
Dengan matanya yang tajam bak mata elang, Azam mampu mengetahui semua posisi pada perampok termasuk para sandera. Para sandera sedang duduk di sudut aula utama dengan satu perampok yang memegang parang menjaga mereka.
Sementara itu perampok dengan senjata api rakitan di tangannya menodongkan senjata api itu kepada pria berjas yang sepertinya adalah manajer bank dan memintanya untuk mengambil uang sebanyak mungkin dalam waktu singkat.
"A-ampuni aku! Aku akan mengambil uangnya sekarang!" Manajer bank berkata dengan suara yang hampir menangis dan jas yang dia pakai sudah basah karena keringat yang sangat banyak.
Wajar saja, karena manajer bank sedang dalam situasi hidup dan mati. Jika dia tidak menuruti perkataan perampok itu, bisa dipastikan kalau dia akan ditembak.
"Cepat!" Perampok dengan senjata api berteriak dengan keras sambil memaksa manajer bank untuk segera mengambil uangnya.
Manajer bank mengangguk dengan cepat seperti burung pelatuk. Dia merogoh sakunya untuk mengambil kunci dan pergi ke belakang untuk mengambil uang dan di belakangnya ada pistol yang ditodongkan ke arahnya.
Pada saat ini, diluar bank. Selain polisi yang menjaga keamanan sambil memegangi pistol di tangan mereka, ada juga warga yang penasaran dengan apa yang terjadi dan reporter dari perusahaan media.
Di dekat mobil polisi, ada seorang wanita yang mengenakan pakaian kerja sambil memegang mic dan seorang pria yang membawa kamera besar di pundaknya.
"Halo semua, saya Ikke dari Fiota Grup. Di belakang saya ada Bank Indonesia Bahagia yang sedang dirampok oleh beberapa orang. Kami mendapat laporan dari warga kalau ada suara keras disertai dengan teriakan orang dari dalam."
"Menurut salah satu polisi, ada tiga orang perampok dan salah satu di antara mereka bahkan ada yang memegang senjata api rakitan di tangannya."
"Meskipun ada banyak sandera, tapi untunglah belum ada orang yang terluka ataupun korban di sana. Kalau begitu, ayo kita tanya kepada polisi yang ada di sini."
Wanita yang mengenakan pakaian kerja yang bernama Ikke itu merupakan reporter dari Fiota Grup, perusahaan media milik keluarga Devina.
Dia berbicara beberapa hal di depan kamera karena saat ini sedang siaran langsung. Kemudian dia berjalan menghampiri polisi di dekatnya dan menyodorkan mic di tangannya.
Polisi itu bernama Eko, polisi yang dihubungi oleh Azam tadi. Dia merupakan polisi berpangkat tinggi dan menjadi orang yang memimpin operasi untuk mengatasi masalah perampokan bank hari ini.
"Halo, Pak polisi. Bisakah kami tahu situasi di dalam bank?" tanya Ikke kepada Eko dengan sopan karena yang dia tanyai adalah seorang polisi berpangkat tinggi.
__ADS_1
"Hm? Ya. Satu perampok ada yang sedang ambil uang, sisanya berjaga. Belum ada orang yang terluka atau korban jiwa," jawab Eko atas pertanyaan dari Ikke.
"Kalau boleh tahu, gimana Bapak tahu situasi di dalam bank? Karena bagian dalamnya sulit dilihat dengan mata telanjang. Apakah ada sniper atau bagaimana?" tanya Ikke kepada Eko.
"Ada orang di dalam yang memberitahu situasi di dalam bank, jadi kami bisa buat rencana yang sesuai." Eko berkata sambil melihat ke arah Bank Indonesia Bahagia di depannya.
"Ada informan!?" Baik Ikke dan orang yang menonton siaran langsungnya sangat terkejut kalau ada informan di dalam bank yang bisa berkomunikasi dengan polisi di luar bank.
Karena ada perampok yang sedang bersiaga di dalam bahkan ada yang memegang senjata api meskipun itu rakitan. Jadi sedikit tidak mungkin kalau ada orang yang bisa berkomunikasi dengan bebas.
Bahkan jika bisa menelepon polisi, itu hanya sekejap mata karena pasti akan langsung ketahuan oleh para perampok. Kecuali memang kalau para perampok itu sangat bodoh sampai tidak menyadarinya.
"Ya, ada informan yang sangat hebat." Eko tersenyum dan mengangguk, dia memuji Azam karena bisa memberikan informasi yang sangat berguna yang bisa mempermudah operasi ini.
"Anu, tolong langsung bergerak, jangan memujiku." Terdengar suara Azam dari ponsel yang Eko pegang di tangan kanannya.
Ikke terkejut dengan suara Azam yang tiba-tiba muncul, dia mengarahkan pandangannya ke arah ponsel di tangan kanan Eko.
"Tunggu sebentar, semua petugas sudah di posisi masing-masing. Tinggal menunggu situasi yang tepat," kata Eko kepada Azam lewat ponsel.
Eko memberikan ponsel itu kepada polisi lain, kemudian dia mengambil walkie talkie di pinggangnya dan berkata, "Eko di sini, semua sudah siap?"
"Siap!" Para polisi yang sudah berada di posisi masing-masing menjawab secara bersamaan.
"Bagus, ayo bergerak!" Eko memerintahkan mereka untuk memulai aksi.
Ikke yang melihat situasi tersebut segera minggir ke tepi agar tidak mengganggu aksi para polisi. Kameraman di sebelahnya juga mengarahkan kamera di pundaknya ke arah bank.
Aksi ini dibagi menjadi tiga tim. Tim satu adalah tim yang akan masuk ke dalam bank dari pintu depan sambil bernegosiasi dengan perampok.
Tim dua adalah tim yang masuk ke dalam bank lewat pintu belakang dengan diam-diam agar tidak ketahuan dan tim dua ini merupakan tim utama jalannya aksi.
__ADS_1
Lalu yang terakhir adalah tim tiga yang merupakan tim jarak jauh. Mereka memegang senjata dari jarak jauh sambil membidik para perampok. Mereka akan menarik pelatuk senjata jika perampok sudah melewati batas.
Meskipun perampok melakukan hal yang ilegal, tapi para polisi juga bagus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Jadi mereka hanya akan menembak jika terjadi situasi yang sudah sangat gawat.
...----------------...
Sementara itu di dalam ruang layanan. Azam berdiri dan menghampiri tempat persembunyian Vanessa dan teller bank yang ada di bawah meja.
"Kalian berdua tetap tenang, polisi sudah bergerak. Jika ada suara atau yang lain, jangan keluar. Keselamatan adalah prioritas utama," kata Azam dengan serius kepada mereka berdua.
"Y-ya!" Vanessa dan teller bank mengangguk dan menjawab dengan suara gugup. Tapi mereka berdua berusaha untuk menenangkan diri karena percaya pada Azam dan para polisi.
"Azam, hati-hati." Vanessa berkata kepada Azam setelah dirinya tenang. Dia meminta Azam untuk berhati-hati karena ini adalah masalah dengan perampok.
"Jangan khawatir, aku ini kuat." Azam menyeringai dan berkata dengan nada santai untuk memecah suasana, kemudian dia kembali ke tempat semula.
Azam terus memantau dengan matanya. Melalui celah di pintu, dia bisa melihat kalau tim satu sudah ada di depan bank dan sedang berusaha untuk bernegosiasi dengan perampok yang memegang parang.
Lalu, Azam berpindah tempat ke dengan jendela di mana dia bisa melihat kalau tim dua juga sudah mulai memasuki bank secara diam-diam namun cepat.
Tapi pada saat ini, ada suara ancaman dari belakang, Azam mengatakan sesuatu lewat ponsel, "Suruh tim dua untuk hati-hati, sepertinya perampok dengan senjata api ada di dekat mereka."
...----------------...
Di sisi lain, Eko memberi perintah lain kepada tim dua. Meskipun dia bingung bagaimana Azam bisa tahu, tapi saat ini dia harus fokus dengan masalah yang sedang terjadi.
Dan perkataan Azam terdengar di siaran langsung Fiota Grup karena posisi kamera dekat dengan ponsel yang digunakan untuk menghubungi Azam.
Tapi belum cukup waktu bagi mereka untuk terkejut, pada saat ini terdengar suara tembakan yang sangat keras sampai terdengar dari luar bank.
Eko beserta petugas polisi yang lainnya terkejut dan segera waspada. Mereka mengangkat pistol yang dipegang di tangan mereka dan melihat situasi di dalam bank dengan serius.
__ADS_1
Ikke dan kameraman juga tidak bersuara agar tidak mengganggu Eko dan polisi lain. Tapi pada saat ini, pintu bank terbuka dan keluar puluhan orang dari dalam sana.
"Ada apa!?" Eko berteriak dengan suara bingung tapi tidak ada yang bisa menjawab kebingungannya karena mereka semua juga sama.