
Jakarta International Equestrian Park menjadi bising karena salah satu peserta balap kuda melakukan kecurangan yaitu menggunakan duri untuk menyakiti kudanya agar bisa berlari dengan lebih cepat.
Mereka sama sekali tidak menyangka karena sangat jarang ada orang yang melakukan kecurangan karena konsekuensi saat ketahuan sangatlah berat.
Jakarta International Equestrian Park merupakan arena balapan kuda internasional. Jadi mereka tidak akan memberi keringanan kepada orang yang melakukan kecurangan saat balapan kuda.
Peserta berkain hijau memiliki wajah yang sangat pucat seperti orang mati saat mendengar kalau dia ketahuan dan diberi sanksi yang cukup berat oleh wasit.
Wasit juga membalikkan badannya karena akan berterima kasih kepada Azam, tapi Azam sudah menghilang dan wasit tidak menemukannya setelah menengok ke kanan dan ke kiri.
Jadi, sang Wasit hanya bisa berterima kasih kepada Azam di dalam hatinya dan segera memberi perintah kepada petugas untuk mengusir peserta berkain hijau yang sudah berbuat curang.
...----------------...
Sementara itu, orang yang sedang dicari oleh wasit kembali ke tempat duduknya. Dia duduk dengan nyaman dan Vanessa yang ada di sebelahnya menatapnya dengan tatapan kagum.
"Azam! Gimana caranya kamu tahu kalau orang itu curang!?" Vanessa bertanya dengan mata berbinar-binar karena menurutnya Azam sangat keren.
"Hahaha, aku ini jelmaan dewa." Azam tersenyum dan berkata dengan narsis. Tapi tentu saja dia tidak akan memberitahu jawaban yang sebenarnya.
"Narsis!" Vanessa menjulurkan lidahnya dan berkata dengan nada mengejek kepada Azam.
Azam menghentikan tawanya dan bertanya kepada Vanessa. "Gimana? Kamu udah dapat ide baru? Atau masih belum ada kemajuan?"
"Aku dapat pencerahan!" Vanessa tersenyum cerah karena akhirnya dia mendapat ide baru untuk novelnya.
Dia berpikir kalau tindakan Azam tadi sangatlah keren, dan tiba-tiba saja kepalanya seperti mendapat cahaya pencerahan dari langit yang membuatnya mendapat ide-ide baru yang sangat bagus.
Bahkan dia berpikir kalau ide yang baru saja didapatkan merupakan salah satu dari ide terbaik yang pernah dia pikirkan selama berkarier menjadi penulis novel.
"Bagus. Lalu, habis ini kamu mau lanjut nonton atau pergi?" Azam tersenyum karena dia juga turut gembira, kemudian dia bertanya kepada Vanessa.
"Hm, pergi saja." Vanessa berdiri dan pergi jari sana diikuti oleh Azam yang tidak terlalu peduli mereka berdua mau kemana.
__ADS_1
Mereka keluar dari jakarta international equestrian park dengan berjalan kaki karena mereka ingin berjalan-jalan di sekitar sana.
"Ah, Azam, pergi ke bank dulu." Vanessa menarik tangan Azam untuk pergi ke bank terdekat yang merupakan Bank Indonesia Bahagia atau BIB karena di sekitar tidak ada ATM.
"Ngomong-ngomong, aku juga sudah lama tidak ke bank." Azam berpikir seperti itu karena dulu dia tidak punya saldo di dalam tabungannya.
Vanessa merupakan anak dari keluarga kaya, jadi kartu kreditnya juga bukan kartu yang umum melainkan kartu VIP. Jadi dia bisa langsung dilayani tanpa harus mengantre seperti yang lain.
Ada beberapa orang yang membuka mulutnya untuk protes saat melihat Vanessa dilayani tanpa mengantre. Tapi mereka berkeringat dingin saat mengetahui kalau Vanessa merupakan nasabah VIP.
"Enak juga jadi orang superior," gumam Azam yang didengar oleh Vanessa di sebelahnya.
"Hahaha, kamu harus punya banyak uang!" kata Vanessa dengan nada bangganya yang membuat Azam tidak bisa berkata-kata.
Azam hanya memutar matanya dan mengabaikan perkataan Vanessa yang sombong. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan VIP dan Vanessa segera mengatakan urusannya sementara Azam hanya bermain dengan ponselnya.
Mereka berdua melakukan hal yang mereka lakukan sendiri, tapi pada saat ini terdengar suara yang sangat keras dari luar ruangan sampai mereka terkejut setengah mati. Azam juga mengerutkan keningnya karena mendengar ada teriakan dari luar.
Vanessa dan teller bank duduk di sofa dengan tubuh yang gemetar karena mereka tahu kalau bank sedang dirampok saat mendengar suara keras dan ancaman seorang pria dari luar ruangan.
"Kalian berdua, tetap tenang dan jangan buat keributan." Azam berkata dengan nada serius yang dibalas anggukan kepala oleh Vanessa dan teller bank.
Vanessa juga segera menyalakan ponselnya untuk menelepon polisi dengan cepat sebelum perampok bisa mencapai ruangan yang sedang mereka tempati.
Alasan Azam bisa tenang juga tidak bisa dijelaskan. Dia merasa kalau semenjak berpindah ke dunia ini, mentalnya menjadi semakin kuat dan bisa tetap tenang dalam situasi apapun.
"Sistem, pindai uang dengan pemilik di dalam bank ini." Azam memejamkan matanya agar bisa fokus dan memberi perintah kepada Sistem.
[Ditemukan uang sebesar 100 ribu rupiah dalam jarak 23 meter dari Host.]
[Ditemukan uang sebesar 460 ribu rupiah dalam jarak 20 meter dari Host.]
[Ditemukan uang sebesar 555 ribu rupiah dalam jarak 19 meter dari Host.]
__ADS_1
Ada banyak sekali uang dengan pemilik yang berhasil dipindai oleh Sistem dalam jarak 25 meter dari posisi Azam. Azam juga segera melihat lokasi yang ditampilkan oleh Sistem secara tiga dimensi.
Azam membuka pintu dengan sangat pelan dan mengintip situasi yang ada di luar ruangan. Kemudian dia meliha ada tiga orang yang memakai topeng perampok sambil membawa sesuatu di tangan mereka.
Setelah beberapa saat mengamati, Azam terkejut. Dia memegang dada bagian kirinya yang mana jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Alasannya adalah karena dia melihat kalau ada orang dengan topeng yang merupakan salah satu perampok memegang senjata api, meskipun senjata itu bukanlah yang asli melainkan yang rakitan.
"Ada tiga perampok, tapi ada senjata api. Haruskah aku bertindak?" Azam berpikir apakah dia akan bertindak dengan bantuan Sistem Pemindai atau tetap diam di ruangan.
[Host, Sistem sarankan untuk tetap diam di sini. Host tidak punya kemampuan untuk menjatuhkan mereka bertiga apalagi resikonya sangat besar karena ada orang yang memegang senjata api.]
Azam menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan dirinya karena apa yang dikatakan oleh Sistem memang benar kalau dia sama sekali tidak bisa menjatuhkan ketiga perampok.
Jika hanya satu perampok mungkin bisa, tapi ini ada tiga perampok. Apalagi ada orang-orang di sekitar yang dijadikan sandera oleh para perampok sehingga Azam tidak bisa bertindak dengan gegabah.
Tapi pada saat ini, Vanessa menepuk pundak Azam dan berkata, "Azam, ini panggilan dari polisi. Aku bingung harus menjawab apa."
Azam terkejut karena Vanessa bisa langsung menelepon polisi. Dia mengambil ponsel Vanessa dan mendengar suara yang berat dari balik telepon. "Namamu Azam? Bisakah kamu ceritakan situasi di sana?"
Wajah Azam menjadi serius karena orang di sisi lain memanglah polisi. Dia menarik napas dalam-dalam dan meminta Vanessa dan teller bank untuk menjauh dari pintu dan bersembunyi di bawah meja.
"Hati-hati." Vanessa memiliki wajah yang enggan tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu pada saat ini.
"Pak, ada tiga perampok. Satu di dekat resepsionis, senjata api rakitan. Satu di balik pilar sebelah kanan, parang. Satu di dekat pintu, parang." Azam segera mengatakan situasi kepada polisi.
Polisi itu tertegun karena tidak menyangka kalau Azam akan mengatakan sedetail itu. Dia tersenyum dan segera memerintahkan polisi-polisi lain untuk pergi ke posisi masing-masing.
"Jangan matikan ponselnya," kata polisi itu kepada Azam.
"Siap, Pak!" balas Azam dengan serius.
Azam segera bersembunyi dibalik lemari di dekat pintu. Meskipun bukan posisi yang aman, tapi bisa memberi serangan kejutan jika ada perampok yang masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1