Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Perampokan Bank yang Sudah Diselesaikan (Revisi)


__ADS_3

"Katakan, apa yang sedang terjadi!?" Eko bertanya kepada orang yang keluar dari bank mengenai situasi yang terjadi di dalam bank.


Tidak ada tim yang memberi informasi sebelum situasi di mana orang-orang keluar dari bank. Hal ini membuat Eko menjadi bingung dan segera bertanya apa yang terjadi di sana.


"A-ada perampok yang jadi gila, kemudian ada satu pria gila lainnya yang melawannya." Seorang pria yang masih ketakutan berkata kepada Eko dengan suara gemetar.


"Hah!?" Eko membelalakkan matanya, dia mengambil ponsel yang menyambung dengan Azam dan segera bertanya apa yang terjadi di sana.


"Azam! Katakan sesuatu!" teriak Eko dengan keras dan dia juga memiliki wajah yang cemas menunggu balasan dari Azam.


Tidak hanya Eko, semua orang yang ada di sana juga menunggu balasan dari Azam. Bahkan para penonton siaran langsung Fiota Grup juga merasakan kalau ada sesuatu di bank.


"Azam!?" Eko berteriak sekali lagi karena tidak ada balasan dari Azam setelah beberapa saat.


Saat Eko hendak memerintahkan polisi lain untuk masuk ke dalam bank, pada saat ini terdengar suara dari ponsel, "Pak Eko, semua perampok berhasil diamankan. Tolong segera masuk ke dalam."


"Tim dua!? Katakan apa yang terjadi!" Eko mengerutkan keningnya karena yang memberi balasan bukanlah Azam melainkan ketua dari tim dua.


"Pak, sebaiknya Anda masuk ke dalam. Di sini sudah aman," kata ketua tim dua kepada Eko.


Eko mematikan ponsel, dia dan petugas polisi lain segera masuk ke dalam. Ikke dan kameraman juga diminta untuk masuk agar mereka bisa meliput apa yang sedang terjadi di dalam.


Kemudian, saat mereka masuk, mata mereka terkejut karena melihat kalau ada tiga tubuh yang tergeletak di tanah. Tidak ada darah yang artinya mereka bertiga masih hidup, mungkin hanya pingsan saja.


Lalu, di sudut aula terdapat Azam yang sedang duduk dengan lemas. Di sampingnya ada Vanessa yang sedang memberinya air mineral.


"Lapor." Ketua tim dua berkata dan memberi hormat kepada Eko.


"Ya, laporkan." Eko membalas dengan cara memberi hormat juga, kemudian dia meminta ketua tim dua untuk segera melaporkan apa yang terjadi.


"Baik, Pak. Ini bermula setelah Bapak meminta kami untuk berhenti sejenak, kemudian lanjut bergerak." Ketua tim dua mengangguk dengan serius, kemudian dia mulai menjelaskan apa yang terjadi.


£££


Beberapa menit yang lalu. Setelah Azam berkata kepada Eko untuk memberi perintah kepada tim dua untuk berhenti, ada suara ancaman dari belakang. Azam mengenali suara itu, yang merupakan perampok yang memegang senjata api rakitan.


"Sialan! Cepat buka! Kenapa lama sekali, hah!?" Perampok dengan senjata api menodongkan senjatanya ke arah punggung manajer bank yang sedang berusaha untuk membuang pintu brankas bank.

__ADS_1


"Ma-maafkan aku!" Manajer bank hanya bisa meminta maaf dengan suara ketakutan dan mencari kunci yang tepat dengan cepat.


Azam bisa mendengar ancaman dari perampok dengan senjata api rakitan. Dia membuka pintu sedikit untuk mengamati situasi di luar, dan melihat kalau dua perampok lain sedang fokus ke tim satu yang sedang bernegosiasi dengan mereka.


"Kesempatan bagus." Azam berpikir, lalu dia keluar dari ruangan secara diam-diam dan menutup pintunya kembali agar Vanessa dan teller bank tetap aman di dalam sana.


Azam berlari dengan cepat ke tempat belakang yang merupakan brankas bank. Setelah itu dia melihat punggung perampok yang masih berteriak dari tadi menyuruh manajer bank untuk bertindak dengan cepat.


"Untung saja tubuhku sudah ditingkatkan! Terima ini!" Azam berteriak di dalam harinya. Dia berlari dengan sangat cepat, melompat ke depan, dan menendang punggung perampok di depannya.


"Ugh!!" Perampok itu merasakan rasa sakit di punggungnya. Karena hal ini membuat dia melepaskan senjata api rakitan dari tangannya.


Azam menyeringai, dia duduk di atas perut di perampok dan memukul wajahnya secara terus-menerus sampai dia pingsan karena dia tidak berani membunuhnya dan itu juga tidak boleh.


£££


"Kemudian, dua perampok lainnya datang. Tapi saat tim dua tiba, kami cuma bisa ternganga karena bocah itu bisa menghentikan dua perampok sisanya," kata ketua tim dua dengan serius.


Eko mengalihkan pandangannya ke arah Azam yang sedang beristirahat. Dia tidak menyangka kalau Azam tidak hanya pintar melihat situasi tapi juga bisa bertarung melawan dua orang perampok yang memegang parang.


"Kerja bagus, bereskan yang di sini," kata Eko kepada ketua tim dua.


Eko menganggukkan kepalanya, kemudian dia berjalan menghampiri Azam yang sedang mengobrol asik dengan Vanessa. Ikke dan kameraman juga mengikuti Eko menghampiri Azam.


"Azam." Eko duduk di depan Azam dan memanggil namanya.


"Siapa?" Azam menoleh dan bertanya karena dia tidak tahu siapa polisi di depannya. Wajar, karena Azam memang belum bertemu meskipun sudah berkomunikasi lewat ponsel.


"Senang berteriak denganmu, aku Eko." Eko tersenyum, dia mengulurkan tangan kanannya dan memperkenalkan dirinya kepada Azam.


"Ah, Pak Eko! Halo Pak, aku Azam." Azam tahu siapa Eko, dia mengulurkan tangan kanannya juga untuk berjabat tangan dengan Eko dan memberitahu namanya.


"Azam, apa kamu yang menghentikan ketiga perampok?" tanya Eko dengan sangat serius.


Ikke juga meminta kameraman untuk mengarahkan kameranya ke arah Azam dan menunggu jawaban darinya atas pertanyaan yang Eko ajukan.


"Ya, siapa lagi? Yah, walaupun sebenarnya aku tidak mau karena itu bisa bahaya untuk hidupku." Azam mengangkat bahunya dan berkata dengan nada tenang tanpa kegugupan.

__ADS_1


"Baiklah, sisanya akan diurus oleh polisi. Kamu mungkin akan dipanggil untuk menulis laporan nanti. Lalu ini adalah reporter dari Fiota Grup, izinkan mereka untuk mengajukan pertanyaan," kata Eko yang memperkenalkan Ikke dan kameraman.


"Fiota Grup? Tentu, silakan." Azam mengangkat alisnya karena itu adalah perusahan media milik keluarga Devina. Kemudian dia mengangguk menyetujui proposal Eko.


Ikke dan kameraman saling memandang dan menganggukkan kepala mereka satu sama lain. Ikke menarik napas dalam-dalam, kemudian dia mulai mengajukan pertanyaan.


"Halo Pak Azam-" Ikke tidak menyelesaikan ucapannya karena Azam memotongnya.


"Tolong jangan paling Pak. Tidak apa jika formal, tapi ini bukan situasi formal. Dan kamu lebih tua dariku!" Azam tertawa dan berkata dengan tidak berdaya.


Perkataan Azam membuat Ikke tertegun, tapi kemudian dia tertawa kecil karena merasa kalau kegugupannya menghilang karena perkataan Azam cukup lucu baginya.


"Baiklah, Azam. Bisakah aku tahu apakah kamu tidak takut menghadapi para perampok? Apalagi ada yang memegang senjata api." Ikke tersenyum dan mulai mengajukan pertanyaan.


Pertanyaan dari Ikke adalah pertanyaan yang dipikirkan oleh semua orang yang mendengar situasi kejadian di dalam bank saat Azam mengalahkan ketiga perampok. Mereka mengangkat telinga mereka menunggu jawaban dari Azam.


"Takut? Pasti, aku ini cuma remaja berumur 18 tahun. Tapi, di depan mataku ada orang yang terancam nyawanya, mana mungkin aku bakal diam saja kan?" Azam tersenyum dan menjawab tanpa berpikir panjang.


Jawaban dari Azam adalah hal yang tidak diduga oleh orang-orang yang mendengarnya. Mereka berpikir kalau Azam akan menjawab tidak takut dan menyombongkan diri melihat dirinya yang masih muda.


Tapi Azam menjawab dengan tenang dan bersikap layaknya orang dewasa yang sudah mengalami banyak hal di kehidupannya.


Eko juga menganggukkan kepalanya dan sangat mengapresiasi tindakan Azam yang berani untuk melawan pada perampok demi menyelamatkan satu nyawa manusia.


"Lalu, mengapa kamu memutuskan untuk menyelamatkan nyawa manajer bank?" tanya Ikke lagi.


"Hah? Apa kamu harus bertanya hal konyol seperti itu? Bayangkan ada orang sekarat di depan matamu, kamu diam saja? Tidak bukan?" Azam mengerutkan keningnya karena merasa kalau pertanyaan yang diajukan oleh Ikke adalah sebuah pertanyaan yang konyol.


"Ah?" Ikke tersadar, dia tersenyum canggung karena mengajukan pertanyaan yang tidak berguna.


Kemudian setelah meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat, Ikke mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bagus dan Azam menjawab semuanya dengan mantap.


Kemudian setelah setengah jam, bank sudah dibereskan oleh para polisi. Eko menganggukkan kepalanya dan pergi untuk membantu polisi yang lain.


Ikke dan kameraman juga pergi, mereka juga harus mengajukan pertanyaan kepada petugas polisi dan korban untuk mendapatkan tanggapan mereka tentang perampokan bank yang tadi terjadi.


"Vanessa, ayo pulang?" Azam berdiri dan membantu Vanessa untuk berdiri karena dia masih lemas setelah kejadian tadi.

__ADS_1


"Tolong ya." Vanessa tersenyum, dia memegangi lengan Azam agar tidak terjatuh.


__ADS_2