Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Penguatan Tubuh dan Ajakan dari Vanessa (Revisi)


__ADS_3

Ada perasaan hangat di seluruh tubuh Azam, dia bisa merasakan kalau otot, darah, daging, bahkan tulang berubah secara perlahan-lahan, terutama di bagian bawahnya.


Azam belum pernah merasakan perasaan hangat yang sangat nyaman seperti itu. Dia menutup matanya dan merilekskan tubuhnya agar perasaan hangat bisa menyelimuti seluruh tubuhnya.


Setengah jam kemudian, Azam membuka matanya. Saat dia akan gembira karena tubuhnya bertambah kuat, sebuah aroma yang sangat busuk memasuki hidungnya.


"Bau apaan ini!?" Azam menengok ke kanan dan kiri tapi tidak menemukan ada sesuatu yang bisa menghasilkan bau busuk. Kemudian dia sadar kalau bau tersebut berasal dari dirinya.


"Jadi ini dariku. Hm, mirip seperti yang ada di novel kultivator di NovelToon." Azam berdiri dan segera pergi ke kamar mandi untuk mandi.


Dia membasuh semua bagian tubuhnya dengan sabun yang banyak sampai tidak ada lagi bau busuk yang tercium. Dan saat mandi, dia bisa melihat kalau adik laki-lakinya bertambah besar.


"Sistem! Aku mencintaimu!" Azam tertawa terbahak-bahak karena dengan adik laki-lakinya yang besar bisa membuatnya lebih percaya diri.


Azam berterima kasih kepada Sistem karena memberikannya skill pengamat dengan pengalaman 50 tahun yang sangat membantunya saat ini.


[Sama-sama, tapi tolong kenakan pakaian saat mengatakan hal itu.] Sistem mengatakan sesuatu yang membuat Aksa terkejut.


"Apa salahnya? Lagian kamu ini Sistem. Tunggu, jangan-jangan kamu punya gender!?" Azam membuka mulutnya karena terkejut dan berkata dengan nada bercanda.


[...] Sistem mengabaikan perkataan Azam yang semena-mena dan memutuskan untuk tidak mengatakan apapun.


Azam juga mengangkat bahunya, dia mematikan shower dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Tapi kemudian dia menyadari tidak membawa pakaian ganti.


[Host terlalu bersemangat sampai tidak membawa pakaian ganti.] Sistem mengejek Azam sebagai balasannya tadi.


Kali ini giliran Azam yang mengabaikan perkataan Sistem yang sedang mengejeknya. Azam menghembuskan napas panjang, dia melilitkan handuk di pinggangnya, lalu keluar dari kamar mandi.


Azam menengok ke kanan dan kiri, melihat tidak ada orang, Azam langsung berlari ke arah kamarnya. Tapi sialnya dia, saat hendak mencapai kamar, Vanessa keluar dari kamarnya dan melihat Azam.


Mereka berdua terpaku dan diam di tempat. Otak Azam langsung memikirkan banyak sekali kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya dan dia juga bingung harus mengatakan apa.


Sedangkan Vanessa menatap tubuh bagian atas Azam yang atletis. Itu wajar karena Azam selalu menggunakan fisiknya untuk bekerja dan ditambah dia baru saja meminum air rebusan herbal.


Tapi kemudian Vanessa tersadar, dia melambaikan matanya dan berteriak dengan sangat keras. "Ahh!! Apa yang kamu lakukan, Azam!?!?"

__ADS_1


Vanessa menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tapi anehnya jari-jarinya sedikit terbuka sehingga mata Vanessa bisa mengintip ke arah Azam, tepatnya ke arah perutnya.


"Vanessa, untuk apa menutupi wajahmu jika jarimu terbuka kaya gitu." Azam berkata dengan nada tidak berdaya. Sekarang kepanikannya sudah menghilang gara-gara tindakan Vanessa.


Tapi sebelum Vanessa bisa membalas, Azam sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun karena takut Vanessa akan berteriak lagi dan malah akan menimbulkan kesalahpahaman.


"Untung saja aku tidak telanjang. Kebetulan sialan ini." Azam menghela napas lega dan sedikit kesal dengan apa yang disebut dengan kebetulan itu karena bisa terjadi kapanpun dan di manapun.


Sementara itu, di luar kamar. Vanessa memiliki wajah yang sangat merah saat ini. Meskipun dia sudah berumur 22 tahun, tapi dia sama sekali belum pernah berhubungan dengan pria manapun.


Vanessa selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis dan sering berada di dalam kamarnya. Itulah mengapa dia terkejut dengan Azam yang hanya memakai handuk.


"Apakah semua tubuh pria kaya gitu? Tapi, tubuh Azam sangat atletis." Vanessa malah mengingat tubuh bagian Azam yang sangat atletis yang membuat wajahnya tambah merah.


Vanessa segera mengambil minuman dingin di dalam kulkas dan kembali ke kamarnya. Sementara itu Azam sedang mengenakan pakaiannya di dalam kamar.


*ding


Ponselnya berbunyi tanda bahwa ada notifikasi yang masuk. Azam segera memeriksanya dan melihat kalau ada angka nol yang sangat banyak di notifikasi mobile banking.


"Satu.. Dua.. Tiga.." Azam menghitung angka nol di sana dengan tangan dan suara yang gemetar. Bahkan air matanya sampai menetes karena terlalu bersemangat dan bahagia.


"Azam, kamu sudah cek uang yang masuk belum?" kata Ari setelah panggilan terhubung.


"Sudah. Pak Ari, kenapa jumlah komisinya sangat banyak?" tanya Azam setelah menarik napas dalam-dalam.


"Sudah jelas. Kamu dapat dua hal yang sangat berguna dari Vanu dan dua wanita itu." Ari menjelaskan tentang alasan komisi Azam yang sangat banyak.


Hal pertama adalah video kegiatan 'bahagia' Vanu dan kedua wanita di dalam hotel. Video itu bisa membuat beberapa orang berstatus tinggi terguncang.


Hal kedua adalah pembicaraan Vanu dan kedua wanita yang membuktikan kalau Vanu memang dirawat oleh wanita-wanita yang kaya.


Dan kedua hal itu, jika dipublikasikan kepada masyarakat umum bisa menimbulkan dunia industri hiburan terguncang karena orang yang terlibat memiliki hubungan dengan orang-orang berstatus tinggi.


"Jadi begitu ya. Apa dua hal itu bakal dipublis?" tanya Azam kepada Dito.

__ADS_1


"Pasti, tapi tidak langsung keduanya," jawab Dito.


"Hm, satu hal lagi. Apa klien tidak kasihan dengan Vanu?" Azam bertanya tentang kondisi Vanu setelah dia hancur karena informasi yang didapatkan oleh Azam.


"Sekarang klien tidak memperhatikan Vanu, tapi lebih ke para wanita kaya yang suaminya orang-orang berstatus tinggi di dunia hiburan," jelas Ari yang paham dengan pikiran Azam.


"Baiklah. Kalau begitu aku tutup teleponnya." Azam mengangguk paham dengan penjelasan Ari, kemudian dia mengakhiri panggilan.


Azam berbaring di kasur dan berpikir kalau industri hiburan cukup mengerikan. Dia sendiri tidak kasihan dengan Vanu, tapi kasihan dengan suami dari wanita kaya yang mengurus Vanu.


Padahal mereka adalah orang dengan status tinggi dan pastinya punya banyak uang, tapi malah melakukan hal seperti itu yang bisa saja membahayakan kehidupan jika ketahuan.


Apalagi di industri hiburan di mana reputasi adalah segalanya. Bahkan orang dengan status tinggi pun akan kesulitan dengan komentar-komentar negatif dari orang-orang.


"Yah, ini bukan urusanku. Salah mereka yang melakukan hal semacam itu." Azam membuang pikiran yang tidak berguna itu.


Dan pada saat ini, pintu kamar Azam diketuk dan terdengar suara manis Vanessa. "Azam, apa kamu luang? Aku mau ngomong tentang sesuatu."


"Masuk saja!" teriak Azam dan mempersilakan Vanessa untuk masuk karena pintu kamarnya tidak dikunci.


Vanessa memegang kenop pintu dan masuk ke dalam kamar Azam. Dia duduk di atas kursi sambil melihat-lihat isi dari kamar Azam.


"Sederhana sekali." Itu adalah komentar dari Vanessa tentang kamar Azam.


"Terima kasih, mungkin?" Azam mengangkat bahunya dan menganggap kalau itu adalah pujian.


"Hehe. Ayo ke topik, apa kamu mau pergi ke pacuan kuda besok?" tanya Vanessa kepada Azam.


"Pacuan kuda? Kenapa?" Azam butuh alasan mengapa Vanessa tiba-tiba ingin pergi ke pacuan kuda.


"Ini tentang pekerjaanku, beginilah ceritanya." Kemudian Vanessa mulai bercerita.


Singkatnya, Vanessa sedang tidak bisa menulis karena idenya berhenti dan tidak ada kemajuan apapun. Dia sangat frustasi karena tidak bisa mendapatkan ide, dan segera menghubungi editornya.


Kemudian editornya berkata kepada Vanessa untuk pergi ke tempat-tempat wisata di Jakarta, yang tidak terlalu jauh. Vanessa segera kepikiran arena pacuan kuda yang pernah dia kunjungi.

__ADS_1


"Jadi begitu, aku ikut. Lagian aku juga belum pernah menonton acara seperti itu, haha." Azam mengangguk dan memutuskan untuk pergi bersama Vanessa.


"Benarkah? Oke!" Vanessa tersenyum gembira karena Azam menerima ajakannya.


__ADS_2