Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Berkenalan dengan Dua Kuda Hitam dan Putih


__ADS_3

Jarak antara kandang dengan Vanessa adalah tiga meter. Seekor kuda bisa mencapai tiga meter tersebut hanya dalam waktu kurang dari satu detik.


Itu artinya, Azam tidak akan pernah bisa menghentikan kuda putih yang sedang berlari itu, meskipun tubuhnya sudah ditingkatkan. Dia mungkin bisa menghentikannya, kalau dia bukan manusia biasa.


Momen ini adalah salah satu hal yang paling menegangkan bagi Azam dan Vanessa. Mereka merasa kalau satu detik ini terasa seperti satu abad, yang sangat lama.


Azam mengerahkan seluruh kekuatannya, dia berusaha untuk menghentikan kuda putih itu, meskipun di dalam pikirannya dia sudah tahu, kalau dia tidak akan bisa menghentikannya.


"Tenang!!" Tapi pada saat ini, si petugas berteriak dengan keras yang membangunkan Azam dan Vanessa dari kekhawatiran mereka.


Saat mereka berdua sadar, mereka melihat kalau kuda putih itu berhenti di depan Vanessa. Dia menjulurkan kepalanya ke arah Vanessa, seolah-olah dia sedang meminta elusan kepala darinya.


"Ini juga salah satu alasan kenapa kedua kuda ini tidak dipilih," kata si petugas sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.


Setelah jeda, petugas itu melanjutkan, "Alasannya adalah karena kedua kuda ini langsung mendekati orang di dekat mereka. Mereka penasaran dengan manusia, itulah kenapa mereka sedikit tiba-tiba."


Azam dan Vanessa saling memandang satu sama lain, kemudian mereka menghela napas lega. Azam bersyukur karena kuda itu tidak menyakiti Vanessa. Dia bakal kena marah oleh Harun jika hal itu terjadi.


Vanessa juga lega karena kuda putih itu tidak menyakiti dirinya. Dia khawatir kalau tidak bisa menulis novel kalau dia sakit nanti.


Mereka berdua sama-sama khawatir terkait kejadian barusan, tapi kekhawatiran mereka berbeda jauh. Tapi yang penting, kuda putih itu tidak menyakiti Vanessa yang makan akan membuat banyak masalah nanti.


"Maaf ya." Si petugas meminta maaf dengan tulus, karena dia juga takut kalau Vanessa akan terluka.


"Tidak apa-apa," kata Vanessa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ngomong-ngomong, Pak. Apa dua kuda ini punya nama?" tanya Azam. Dia melihat kuda hitam di depannya yang bersikap tenang. Dia jadi tertarik karena warna hitamnya sungguh elegan.


"Pasti ada. Si jantan berambut hitam adalah Shakti. Si betina berambut putih adalah Anila. Keduanya mengambil nama dari Bahasa Sansekerta," jelas si petugas.


"Bahasa Sansekerta? Keren juga. Kalau begitu, mohon kerja samanya ya, Shakti." Azam berkata sambil mengelus-elus rambut hitam legam Shakti.

__ADS_1


"Niegh!!" Shakti bersuara tanda bahwa dia senang.


"Kita juga jangan kalah, Anlia!" teriak Vanessa dengan penuh semangat. Bahkan Aksa bisa melihat kobaran api di kedua matanya.


"Niegh!!!" Anile juga bersuara dengan penuh semangat seperti Vanessa.


"Azam! Ayo kita mulai berkuda nya!" kata Vanessa dengan suara gembira. Dia tidak sabar untuk menunggangi kuda putih yang baru saja dia peroleh.


"Oke, ayo," angguk Azam. Kemudian si petugas meminta Azam dan Vanessa untuk mengikuti dirinya.


Mereka lima, dengan tiga orang dan dua kuda, pergi ke gudang peralatan. Di sana Azam dan Vanessa diminta untuk memakai peralatan pelindung.


Azam dan Vanessa segera memakai peralatan pelindung, si petugas juga membantu mereka. Kemudian, setelah setengah jam, semuanya sudah siap. Azam dan Vanessa membawa kuda mereka untuk pergi ke lapangan berkuda.


Di lapangan berkuda ada cukup banyak orang, tapi Azam tahu kalau banyak di antara mereka bukan anggota equestrian. Paling-paling, mereka adalah mahasiswa baru yang sedang mencoba-coba.


"Van, kita ke sana saja. Di sana cukup sepi," kata Azam sambil menunjuk suatu arah.


Mereka menunggangi kuda mereka, dan kuda mereka juga tidak memberontak. Meskipun Azam baru pertama kali menunggang kuda, dia sama sekali tidak gugup karena sudah menganalisis mahasiswa lain.


Dengan skill pengamat dan detektifnya, dia bisa langsung paham bagaimana harus begini dan begitu. Apalagi kudanya juga bersikap kooperatif, tidak memberontak sama sekali, yang membuat Azam tenang.


"Vanessa! Kamu masih ingat cara berkuda kan?" tanya Azam dengan nada bercanda.


"Hmph, kamu kira aku ini siapa!? Seorang novelis harus mempunyai ingatan yang bagus!" balas Vanessa dengan nada sombong dengan senyum di wajahnya.


"Hahaha!" Azam tertawa terbahak-bahak.


"Kamu bisa berkuda? Kamu kan bilang kalau kamu tidak pernah berkuda," tanya Vanessa dengan nada khawatir, karena takut Azam kenapa-napa.


"Santai saja, aku bisa. Lagipula, kalau aku jatuh, aku masih hidup!" jawab Azam dengan percaya diri sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kamu!" Vanessa memelototi Azam karena dia merasa kalau perkataannya terlalu berlebihan.


"Hehe, maaf." Azam tersenyum lebar dan meminta maaf.


Mereka berdua hampir lupa kalau harus merekam. Jadi, Azam menaruh ponselnya di dekat pagar, dan menyangganya dengan batu. Setelah dia menekan tombol rekam, dia segera menunggangi kuda dan pergi bersama Vanessa.


"Azam, kamu mau merekam video seperti apa?" tanya Vanessa kepada Azam.


"Hm, apa saja. Niatnya aku mau buat musik video. Jadi, apapun yang kita lakukan nanti, akan aku tambahkan musik yang sesuai," jawab Azam setelah berpikir sejenak.


Vanessa merasa kalau itu ide bagus, karena mereka tidak perlu berbicara. Jadi dia bertanya lagi, "Oh, itu ide bagus. Kamu bisa ngedit video?"


"Tidak," jawab Azam sambil tersenyum lebar lagi, yang membuat Vanessa tercengang.


Vanessa memegangi kepalalnya, dan bertanya, "Terus? Kamu mau nyewa orang?"


"Ya, aku mau nyewa jasa editor video. Kita berdua kan tidak kekurangan uang," jelas Azam dengan nada santai. Sepertinya dia sudah masuk ke ranah para orang kaya.


"Kamu ini ya. Tapi memang bagus sih, musik video. Kita jadi tidak perlu banyak bicara," kata Vanessa yang menganggap kalau ide Azam sangat bagus.


"Benar. Aku malas berbicara di depan kamera, lagipula palingan tidak ada yang menonton. Jadi lebih baik dipasang musik. Hal pertama yang mereka notice adalah musik, lalu videonya. Kita pasti akan mendapat banyak view!" ungkap Azam.


"Woah, benar juga ya. Kalau itu terjadi, maka Equestrian UI akan dapat banyak pengunjung. Tidak menutup kemungkinan kalau ada orang yang bergabung," imbuh Vanessa dengan nada kagum.


"Nah, tepat sekali." Azam tersenyum. Idenya memang brilian, karena pemula cukup sulit untuk bersaing dengan veteran.


Mereka berdua kemudian mulai kegiatan mereka. Mulai dari berlarian bersama, berjalan-jalan santai, lomba atraksi kuda, dan masih banyak lagi.


Setelah satu jam, mereka kemudian beristirahat karena menunggang kuda itu cukup melelahkan. Tidak heran kalau kuda juga bisa dijadikan sebagai terapi karena mampu membuat tubuh bugar.


Namun pada saat ini, ada seorang remaja laki-laki yang menghampiri mereka berdua. Di belakangnya juga ada beberapa remaja lain yang terlihat seperti teman-temannya.

__ADS_1


"Oy, ayo kita bertanding," kata remaja laki-laki itu kepada Azam dengan suara keras. Azam langsung menyemprotkan air minum yang ada di mulutnya, karena dia sangat terkejut dengan tantangan yang tiba-tiba.


__ADS_2