
Andi tinggal di daerah pemukiman biasa yang cukup jauh dari pusat kota. Azam menghela napas lega karena dia tidak memakai mobil Ferrari karena jalannya di sana tidaklah lebar yang membuat dia sulit untuk masuk.
Dia harus memarkirkan mobil Ferrari nya di jalanan dan harus berjalan kaki untuk pergi ke rumah Andi yang ada di dalam perkampungan.
"Terima kasih, Pak." Azam berterima kasih kepada tukang ojek online setelah membayarnya.
"Terima kasih juga, Mas." Tukang ojek online mengangguk dan berterima kasih kepada Azam.
Azam melihat perkampungan di depannya dan berpikir, "Kalau aku tidak punya uang, mungkin aku bakal tinggal di sini."
Karena rumah-rumah di perkampungan cukup murah karena memang tempatnya yang seperti itu. Di sana juga ada banyak warga sehingga meskipun murah, tapi cukup nyaman tinggal di sana.
Tapi Azam membuang pemikiran yang mengganggu, dia langsung pergi ke alamat rumah Andi sesuai dengan apa yang ada di dalam dokumen yang diberikan oleh petugas polisi tadi.
Sepanjang perjalanan, Azam melihat sekitarannya. Dia melakukan itu karena berpikir kalau mungkin saja dia akan menemukan sesuatu yang aneh di perkampungan ini, tapi itu hanya kekhawatirannya saja.
Lalu setelah beberapa menit, Azam sampai di dekat rumah Andi yang merupakan rumah kecil satu lantai dengan teras kecil dan beberapa pot tanaman di depan rumahnya.
Azam tidak langsung mendekati rumah Andi karena dia perlu menyelidiki bagian luar rumah Andi dan sekitarnya. Dia tidak menemukan hal aneh kecuali sebuah kain berwarna emas yang ada di belakang pot.
Kain itu terlihat biasa-biasa saja, tapi insting detektifnya berpikir lain. Azam juga berpikir tidak ada salahnya untuk memeriksa lain tersebut, jadi dia berjalan mendekat dan mengambil kain itu.
"Tidak ada yang aneh, apa aku salah?" Azam mengerutkan keningnya karena dia tidak melihat ada yang aneh dengan kain berwarna emas itu.
Tapi pada saat ini, di sudut matanya, Azam melihat ada sebuah tulisan kecil di ujung kain. Azam melihatnya dengan seksama dan tulisan itu adalah sebuah perusahaan yang Azam kenal.
"Brijaya Jewelry? Sepertinya Andi memang pelakunya," batin Azam sambil menyentuh dagunya. Dia sudah tahu kalau Hendri memang bekerja di Toko Perhiasan Brijaya.
Azam melipat kain itu dan menyimpannya di dalam tas. Lalu, dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Andi karena dia perlu masuk ke dalam agar bisa mendapat bukti yang lebih baik.
Tapi sebelum masuk, dia memutuskan untuk meminta izin kepada Hendri karena dia akan memasuki rumah milik Andi dan ini merupakan tindakan yang tidak sopan.
"Azam? Ada apa?" tanya Hendri setelah Azam menelponnya.
__ADS_1
"Pak, aku mau minta izin untuk masuk ke dalam rumah Andi." Azam mengatakan situasinya kepada Hendri dengan cepat.
"Oh? Gimana bisa kamu menemukannya?" Hendri penasaran kenapa Azam bisa menemukan kain pelindung perhiasan padahal dia dan para polisi tidak bisa menemukannya.
"Lokasinya memang tersembunyi. Kecuali kalau petugas polisi yang menyelidiki rumah Andi membawa anjing pelacak," kata Azam dengan cepat.
Dia beruntung berhasil menemukan kain pelindung perhiasan itu karena matanya yang tajam berkat skill pengamat dan detektifnya.
Hendri tertegun, kemudian dia tertawa dan berkata, "Masuk saja, aku akan bertanggung jawab. Tapi, perkataanmu benar kan?'
Hendri tidak masalah dengan Azam yang masuk ke dalam rumah Andi, yang jadi masalah adalah apakah Azam bisa dipercaya atau tidak.
"Dengan harga diriku, aku yakin." Azam juga menjawab dengan nada yakin yang membuat Hendri tertawa lagi.
"Bagus, masuklah." Hendri mengizinkan Azam untuk masuk ke dalam rumah Andi, setelah itu dia menutup telepon.
Azam menyeringai. Karena sudah mendapatkan izin dari Hendri, dia langsung bergerak. Azam masuk ke dalam rumah Andi dengan santai agar tidak dianggap sebagai pencuri atau perampok.
Rumah-rumah di perkampungan biasanya tidak ada yang dikunci bahkan saat malam hari, rumah Andi juga begitu. Itulah mengapa Azam bisa langsung masuk ke dalam rumahnya.
[Host, selamat. Host mendapatkan pencapaian menjadi seorang pencuri. Host mendapatkan penurunan karisma.] Sistem malah mengejek Azam dan mengatakan sesuatu dengan candaan.
Azam juga yakin jika Sistem memiliki tubuh, Sistem akan tertawa terbahak-bahak saat ini. Tapi Azam juga tertawa karena memang menjadi pencuri di perkampungan sangatlah mudah.
Tapi sebelum Azam melanjutkan, dia mengeluarkan ponselnya dan masuk ke aplikasi kamera untuk merekam aksinya karena nanti akan dijadikan sebagai bukti.
Azam menggedah seisi rumah Andi, tapi dia tidak menyentuh hal-hal yang mudah menimbulkan kecurigaan. Itulah mengapa Azam harus memaksimalkan kemampuan penglihatannya.
Setelah setengah jam menggeledah, hanya ada satu ruangan yang belum dimasuki oleh Azam, dan ruangan itu adalah kamar mandi.
Azam masuk ke dalam kamae mandi dan menggeledah semuanya. Azam sampai menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
"Apa ini, pakaian kotor? Apa mungkin Andi menyembunyikan sesuatu di sini?" Azam melihat ke arah ember berisi pakaian kotor yang belum dia periksa.
__ADS_1
Insting detektifnya mengatakan kalau ada sesuatu di dalam pakaian kotor tersebut. Jadi, Azam pergi ke dapur untuk mengambil plastik dan memakainya di tangan, lalu dia kembali ke kamar mandi dan sebesar mencari sesuatu di ember pakaian kotor.
Azam merasa sedikit jijik karena dia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tapi dia menahan rasa jijik itu karena insting detektifnya sangat kuat.
"Bingo." Azam menemukan sebuah kotak berwarna hitam legam dengan corak berwarna emas. Dia tahu kalau kotak itu adalah kotak perhiasan yang hilang.
"Tapi masalahnya, kenapa polisi tidak memeriksa tumpukan baju kotor punya Andi? Apa mereka jijik? Bukankah polisi sering berurusan dengan darah dan kecelakaan?" Azam mengerutkan keningnya karena merasa kalau penyelidikan ini tidak serius.
[Host, mungkin karena mereka malas, atau mereka tidak peduli dengan kasusnya.] Sistem mengatakan pemikirannya terkait penyelidikan yang tidak serius ini.
"Bisa juga. Tapi mereka ini polisi paruh baya, jadi tidak mungkin kan kalau mereka malas atau tidak serius." Azam mengangguk, tapi dia mengerutkan keningnya lagi.
[Hm, bisa jadi saat polisi memeriksa rumah Andi, tidak ada wadah kalung zamrud. Baru setelah pemeriksaan, Andi membawa wadah kalung zamrud nya dan disembunyikan di tumpukan baju kotor.]
Azam menganggukkan kepalanya karena itu adalah hal yang paling masuk akal. Karena tidak mungkin seorang polisi paruh baya akan melakukan pekerjaan mereka dengan tidak serius.
Setelah itu Azam menyimpan kotak perhiasan di dalam tasnya karena kotaknya tidak terlalu besar dan muat saat di dalam tas.
"Sistem, cari uang tanpa pemilik di rumah Andi," kata Azam kepada Sistem. Meskipun dia melakukan ini hanya untuk coba-coba saja siapa tahu ada uang tanpa pemilik di rumah Andi.
[Ditemukan uang sebesar 2 juta rupiah dalam jarak 6 meter dari Host.]
"Hah?" Azam membuka mulutnya lebar-lebar karena tidak menyangka kalau ada uang tanpa pemilik di rumah Andi. Dia segera pergi ke sebuah kamar yang merupakan lokasi yang ditunjukkan oleh Sistem.
Azam melihat ke arah lemari yang tampak besar, dia kemudian menggeser lemari tersebut sampai terlihat kalau ada celah di dalam tembok yang menampilkan banyak sekali barang berharga.
Barang berharga yang ada di sana meliputi kalung, jam tangan, gelang, ponsel, uang, dan masih banyak lagi. Azam mengerutkan keningnya karena berpikir kalau itu semua bukan barang milik Andi.
"Tampaknya Andi melakukan cukup banyak kejahatan," batin Azam sambil menyeringai karena dia punya bukti lain untuk menjebloskan Andi ke dalam penjara.
Azam menggeser lemari itu lagi sampai menutupi tembok. Kemudian dia hendak keluar dari rumah sambil melihat apakah ada orang di sekitar sana atau tidak menggunakan Sistem Pemindai.
Dia tidak mengambil barang-barang tadi karena itu tidak ada gunanya karena semua bukti sudah dia rekam dan hanya tinggal menyerahkannya kepada Hendri atau petugas polisi.
__ADS_1
"Uang, uang, dan uang," pikir Azam sambil tersenyum lebar karena akan mendapat banyak uang. Saat dia membuka pintu rumah, dia melihat ada seseorang yang mendekat.