
Untuk pergi ke alamat yang dikatakan oleh Devina membutuhkan waktu setengah jam dari Universitas Indonesia. Meskipun mereka menggunakan mobil Ferrari, mereka tidak bisa sampai tepat waktu atau lebih cepat.
Alasannya sangat sederhana, itu karena macet. Alamat yang dikatakan oleh Devina adalah sebuah kawasan orang kaya yang bernama Perumahan Pondok Indah.
Tempat itu berada di area yang sangat strategis sehingga sering macet karena ada banyak orang yang ke sana dan dari sana. Jadi Azam dan Devina mati kebosanan di dalam mobil karena macet yang parah.
"Jadi mobil Ferrari juga tidak ada gunanya di hadapan kemacetan," kata Devina sambil tertawa kecil karena dia sudah pasrah dengan kemacetan yang terjadi.
"Begitulah. Aku beli helikopter saja besok." Azam tertawa dan berkata dengan candaan. Tidak mungkin dia bisa membeli helikopter besok, tapi mungkin saja di masa depan nanti.
Baru setelah satu jam kemudian, mereka sampai di Perumahan Pondok Indah. Saking mewahnya, gerbang masuknya saja bisa membuat orang yang melihatnya terkejut.
Kawasan Perumahan Pondok Indah memang terkenal dengan berbagai hunian mewah yang berada di sekitarnya. Harga rumah di kawasan ini pun bisa menyentuh angka ratusan miliar rupiah per unitnya.
Sebagai salah satu kawasan hunian elit, lokasi Perumahan Pondok Indah juga terbilang sangatlah strategis. Di sekitarnya, ada berbagai pusat perbelanjaan
Ada pusat pendidikan, hiburan, restoran dan kafe, fasilitas kesehatan, sentra bisnis, dan berbagai fasilitas publik lainnya di dekat kawasan Perumahan Pondok Indah.
Di sana juga terkenal sebagai tempat bermukimnya para ekspatriat, pengusaha, pejabat, dan juga artis papan atas di Jakarta.
Di sepanjang jalan utama Pondok Indah rata-rata rumah yang dibangun pun memiliki ukuran yang besar dan tentunya terlihat sangat mewah.
"Azam, langsung masuk saja, aku punya akses masuk." Devina berkata kepada Azam sambil mengeluarkan kartu dari tasnya. Itu adalah kartu tanda bukti kalau dia adalah penghuni Perumahan Pondok Indah.
"Oke." Azam mengangguk. Dia menyebut mobil dengan perlahan-lahan, kemudian dia berhenti di sebelah ruang pemeriksaan agar Devina bisa menunjukkan kartu akses.
Setelah diizinkan untuk masuk, Azam menginjak pedal gas dan berhenti beberapa menit kemudian. Karena rumahnya memang tidak jauh dari gerbang masuk yang menandakan kalau pemilik rumah itu sangatlah kaya raya.
"Devina, kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Azam dengan bingung karena itulah pertanyaan yang ingin dia ajukan dari tadi.
"Oh, Ayahku ingin berbicara denganmu." Devina menjawab dengan santai namun dia tidak tahu kalau jawabannya membuat Azam terkejut setengah mati.
__ADS_1
Karena Azam tidak punya hubungan dengan ayahnya Devina, itu artinya beliau ingin membicarakan sesuatu yang ada kaitannya dengan pekerjaannya saat mencari bukti tentang Vanu.
"Ah sial, kurasa aku terlibat dalam sesuatu yang merepotkan." Azam memegangi dahinya dan bergumam sambil menghela napas panjang.
"Azam, ayo masuk." Devina meminta satpam untuk membukakan gerbang rumah. Kemudian dia meminta Azam untuk masuk.
Setelah itu, mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah. Devina membuka pintu dan mempersilakan Azam untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Rumah orang kaya, seperti dunia yang berbeda." Azam tersenyum masam karena dia sangat iri dengan kehidupan orang kaya.
Devina berjalan ke lantai dua diikuti oleh Azam di belakangnya. Kemudian Devina mengetuk pintu sebuah ruangan di dekat tangga, dan terdengar suara seorang pria dari dalam ruangan.
Devina membuka pintu, dia masuk ke dalam setelah mengajak Azam untuk masuk juga. Mereka berdua duduk di sofa empuk dan di seberang mereka ada seorang pria paruh baya kurus dengan kacamata baca.
Orang itu adalah Deva Fiotano, ayah Devina. Dia adalah pemimpin sekaligus pemilik dari Perusahaan Fiota Grup milik Keluarga Fio.
Deva Fiotano merupakan salah satu orang terkaya di Jakarta dan menempati urutan puluhan di orang terkaya di Indonesia yang bisa dilihat dengan jelas kalau beliau sangatlah kaya.
"Benar, itu nama saya, Pak." Azam mengangguk sambil menunjukkan senyum sopan.
"Santai, jangan terlalu formal. Aku ingin membahas sesuatu denganmu, Azam. Jadi, apakah kamu sudah siap?" Ekspresi wajah Deva mulai berubah menjadi lebih serius dari yang tadinya ramah.
Azam menelan ludahnya, bukan karena dia takut atau gugup, tapi karena dia kehausan. Tapi tentu saja dia tidak bisa berkata kalau dia sedang haus.
"Silakan, Pak." Azam mengangguk dan mempersilakan Deva untuk berbicara.
"Jadi, pekerjaanmu sebelumnya sangat menakjubkan. Aku di sini ingin memberimu tawaran apakah kamu tertarik bekerja di Fiota Grup?" Deva memberi tawaran pekerjaan kepada Azam.
Azam menyipitkan matanya, dia terdiam sejenak sebelum pada akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Maaf, Pak. Aku tidak mau terikat oleh perusahaan manapun saat ini, aku masih ingin bebas."
Deva terdiam, dia tidak menyangka kalau Azam akan menolak tawaran yang sangat menggiurkan apalagi Azam masih berumur 18 tahun di mana dia pasti akan butuh pekerjaan melihat situasinya sekarang.
__ADS_1
Jadi Deva berkata, "Kamu yakin? Ini kesempatan sekali seumur hidup, kamu bakal menyesal kalau menolak tawaran ini."
Deva masih berusaha untuk membujuk Azam agar bisa bergabung ke Fiota Grup, karena individu berbakat seperti Azam tidak bisa dilepaskan begitu saja.
"Maaf, Pak. Sudah kukatakan, aku masih ingin bebas. Juga, aku bisa pergi kemanapun dengan kemampuanku." Azam berkata dengan nada tenang, dia mulai tidak suka dengan suasana sekarang.
Deva juga menyadari kesalahannya yang terlalu memaksa Azam untuk bekerja di Fiota Grup. Dia menghela napas karena merasa kalau dirinya sudah terlalu tua, jadi dia berdiri dan mengambil sebuah dokumen di atas mejanya.
"Azam, kalau kamu kutawarkan untuk menyelidiki hal ini, kamu tidak akan menolak kan?" Deva berkata sambil menyerahkan dokumen tersebut kepada Azam.
"Nah, kalau ini tidak apa-apa." Azam tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil dokumen tersebut dan membacanya secara seksama.
Alisnya berkerut saat membaca isi dari dokumen itu, dia terheran-heran apakah isi dokumen itu memang benar atau tidak, dia menoleh ke arah Deva dan diberi anggukan kepala olehnya.
"Jadi, ini benar ya." Azam menghembuskan napas panjang karena merasa sedikit aneh.
Isi dari dokumen tersebut adalah sebuah data diri dari seorang pria paruh baya yang bernama Yasir, seorang petinggi Perusahaan Fiota Grup.
Ada rumor mengenai Yasir yang menggelapkan uang perusahaan. Namun setelah diselidiki lebih lanjut, tidak ada bukti mengenai hal tersebut.
Tapi Deva berpikir lain, dia tahu kalau ada sedikit perubahan di dalam data keuangan yang dikirimkan oleh akuntan perusahaannya. Dia jadi mencurigai Yasir kalau penggelapan uang itu memang benar adanya.
Tapi, Deva juga tidak bisa menyelidiki Yasir dengan bebas karena itu sudah termasuk mengganggu kehidupan orang lain. Jadi dia meminta bantuan dari detektif swasta untuk menyelidiki secara rahasia.
Dan kebetulan sekali dia mendengar pekerjaan Azam dari mulut Ari. Jadi Deva kepikiran untuk meminta bantuan kepada Azam terkait masalah ini.
"Ya, aku ingin kamu melakukan penyelidikan itu. Tenang saja, bayarannya tidak main-main." Deva mengangguk dan berkata dengan serius.
Bagi Deva yang sudah mempertahankan Fiota Grup dengan segenap jiwa dan raganya, dia tidak bisa mentolerir adanya penggelapan uang dari salah satu bawahannya.
Reputasi Fiota Grup akan sedikit menurun karena adanya orang yang melakukan penggelapan uang, tapi reputasinya akan melambung tinggi jika mereka bisa menemukan bukti yang pasti yang bisa membuat heboh publik.
__ADS_1
Sebagai pebisnis veteran, Deva bisa melihat peluang dari masalah yang sedang terjadi dan ada satu variabel yang bisa membantu Deva, dan itu adalah Azam.