
Azam menyipitkan matanya, dia melihat ke arah pria berkacamata di depannya dari atas sampai bawah, lalu dia berkata, "Kamu... siapa?"
"Hah?" Semua orang membuka mulut mereka lebar-lebar karena terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Azam.
"Kamu... tidak mengenalku?" Pria berkacamata itu bertanya dengan mata tidak percaya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Dan kenapa aku harus mengenalmu?" Azam mengerutkan keningnya karena berpikir kalau pria berkacamata itu sangatlah aneh.
Pria berkacamata itu menahan rasa kekesalannya atas perkataan Azam. Orang-orang di sekitar juga menatap Azam dengan mata yang berbahaya.
Azam melirik semua orang dengan tatapan dingin karena bisa merasakan kebencian dari mereka. Dia menoleh ke arah Rafa yang ada di sebelahnya dan bertanya tentang identitas dari pria berkacamata.
Rafa tersenyum canggung dan berkata, "Zaidan Haydar, tahun ketiga. Orang yang berkali-kali memenangkan lomba dan kompetisi equestrian yang mewakili Universitas Indonesia."
"Ohh! Orang yang berbakat!" Azam bertepuk tangan dan memuji Zaidan dengan tulus karena baginya, Zaidan memang berbakat.
Zaidan yang dipuji oleh Azam mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, sepertinya dia menikmati pujian yang orang lain berikan kepadanya.
"Lalu, ada masalah apa sang juara equestrian menemuiku?" tanya Azam sambil menatap Zaidan.
"Ekhem. Azam! Aku mau mengundangmu untuk bergabung ke UI Equestrian!" Zaidan tersenyum dan memberitahu niatnya untuk menemui Azam.
"Equestrian?" Azam mengerutkan keningnya karena dia sama sekali tidak pernah melakukan olahraga berkuda dan dia juga tidak pernah berhubungan dengan Universitas Indonesia Equestrian.
Equestrian adalah olahraga berkuda yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan saat ini menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam berbagai level kompetisi.
Ini mencakup berbagai kegiatan seperti balap kuda, loncatan kuda, dressage, dan banyak lagi. Equestrian juga bisa merujuk kepada individu yang berlatih atau berkompetisi dalam olahraga berkuda ini.
Equestrian bisa dilakukan tidak sekadar melatih kekuatan fisik seperti keseimbangan dan koordinasi tubuh saja, tapi olahraga horseback riding ini juga bisa berguna untuk terapi kesehatan mental.
"Ya, equestrian!" Zaidan mengangguk dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, tapi kita kan tidak saling kenal, kenapa kamu mengajakku?" Azam mengajukan pertanyaan yang membingungkannya.
"Hahaha, tempatnya kurang bagus. Gimana kalau kita pergi ke gedung equestrian?" Zaidan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia mengajak Azam untuk pergi ke gedung equestrian.
"Hm, maaf, tapi aku ada kelas. Mungkin setelah kelas selesai aku akan ke sana," tolak Azam. Dia sudah berkomitmen kalau tidak akan bolos kelas hari ini, jadi dia menolak ajakan Zaidan.
Zaidan sendiri cukup terkejut dengan penolakan Azam, tapi dia juga tidak kesal ataupun marah karena Azam memang sedang ada kelas.
Jadi Zaidan mengangguk dan berkata, "Oke, itu tidak apa-apa, maaf karena aku tidak tahu. Kalau begitu, mari kita saling bertukar nomor telepon?"
"Boleh." Azam mengangguk dan memberitahu nomor teleponnya kepada Zaidan.
Setelah menganggukkan kepalanya dan berterima kasih kepada Azam, Zaidan pergi dari sana. Tentu saja dia masih dikelilingi oleh mahasiswi yang mengidolakannya yang membuat Azam geleng-geleng kepala.
Lalu dia dan Rafa juga segera pergi ke kelas karena sebentar lagi akan di mulai. Dia segera mengeluarkan laptop dan buku catatan kecil untuk mencatat materi yang dijelaskan oleh dosennya.
Kebetulan sekali dosen yang mengajar adalah Hana, kelas jadi sangat ramai dan didominasi oleh laki-laki karena tujuan mereka hanya satu, yaitu melihat Hana, bukan mendengar materi yang dijelaskan.
"Azam!" Zaidan memanggil Azam setelah dia sampai di gedung equestrian.
"Zaidan." Azam menganggukkan kepalanya menyapa Zaidan.
"Ayo, kita akan bicara di sana." Zaidan menunjuk ke arah kafetaria kecil di dalam gedung. Azam mengangguk dan mengikuti Zaidan ke sana.
Setelah mereka duduk, Zaidan memesan dua minuman. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Azam. Mereka berdua berbasa-basi sebentar sebelum masuk ke topik pembicaraan.
"Jadi, kamu tadi bertanya alasan aku mengundangmu kan?" kata Zaidan kepada Azam sambil meminum minuman pesanannya.
Azam mengangguk dan berkata, "Ya, aku penasaran. Soalnya kita tidak saling kenal dan aku juga tidak ada hubungannya dengan equestrian UI."
Zaidan tertawa kecil, lalu dia berkata, "Haha, memang tidak ada hubungannya. Ada alasan tersendiri mengapa aku mengundangmu bergabung ke Equestrian UI. Tapi sebelum itu, aku akan bercerita sebentar."
__ADS_1
Zaidan menjelaskan kalau anggota equestrian UI sangatlah sedikit karena tidak banyak peminatnya meskipun para anggotanya sudah berusaha dengan keras untuk mempromosikan kepada para mahasiswa.
Fasilitasnya sendiri juga cukup buruk karena dana yang diberikan oleh universitas berkurang. Zaidan curiga kalau ada campur tangan seseorang, tapi dia tidak tahu siapa yang melakukannya.
Alasan Zaidan mengundang Azam adalah karena reputasi Azam melambung tinggi setelah kejadian di mana dia dirumorkan memiliki hubungan yang dekat dengan Devina.
Setelah itu Azam menjadi terkenal karena masuk berita saat perampokan Bank Indonesia Bahagia. Lalu sekarang dia terkenal karena membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu.
"Ah, jadi begitu. Tapi kurasa ini percuma, aku tidak bisa berkuda." Azam mengangguk paham, tapi kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak masalah, kamu bisa belajar. Lagipula tujuanmu bergabung adalah untuk meningkatkan reputasi Equestrian UI," kata Zaidan dengan serius.
Azam menyentuh dagunya, dia sedang merenungkan apakah dia akan menerima undangan Zaidan atau tidak. Karena dia masih mahasiswa tahun pertama.
Mahasiswa tahun pertama biasanya tidak ikut organisasi atau kegiatan mahasiswa apapun. Mereka fokus dalam perkenalan dan penjelajahan universitas.
"Maaf, sepertinya aku perlu waktu untuk memikirkan hal ini." Pada akhirnya Azam tidak bisa memutuskan apakah dia akan menerima undangan Zaidan atau tidak.
Meskipun berkuda itu terlihat menyenangkan, tapi Azam masih berpikir apakah ada keuntungannya kalau dia bergabung dengan UI Equestrian. Jadi, Azam memutuskan untuk memikirkannya sebentar.
"Tidak apa-apa, aku paham posisimu." Zaidan mengangguk, dia juga paham dengan posisi Azam yang bingung karena mereka memang tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya.
Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang sebentar, lalu Azam pamit karena dia harus melanjutkan penyelidikan terhadap Yasir dan Agus.
Karena nanti malam dia harus menghadiri pertemuan amal di Super Mall Dirta. Jadi dia harus melanjutkan penyelidikannya siang hari ini.
"Hari ini aku akan sibuk, aku harus menyelesaikan ini dengan cepat," batin Azam. Dia segera pergi ke tempat parkir untuk mengambil motornya.
Kemudian dia memeriksa ponsel karena alat pelacak masih ada di dalam mobil milik Yasir dan sekarang alat pelacak nya sedang berada di lokasi yang tidak diketahui oleh Azam.
"Aku tidak tahu lokasi ini, semoga saja di sana tidak ramai." Azam menyimpan ponselnya, menyalakan mesin motor, dan segera memutar gas untuk menuju ke lokasi Yasir.
__ADS_1