Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Pertemuan Amal dan Jadi Pusat Perhatian (Revisi)


__ADS_3

"Azam, mau dengar rencanaku?" tanya Vanessa.


Azam mengangkat alisnya saat mendengar pertanyaan Vanessa, dia menjadi tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh Vanessa selanjutnya.


Jadi Azam berkata, "Katakan, sepertinya menarik."


Vanessa mengangguk dan berkata, "Pertemuan amal, kamu tahu acara ini? Semacam pertemuan antara perusahaan atau organisasi dengan tujuan memberi donasi kepada orang atau kelompok yang membutuhkan."


Pertemuan amal, adalah sebuah pertemuan yang diadakan oleh para perusahaan dan organisasi mau itu yang besar maupun kecil. Mereka akan memberikan kekayaan mereka sebagai donasi kepada orang atau kelompok yang membutuhkan.


Orang atau kelompok yang menerima donasi juga beragam, mulai dari rumah sakit yang kekurangan dana, warga miskin yang membutuhkan, orang dengan penyakit serius, dan lain sebagainya.


"Kayanya aku pernah mendengar ini. Tapi, apa tujuan pertemuan amal? Sepertinya para perusahaan tidak mendapat untung," tanya Azam. Karena perusahaan adalah tempat di mana mencari keuntungan.


"Ada, kok. Mereka bakal dapat reputasi, karena pertemuan ini disiarkan langsung. Jadi perusahan yang berbuat amal akan dianggap baik oleh masyarakat," kata Vanessa sambil tersenyum.


Memang benar, yang dibutuhkan oleh perusahaan atau organisasi selain keuntungan adalah reputasi. Mereka membutuhkan reputasi agar masyarakat menyukai produk atau jasa yang ditawarkan oleh mereka.


Azam menghembuskan napas panjang karena dia mengerti arti dari senyuman Vanessa. Pertemuan amal bisa dimanipulasi oleh perusahaan besar hanya dengan menggunakan uang yang banyak.


Karena masyarakat akan menganggap perusahaan itu baik apabila berbuat amal, jadi jika semakin banyak uang yang dikeluarkan, maka masyarakat akan semakin percaya kepada perusahaan tersebut.


"Tapi, gimana caranya aku bisa ikut?" Azam mengerutkan keningnya karena dia bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan para perusahaan.


"Hey, kamu lupa siapa aku?" Vanessa membelalakkan matanya karena Azam lupa kalau dia punya identitas yang tidak biasa.


"Ah, aku lupa!" Azam menepuk dahinya karena dia benar-benar lupa karena Vanessa tidak bersikap layaknya seseorang dengan identitas tidak biasa.


"Kamu!" Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak berdaya karena Azam benar-benar lupa.


"Jadi, kamu akan membantuku untuk mendaftarkan Panti Asuhan Matahari sebagai penerima donasi?" tanya Azam dengan serius.


"Ya, itu gampang. Aku bakal bicara dengan Ayahku nanti," angguk Vanessa dengan serius juga.


"Oke, terima kasih, ya. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas budi," kata Azam dengan penuh rasa terima kasih.


"Jangan dipikirkan, aku juga membantumu karena kamu membantuku saat perampokan bank." Vanessa melambaikan tangannya dan berkata dengan nada santai.

__ADS_1


Azam tersenyum, dia berdiri dan berkata, "Kamu belum makan malam, kan? Biarkan aku yang membuatnya."


"Oh!!" Vanessa menjadi bersemangat karena masakan Azam sangatlah lezat.


Meskipun masakan Azam tidak bisa dibandingkan dengan masakan dari restoran terkenal, tapi rasa masakan Azam adalah rasa khas makanan rumahan yang disukai oleh banyak orang termasuk Vanessa.


Vanessa sudah lama tidak pulang ke rumahnya dan dia juga jarang memasak. Jadi dia sangat merindukan masakan ibunya.


"Eh, kalau begitu ayo pulang ke rumah. Sekalian ajak Azam untuk berbicara tentang pertemuan amal," pikir Vanessa sambil tersenyum.


Dapur mengeluarkan banyak suara, itu karena Azam memasak banyak makanan untuk makan malam. Tangannya tampak lihai seolah-olah dia bukan sedang memasak melainkan sedang melakukan kesenian.


Vanessa sampai terkejut dengan hal tersebut, karena itu artinya Azam sudah melakukan hal tersebut berulang kali sampai keahliannya menjadi seperti itu.


Setelah setengah jam, semua hidangan sudah siap. Mereka berdua segera makan malam bersama sambil berbincang-bincang dengan canda tawa dan suasananya yang harmonis.


...----------------...


27 Juli 2030, siang harinya.


Azam berangkat ke universitas karena hari ini dia ada kelas. Padahal hanya berjarak satu hari tapi rasanya sudah berhari-hari karena ada banyak kejadian yang terjadi kemarin.


Alasannya adalah karena editor Vanessa mengatakan kalau para atasan menyukai ide yang Vanessa tulis saat mendapat pencerahan saat di Jakarta International Equestrian Park kemarin.


"Hm, terjadi banyak kejadian dalam satu hari. Ada kegembiraan, kepanikan, kesedihan, dan lainnya." Azam tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Woy Azam!" Pada saat ini, Rafa memanggil Azam dari jauh dengan mahasiswa lainnya.


Azam sudah sedikit jauh dari area parkir sehingga Rafa dan mahasiswa lainnya tidak melihat mobil Ferrari yang Azam gunakan tadi.


"Oh, Rafa. Kenapa?" Azam berjalan menghampiri Rafa dan bertanya kepadanya.


"Tidak ada, ayo ke kelas bersama." Rafa menggelengkan kepalanya dan berkata kepada Azam.


"Oh, kuy." Azam mengangguk.


Mereka berjalan ke kelas bersama-sama, Rafa dan mahasiswa lain mengobrol bersama sementara Azam tidak bergabung dengan mereka karena tidak saling kenal dengan mahasiswa lain selain Rafa.

__ADS_1


Bukannya Azam malas berteman dengan mahasiswa lain, tapi entah mengapa dia tidak berminat. Mungkin karena kehidupannya yang yatim piatu sehingga kurang berminat untuk berinteraksi.


Tapi pada saat masuk ke gedung fakultas manajemen, Azam merasa kalau ada banyak pasang mata yang mengarah ke arahnya, dia mengerutkan keningnya dan melihat ke sekeliling.


"Hanya aku saja atau mereka melihat ke arah kita?" tanya Rafa kepada yang lain dan para mahasiswa termasuk Azam mengangguk.


"Dia kan yang ada di siaran langsung kemarin, jadi dia Azam. Aku tidak menyangka kalau dia adalah pahlawan di perampokan bank."


"Azam yang aku tahu adalah orang yang tertutup, tapi ternyata dia memiliki jiwa kepahlawanan yang sangat tinggi."


Ada banyak orang yang berbisik-bisik di sekitar mereka, dan semua yang mereka bicarakan sama yaitu tentang perampokan bank yang terjadi kemarin.


Berita perampokan itu menyebar dengan cepat apalagi berkat siaran langsung Fiota Grup. Jadi ada banyak orang yang melihat wajah Azam muncul di televisi atau di gadget mereka.


Azam mengerutkan keningnya, dia berjalan dengan cepat meninggalkan Rafa dan yang lain karena dia merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.


"Kalau tahu begini, aku tidak akan menerima wawancara dari Fiota Grup!" pikir Azam dengan kesal karena dia benci menjadi pusat perhatian.


Pada saat ini, ponselnya juga berdering. Azam melihat kalau itu adalah Devina yang meneleponnya, Azam tahu apa yang akan Devina katakan, jadi dia tidak menjawab teleponnya.


"Hm, apa aku bolos kelas saja ya?" Azam duduk di bangku dan berpikir untuk membolos kelas karena dia tahu kalau hari ini akan merepotkan.


"Hayo, kamu mau bolos?" Hana muncul di sebelah Azam dan berkata dengan senyum namun seperti tersenyum.


"Ah, Bu Hana." Azam tersenyum canggung karena rencananya untuk bolos malah ketahuan oleh dosennya.


"Santai, Ibu tidak akan menegurmu karena kuliah itu bebas." Hana duduk di sebelah Azam dan berkata kepadanya.


"Haha. Ngomong-ngomong, kenapa Ibu ada di sini?" tanya Azam kepada Hana.


"Sedang mencari buku ekonomi milik Ibu, hilang tadi jatuh entah kemana." Hana berkata dengan nada tidak berdaya atas pertanyaan Azam.


"Oh? Kalau begitu biarkan aku membantu Ibu," kata Azam dengan percaya diri karena dia bisa menggunakan Sistem Pemindai untuk mencarinya.


"Benarkah?" Hana bertanya dengan curiga.


"Tentu saja." Azam berkata dengan serius, kemudian dia melanjutkan, "Tapi kasih nilai tambahan ya Bu."

__ADS_1


"Kamu ini." Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia berkata, "Baiklah, Ibu akan menambah nilai kamu."


"Siap!" Azam berdiri dan segera berlari sambil menggunakan Sistem Pemindai sementara itu Hana tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2