
9 Agustus 2030.
Azam bangun dari tidurnya karena dibangunkan oleh sinar matahari yang hangat. Dia duduk dan bermeditasi sebentar untuk menjernihkan pikiran. Lalu dia pergi ke dapur untuk meminum air hangat.
Lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi. Setelah selesai, dia pergi ke ruang tamu, menyalakan televisi, dan duduk di sofa sambil menonton televisi.
Azam sedang menunggu Vanessa untuk bangun. Karena seperti biasa, mereka berdua akan lari pagi keliling komplek apartemen. Karena lari pagi sudah menjadi kebiasaan mereka berdua.
"Azam, aku tidak lari pagi dulu," kata Vanessa secara tiba-tiba setelah dia membuka pintu kamarnya.
"Eh, kenapa?" tanya Azam yang sedikit terkejut dengan perkataan Vanessa yang tiba-tiba seperti itu.
Azam menolehkan pandangannya ke arah Vanessa, lalu dia melihat kalau wajah Vanessa sedikit pucat. Azam berdiri dan berjalan ke arah Vanessa, lalu dia segera menempelkan telapak tangan kanannya di dahi Vanessa.
"Eh!!??" Vanessa terkejut dengan tindakan Azam. Dia memiliki wajah yang berubah menjadi merah karena terlalu malu.
"Badanmu panas," kata Azam sambil mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka kalau Vanessa akan sakit saat ini, padahal tidak kenapa-napa kemarin.
"Iya, aku juga sedikit lemas," kata Vanessa dengan suara lirih, itu artinya dia memang sedang sakit.
"Aku buatkan sarapan dulu, kamu istirahat saja," kata Aksa yang membantu Vanessa masuk ke kamarnya lagi.
Vanessa juga tidak menolak, dia sedang lemas dan butuh seseorang untuk membantunya. Setelah Vanessa berbaring di atas ranjang, Aksa pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Sarapan untuk dirinya adalah roti isi selai stroberi, sedangkan Vanessa adalah bubur. Tidak sulit untuk membuat bubur, Azam bisa langsung mempraktikkannya setelah menonton tutorial.
Azam membuat bubur sambil memakan roti selainya. Setelah bubur selesai, dia menaruhnya di dalam mangkuk dan segera pergi ke kamar Vanessa.
"Van, ini makan buburnya dulu." Azam membantu Vanessa untuk makan dengan cara menyuapinya.
"Jangan, aku bisa makan sendiri." Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Lalu dia mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan Aksa.
__ADS_1
Vanessa sangat malu karena belum pernah dirawat oleh seorang pria. Jadi dia tidak tahu harus berbuat apa. Vanessa memutuskan untuk memakan buburnya tanpa disuapi oleh Azam karena dia sangat malu.
"Okelah. Aku buatkan teh hangat sama ambil obat dulu." Azam mengangguk dan tidak memaksa. Dia berdiri dan pergi ke dapur lagi untuk membuat teh hangat.
Untuk obat, ada banyak obat di kotak P3K di dinding dapur. Jadi Azam tidak perlu pergi ke apotek untuk membeli obat, yang mana malah memakan banyak waktu.
...----------------...
Setelah Vanessa minum obat, dia tertidur. Sementara itu Azam memutuskan untuk mandi tanpa berolahraga karena udara sudah panas.
"Sistem, aku mau gacha!" teriak Azam kepada Sistem di dalam hatinya.
[Tentu.] Seperti biasa, Sistem memunculkan layar hologram yang menampilkan mesin gacha. Azam segera memutar mesin gacha dengan pikirannya.
[Selamat, Host mendapatkan skill psikolog (5 tahun)]
Azam tidak bereaksi terlalu banyak karena dia sudah pernah mendapatkan hasil yang lebih bagus. Tapi dapat skill psikolog juga tidak rugi meskipun pengalamannya hanya sampai 5 tahun saja.
Psikolog adalah seorang profesional yang bekerja dalam bidang ilmu psikologi. Mereka menganalisis dan memahami perilaku dan proses mental manusia, serta memberikan layanan konseling, terapi, dan penilaian psikologis.
Psikolog dapat bekerja di berbagai setting, termasuk di klinik, rumah sakit, sekolah, perusahaan, atau swasta, dengan fokus pada pemahaman dan perawatan masalah mental dan emosional.
Ilmu psikologi bertujuan untuk memahami, menjelaskan, dan bahkan memperbaiki perilaku dan pengalaman manusia. Ilmu ini digunakan dalam berbagai konteks, termasuk pengembangan pribadi, pendidikan, kesehatan mental, dan banyak bidang lainnya.
[Host benar. Dengan skill psikolog, Host bisa tahu dengan mudah emosi manusia yang Host inginkan. Bahkan Host bisa saja mengetahui isi pikirannya hanya dengan melihat ekspresinya.]
"Ya, kamu benar. Psikolog itu peka terhadap emosi, mereka juga bisa membaca emosi seseorang dari raut wajah," angguk Azam yang setuju dengan perkataan Sistem.
Setelah melakukan gacha, Azam berniat untuk pergi keluar. Dia ingin menggunakan fitur mencari barang berharga yang sekarang bisa dilakukan dua kali dalam seminggu.
Tapi Azam bosan dengan barang mewah, dia ingin sesuatu yang baru. Itulah kenapa, tujuannya saat ini bukanlah mall atau taman, melainkan sebuah pasar loak di Jakarta Selatan.
__ADS_1
Pasar loak ini terletak di Kebayoran, Jakarta Selatan. Di sana, di sepanjang jalan, kedai kecil & pedagang kaki lima menawarkan berbagai barang bekas & vintage, serta beragam makanan.
Yang ingin ditemukan oleh Azam adalah sebuah barang lama yang mempunyai nilai jual yang tinggi. Barang mewah memang menghasilkan banyak uang, tapi terkadang barang antik menghasilkan sesuatu yang berbeda.
Azam keluar dari apartemen, dia turun ke area parkir, menaiki motornya, dan segera pergi ke Pasar Loak Kebayoran. Butuh waktu 40 menit untuk sampai ke sana, tapi Azam bisa saja sampai lebih lama karena jalanan yang macet.
...----------------...
Azam memarkirkan motornya di area parkir, lalu dia melihat kalau ada banyak orang berlalu lalang di pasar loak. Meskipun hari masih pagi, tapi tidak membuat orang-orang menahan diri.
"Ini yang aku inginkan. Tapi yah, meskipun mencari barang antik lebih susah," batin Azam sambil tersenyum. Dia mengambil langkah maju dan memasuki area pasar loak.
[Host, mencari barang antik di pasar loak adalah hal yang sangat susah.] Sistem memberi nasihat kepada Azam.
"Aku tahu, makanya aku akan memakai fitur pencarian barang berharga. Lagipula, aku akan mengamati barang-barang di sini dengan skill pengamat," balas Azam di dalam hatinya.
Skill pengamat nya memang cocok untuk digunakan di momen ini. Azam ingin menggunakan skill ini dengan maskimal, agar dia menjadi semakin terbiasa, dan juga agar dia bisa menemukan barang antik..
"Ngomong-ngomong, apa ada barang antik yang tidak berharga?" tanya Azam kepada Sistem di dalam hatinya.
[Ya, ada barang antik yang mungkin tidak memiliki nilai yang tinggi. Nilai sebuah barang antik sangat tergantung pada faktor-faktor seperti usia, kualitas, langka, dan permintaan pasar.]
"Benar juga. Lagipula, barang antik berharga karena waktu dan sejarah," angguk Aksa yang paham dengan penjelasan dari Sistem.
Pada saat Azam melihat barang-barang di sekitar, dia melihat ada kerumunan orang di depannya. Suaranya cukup berisik, sehingga membuat Azam penasaran apa yang membuat orang-orang menjadi seperti itu.
Jadi, Azam segera pergi ke arah kerumunan itu dan mencoba untuk melihat lebih dekat, meskipun dia bagus berdesak-desakan dengan orang lain.
Kemudian, Azam melihat kalau di tengah kerumunan ada beberapa orang yang sedang mengamati sebuah batu. Mereka memegang batu di tangan kiri dan senter di tangan kanan.
"Judi batu," kata Azam.
__ADS_1