Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
File Dokumen dan Video yang Sangat Penting


__ADS_3

"Dokumen." Azam berkata sambil melihat apa yang dia ambil dari dalam brankas mini tersebut. Lalu dia memberikan dokumen tersebut kepada Deva dan dia mengambil barang yang ada di dalam brankas lagi.


"Dokumen ya," gumam Deva yang mengambil dan membaca dengan serius dokumen yang diberikan oleh Azam.


"Apa ini? Boneka? Siapa juga yang menaruh boneka di dalam brankas." Azam menaruh boneka beruang seukuran telapak tangan di sebelahnya.


Azam menggeleng-gelengkan kepalanya karena berpikir orang aneh mana yang menyimpan boneka beruang di dalam brankas. Dia tidak peduli dan segera menggeledah isi brankas.


"Bingo, ada flashdisk." Azam menemukan sebuah flashdisk berwarna hitam. Dia menyeringai karena tahu kalau. flashdisk ini bisa menjadi titik penentu.


Setelah itu Azam juga menemukan beberapa foto di dalam brankas. Dia tidak mengenal orang-orang yang ada di dalam foto kecuali satu orang, yaitu manajer Magic KTV.


"Sudah kosong." Azam menyingkirkan brankas mini tersebut ke sudut kantor. Setelah itu dia menaruh boneka, flashdisk, dan foto-foto ke atas meja.


Kemudian Azam akan mengatakan sesuatu kepada Deva tapi dia melihatnya berdiri diam sambil memegangi dokumen di tangannya dan Deva membaca dengan sangat serius.


Azam mencoba untuk beberapa kali memanggil Deva tapi sama sekali tidak ada balasan ataupun tanggapan. Bahkan Deva tidak bergerak satu milimeter pun seolah-olah dia patung.


"Pasti ada sesuatu dari isi dokumen tersebut sampai membuat Pak Deva tenggelam," batin Azam. Dia segera menggoyang-goyangkan tubuh Deva dengan kencang agar Deva bisa bangun.


"Ah, kenapa!?" Deva terbangun dari lamunannya. Kemudian dia menoleh ke arah Azam dan bertanya kepadanya.


"Pak Deva, apa isi dokumen itu sampai membuat Pak Deva seperti ini?" tanya Azam kepada Deva dengan penasaran.


"Baca sendiri saja, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya," kata Deva. Dia menghela napas panjang dan memberikan dokumen itu kepada Azam.


Azam melirik Deva, lalu dia mengambil dokumen dari tangan Deva dan segera membacanya. Azam sangat penasaran apa isi dari dokumen ini sampai membuat Deva melamun.


Kemudian semakin Aksa membaca ke bawah, semakin terkejut pula dia. Aksa benar-benar tidak menyangka kalau ada sesuatu seperti itu di dunia ini.

__ADS_1


Isi dari dokumen tersebut adalah tentang perdagangan obat-obatan yang merupakan hal yang ilegal sekaligus tabu di Negara Indonesia karena hukumannya sangatlah berat mau untuk pengguna atau pengedar.


Perdagangan obat-obatan yang dilakukan oleh mereka cukup pintar karena mereka membuat sebuah perusahaan pengiriman yang digunakan untuk mengirimkan obat-obatan yang mereka jual dengan dalih perusahaan pengiriman biasa


"Sialan, aku sudah masuk terlalu dalam!" Azam membanting dokumen itu ke atas meja, dia memegangi kepalanya yang pusing dengan kedua tangan.


Azam sudah memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat agar dia tidak terlibat. Tapi sekarang masalah ini semakin merambat ke sesuatu yang tabu dan dia sudah membaca dokumennya.


"Jangan khawatir tentang itu, Azam. Aku akan melindungi mu, ini urusan Fiota Grup. Kan aku yang sudah menyuruhmu untuk menyelidiki hal ini." Deva duduk dan berkata kepada Azam.


Deva memang merasa bertanggung jawab karena dia yang menyuruh Azam untuk menyelidiki masalah yang pada awalnya adalah masalah penggelapan uang, sekarang malah perdagangan obat-obatan.


"Semoga Bapak melakukan hal itu," kata Azam dengan nada lemas.


Tapi, mereka juga bersyukur karena di dalam dokumen ada daftar nama orang-orang yang merupakan pembeli obat-obatan yang dijual, jadi mereka tidak perlu berusaha terlalu keras.


"Oh, ayo gunakan komputerku." Deva mengangguk.


"Jangan, pakai laptop saja. Takutnya di dalam flashdisk ada virus yang bisa menyerang komputer Bapak," kata Azam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ide bagus, oke." Deva sedikit terkejut, tapi dia mengangguk. Dia mengambil laptop cadangan dari dalam laci meja kerjanya, lalu segera memberikannya kepada Azam.


Azam menaruh laptop milik Deva di atas meja dan menyalakannya. Setelah itu dia memasang flashdisk di colokan yang sudah disediakan di sisi kiri laptop.


Kemudian ada dua folder yang ditandai dengan angka. Pertama, Azam membuka folder 1, lalu dia dan Deva melihat kalau isi dari folder tersebut adalah file dokumen dengan nama tanggal dan tahun.


"20 Januari 2027, itu tiga tahun lalu," kata Deva yang melihat file dokumen paling atas di folder 1.


"Lalu yang terakhir adalah 12 Juli 2030, bulan lalu," kata Azam yang melihat fila dokume paling bawah di folder 1.

__ADS_1


Mereka berdua saling memandang satu sama lain, kemudian mereka mengangguk. Azam menarik napas dalam-dalam, dan membuka file dokumen paling atas.


Setelah beberapa saat membaca, isi dari file dokumen tersebut adalah sebuah kontrak pembelian obat-obatan. Dengan pihak penjual bernama Radit dan pembeli bernama Bambang.


Melihat file dokumen itu berisi kontrak pembelian, mereka yakin kalau file lainnya juga sama. Jadi mereka terus membaca file dokumen yang berjumlah puluhan itu.


Lalu di file dokumen dengan tanggal 30 Mei 2030, Azam dan Deva melihat kalau pembeli di dalam kontrak pembelian adalah Yasir, petinggi Perusahaan Fiota Grup alias bawahan Deva.


"Bingo." Azam menyeringai karena akhirnya dia menemukan bukti.


"Jadi Yasir menggelapkan uang untuk membeli obat-obatan, bukan untuk membiayai wanita yang dia asuh," kata Deva dengan wajah muram karena tahu tindakan yang dilakukan oleh Yasir.


"Tunggu, Pak. Masih ada folder 2, kita perlu memeriksanya," kata Azam yang segera keluar dari folder 1 dan masuk ke folder 2.


Kemudian mereka melihat kalau isi dari folder 2 adalah video dengan format nama tanggal dan tahun sama dengan file dokumen yang ada di dalam dokumen 2.


"Ah, ini pasti bukti videonya, kalau tadi bukti secara tertulis," kata Deva yang diberi anggukan kepala oleh Azam.


"Yah, berarti tidak perlu ditonton." Azam menganggukkan kepalanya.


Kemudian mereka berhenti memeriksa karena semuanya sudah terungkap. Sekarang mereka berdiskusi harus bagaimana selanjutnya, antara lapor ke polisi atau ungkapkan ke khalayak umum.


Setelah diskusi singkat, mereka mencapai keputusan untuk mengungkapkan hal ini ke khalayak umum, setelah itu baru dilaporkan ke pihak berwajib.


Alasannya tentu karena Fiota Grup ingin meraup keuntungan. Meskipun reputasi mereka akan sedikit tercoreng karena Yasir terlihat, tapi itu tidak masalah dengan keuntungan yang akan datang.


Azam juga tidak terlalu peduli dengan hal ini, dia hanya ingin menerima bayaran atas tugasnya dari Deva, kemudian dia harus melanjutkan tugas dari Sandra.


"Yah, aku sudah punya Sistem Pemindai, jadi aku tidak boleh mengeluh lagi." Azam tersenyum. Dia berpamitan dengan Deva, kemudian pergi dari gedung Fiota Grup dengan hati yang lega.

__ADS_1


__ADS_2