Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Azam yang MendapatTantangan Duel dari Doni


__ADS_3

"Oy, ayo kita bertanding," kata remaja laki-laki itu kepada Azam dengan suara keras. Azam langsung menyemprotkan air minum yang ada di mulutnya, karena dia sangat terkejut dengan tantangan yang tiba-tiba.


Azam melihat remaja laki-laki di depannya yang sedang turun dari kuda. Dia mencari di ingatannya apakah dia pernah bertemu dengan remaja itu, tapi setelah beberapa saat, Azam menyerah karena tidak mengenali remaja itu.


"Anu, siapa kamu?" tanya Azam dengan sopan, agar tidak menimbulkan masalah dengan remaja itu.


"Hmph, namaku Doni. Aku mau menangangmu duel," kata remaja laki-laki yang memperkenalkan dirinya.


"Yah, aku Azam. Doni, kan? Kenapa kamu menantangku?" tanya Azam kepada Doni.


"Aku mau menantangmu duel berkuda. Yang kalah harus menjauhi wanita cantik ini," kata Doni. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Vanessa yang terkejut juga.


"Aku?" tanya Vanessa sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, kamu. Siapa namamu cantik?" Doni berlutut dengan satu lutut di depan Vanessa, lalu dia bertanya dengan suara lembut.


Vanessa menoleh ke arah Azam dan menatapnya dengan mata memohon. Azam menghela napas panjang, dia bangkit dan berdiri di antara Vanessa dan Doni.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Doni dengan suara tidak senang.


"Berdirilah. Jelaskan kenapa kamu melakukan semua ini? Apa kamu habis ditolak gadis? Atau karena kamu jomblo abadi? Atau karena..." Azam berhenti, karena dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Berhenti, berhenti!!" teriak Doni dengan keras. Dia sangat malu dengan perkataan Azam karena ada yang benar di sana.


"Okelah, jelaskan," kata Azam dengan suara tenang.


Doni segera berdiri, dia melihat Azam dengan tatapan sengit dan berkata, "Hmph, apa seorang laki-laki perlu alasan untuk jatuh cinta dengan wanita cantik?"


"Yah, itu artinya kamu suka Vanessa karena cantik," balas Azam sambil menghela napas panjang.


"Oh, jadi namanya Vanessa?" Doni menyentuh dagunya dan melihat Vanessa dari atas sampai ke bawah.


"Jaga matamu, Doni," kata Azam dengan suara dingin sambil menghalangi pandangan Doni dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo duel!" teriak Doni dengan marah karena Azam menghalanginya.


"Aku tidak bisa hari ini. Bagaimana kalau besok, di jam dan tempat yang sama?" kata Azam setelah berpikir sejenak. Dia perlu memberi editor hari ini, jadi tidak bisa berduel dengan Doni.


"Hmph, oke. Awas saja kalau kamu kabur," kata Doni dengan sombong. Kemudian dia menunggangi kudanya dan pergi dengan teman-temannya.


Azam dan Vanessa melihat mereka pergi. Azam menghela napas panjang, karena dia berpikir kalau dia terlibat dalam masalah yang merepotkan.


"Azam, maafkan aku," kata Vanessa dengan menyesal. Dia menyesal karena Doni mengajak duel Azam karena dirinya.


"Hah? Santai saja, Van. Aku juga mungkin bakal kaya Doni, karena kamu sangat cantik," kata Azam sambil tersenyum cerah yang membuat Vanessa malu.


"Kamu!!" balas Vanessa dengan memelototi Azam, mukanya juga berubah menjadi merah karena malu.


Setelah kejadian tadi, mereka tidak mood untuk lanjut berkuda. Para mahasiswa di sekitar juga melihat ke arah mereka, mereka jadi tidak nyaman dengan tatapan mahasiswa di sekitar.


Jadi, mereka memutuskan untuk pergi. Azam tidak bisa menemukan Zaidan, jadi dia pamit lewat chat. Karena hari masih siang, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di restoran.


Seperti sebelumnya, suasana menjadi canggung. Azam menghela napas panjang karena pusing. Azam berdehem dengan keras untuk mengalihkan perhatian Vanessa dan Devina.


"Ekhem. Devina, kamu mau pulang?" tanya Azam sambil tersenyum.


"Tidak, aku mau makan," jawab Devina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oh, kebetulan kita sama," balas Azam. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi Vanessa sudah berkata dengan cepat.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Vanessa kepada Devina. Tentu saja, Devina tertegun dengan ajakan Vanessa.


"Oke. Kalian naik motor kan? Naik mobilku saja," kata Devina sambil melemparkan kunci mobil miliknya kepada Azam yang masih tertegun.


"Azam, ayo," kata Vanessa sambil membuka pintu mobil bagian belakang, begitu juga dengan Devina.


"Uh? Permisi, nona-nona?" Azam menghela napas tidak berdaya, lalu dia masuk ke dalam mobil di bagian pengemudi.

__ADS_1


Azam memasukkan kunci mobil, menyalakan mesin mobil, dan segera menginjak pedal gas. Dia segera mengendarai mobil ke sebuah restoran yang sedikit jauh dari Universitas Indonesia.


Di sepanjang perjalanan tidak canggung seperti yang Azam kira. Vanessa dan Devina mengobrol dengan santai, seolah-olah mereka adalah teman yang sudah kenal lama. Bahkan Azam tercengang dengan perkembangan hubungan mereka berdua.


Vanessa juga menceritakan kejadian tadi, tentang Azam yang ditantang duel oleh Doni. Devina terkejut saat mendengarnya, karena dia mengenal Doni.


"Azam, kamu bakal duel sama Doni?" tanya Devina dengan ragu-ragu.


"Hm? Ya. Ada yang salah?" tanya Azam dengan curiga.


"Tidak ada sih. Aku kenal Doni, dia itu suka ganti-ganti pacar. Jadi yah, aku agak tidak suka dengannya," kata Devina dengan nada tidak senang saat menyebut nama Doni.


"Oh? Jadi dia punya sifat seperti itu. Sepertinya menarik untuk mengalahkannya," kata Azam sambil menyeringai. Karena dia tidak sabar untuk mengalahkan Doni di duel besok.


Doni memang tampan, tapi tidak maskulin. Jadi dia tampan tapi playboy. Azam tidak peduli mau macam apa Doni itu, tapi dia tidak suka dengan orang yang bermain-main dengan orang lain, apalagi perempuan.


"Berapa persen kamu bisa mengalahkan Doni?" tanya Vanessa dengan penasaran, karena dia tahu kalau Azam belum pernah melakukan aktivitas berkuda.


"99 persen," jawab Azam dengan nada yakin. Dia juga menjawab tanpa berpikir panjang karena dia memang benar-benar sudah yakin.


"Kamu yakin?" tanya Vanessa untuk meminta konfirmasi dari Azam.


"Ya. Aku memang belum pernah berkuda, tapi aku yakin dengan otak dan fisikku." Azam menjawab sambil tersenyum penuh percaya diri.


"Oke. Aku percaya padamu," angguk Vanessa sambil tersenyum.


Devina melihat interaksi antara Azam dengan Vanessa. Dia cukup terkenal saat mendengar Azam belum pernah berkuda. Tapi dia lebih terkejut lagi saat mendengar Vanessa percaya kalau Azam akan menang.


"Apa mereka susah lama kenal? Kenapa Vanessa bisa percaya Azam, meskipun kemenangan Azam masih diragukan," pikir Devina dengan bingung.


Tapi pada akhirnya, Devina memutuskan untuk percaya pada Azam juga. Mungkin karena dia cemburu dengan Vanessa yang bisa percaya pada Azam hanya dalam beberapa patah kata.


Mereka sampai di restoran yang cukup terkenal di sana. Mereka masuk dan segera pergi ke lantai dua agar bisa makan dengan nyaman. Lalu setelah pelayan datang, mereka segera mengatakan apa yang mereka mau.

__ADS_1


__ADS_2