
Setelah merdeka kembali ke panti asuhan, Adeng bertanya kepada Azam, "Azam, mobil siapa yang kamu pakai? Kelihatannya sangat bagus."
Sebagai orang tua yang hidup dari zaman lama, Adeng tentu saja tidak tahu seberapa mewah dan mahalnya merek Ferrari, dia hanya tahu kalau penampilan mobil itu sangat bagus bahkan bagi orang tua seperti dirinya.
Azam juga mengetahui hal ini, jadi dia berkata, "Itu mobil teman, Kek. Karena aku belum punya kendaraan, dia meminjamkan mobilnya."
"Oh! Kalau begitu bawa buah atau makanan nanti untuk temanmu itu, dia sangat baik," kata Adeng yang membuat Azam tersenyum karena kebaikannya.
Adeng kemudian turun dari mobil dan berkata kepada pengurus wanita untuk mengemasi barang-barang milik Dinda karena akan dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu Azam sedang melihat bangunan panti asuhan yang sudah lusuh. Tempat dia dibesarkan bernama Panti Asuhan Matahari yang dibangun oleh Adeng itu sendiri dengan dana pribadinya.
Panti asuhan matahari merupakan bangunan yang kecil dan harus menampung banyak anak-anak. Tapi untung saja masih banyak orang baik di dunia ini yang mau mendonasikan uang mereka ke sini.
Namun meskipun demikian, Adeng tidak pernah merenovasi bangunan panti karena uang donasi digunakan untuk kebutuhan anak-anak seperti pakaian, makanan, dan pendidikan.
"Tunggu sebentar, aku kan punya nomor orang dari konstruksi." Azam teringat kalau dia pernah membantu orang dari perusahaan konstruksi, jadi dia segera mencari kontaknya.
Orang yang dimaksud oleh Azam adalah Hendra Setiawan, pemilik perusahaan Tiger Construction yang pernah dia bantu saat menemukan uang 5 juta rupiah miliknya.
Azam menemukan kontak Hendra dan langsung meneleponnya. "Halo, Pak Hendra. Bapak Masih ingat dengan saya?"
Terdengar suara Hendra dari balik telepon, "Azam, aku masih ingat. Ngomong-ngomong, jangan pakai bahasa formal, santai saja."
"Haha, baiklah." Azam tertawa kecil karena kepribadian Hendra memang sangat baik.
"Tapi, kenapa kamu meneleponku? Apa ada sesuatu?" tanya Hendra kepada Azam.
"Begini Pak, aku mau merenovasi panti asuhan. Bapak kan pemilik perusahaan konstruksi, jadi aku mau meminta bantuan ke Bapak," kata Azam.
Kemudian Azam menjelaskan kondisi Panti Asuhan Matahari kepada Hendra agar Hendra paham dan bisa membuat gambaran kasar.
__ADS_1
"Renovasi ya, jelas bisa. Kirim lokasinya, aku langsung meluncur ke sana," kata Hendra kepada Azam.
"Oh, Bapak mau datang ke sini? Oke, aku kirim lokasinya sekarang." Setelah menutup telepon, Azam segera mengirimkan lokasi Panti Asuhan Matahari kepada Hendra.
Tidak butuh waktu lama untuk Hendra datang ke panti asuhan, dia naik mobil pribadinya dan datang bersama dengan seorang wanita berkacamata yang sepertinya adalah sekretarisnya.
"Azam, ini Panti Asuhan Matahari?" tanya Hendra sambil melihat bangunan lusuh di depannya yang memang sudah memprihatinkan.
"Ya, ini. Gimana Pak, kondisinya memang harus direnovasi kan?" angguk Azam dengan tidak berdaya.
"Kalau mau yang bagus, di rombak ulang saja. Soalnya bangunan ini sudah lama dan fondasinya pasti juga sudah rapuh," kata Hendra setelah menganalisis bangunan panti asuhan.
"Masuk akal." Azam mengangguk, dia juga setuju dengan perkataan Hendra karena bangunan panti asuhan sudah sangat lama.
Kemudian Azam mengatakan kepada Hendra kalau dia ingin membuat bangunan panti asuhan menjadi luas mau itu bangunan atau halamannya.
Dia ingin anak-anak panti asuhan memiliki tempat yang nyaman untuk tidur dan di halaman mereka juga bisa bermain dengan leluasa bersama-sama.
Tapi yang menjadi permasalahan adalah tanah milik panti itu tidak cukup untuk ide Azam. Jika mau, Azam harus membeli tanah kosong di sebelah panti asuhan yang harganya pasti tidak murah.
"Oke, nanti aku tanya Kakek Adeng." Azam mengangguk.
Kemudian mereka membahas rencana pembangunan ulang. Hendra akan menggunakan tanah panti asuhan untuk dibangun bangunan baru yang besar dan luas.
Lalu rencana selanjutnya adalah setelah tanah kosong di sebelah dibeli oleh Azam, itu akan dibuat sebagai halaman bermain untuk anak-anak.
Jadi meskipun tanah kosong di sebelah tidak bisa dibeli, yang penting panti asuhan punya bangunan yang besar dan kokoh sehingga anak-anak bisa tinggal dengan nyaman di sana.
Tanah milik panti asuhan itu cukup luas sekitar 300 meter persegi, bisa dibayangkan betapa harganya, apalagi meskipun di pinggiran, ini termasuk wilayah Jakarta Selatan.
Hendra akan membangun bangunan panti di sekitaran 200 meter persegi yang akan menjadi bangunan dua lantai. Mereka juga langsung mendiskusikan harganya.
__ADS_1
Setelah berdiskusi dan bernegosiasi, Azam akan membayar biaya pembangunan sebanyak 600 juta rupiah dan ini sudah diberi diskon khusus oleh Hendra karena Azam pernah membantunya.
Itu memang harga yang mahal, tapi Azam sama sekali tidak khawatir. Dia bisa mengumpulkan banyak uang dan dia juga akan membuka donasi untuk Panti Asuhan Matahari.
Tapi, yang jadi pemikiran Azam adalah dia sepertinya tidak jadi membeli tanah di sebelah panti asuhan dalam waktu dekat karena harganya pasti akan sangat mahal dan dia tidak akan punya cukup waktu untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.
"Baiklah, kita sepakat. Kontraknya akan aku kirim nanti setelah sekretaris ku membuatnya," kata Hendra kepada Azam.
"Ya, kita sepakat. Terima kasih, Pak." Azam mengangguk, kemudian dia dan Hendra berjabat tangan.
Setelah itu Hendra pergi bersama sekretarisnya, dia akan langsung membuat rencana dengan pekerja konstruksi di perusahaan Tiger Construction miliknya untuk membangun ulang panti asuhan.
Kebetulan sekali pada saat ini Adeng keluar dari panti dan melihat kalau Azam baru saja berbicara dengan Hendra yang tidak dia kenal, jadi dia bertanya kepada Azam.
"Azam, siapa itu?" tanya Adeng.
"Itu pemilik perusahaan konstruksi, aku mau membangun ulang panti asuhan, Kek," jawab Azam yang membuat Adeng sangat terkejut.
"Membangun ulang!? Azam, dari mana uangnya!?" Adeng sangat terkejut karena dia tahu kalau untuk merenovasi panti asuhan sana sudah sangat mahal, apalagi untuk membangun ulang.
"Aku ada sedikit uang, nanti aku juga bakal buka donasi, Kek." Azam tersenyum cerah yang membuat kekhawatiran Adeng mereda.
"Tapi pastinya sangat mahal kan?" tanya Adeng tentang biaya pembangunan ulang.
"Yah, memang mahal. Tapi ini Jakarta, keajaiban bisa saja terjadi kalau kita mau berusaha." Azam tersenyum dan menjawab dengan nada yakin.
"Okelah, jangan memaksakan diri. Terus juga jangan lakukan sesuatu yang ilegal." Adeng berkata dengan nada tidak berdaya sambil menghembuskan napas panjang.
"Hahaha, tidak akan. Kalau aku dipenjara, siapa yang akan menghidupi panti asuhan!?" Azam tertawa dengan keras.
Adeng hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah terbiasa dengan sifat Azam. Meskipun sebenarnya masih ada beberapa anak panti asuhan yang selalu mengirimkan uang kepada panti.
__ADS_1
Tidak ada anak yang melupakan Panti Asuhan Matahari yang telah membesarkan mereka sejak kecil setelah mereka dewasa dan bekerja di masyarakat.
Itulah mengapa Panti Asuhan Matahari masih bisa bertahan sampai saat ini meskipun memang kalau uang yang dikirim oleh mereka tidak cukup untuk merenovasi panti, tapi setidaknya anak-anak panti bisa hidup dengan nyaman.