Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Pergi ke Rumah Sakit untuk Memeriksa Dinda (Revisi)


__ADS_3

Azam masuk ke dalam kamar dan melihat kalau ada seorang anak perempuan kecil yang sedang berbaring lemas di atas ranjang dan anak itu memiliki wajah yang pucat.


Di sebelah anak itu terdapat wanita paruh baya yang sedang memegangi tangan anak itu. Dia adalah Astri, seorang bibi pengurus yang biasanya mengurusi makanan untuk anak-anak panti asuhan.


"Bu Astri, bagaimana kondisi Dinda?" tanya Azam kepada Astri.


"Nak Azam, kamu datang. Dinda bilang kalau dia sakit di bagian punggung, panggul, dan kaki. Dia sudah merasakan sakit sejak tiga hari yang lalu dan semakin parah," kata Astri.


"Baiklah, ayo bawa ke rumah sakit saja." Azam tidak tahu karena dia belum pernah mendengar penyakit dengan gejala seperti itu, jadi dia langsung menyarankan untuk pergi ke rumah sakit.


"Rumah sakit? Tapi kita tidak punya uang," kata Astri dengan tidak berdaya. Dia juga mau membawa Dinda ke rumah sakit, tapi mau bagaimana lagi karena keuangan panti asuhan tidak memadai.


"Gampang, uang ada, ayo pergi." Azam menggendong Dinda dan membawanya keluar dari kamar. Kemudian dia bertanya kepada Adeng apakah ada mobil yang bisa dipinjam.


"Kakek pikir toko sebelah ada mobil, coba Kakek tanya ke mereka dulu." Adeng keluar dari panti asuhan untuk meminjam mobil milik toko sebelah panti asuhan.


Anak-anak panti asuhan bertanya ke mana Azam akan membawa Dinda. Mereka sedih karena teman mereka sakit dan ingin membantu.


Azam tersenyum karena anak-anak sangat peduli satu sama lain dan itu berkat ajaran Adeng yang selalu sabar dan mengajarkan hal-hal baik kepada mereka.


Kemudian setelah beberapa saat, Adeng kembali dan berkata kalau toko sebelah memperbolehkan mereka untuk meminjamkan mobil dan Azam segera membawa Dinda ke mobil tersebut.


Untung saja mobilnya adalah mobil besar sehingga Adeng dan Astri bisa ikut. Panti asuhan akan diserahkan kepada penjaga dan pengurus lain.


"Ayo pergi." Azam menyalakan mesin mobil dan langsung menginjak pedal gas. Dia mengemudikan mobil itu ke arah rumah sakit terdekat.


Puluhan menit kemudian, mereka sampai di sebuah rumah sakit yang sangat besar dengan warna gedung didominasi oleh warna biru dan putih.


Itu adalah rumah sakit yang cukup terkenal yang bernama Rumah Sakit Umum Pusat atau RSUP Fatmawati yang didirikan oleh Ibu Fatmawati Soekarno.


Awalnya RSUP Fatmawati dibangun sebagai rumah sakit khusus penderita tuberkulosis (TBC) bagi pasien anak dan pusat rehabilitasinya.

__ADS_1


Namun pada tahun 1961 fungsi rumah sakit ini berubah menjadi rumah sakit umum dengan pengelolaan seluruhnya ditanggung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.


Kini, RSUP Fatmawati telah menjadi rumah sakit tipe A dengan kapasitas sekitar 1.000 tempat tidur dan memiliki layanan rujukan nasional.


"Kita sampai." Azam membuka pintu dan membawa Dinda menuju meja resepsionis. Di sana dia segera mengatakan kondisi Dinda kepada resepsionis.


"Baik, mohon diisi formulirnya terlebih dahulu, ya." Resepsionis itu mengangguk, dia memberikan Azam pulpen dan kertas formulir, kemudian dia menghubungi dokter karena Azam mengatakan kalau Dinda adalah anak yatim piatu.


Anak yatim piatu merupakan orang yang diprioritaskan selain ibu hamil dan lansia sehingga si resepsionis langsung menghubungi dokter terkait.


"Ya." Azam mengangguk, dia memberikan formulir tersebut kepada Adeng karena dialah yang lebih mengerti data diri milik Dinda.


Adeng segera mengisi formulir tersebut, setelah beberapa saat dia langsung menyerahkan formulir yang telah dia isi kepada resepsionis.


"Terima kasih. Tolong ikuti saya, saya akan membawa kalian ke dokter." Resepsionis itu menuntun Azam dan yang lainnya menuju ruangan dokter.


Tapi sebelum itu dia meminta Azam untuk membawa Dinda dengan kursi roda saja agar lebih nyaman dan kursi rodanya bisa dipinjam dari RSUP Fatmawati.


"Dokter, pasien sudah datang." Resepsionis mengetuk pintu ruangan dan berkata. Kemudian terdengar suara seorang wanita dari dalam ruangan.


"Halo, silakan duduk." Dokter wanita yang bernama Susan itu mempersilakan Azam untuk duduk.


Azam mengangguk, dia duduk di kursi sementara Dinda di sebelahnya. Susan membaca data diri Dinda terlebih dahulu, kemudian dia mulai bergaya terkait kondisi Dinda kepada Azam.


Azam juga menjawab semua pertanyaan dengan jujur karena ini terkait dengan kesehatan Dinda. Susan mengerutkan keningnya karena dia sepertinya tahu penyakit apa itu, tapi tidak langsung memberitahu karena itu memang tidak boleh dilakukan.


Seorang dokter tidak boleh menggunakan kata 'mungkin' atau 'sepertinya' karena itu tidak pasti. Mereka harus memeriksa pasien sesuai prosedur agar tahu penyakit apa yang diderita oleh pasien.


Jadi, Susan segera melakukan pemeriksaan kepada Dinda. Dia juga meminta Azam untuk membawa Dinda ke ruang lain yang isinya ada sebuah mesin pemeriksaan.


Satu jam kemudian, hasil pemeriksaan sudah muncul. Susan berkata, "Azam, kan? Ini hasil pemeriksaan Dinda, silakan dibaca dulu. Tanya ke saya jika ada yang tidak kamu pahami."

__ADS_1


Azam mengangguk, dia membawa kertas itu keluar ruangan agar bisa membaca bersama dengan Adeng dan Astri. Kemudian, dia mengerutkan keningnya karena Dinda menderita penyakit rakitis.


Lalu, setelah membaca semuanya, Azam masuk kembali ke dalam ruangan dan bertanya, "Dok, setahu saya, rakitis itu penyakit tulang kan?"


Susan mengangguk dan berkata, "Rakitis itu penyakit yang menyebabkan tulang anak lebih lunak dan lemah. Biasanya rakitis terjadi akibat kekurangan vitamin D yang ekstrim dan berkepanjangan. Rakitis juga bisa diwarisi oleh keluarga."


"Tapi melihat kalau Dinda adalah anak yatim piatu di panti asuhan, penyebabnya mungkin yang pertama, yaitu kekurangan vitamin D."


"Rakitis bisa menyebabkan kelainan bentuk tulang seperti kaki tertekuk, proyeksi tulang dada dan pergelangan tangan dan pergelangan kaki menebal."


Azam mengerutkan keningnya lebih dalam lagi karena kondisi Dinda cukup serius. Dia tidak menyangka kalau gejala yang tampaknya sepele itu merupakan gejala penyakit yang serius.


Jad dia bertanya, "Dok, cara menyembuhkan rakitis itu bagaimana ya?"


Dinda mengangguk dan menjelaskan, "Beruntung ini masih gejala awal, jadi bisa disembuhkan tanpa operasi."


Cara menyembuhkan rakitis itu dengan memberikan vitamin D dosis tinggi baik itu makanan atau suplemen, mendapat paparan sinar matahari, dan mengonsumsi minyak ikan.


"Tapi karena Dinda masih kecil, lebih baik dia menginap di sini saja," tambah Susan. Karena Dinda masih kecil dan pastinya tubuhnya rentan dengan virus baru.


"Baik, saya akan mengikuti saran dari Dokter." Azam mengangguk. Kemudian dia segera pergi ke resepsionis yang tadi dan mengajukan kamar untuk Dinda.


Tentu saja, kamar yang dia maksud adalah kamar terbuka, yaitu suite room di lantai enam gedung teratai dengan harga 1,7 juta per malamnya. Harganya mahal, tapi sesuai dengan fasilitasnya.


Dan Azam langsung membayarnya selama 10 hari dengan total 17 juta. Uang Azam langsung berkurang banyak, tapi dia sama sekali tidak khawatir karena uangnya akan terus bertambah selama dia menggunakan Sistem Pemindai.


Bahkan resepsionis itu terkejut karena tadi Dinda adalah seorang anak yatim piatu, tapi Azam bisa membayar 17 juta tanpa mengedipkan matanya seolah-olah itu bukanlah jumlah yang banyak.


Setelah membayar, Azam kembali ke ruangan dokter Susan dan membawa Dinda ke kamar suite room bersama dengan Adeng dan Astri.


"Azam, kamar apa yang kamu sewa!?" Adeng membelalakkan matanya karena melihat interior ruangan suite room itu sangatlah mewah.

__ADS_1


"Santai saja, Kek. Aku punya uang di sini." Azam tersenyum dan tidak mengatakan harga sewa per malamnya agar Adeng tidak terkena serangan jantung.


Azam membaringkan Dinda di atas ranjang yang super empuk. Kemudian dia kembali ke panti asuhan bersama Adeng untuk mengambil pakaian Dinda.


__ADS_2