
9 Agustus 2030.
Kemarin, Azam dan Vanessa ada di rumah sakit sampai malam. Karena Azam sudah berjanji kepada Dinda, kalau dia akan bermain dengannya seharian penuh.
Vanessa juga tidak keberatan karena dia tidak ada urusan lain. Selain itu, dia juga malah bermain terlalu asik. Karena Vanessa tidak pernah berinteraksi dengan anak-anak.
Bahkan bisa dikatakan, kalau Dinda lebih banyak menghabiskan waktu dengan Vanessa. Azam hanya duduk di sebelah mereka sambil mendengar cerita dari Vanessa.
"Hah? Kamu mau bergabung dengan Equestrian Universitas Indonesia!?" Vanessa berkata dengan suara terkejut setelah Azam memberitahunya.
"Aku tidak bergabung. Hanya membantu mereka saja. Aku juga butuh istirahat," kata Azam dengan nada tidak berdaya karena Vanessa salah paham.
"Oh, jadi kamu tidak bergabung. Tapi kenapa kamu membantu mereka? Apakah ada kenalanmu?" tanya Vanessa dengan penasaran.
Meskipun Azam baik, tapi Vanessa juga tahu kalau Azam tidak akan membantu semua orang seperti pahlawan. Jadi Vanessa berpikir kalau pasti Azam punya alasan tersendiri.
"Tidak ada. Seperti yang aku bilang, aku ingin istirahat sejenak. Kebetulan mereka minta bantuanku, jadi ya aku bantu saja." Azam menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia menjawab Vanessa.
Vanessa mengangguk, dia tersenyum lalu bertanya kepada Azam. "Oh, kaya gitu ya. Lalu, apa aku bisa ikut juga?"
"Eh?" Azam tertegun, dia meminta Vanessa untuk mengulanginya lagi, dan Vanessa mengatakannya lagi.
"Hm, ini bukan kendaliku. Aku telepon Zaidan dulu," kata Azam. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menekan kontaknya Zaidan.
Beberapa detik kemudian, Zaidan menjawab panggilan telepon dari Azam. Azam segera bertanya kepada Zaidan, tentang Vanessa yang ingin ikut.
"Dia wanita cantik?" tanya Zaidan dengan serius, yang membuat Aksa mengangkat alisnya.
Azam segera bertanya kepada Zaidan, "Kenapa kamu tanya itu?"
"Yah, jangan marah dulu. Kalau situasi normal, ini tidak boleh. Tapi Equestrian UI lagi dalam masalah, jadi aku butuh orang yang populer. Setidaknya yang tampan atau cantik," ungkap Zaidan dengan cepat.
"Ah, iya juga ya. Kenapa aku bisa lupa. Yah, tingkatnya sama dengan Devina, atau lebih," jawab Azam, yang membuat Zaidan sangat terkejut.
Devina merupakan salah satu kecantikan teratas, sekaligus bunga Universitas Indonesia. Zaidan tahu betapa cantiknya Devina, dan sekarang, Azam mengatakan kalau wanita yang ingin ikut bisa lebih cantik dari Devina.
__ADS_1
Kemudian, tanpa ragu-ragu lagi, Zaidan memperbolehkan Vanessa untuk ikut. Karena seperti yang dia katakan sebelumnya, Equestrian UI butuh sesuatu yang bisa mendatangkan popularitas.
Itulah mengapa Zaidan mengajak Azam, orang yang sedang tenar. Apalagi Azam juga tampan sehingga banyak gadis yang meliriknya, bahkan laki-laki juga harus iri dengan ketampanannya.
"Namanya Vanessa kan? Bilang ke dia, kalau aku memberi izin," kata Zaidan sambil tersenyum.
"Sip. Terima kasih ya, Zaidan," balas Azam, dengan penuh rasa terima kasih.
"Bukan-bukan, aku yang harus berterima kasih. Hahaha!" Zaidan menolak rasa terima kasih Azam, karena dia yang harus berterima kasih kepadanya.
Mereka berdua berbincang-bincang sebentar, lalu Zaidan mengakhiri panggilan karena dia ada urusan. Azam juga segera mengatakan pesan dari Zaidan kepada Vanessa.
"Asik!" Vanessa melompat dengan girang, dia sangat gembira karena diperbolehkan untuk ikut.
Sebenarnya, Vanessa tidak perlu ikut Azam untuk berkuda. Dia juga tidak butuh istirahat, karena pekerjaannya sebagai penulis novel bisa dilakukan sambil bersantai, kecuali jika sedang mati ide.
Tapi entah kenapa, dia hanya ingin bersama Azam. Karena Vanessa tahu kalau bersama Azam itu sangat asik. Oleh sebab itu, dia gembira karena boleh ikut bersama Azam ke Equestrian UI.
"Yah, syukurlah. Kalau begitu, ayo kita berangkat." Azam berdiri, dan berkata kepada Vanessa.
Mereka segera memakai sepatu, lalu turun ke area parkir. Tapi mereka tidak memakai mobil milik Vanessa, melainkan motornya Azam. Alasannya, Vanessa ingin memakai motor karena dia tidak pernah naik motor.
"Anak orang kaya memang beda ya," kata Azam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak berdaya.
"Hehehe, maaf ya." Vanessa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Karena Azam memang benar, kalau dia tidak pernah naik motor karena selalu naik mobil.
"Kenapa kamu minta maaf? Ayo pakai helmnya." Azam melirik Vanessa, lalu dia memberinya helm motor.
Vanessa menerimanya, lalu dia memakai helm motor di kepalanya. Tapi, dia tidak bisa memasang pengaman helmnya karena dia memang tidak pernah memakai helm.
"Azam..." Vanessa pasrah, dia menatap Azam dengan mata tidak berdaya.
Bagaimana mungkin Azam mengabaikan tatapan Vanessa yang seperti itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membantu Vanessa untuk memasangkan pengaman helm.
Vanessa tersenyum, lalu dia segera duduk di jok belakang. Dan karena tidak pernah naik motor, Vanessa tidak tahu harus pegangan ke mana. Karena tidak seperti mobil, motor tidak punya sabuk pengaman.
__ADS_1
"Pegang pinggangku saja. Bahaya kalau pegang bagian belakang motor," kata Azam tanpa memalingkan wajahnya. Karena dia sudah tahu masalah yang dihadapi Vanessa.
"Hehe, terima kasih." Vanessa tersenyum, dia memegang pinggang Azam dengan kedua tangannya. Tapi dia merasa kalau itu masih kurang aman, jadi dia memeluk pinggang Azam.
Azam tertegun, tapi dia juga tidak keberatan dipeluk oleh wanita cantik. Jadi, dia segera menyalakan mesin motor dan memutar pedal gas sambil tersenyum lebar.
"Woah! Azam? Pelan-pelan!" Vanessa mengencangkan pelukannya, karena dia cukup takut dengan dorongan yang tiba-tiba.
"Santai saja. Ini baru 20 kilometer per jam." Azam berkata dengan nada santai, karena kecepatan segitu memang termasuk lambat.
"Ahh!" Vanessa tidak mendengarkan perkataan Azam. Karena dia terlalu takut dengan dorongan yang tiba-tiba karena Azam memutar pedal gas dengan cukup cepat.
"Hahaha!" Azam hanya tertawa, dia menganggap kalau Vanessa cukup imut karena takut dengan kecepatan segitu.
Meskipun Vanessa takut, dia memberanikan diri untuk membuka matanya. Kemudian, dia terpukau karena pemandangan saat naik motor dengan naik mobil sungguh berbeda.
Vanessa melihat ke kanan, kiri, dan depan dengan penasaran. Dia juga bisa merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Anginnya lumayan kencang, turunkan kaca helmnya," kata Azam yang melihat Vanessa mengernyitkan dahinya melalui kaca spion.
"Oh, oke!" Vanessa menurunkan kaca helmnya, lalu tidak ada angin yang menerpa wajahnya lagi.
"Azam, kamu tidak menurunkan kaca helm mu?" tanya Vanessa karena dia tidak melihat Azam menurunkan kaca helmnya.
"Aku sudah terbiasa. Malahan lebih enak kaya gini," kata Azam dengan santai karena dia menikmati angin yang berhembus itu.
...----------------...
Mereka berdua sampai di Universitas Indonesia, dan segera pergi ke gedung equestrian. Azam memarkirkan motornya, lalu mereka berdua turun dari motor.
Azam membantu Vanessa melepaskan pengaman helm karena Vanessa juga tidak bisa melepasnya. Kemudian, mereka hendak masuk ke dalam gedung.
Tapi pada saat ini, ada suara seorang wanita yang familiar memanggil nama Azam. "Azam? Kenapa kamu ada di sini?"
Azam menghentikan langkahnya karena dia tahu siapa pemilik suara ini. Dia berbalik dan melihat wanita cantik lainnya yang dia kenal, yaitu Devina Fiorenza.
__ADS_1