Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Tugas Baru dan Novel Vanessa menjadi Film


__ADS_3

"Hah..." Sandra menghembuskan napas panjang setelah terdiam sejenak karena penjelasan Azam dan foto-foto yang dia lihat di ponsel Azam.


Memang belum ada bukti kalau Gian yang melakukan hal tersebut, tapi jika ini benar, filmnya akan gagal. Jika filmnya gagal, maka dirinya dan Kosmetik Yanna akan sangat merugi.


Azam juga hanya diam dan tidak mengatakan apapun karena ini bukan urusannya. Dia hanya menunggu dengan tenang apa yang akan diputuskan oleh Sandra selanjutnya.


"Azam, kamu mau uang?" Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sandra kepada Azam setelah dia bergelut dengan pikirannya.


"Berapa banyak?" tanya Azam dengan serius karena dia memahami makna dibalik perkataan Sandra.


"20 juta. Tapi bisa lebih dan kurang tergantung kinerjamu," kata Sandra setelah berpikir sejenak.


20 juta tidak banyak bagi Sandra yang merupakan keturunan dari Keluarga Yanna dan pemilik dari Perusahaan Kosmetik Yanna yang memiliki aset ratusan miliar atau bahkan triliunan rupiah.


"Bisakah aku meminta imbalan lain?" tanya Azam setelah berpikir kalau dia sudah ada banyak uang, dan sekarang dia memikirkan sesuatu.


"Katakan dulu, aku akan mengusahakannya." Sandra tidak langsung menerima persyaratan Azam, tapi meminta Azam untuk mengatakannya dulu.


"Yah, Ibu tahu kalau uangku dari tugas-tugas seperti ini. Jadi aku butuh aliran uang yang stabil, dan aku memiliki ide untuk berinvestasi di film ini. Jika tidak bisa, maka tolong sarankan aku tempat investasi yang lain," kata Azam.


"Investasi, ya, ide bagus. Aku bisa mengizinkanmu berinvestasi sebanyak 10 juta di film ini, dan investasi sepuasmu di tempat lain, bagaimana?" Sandra menganggukkan kepalanya karena Azam memiliki keputusan yang bagus.


"Di film ini saja," kata Azam tanpa ragu.


"Oke, aku terima," angguk Sandra yang menerima persyaratan Azam.


Azam ingin berinvestasi karena berpikir kalau uangnya bisa habis jika dia tidak melakukan tugas dari para orang kaya atau saat dia tidak menggunakan Sistem Pemindai jika dia sedang sakit atau berhalangan.


Jadi dia ingin dapat uang tanpa harus bekerja secara fisik dan saham atau investasi bisa dioperasikan lewat komputer, meskipun ini tergantung dengan situasi-situasi tertentu.


Kemudian Azam mengatakan kalau uang hasil investasinya akan diberikan kepada Panti Asuhan Matahari karena di sana lebih aman dan panti asuhan pasti butuh banyak kebutuhan.

__ADS_1


Azam akan berinvestasi atas namanya sendiri nanti saja, karena prioritasnya sekarang adalah Panti Asuhan Matahari, tempat dia dibesarkan.


"Lalu, apa kamu bisa memberikan hasilnya dengan cepat?" tanya Sandra kepada Azam karena dia perlu informasi yang akurat sebelum film resmi dirilis.


"Tidak bisa berjanji karena Gian adalah artis muda yang terkenal, tapi akan aku usahakan!" Azam mengangguk, namun dia tidak bisa berjanji akan selesai dengan cepat.


"Itu tidak apa-apa, aku juga paham dengan situasinya," angguk Sandra yang tidak keberatan dengan hal itu karena mendekati Gian memang cukup sulit.


Setelah itu, Azam diperbolehkan untuk pulang oleh Sandra. Azam mengangguk, dia segera pergi ke area parkir karena dia menggunakan motor, setelah itu dia pulang ke apartemen Vanessa.


"Aku pulang!" kata Azam setelah membuka pintu dan melepas sepatunya.


"Azam! Kamu sudah pulang?" Vanessa keluar dari dapur dan berkata kepada Azam yang baru masuk ke dalam apartemen.


"Ya, kamu sedang apa?" tanya Azam kepada Vanessa karena melihatnya keluar dari dapur.


"Tidak ada, hanya membuat teh. Kamu mau satu?" tanya Vanessa kepada Azam sambil masuk ke dalam dapur.


"Ngomong-ngomong, kamu dari mana saja? Aku lihat kamu sangat lelah." Vanessa keluar dari dapur sambil membawa nampan dan bertanya kepada Azam dengan penasaran.


"Hah...Aku bekerja. Sudah selesai satu pekerjaan, dan ada pekerjaan lainnya. Itulah kenapa aku sangat lelah hari ini." Azam menghembuskan napas panjang, lalu dia menjawab pertanyaan Vanessa.


"Bekerja keras memang bagus, tapi tolong jangan memaksakan diri, Azam." Vanessa duduk di sebelah Azam dan berkata sambil tersenyum manis.


Azam tertegun dengan senyum manis yah ditunjukan oleh Vanessa. Dia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia meminum teh yang sudah dibuat oleh Vanessa.


"Azam, kamu belum membaca novelku kan?" tanya Vanessa kepada Azam.


"Ah.. Maaf." Azam tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena dia belum membaca novel tulisan Vanessa.


Vanessa menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak apa-apa. Aku cuma mau memberitahumu kalau novelku diadaptasi menjadi film layar lebar beberapa hari yang lalu. Mungkin kamu bisa menontonnya saat sudah rilis."

__ADS_1


"Benarkah!? Wah, kamu keren sekali! Novelmu pasti sangat bagus!" Azam melebarkan matanya karena terkejut. Berita yang keluar dari mulut Vanessa merupakan berita yang sangat membahagiakan.


"Hehe. Aku beruntung, karena editorku yang meyakinkan para atasan," kata Vanessa sambil tersenyum.


Kemudian Vanessa menjelaskan kalau ada dua novel bagus yang bisa diadaptasi menjadi film. Tapi pihak investor hanya bisa memilih satu saja karena untuk membuat film membutuhkan biaya yang sangat besar.


Karena hal ini, editor Vanessa berusaha dengan sangat keras untuk meyakinkan para atasan agar novel yang ditulis oleh Vanessa diadaptasi menjadi film layar lebar.


Dan usaha keras yang dilakukan oleh editor Vanessa membuahkan hasil. Para atasan setuju untuk menjadikan novel milik Vanessa diadaptasi menjadi film, jadi mereka segera memberitahu para investor.


"Heh~ Kamu harus memberi hadiah untuk editormu, Van." Azam tersenyum. Dia benar-benar kagum dengan editor Vanessa karena usahanya. Itu artinya, editor itu memiliki hubungan yang baik dengan Vanessa.


"Pasti, nanti temani aku belanja ya!" Vanessa menoleh ke arah Azam dan berkata dengan senyum manisnya lagi.


Azam tertegun, tapi kali ini bukan karena melihat senyum Vanessa, tapi karena perkataannya. Azam menyesal kalau dia memberi saran kepada Vanessa untuk memberi hadiah karena dia akan berbelanja dengan Vanessa yang akan sangat melelahkan.


"Tapi, apa judul novel yang diadaptasi jadi film?" tanya Azam dengan penasaran kepada Vanessa.


"Judulnya 'Sebelum Gelap Dimulai'." Vanessa memberitahu judul novelnya yang diadaptasi menjadi film.


"Sebelum gelap dimulai, kenapa aku merasa pernah mendengar nama ini sebelumnya?" Azam mengerutkan keningnya. Dia memejamkan mata dan berpikir di mana dia pernah mendengar nama itu.


[Itu adalah nama film yang sedang syuting di Setu Babakan tadi. Apakah Host sudah lupa? Padahal belum beberapa jam.] Sistem memberitahu jawabannya kepada Azam dengan nada datarnya.


"Oh, benar!" Azam membuka matanya dan berkata dengan suara keras.


"Kenapa?" Vanessa melihat Azam dengan curiga karena Azam bertingkah aneh.


"Vanessa, ini kebetulan sekali. Aku memiliki pekerjaan di Setu Babakan, tepatnya di lokasi syuting film 'Sebelum Gelap Dimulai'," kata Azam dengan nada terkejut.


"Apa!? Benarkah itu!?" Vanessa menutupi mulutnya karena dia juga sangat terkejut dengan kebetulan yang terjadi.

__ADS_1


Azam lalu menceritakan tentang pekerjaannya menjadi penjaga di lokasi syuting di Setu Babakan. Tapi dia tidak menceritakan semuanya karena itu bukan sesuatu yang bisa diceritakan.


__ADS_2