Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Pergi ke Mall untuk Bertemu dengan Harun (Revisi)


__ADS_3

Minggu, 28 Juli 2030


Azam bangun karena sinar matahari yang masuk lewat celah jendela membangunkannya. Dia keluar dari kamar untuk pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi.


Hari ini adalah Hari Minggu sehingga dia tidak ada kelas. Jadi Azam bisa bersantai dengan nyaman karena rencananya dia akan berdiam diri di apartemen dan melakukan sedikit aktivitas.


Tapi, harapan Azam untuk bersantai di dalam apartemen selama seharian penuh menjadi sirna karena kata-kata yang keluar dari mulut Vanessa yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Azam, ayo ikut aku ke Super Mall Dirta. Kita akan membicarakan pertemuan amal dengan Ayahku," kata Vanessa tanpa menyadari ekspresi wajah Azam yang pucat pasi.


"Ugh, hari berhargaku!" Azam ingin berteriak tapi tidak bisa karena takut Vanessa akan marah.


Jadi Azam kembali ke kamar mandi untuk mandi, kemudian mereka berdua segera pergi ke Super Mall Dirta dan naik ke lantai tiga karena di sana adalah tempat kantor ayah Vanessa berada.


"Ayah, kami masuk." Vanessa mengetuk pintu, lalu dia membukanya tanpa menunggu jawaban dari Harun yang sedang mengurus dokumen.


"Ah, anak ini." Harun membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia hanya menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi, kamu yang namanya Azam?" Harun berdiri, dia mengulurkan tangannya dan berkata dengan nada ramah.


"Kenapa aku merasa deja vu?" Azam merasa kalau dia pernah melihat hal yang sedang terjadi sekarang di beberapa waktu sebelumnya.


"Halo, Pak Harun, aku Azam." Azam tersenyum dan mengangguk, dia mengulurkan tangannya juga untuk berjabat tangan dengan Harun.


"Duduklah." Harun mempersilakan Azam untuk duduk, sementara itu Vanessa sudah duduk dari tadi sambil memakan camilan yang ada di atas meja.


"Ayah, Ibu di mana?" tanya Vanessa sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


"Ibu sedang turun ke lantai satu, ada urusan," jawab Harun. Kemudian dia menoleh ke arah Azam dan berkata, "Azam, aku dengar dari Vanessa kalau kamu lagi butuh donasi?"


Azam mengangguk dengan serius dan berkata, "Ya, Pak. Aku butuh uang untuk membangun ulang Panti Asuhan Matahari, tempat di mana aku dibesarkan."


Azam tersenyum saat menyebutkan nama Panti Asuhan Matahari, karena tempat itu berisi banyak kenangan mau itu yang membahagiakan atau yang menyedihkan.

__ADS_1


"Berapa biaya untuk membangun ulang?" tanya Harun kepada Azam.


"600 juta, ini sudah diberi diskon oleh perusahaan konstruksi," jawab Azam dengan jujur meskipun tidak tahu mengapa Harun menanyakan hal itu.


"600 juta? Biaya yang murah. Tapi ternyata sudah diberi diskon ya, sepertinya kamu mengenal orang dari perusahaan konstruksi itu?" Harun tersenyum meskipun dia terkejut karena Azam bisa mendapatkan diskon yang banyak.


Padahal untuk membangun ulang sebuah bangunan membutuhkan biaya yang sangat banyak. Apalagi ini adalah panti asuhan yang mengharuskan pekerja untuk membangun banyak kamar.


Jadi Harun terkejut dengan biaya pembangunan ulang yang hanya 600 juta apalagi ini adalah Kota Jakarta. Meskipun letak panti asuhan ada di pinggiran, tapi tetap saja biaya per meter perseginya akan sangat mahal.


"Haha, begitulah." Azam hanya tertawa. Meskipun dia sebenarnya sudah berpikir kalau Harun pasti sudah tahu dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Perusahaan Tiger Construction.


"Yah, kamu sudah membantu putriku saat perampokan bank di tempo hari. Jadi, aku akan mengadakan pertemuan amal sebagai balasan. Sekarang, katakan informasi tentang Panti Asuhan Matahari ini," kata Harun sambil tersenyum.


Pada awalnya, dia terlihat biasa-biasa saja saat ada perampokan bank. Tapi kemudian dia hampir menderita serangan jantung saat melihat ada sosok yang dia cintai di kamera.


Saat tahu keseluruhan cerita dari Wahid setelah mencari informasi, Harun sangat menghargai Azam. Karena tidak hanya pintar dan tampan, namun Azam juga berani dan baik hati.


"Tunggu sebentar," kata Harun. Dia berdiri dan mengambil tablet dari atas meja kerjanya, kemudian dia duduk kembali di tempat semula. Setelah itu, Azam mulai mengatakan informasi tentang Panti Asuhan Matahari.


Di tengah-tengah pembicaraan, Vanessa keluar dari kantor karena ingin menemui ibunya yang ada di lantai satu mall karena tidak ada hal yang perlu dilakukan di dalam kantor ayahnya.


Setengah jam kemudian, Azam telah selesai mengatakan semua informasi terkait Panti Asuhan Matahari. Harun mengangguk dan menyimpan informasi yang sudah dia rangkum.


"Lalu, apa kamu memiliki hubungan khusus dengan putriku?" Harun menyingkirkan tabletnya, kemudian dia bertanya kepada Azam sambil tersenyum penuh arti.


"Ah!?" Azam tercengang karena tidak menyangka ada pertanyaan yang tiba-tiba dari mulut Harun.


"Jadi?" Harun tersenyum penuh arti. Dia sama sekali tidak melarang putrinya berhubungan dengan pria, justru dia sangat mendukung.


Itu karena sifat Vanessa yang membuatnya repot, dia penuh dengan ide dan itulah mengapa dia menjadi penulis. Jadi Vanessa harus punya pasangan bisa mengimbangi ide-idenya.


Dan Harun bisa melihat kalau Vanessa sangat akrab dengan Azam meskipun belum lama mereka bertemu, yang artinya Vanessa bisa melepaskan diri di depan Azam.

__ADS_1


"Kami tidak punya hubungan khusus apapun," jawab Azam ambil tersenyum masam karena pertanyaan yang diajukan oleh Harun.


"Benarkah?" Harun melirik Azam dengan tatapan mata penuh arti, tapi dia tidak melanjutkan pertanyaan ini. Dia mengambil kartu namanya dan menyerahkannya kepada Azam.


Azam menerima kartu nama milik Harun dan menyimpannya ke dalam sakunya. Kemudian mereka berdua berjabat tangan, dan Azam keluar dari kantor.


"Yah, remaja yang menarik. Vanessa, kamu harus berusaha keras untuk mendapatkannya," batin Harun sambil tersenyum. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya kembali.


Sementara itu, Azam sedang berjalan-jalan di mall sambil melihat-lihat. Terlahir pergi ke mall adalah saat dia berbelanja dengan Vanessa, dan saat itu dia tidak sempat untuk melihat-lihat.


Azam pergi ke lantai satu karena di sana terdapat banyak makanan dan minuman yang dijual. Namun pada saat Azam turun dengan eskalator, dia melihat seorang wanita yang tersandung dan jatuh ke lantai.


Azam segera membantu wanita tersebut untuk berdiri dan mengambil barang-barangnya. Kemudian dia menuntun wanita tersebut untuk duduk di bangku terdekat.


"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya Azam. Itu karena wanita tersebut adalah wanita paruh baya yang memiliki penampilan yang muda sehingga Azam memanggilnya 'nyonya'.


Meskipun pada awalnya Azam mengira kalau wanita tersebut adalah seorang wanita muda. Karena memang penampilannya bukan karena perawatan ataupun skincare, tapi seperti natural.


"Aku tidak apa-apa, terima kasih." Wanita tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya dan berterima kasih kepada Azam.


"Sama-sama, Nyonya." Azam tersebut sopan dan menganggukkan kepalanya.


"Maaf merepotkan, siapa namamu? Ah, dan jangan panggil aku nyonya, itu terlalu formal." Wanita tersebut bertanya kepada Azam.


"Oke. Namaku Azam Pramudya, Ibu bisa memanggilku Azam." Azam mengangguk dan memperkenalkan dirinya kepada wanita tersebut.


"Azam, ya, nama yang bagus. Aku Renata, panggil saja Rena." Wanita itu juga memperkenalkan dirinya kepada Azam.


Mereka berdua mengobrol sebentar karena Rena yang sangat antusias yang membuat Azam tidak berdaya. Kemudian Rena pamit pergi karena dia ditelepon oleh seseorang.


Azam juga membeli beberapa makanan dan minuman di sana, kemudian dia mengirimkan pesan kepada Vanessa kalau dia ada di lantai satu di dekat eskalator.


Jadi Vanessa bisa langsung menemukannya kalau ponselnya tidak bisa dihubungi. Azam kemudian duduk dan memakan semua makanan dan minuman yang sudah dia beli di lantai satu barusan.

__ADS_1


__ADS_2