Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Berita tentang Penangkapan yang Sedikit Aneh


__ADS_3

Selasa, 6 Agustus 2030.


Pagi harinya, sinar matahari masuk melewati jendela ruang tamu yang kordennya hanya menutupi sebagian jendela. Perasaan hangat menempel di pipi Azam yang sedang tidur di sofa sehingga membuatnya membuka mata.


Azam bangun sambil mengusap-usap matanya, kemudian dia sadar kalau hari sudah berganti dan sekarang sudah pagi. Azam juga melihat Vanessa yang masih tidur dengan nyenyak karena sinar matahari terhalang sofa.


"Sudah jam 6, hari ini aku ada kelas siang, jadi aman." Azam berdiri dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat tidur di sofa semalaman.


Azam pergi ke kamarnya untuk mengambil pakaian, kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan yang cukup bervariasi.


"Yah, hari ini libur lari pagi dulu, Vanessa juga sangat lelah. Mungkin aku bisa buat sarapan ala Jepang saja," kata Azam sambil memilih bahan yang ada di dalam kulkas.


Azam hanya mengambil dua bahan dari kulkas yaitu ikan salmon dan telur. Setelah itu dia juga menyiapkan bumbu-bumbu yang harus dipakai untuk membuat sarapan kali ini.


Dia akan menanak nasi yang lembut dan harum, memanggang ikan salmon, membuat tamagoyaki yang merupakan telur dadar ala Negeri Sakura, serta sup telur yang akan menghangatkan perut.


Satu jam kemudian, Azam selesai membuat semuanya. Kemudian dia segera membangunkan Vanessa yang masih tidur dengan nyenyak sambil memiliki senyum di wajahnya.


"Sepertinya dia lagi mimpi indah," kata Azam sambil tersenyum. Kemudian dia segera membangunkan Vanessa.


"Um? Jam berapa sekarang?" Vanessa membuka matanya dan bertanya kepada Azam.


"Jam 7. Bangunlah, sarapan sudah siap." Azam berkata, kemudian dia berdiri dan pergi ke dapur untuk membawa sarapan yang masih ada di sana.


Vanessa bangun, dia menguap karena masih mengantuk, tapi dia segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka agar matanya tidak mengantuk lagi. Setelah itu dia pergi ke ruang makan.


"Woah! Kamu yang membuat semua ini, Azam?" tanya Vanessa dengan mata yang berbinar-binar saat melihat menu sarapan di atas meja yang terlihat sangat menggiurkan.


"Ya. Ngomong-ngomong, kamu mau teh, kopi, atau susu?" tanya Azam yang masih ada di dapur untuk membuat minuman.


"Ah, biar aku yang membuatnya!" Vanessa segera pergi ke dapur menggantikan Azam untuk membuat minuman karena Azam sudah menguatkan sarapan, jadi setidaknya dia juga harus membantu.

__ADS_1


"Okelah, aku kopi susu ya." Azam tersenyum dan mengangguk, dia melepas celemek dan menggantungnya di gantungan. Setelah itu dia duduk di kursi ruang makan sambil membaca berita di ponselnya.


"Oke!" Vanessa tersebut dan mengangguk, dia segera membuatkan kopi susu untuk Azam dan teh hitam untuk dirinya.


Sementara itu Azam sedang membaca berita tentang pertemuan amal yang diselenggarakan kemarin malam di lantai satu Super Mall Dirta.


Berita itu berisi pujian-pujian kepada para pengusaha yang sudah berbaik hati berdonasi kepada orang atau kelompok yang sedang dalam kondisi kekurangan dan membutuhkan bantuan.


"Tapi aku yakin kalau ada campur tangan media di sini, karena pujian di berita ini terkesan terlalu berlebihan," pikir Azam yang muak saat membaca pujian yang tertulis di berita tersebut.


"Azam! Kopinya sudah siap!" Vanessa menaruh kopi dan teh miliknya di atas meja makan, lalu dia berkata kepada Azam yang sedang membaca berita.


"Terima kasih!" Azam meletakan ponselnya, lalu dia berterima kasih kepada Vanessa.


Vanessa tersenyum tipis dan berkata, "Aku yang harusnya berterima kasih, ayo makan!"


"Ya." Azam tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua segera menyantap sarapan bersama sambil berbincang-bincang.


Sekarang, Azam sedang duduk di dalam kelasnya, dia bermain dengan ponselnya sambil mendengarkan percakapan Rafa dan mahasiswa lain yang berbicara di sebelahnya.


"Sepertinya ada berita aneh tadi malam, kalian tahu kan?" tanya Rafa kepada mahasiswa lain.


Laki-laki yang bernama Brian berkata, "Ah, berita polisi yang menangkap beberapa orang di pinggiran kota itu? Atau bukan?"


"Ya, ya, yang itu! Bukankah berita ini sedikit aneh? Apakah kalian berpikir seperti itu juga?" Rafa mengangguk dengan serius.


Kali ini, mahasiswi yang bernama Zee berkata, "Aneh? Menurutku itu biasa-biasa saja, memang apa yang aneh, Fa?"


Mahasiswa lain mengangguk atas perkataan Zee, mereka juga merasa kalau tidak ada yang aneh. Tapi mereka juga penasaran mengapa Rafa menyebut berita itu aneh padahal mereka sendiri tidak.


Rafa menghela napas dan berkata, "Kalian ini ya. Yang aneh itu orang yang para polisi tangkap. Mereka itu orang yang berhubungan dengan pecandu narkoba yang pernah ditangkap polisi juga!"

__ADS_1


Seperti bom yang jatuh ke daratan yang memberikan dampak ledakan yang besar. Perkataan Rafa membuat otak mahasiswa yang mendengarnya tersadar secara tiba-tiba karena mereka juga ingat.


Di belakang Rafa, Azam mengerutkan keningnya. Dia segera memeriksa berita tentang penangkapan pecandu narkoba oleh polisi beberapa waktu sebelumnya.


"Hm? Ini yang dikatakan sama Kak Elina," batin Azam yang sadar kalau berita itu sudah pernah dia lihat karena ditunjukkan oleh Elina.


Lalu Azam membandingkan berita itu dengan berita penangkapan tadi malam. Dan seperti yang dikatakan oleh Rafa, beberapa orang yang tadi malam ditangkap pernah ditangkap juga beberapa waktu sebelumnya.


Tapi yang tidak ada dalam informasi yang dikatakan oleh Rafa adalah ada beberapa orang yang Azam pernah lihat wajahnya yang ditangkap oleh polisi tad malam, mereka itu adalah pengawal yang pernah dia kalahkan di Magic KTV.


"Jadi, Yasir dan Agus memang ada kaitannya dengan masalah obat-obatan. Kasus ini menjadi semakin serius, aku harus menyelesaikannya secepat mungkin," pikir Azam sambil menyentuh dagunya.


Azam memutuskan untuk bertindak maksimal hari ini karena dia tidak ingin masalah ini semakin berlarut. Apalagi masalah ini ada kaitannya dengan obat-obatan ilegal yang sangat dilarang oleh pemerintah.


Apalagi Azam juga tidak ingin terus terlibat dalam masalah ini karena itu akan semakin merepotkan. Dia juga tidak ingi terkenal hanya karena wajahnya yang masuk di video yang direkam oleh orang sekitar.


Pada saat ini, Rafa menepuk pundaknya dan berkata, "Azam, aku tidak menyangka kamu akan hadir di pertemuan amal di Super Mall Dirta."


Mahasiswa di sekitar yang mendengar perkataan Rafa menjadi tertarik, mereka segera menolehkan pandangan mereka ke arah belakang, tepatnya ke arah tempat duduk Azam.


"Yah, panti asuhanku memang sedang butuh dana. Kebetulan sekali ada orang baik yang mau menolong panti asuhanku," kata Azam sambil tersenyum cerah menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


Tentu saja dia tidak akan mengatakan kalau dia mengenal Vanessa, anak dari pemilik Super Mall Dirta dan orang yang menyelenggarakan acara pertemuan amal kemarin malam.


"Kami tidak bilang kalau panti asuhanmu butuh dana, kalau kamu bilang, maka aku bisa membantu mengumpulkan donasi," kata Rafa sambil menghembuskan napas panjang.


Mahasiswa lain juga menganggukkan kepalanya. Meskipun mereka tidak terlalu dekat dengan Azam, tapi mereka masihlah teman kelas dan sebagai sesama manusia, sudah seharusnya mereka membantu Azam.


"Hahaha, maafkan aku karena tidak bilang. Tapi terima kasih, berkat pertemuan amal kemarin panti asuhanku jadi bisa dibangun ulang," kata Azam sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


Mereka berbincang-bincang dengan akrab, kemudian dosen pengajar masuk dan mereka segera kembali ke tempat duduk masing-masing, lalu pengajaran pun dimulai.

__ADS_1


__ADS_2