mencoba melihat apakah akan ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.


"Azam, ini topik sensitif, jadi aku akan merendahkan suaraku," kata Elina kepada Azam dengan serius.


"Aku tahu, aku akan mendengarkan." Azam juga mengangguk dengan serius.


"Oke." Elina mengangguk dengan puas, lau dia mulai menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2