
Setelah kembali ke apartemen, dia melihat kalau tidak ada Vanessa di sana. Jadi Azam hanya duduk di sofa sambil menonton televisi.
Tapi setelah beberapa menit, ponselnya berdering dengan berulang-ulang tanda bahwa ada banyak notifikasi yang masuk, jadi Azam memeriksanya dengan penasaran.
"Grup chat?' Azam melihat kalau grup chat kuliahnya sangat ramai. Dia penasaran dengan apa yang dibahas oleh para mahasiswa.
Kemudian dia melebarkan matanya saat melihat topik yang sedang dibahas oleh para mahasiswa, karena itu adalah video saat Azam memberi makan anak-anak kurang mampu di warung makan.
"Sial, siapa yang merekam?" Azam terkejut dengan apa yang dibahas. Tapi dia tidak ikut bergabung karena itu malah akan menambah keributan.
"Semoga saja tidak ada masalah yang muncul karena hal ini. Aku tidak mau jadi selebritas, karena bakal banyak orang yang menghujat," batin Azam sambil menghembuskan napas panjang.
Memang benar kalau ingin hidup tenang sesuai yang diinginkan oleh Azam, maka pekerjaan sebagai selebriti atau selebgram sama sekali tidak cocok.
Karena kehidupan Azam akan selalu diekspos oleh media bahkan jika Azam hanya melakukan hal kecil. Karena hal ini pula akan mendatangkan komentar-komentar negatif dari orang-orang yang iri.
Maka jika ingin hidup tenang adalah dengan menjadi pebisnis atau memiliki toko karena Azam bisa mendapatkan passive income dari hal tersebut.
...----------------...
Malam sudah tiba, Azam sudah siap untuk beraksi. Dia mengenakan pakaian yang cocok untuk pergi ke ktv agar tidak dicurigai jika dia memakai jaket dan masker yang terlihat seperti stalker.
Azam memasang kamera mini di kerah bajunya yang berwarna hitam agar tidak terlihat. Dia juga sudah membawa beberapa kamera mini lain dan alat pelacak lainnya.
"Vanessa belum pulang, mungkin dia tidak pulang hari ini." Azam melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam.
Azam mengangkat bahunya, dia segera memakai sepatu dan keluar dari apartemen. Kali ini dia menggunakan taksi online agar tidak diremehkan jika menggunakan ojek online biasa.
Jika dia diejek karena menggunakan ojek online untuk pergi ke ktv yang terkenal, maka hal itu akan mendatangkan banyak masalah mau itu yang kecil atau besar, tapi keduanya tetap saja merepotkan.
Singkat cerita, Azam sudah sampai di depan gedung ktv yang bernama Magic KTV. "Hm, gedungnya terlihat biasa, tapi aku yakin dalamnya tidak. Tidak mungkin ini ktv biasa karena lokasinya yang ada di daerah tengah," batin Azam.
Azam masuk ke dalam ktv setelah kartu identitasnya diperiksa oleh petugas untuk memverifikasi usia Azam karena takut ada pengunjung yang masih di bawah umur.
__ADS_1
"Kenapa ada penjaga? Ini kan ktv untuk bernyanyi. Apa mungkin, ada sesuatu yang berbeda? Yah, mungkin saja ini bar atau klub malam," pikir Azam yang merasa bingung.
Azam masuk ke dalam gedung, kemudian dia melihat kalau tampilan dalam ktv memang seperti bar atau klub malam. Di dinding juga ada petunjuknya kalau ktv atau ruang pribadi ada di lantai dua ke atas.
"Yah, sudah kuduga." Azam tersenyum. Dia tidak langsung pergi ke resepsionis, melainkan menunggu di bar sambil memesan minuman dengan alkohol yang paling rendah.
[Host, jangan sampai mabuk. Jika tidak misi kali ini tidak akan berhasil.] Sistem memberi saran kepada Azam untuk jangan mabuk.
"Jelas pasti, mana mungkin aku mau mabuk-mabukan sekadang." Azam memutar matanya dan membalas perkataan Sistem di hatinya.
Azam minum sambil menikmati musik yang sedang diputar, meskipun ini adalah klub malam berkedok ktv, tapi tidak seperti klub yang berisi orang-orang tidak senonoh.
Memang benar kalau ada banyak orang yang sedang menari di tengah ruangan, tapi mereka masih dalam batas umum. Tidak sampai ada pria atau wanita yang saling meraba-raba.
"Klub malamnya normal, tapi tidak tahu bagaimana dengan ktv nya," pikir Azam. Tapi saat dia mengalihkan pandangannya, dia melihat seseorang yang familiar.
Orang yang Azam lihat adalah seorang wanita berparas dengan rambut panjang berwarna hitam dengan kacamata khas yang cocok dengan dirinya.
"Bukankah itu Elina, sekretaris Pak Deva?" Azam menyipitkan matanya dan tersenyum penuh arti.
Benar, wanita cantik yang dilihat oleh Azam adalah Elina, sekretaris Deva yang dia temui pagi lalu. Azam terkejut karena penampilan Elina di kantor tadi dengan yang sekarang sangat berbeda.
Jadi, Azam membayar minuman yang dia pesan tadi. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Elina, dia lalu berhenti dan berdiri di belakang Elina.
"Halo, apa kamu senang di sini?" Azam tersenyum dan berbicara di dekat telinga Elina dengan suara rendah yang membuat Elina merinding.
"Siapa!?" Elina menjauh dan berkata dengan suara keras sambil memegangi telinganya yang terasa geli.
"Yo!" Azam mengangkat tangannya dan menyapa Elina dengan senyum lebar.
"Azam!?" Elina sangat terkejut, dia mengerutkan keningnya karena terkejut melihat Azam ada di Magic KTV.
Elina menjadi panik karena bertemu dengan Azam, dia membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu harus mengatakan apa kepada Azam.
__ADS_1
"Mau ke sana?" Azam tersebut dan menunjuk ke tempat duduk yang ada di pojok ruangan.
Elina terdiam sebentar dengan ajakan Azam, kemudian dia mengangguk dan berkata, "Oke, ayo."
Azam tersenyum, dia berbalik dan berjalan menuju tempat duduk yang ada di pojok ruangan di mana di sana tidak terlalu mencolok. Elina mengikuti Azam di belakangnya dengan wajah masam.
Setelah duduk, Elina langsung bertanya kepada Azam dengan suara dingin, "Apa yang kamu inginkan?"
"Lah? Justru aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan di sini?" Azam sedikit terkejut, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan bertanya kepada Elina.
Elina mengerutkan keningnya atas pertanyaan Azam. Dia berkata, "Bukan urusanmu aku ke sini, justru aku yang harus bertanya kenapa kamu di sini padahal usiamu masih muda?"
Azam menghela napas panjang dan menjawab, "Yah, terserah. Karena aku masih muda, aku ingin melihat hal-hal baru, apakah itu masalah?"
Azam tidak mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa dia ada di sana, dia menyipitkan matanya karena kurang percaya dengan Elina dan khawatir kalau Elina bukanlah orang yang baik.
"Itu masuk akal, apalagi kamu laki-laki." Elina tersenyum tipis dan melihat Azam dari atas sampai ke bawah.
Setelah jeda, Elina melanjutkan, "Aku diberi tugas oleh Pak Deva. Aku di sini untuk mencari informasi tentang obat-obatan yang katanya beredar di Magic KTV."
Elina berkata dengan suara rendah setelah menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan kalau tidak ada orang yang akan mendengar percakapan mereka karena apa yang dia katakan adalah hal yang sensitif.
Azam tertegun, ternyata Elina di sini adalah karena dia sedang mencari informasi. Dia tersenyum dan memutuskan untuk tidak menyembunyikan alasannya.
"Kamu!?" Elina sangat terkejut dengan informasi yang diberikan oleh Azam karena itu benar-benar mengejutkan apalagi ada petinggi lain yang terlibat dalam penggelapan uang.
"Begitulah, aku-." Azam tidak menyelesaikan perkataannya karena dia melihat kalau Yasir dan Agus sudah masuk ke dalam gedung ktv dengan beberapa orang pria dan wanita di belakang mereka.
"Kenapa?" tanya Elina dengan penasaran karena Azam berhenti tiba-tiba.
"Mari kita sudahi pembicaraan ini, target sudah datang." Azam berdiri dan segera berjalan mendekati Yasir dan Agus dengan wajah yang sangat serius.
"Target? Ah, mereka." Elina melirik beberapa orang yang baru saja masuk, sebenarnya dia cukup penasaran, tapi dia juga segera melanjutkan aksinya untuk mendapatkan informasi.
__ADS_1