Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Gian bersama Gadis dan Keterkejutan Devina


__ADS_3

Rabu, 7 Agustus 2030


Azam sarapan bersama Vanessa setelah lari pagi. Setelah itu Azam segera pergi ke Setu Babakan untuk pergi bekerja sementara Vanessa juga masuk ke dalam kamarnya untuk menulis novel.


Vanessa juga akan ke Setu Babakan nanti siang untuk memeriksa progres perekaman film di sana sekaligus untuk bertemu dengan Azam karena dia penasaran dengan pekerjaan Azam.


"Azam, kamu sudah datang." Sandra menganggukkan kepalanya kepada Azam dan berkata sambil minum teh hangat.


"Bu Sandra, pagi sekali Ibu datang?" Azam menaruh tasnya dan bertanya dengan nada terkejut karena waktu masih jam 7 pagi.


"Harus dong, bercanda. Yah, aku menginap di hotel terdekat bersama kru yang lain," kata Sandra tanpa menolehkan pandangannya.


"Ohh, jadi begitu." Azam mengangguk. Dia segera pergi ke tenda ganti untuk berganti pakaian menjadi kemeja hitam seperti hari kemarin.


Entah kenapa harus mengenakan kemeja hitam kata Sandra, tapi Aksa juga tidak terlalu peduli. Aksa berpikir ini untuk menyamakan diri dengan anggota kru syuting yang lainnya.


"Belum jam 8, ayo cari uang dulu." Azam melihat jam di ponselnya, lalu dia berjalan menjauhi area syuting karena dia akan mencari uang.


Azam segera memberi perintah kepada Sistem untuk memindai sekitar. Sistem juga segera memindai dan mengatakan hasil pemindaiannya.


[Ditemukan uang sebesar 100 ribu rupiah dalam jarak 15 meter dari Host.]


[Ditemukan uang sebesar 50 ribu rupiah dalam jarak 20 meter dari Host.]


"Hanya ada dua? Tapi itu tidak apa-apa." Azam mengangkat bahunya. Dia segera pergi ke lokasi yang ditunjukkan oleh Sistem.


Setelah mengambil uang 50 ribu yang ada di 20 meter dari lokasi sebelumnya, Azam hendak mencari uang lagi. Tapi pada saat ini di sudut pandangnya, dia melihat ada seseorang yang dia kenal.


"Gian, dan siapa?" Azam menyipitkan matanya. Dia segera bersembunyi di tempat yang tidak mencolok agar bisa mengamati Gian.

__ADS_1


Benar, yang Azam lihat adalah Gian dengan seorang gadis cantik yang tidak dikenal oleh Azam. Oleh karena itu, Azam segera menyalakan kamera ponsel dan merekam mereka berdua.


Gian dan gadis itu berjalan sambil berbincang-bincang dan sesekali mereka berdua tertawa bersama. Selang beberapa menit, mereka berdua masuk ke dalam mobil milik Gian.


"Apa mereka mau melakukannya? Sial, tidak ada tempat persembunyian di sekitar," kata Azam dengan nada kesal saat mengetahui kalau Gian dan gadis itu akan berhubungan di dalam mobil.


Jadi Azam tetap menunggu di sana. Tapi dia juga mengirim pesan kepada Sandra kalau dia sedang menyelidiki Gian, jadi dia minta izin untuk tidak bekerja sebagai penjaga di area syuting.


Sandra Yanna: Oke, hati-hati. Jangan memaksakan dirimu, Azam.


Azam tersebut saat melihat balasan dari Sandra. Lalu dia duduk dan terus mengamati mobil milik Gian yang mulai bergoyang-goyang.


Di sekitar mereka tidak ada orang, atau bahkan sangat sepi. Tapi di sekitar mobil adalah area terbuka sehingga tidak ada tempat bagi Azam untuk mendekati mobil Gian secara diam-diam.


Setelah satu jam menunggu, akhirnya Azam bisa melihat kalau Gian keluar dari mobilnya. Wajah Gian terlihat sangat gembira saat dia keluar, lalu Gian pergi dengan cepat.


Azam tidak mengikuti Gian, tetapi dia mendekati mobilnya dengan hati-hati sambil berpura-pura menjadi pejalan kaki. Dia tidak mendekat dari samping mobil tetapi dari belakang agar gadis di dalamnya tidak melihatnya.


"Yah, mereka benar-benar melakukannya," batin Azam. Dia segera pergi dari sana agar tidak dicurigai sebagai maling jika ada orang yang melihatnya.


...----------------...


Sementara Azam sedang ada di Setu Babakan. Di Universitas Indonesia, tepatnya di taman. Devina sedang duduk di gazebo sambil melakukan sesuatu dengan laptopnya.


"Devina! Ada berita besar!!" Seorang gadis dengan rambut pendek yang merupakan teman Devina berlari ke arah Devina sambil memegang ponselnya.


"Rere, berita besar apa?" Devina menoleh dan bertanya kepada temannya yang bernama Rere dengan penasaran.


"Lihat, ini ada berita tentang perusahaan keluargamu," kata Rere dengan napas yang terengah-engah sambil memberikan ponselnya kepada Devina.

__ADS_1


Devina semakin penasaran dengan ini, dia segera membaca berita yang ditampilkan di layar ponsel Rere. Kemudian dia sangat terkejut dengan isi beritanya karena Yasir dan Agus sudah ditangkap polisi.


Apalagi masalahnya merupakan hal yang tabu, yaitu perdagangan obat-obatan. Yasir dan Agus menggelapkan uang perusahaan demi membeli obat-obatan yang memiliki markas di Magic KTV.


"Azam sudah menyelesaikan tugas ini? Tapi, apa ini semua adalah informasi dari Azam?" Devina berpikir sambil mengernyitkan dahinya karena informasi di dalam berita sangat banyak dan berbobot.


Meskipun Devina percaya kalau kemampuan Azam sangat baik, tapi dia masih ragu-ragu kalau berita yang dia lihat merupakan informasi yang didapatkan oleh Azam seorang diri.


"Devina, apa berita ini benar?" Rere selesai mengatur napasnya, lalu dia bertanya kepada Devina.


"Aku tidak tahu tentang masalah obat-obatannya, tapi kalau penggelapan uang perusahaan, ini benar," angguk Devina atas pertanyaan dari Rere.


"Ah!? Jadi itu benar!" Rere menutupi mulutnya dengan tangannya, dia sangat terkejut dengan kebenaran dari berita tersebut.


"Ya begitulah. Meskipun aku sendiri juga terkejut saat tahu masalah ini." Devina menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata tanpa daya.


Mereka berdua berbincang-bincang sebentar, lalu Rere pergi karena ingin menyebarkan berita ini. Devina hanya tersenyum karena sudah tahu kalau temannya itu sangat suka menyebarkan berita apalagi yang menghebohkan.


Tapi Devina membuang senyumnya setelah itu, dia segera menelepon ayahnya dan berkata, "Ayah, apa berita itu benar? Apa Pak Yasir dan Pak Agus melakukan penggelapan uang? Apa mereka membeli obat-obatan?"


Devina mengajukan banyak pertanyaan setelah telepon dijawab oleh Deva. Bahkan Deva tidak sempat untuk mengatakan sesuatu karena Devina langsung melontarkan banyak pertanyaan.


Setelah Devina selesai mengajukan pertanyaan, baru Deva berkata, "Sangat dong. Tapi semuanya itu benar, tapi masih ada yang disembunyikan karena akan menimbulkan banyak masalah."


Yang Deva maksud adalah tentang Yasir dan Agus yang memberikan uang kepada seorang wanita. Hal ini tidak diberitahu karena Deva takut wanita tersebut akan dikucilkan oleh masyarakat dan mungkin bisa mengakhiri hidupnya.


"Lalu, apa yang mendapatkan semua informasi ini adalah Azam?" tanya Devina kepada ayahnya dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Itu juga benar. Apa ada yang lain?" Deva mengangguk dan menjawab dengan singkat.

__ADS_1


"Tidak ada. Terima kasih, Ayah." Devina mengakhiri panggilan karena rasa penasarannya sudah terjawab oleh Deva.


"Azam, seberapa menakutkannya kamu?" pikir Devina yang merasa kalau Azam sudah seperti seorang ahli yang bisa mendapatkan informasi dengan mudah.


__ADS_2