
Ferrari merah melaju dengan kencang di jalanan dengan suara knalpotnya yang memiliki suara keras. Orang-orang yang melihat hal itu segera mengangkat ponsel mereka untuk merekamnya.
Segera setelah mereka sampai di komplek apartemen, Azam memarkirkan Ferrari itu di parkiran milik Vanessa. Kemudian mereka berdua naik ke lantai atas dan masuk ke dalam apartemen.
Setelah masuk ke dalam, Vanessa langsung berbaring di atas sofa panjang. Dia menghembuskan napas panjang dan berpikir kalau masalah akhirnya selesai.
"Aku gugup sekali tadi," kata Vanessa dengan nada lemah.
"Itu wajar. Apalagi ada perampok yang menggunakan senjata api." Azam berkata, dia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat untuk Vanessa dan dirinya.
"Azam, kenapa kamu bisa tetap tenang? Meskipun ada nyawa yang terancam, tapi tidak semua orang bisa bertindak." Vanessa bertanya dengan penasaran.
Memang benar, mungkin saat ada orang yang melihat nyawa orang lain sedang terancam di depan mata mereka, pikiran orang itu akan berpikir untuk menyelamatkan nyawa yang sedang terancam.
Tapi seringnya tubuh tidak bisa mengikuti pikiran tersebut. Tubuh sudah dikendalikan oleh hal yang namanya ketakutan yang membuatnya menjadi tidak bisa digerakkan.
Jadi saat ada orang yang bisa bertindak dengan tenang dan tepat di situasi yang mengancam nyawa, mereka adalah orang-orang yang hebat.
"Kenapa ya, aku sendiri tidak tahu alasannya. Tapi, mungkin ada kaitannya dengan mental ku yang sedikit kuat ini, haha." Azam tertawa karena dia juga tidak tahu alasannya.
Mungkin dia tahu, alasannya adalah karena mentalnya yang kuat karena sudah pernah mengalami kehidupan yang lain. Tapi jelas, dia tidak bisa memberitahu hal itu kepada Vanessa.
Vanessa akan menganggapnya sedang berhalusinasi akibat kejadian perampokan bank tadi. Jadi Azam tertawa dan mengatakan kalau dia tidak tahu alasannya.
"Ini, minum dulu." Azam memberikan secangkir teh kepada Vanessa dan menyuruhnya untuk minum.
"Ah, terima kasih." Vanessa meniup teh yang masih panas dan menyeruputnya secara perlahan-lahan. Dia merasa tenang saat teh panas masuk ke dalam perutnya.
"Kebetulan sudah siang, tapi kita pesan makanan saja ya?" kata Azam kepada Vanessa sambil melihat ponselnya.
"Um!" Vanessa mengangguk. Dia juga tahu kalau Azam masih lelah dengan kejadian yang tadi, jadi dia setuju untuk memesan makanan online saja.
Setengah jam kemudian, Vanessa ditelepon oleh satpam apartemen kalau ojek makanan sudah datang dan menaruh makanannya di ruang satpam.
Vanessa segera menyampaikan pesan yang dikatakan oleh satpam kepada Azam. Azam mengangguk dan segera pergi ke ruang satpam untuk mengambil makanan.
Vanessa tinggal di komplek apartemen yang mewah dan tentunya penjagaannya sangat ketat. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam apartemen tanpa kartu kunci.
__ADS_1
Jika ada tamu, maka tamu itu harus menunggu di lantai pertama yang merupakan area tunggu untuk menunggu teman mereka datang ke sana.
Bahkan ojek makanan juga harus menitipkan makanan pesanan pemilik apartemen di ruangan satpam dan nanti orang yang memesannya akan mengambilnya di ruang satpam.
"Mas Azam ya? Mba Vanessa sudah memberitahu saya," kata pak satpam sambil memberi pesanan makanan Azam dari rak di sana.
"Iya, Pak. Terima kasih ya, Pak." Azam mengambil makanannya dan berterima kasih kepada pak satpam sambil tersenyum.
"Sama-sama Mas." Pak satpam juga tersenyum dan mengangguk.
Setelah itu Azam segera kembali ke apartemen, kemudian dia dan Vanessa makan bersama sambil menonton televisi dan kebetulan sekali chanel televisi yang pertama adalah berita tentang perampokan bank tadi.
"Azam, kamu masuk di berita!" Vanessa berkata sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang menampilkan wawancara dengan Azam.
"Hahaha, aku bakal terkenal!" teriak Azam dengan bercanda.
"Hati-hati, nanti kamu diincar sama perampok lain." Vanessa tersenyum dan berkata dengan bercanda juga.
"Jangan khawatir, aku ini kuat. Kamu juga tahu kalau aku bisa mengalahkan tiga perampok tadi." Azam berkata dengan nada bangga kepada Vanessa.
Vanessa tertawa kecil, dia sangat suka sifat Azam yang suka bercanda karena bisa membuat suasana menjadi lebih nyaman dan dia juga bisa berbicara dengan bebas.
Bahkan jika perutnya lapar, dia tinggal menyalakan ponselnya dan memesan makanan cepat saji dari restoran atau warung makan.
"Yah, aku percaya kamu." Vanessa tersenyum cerah menanggapi perkataan Azam.
Pada saat mereka berdua berbicara dengan riang, ponsel Azam berdering. Dia mengambilnya dan melihat kalau itu adalah Adeng, kepala panti asuhannya.
"Halo Kakek, apa ada sesuatu?" tanya Azam dengan suara riang.
"Azam, bisakah kamu ke panti asuhan sekarang? Ada hal yang tidak Kakek ketahui," kata Adeng kepada Azam.
Azam mengerutkan keningnya karena mendengar ada yang salah dengan suara Adeng. Tapi dia tidak bertanya karena pasti Adeng akan mengatakan semuanya saat dia sampai di panti asuhan.
"Oke, aku ke sana sekarang, Kek." Azam mengangguk, kemudian di menutup telepon. Dia mengambil jaket dan bersiap untuk keluar.
"Azam, terjadi sesuatu?" tanya Vanessa dengan suara khawatir karena melihat raut wajah Azam yang serius.
__ADS_1
"Entah, tapi aku rasa ada sesuatu di panti asuhanku, aku ke sana dulu." Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada Vanessa.
"Kalau gitu pakai mobilku saja." Vanessa melempar kunci Ferrari nya kepada Azam dan ditangkap dengan mudah oleh Azam.
"Oke, aku pinjam dulu." Azam tidak menolak karena dia tidak punya kendaraan untuk pergi ke panti asuhan. Kemudian setelah berterima kasih kepada Vanessa, di keluar.
Vanessa tidak ikut karena masih belum pulih dari kejadian tadi, dia juga merasa kalau tidak sopan jika orang yang tidak ada hubungannya dengan panti asuhan ikut campur dalam masalah mereka.
Jadi Vanessa hanya akan menunggu Azam untuk mengajaknya ke panti asuhan. Dia juga berharap kalau masalah yang terjadi di panti asuhan bukanlah sesuatu yang besar.
Sementara itu, Azam melaju dengan kencang ke panti asuhan. Jaraknya cukup jauh karena terletak di pinggiran Jakarta Selatan dan berbatasan dengan Jakarta Timur.
Kemudian setelah sampai di sana, Azam melihat kalau tidak ada penjaga yang biasanya duduk di ruang penjaga. Azam semakin merasa kalau ada yang salah, jadi dia buru-buru masuk.
"Azam!" Nama Azam dipanggil oleh seorang kakek tua beruban yang memakai kacamata kotak di pangkal hidungnya.
Dia adalah Adeng Hermawan yang merupakan kepala panti asuhan sekaligus kakek Azam yang telah merawatnya beserta anak-anak panti lainnya.
"Kakek Adeng!" Azam menganggukkan kepalanya, kemudian dia bedanya apa yang sedang terjadi.
"Dinda sakit. Dia berkata kalau rasa sakitnya ada di punggung, panggul, dan kaki. Kakek tidak tahu apa yang terjadi, jadi Kakek memanggilmu," kata Adeng kepada Azam.
Dinda yang dikatakan oleh Adeng adalah seorang anak perempuan berumur 4 tahun. Dia datang ke panti asuhan saat Azam berumur 15 tahun, dan saat itu Dinda masih bayi.
"Dinda sakit? Oke, ayo kita ke kamarnya, Kek." Azam mengangguk dan segera pergi ke kamar panti asuhan area perempuan bersama dengan Adeng.
Karena panti asuhan ada dua area yaitu area laki-laki dan perempuan. Dan saat Azam tiba, dia melihat ada banyak anak-anak di depan pintu kamar Dinda.
"Kak Azam!!" Salah satu anak berteriak dan yang lain segera menoleh. Mereka mengerubungi Azam sambil berteriak kalau Dinda sedang sakit.
Azam adalah remaja yang dikagumi oleh anak-anak lain karena dia bisa memimpin mereka dengan sangat baik. Jadi bisa dikatakan kalau Azam adalah bos panti asuhan bagi anak-anak.
"Kalian semua menepi sebentar ya, Kakak akan memeriksa kondisi Dinda dulu," kata Azam dengan suara lembut.
"Baik!" Anak-anak mengangguk, mereka menepi dan tidak membuat keributan lagi setelah mendengar perkataan Azam.
Di belakang Azam, Adeng tersenyum tidak berdaya karena anak-anak menuruti perkataan Azam tanpa syarat. Padahal biasanya mereka sedikit bandel jika dia yang memberi perintah.
__ADS_1
"Yah, Azam memang hebat," pikir Adeng.