Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Ingin Bersantai dan Membantu Equestrian UI


__ADS_3

Masih pada hari yang sama. Tapi saat ini Azam sedang berada di Universitas Indonesia karena Sandra memutuskan untuk melepas Azam karena dia sudah menyelesaikan masalah tentang Gian dan Monica.


Berita Gian dan Monica sudah mulai menyebar dengan cepat tapi Azam tidak berminat untuk melihatnya. Sekarang dia sedang pergi ke perusahaan Fiota Grup untuk mengembalikan motor pinjamannya.


"Pak Deva!" Azam memanggil Deva yang kebetulan saja baru keluar dari lift bersama dengan Elina dan beberapa pria setengah baya berjas.


"Azam, kamu di sini? Kenapa?" Deva sedikit terkejut dengan panggilan yang tiba-tiba. Kemudian dia berjalan menghampiri Azam dan bertanya kepadanya.


"Pak, aku mau mengembalikan motor. Aku lupa kalau itu adalah motor pinjaman, hahaha." Azam menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena kelupaan.


"Ah, motor yang kamu pinjam itu ya. Sudah, bawa saja." Deva mengingatnya. Lalu dia melambaikan tangannya dan meminta Azam untuk membawanya saja, tidak perlu dikembalikan.


"Eh, maksud Bapak itu untukku?" Azam membuka mulutnya dan bertanya kepada Deva sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, bawa saja. Sudah dulu ya, aku masih ada urusan." Deva tersenyum, kemudian dia berjalan pergi bersama yang lainnya.


Elina mendekati Azam dan berbisik di telinganya. "Azam, kamu tidak lihat tadi, kalau para investor terkejut karena kamu dan Pak Deva bisa berbicara dengan santai."


Setelah membisikkan hal tersebut, Elina mengedipkan matanya kepada Azam. Kemudian dia segera berjalan dengan cepat untuk menyusul Deva dan pria lain yang ternyata adalah investor.


Tapi apa yang dibisikkan oleh Elina memang benar. Azam memang tidak memperhatikan, tapi beberapa investor memiliki wajah yang terkejut saat melihat kalau Deva dan dia berbicara dengan santai.


Padahal mereka sendiri harus berbicara dengan sopan dan untuk bertemu dengan Deva saja juga butuh waktu yang lama karena jadwal Deva sangat padat sehingga tidak memungkinkan untuk langsung bertemu.


Tapi Azam tidak mengetahui hal ini, bahkan jika dia tahu, dia tidak peduli. "Yah, menjadi kaya seperti Pak Deva asik juga. Aku kan juga sudah punya kemampuan manajemen bisnis seorang legenda," pikir Azam.


Azam berpikir untuk membuat bisnisnya sendiri, tapi itu masalah nanti. Sekarang, dia segera keluar dari gedung perusahaan, menaiki motor pemberian Deva, lalu dia pergi ke Universitas Indonesia.


Setelah sampai di Universitas Indonesia, Azam menelepon Zaidan. "Zaidan, kamu di mana? Aku sudah ada keputusan nih," kata Azam setelah panggilan telepon terhubung.


"Oh ya? Ke tempat equestrian saja langsung. Aku ada di sini sedang istirahat," kata Zaidan kepada Azam.

__ADS_1


"Oke, aku segera ke sana." Azam mengangguk. Setelah mengakhiri panggilan, dia segera pergi ke gedung tempat equestrian UI berada.


Setelah sampai di sana, Azam melihat kalau Zaidan sedang duduk dan berbincang-bincang dengan teman-temannya. Jadi, Azam tidak mengganggu mereka melainkan mengirim pesan kepada Zaidan kalau dia sudah sampai.


Beberapa detik kemudian, Azam melihat kalau Zaidan berdiri dari tempat duduknya. Zaidan terlihat menengok ke sekeliling dan akhirnya dia menemukan Azam yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Azam!" Zaidan mengangkat tangannya, lalu dia berteriak dengan keras untuk memanggil Azam. Azam menganggukkan kepalanya, lalu dia berjalan ke tempat Zaidan.


"Teman-teman, perkenalkan, dia Azam. Kalian pasti sudah tahu Azam yang terkenal itu kan?" Zaidan merangkul bahu Azam dan memperkenalkan Azam kepada teman-temannya.


"Ohh! Jadi dia yang namanya Azam!" Seorang laki-laki dengan rambut panjang diikat berkata dengan suara yang sedikit terkejut.


"Ah, aku sudah lama mendengar tentang Azam, jadi seperti ini ya." Seorang perempuan dengan rambut panjang berwarna ungu muda berkata sambil melihat Azam dari atas sampai bawah.


"Ahaha." Azam hanya bisa tertawa canggung karena dia perkenalan Zaidan membuatnya sedikit malu.


Tapi kemudian Zaidan meminta Azam untuk duduk. Mereka berbincang-bincang sebentar, lalu teman-teman Zaidan pergi karena mereka sedang latihan berkuda.


"Jadi, kamu sudah membuat keputusan?" tanya Zaidan kepada Azam dengan serius.


Zaidan juga tersenyum, lalu dia bertanya kepada Azam. "Lalu apa keputusanmu?"


Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Maaf, aku tidak bergabung."


Zaidan menghela napas panjang karena dia sudah mengharapkan jawaban itu. Dia juga tahu kalau kemungkinan Azam untuk bergabung ke Equestrian UI sangat kecil.


Alasannya tentu karena ini adalah undangan yang tiba-tiba darinya. Lalu karena hubungan mereka juga tidak dekat. Sehingga Azam tidak punya alasan apapun untuk bergabung ke Equestrian UI.


Tapi, perkataan Azam selanjutnya membuat Zaidan tertegun, kemudian dia memiliki senyum cerah di wajahnya karena perkataan Azam membuatnya gembira.


"Jangan sedih dulu dong. Aku memang tidak akan bergabung, tapi aku akan membantu kalian. Aku tidak mau bergabung karena tidak ma repot saja," kata Azam sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Alasan Azam memutuskan untuk membantu Zaidan bukanlah karena dia orang yang baik, yang akan membantu semua orang.


Tapi, itu karena Azam sudah lelah dengan beberapa pekerjaan sebelumnya. Jadi, Azam memutuskan untuk bersantai sejenak dan itu dengan cara berkuda.


Karena Azam tidak punya kenalan di luar universitas untuk melakukan berkuda, dia akhirnya memikirkan Zaidan yang mengundangnya untuk bergabung ke Equestrian UI.


Azam memang tidak akan bergabung karena dia tidak mau repot dan terkekang. Dia hanya ingin bersantai sejenak agar tubuh dan pikirannya menjadi fresh lagi.


"Benarkah!? Apa kamu yakin!?" Zaidan melebarkan matanya dan segera bertanya kepada Azam untuk meminta konfirmasi darinya.


"Iya, aku yakin." Azam tersenyum dan mengangguk.


"Hahaha! Bagus! Sangat bagus!" Zaidan tertawa terbahak-bahak karena Azam akan membantu Equestrian UI.


Jadi, mereka berbincang-bincang tentang Equestrian UI ini. Azam mendengarkan penjelasan dari Zaidan tentang sejarah, fasilitas, prestasi, dan masih banyak lagi.


Lalu pada sore harinya, Azam memutuskan untuk kembali ke apartemen karena dia perlu menjenguk Dinda setelah sekian lama tidak pergi ke rumah sakit.


Azam selalu mentransfer sejumlah uang untuk biaya keperluan Dinda. Tapi dia tidak sempat untuk menjenguknya karena dia harus melakukan tugas dari Deva dan Sandra.


...----------------...


"Oh Azam!" Vanessa yang sedang menonton televisi melihat Azam pulang.


"Vanessa." Azam menganggukkan kepalanya. Dia mengambil pakaian ganti di kamarnya, lalu dia pergi ke kamar mandi untuk mandi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Vanessa dengan penasaran karena Azam memakai pakaian yang cukup rapi.


"Ah, aku mau menjenguk Dinda. Kamu ingat Dinda kan? Anak panti asuhan yang masuk ke rumah sakit karena dia sakit rakitis," jawab Azam.


"Ah, anak itu. Tunggu sebentar! Aku juga mau ikut!" Vanessa mengangguk, lalu dia segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian karena dia ingin ikut menjenguk Dinda.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mereka pergi ke area parkir karena akan menggunakan mobil milik Vanessa. Cuacanya sedang tidak menentu sehingga mereka takut kalau akan hujan secara tiba-tiba.


"Oke, ayo berangkat," kata Azam sambil menginjak pedal gas mobil menuju rumah sakit.


__ADS_2