
"Jadi, gimana caranya agar aku bisa memanfaatkan Sistem Pemindai dengan maksimal?" Azam memejamkan matanya dan mencoba untuk berpikir dengan keras.
Sekarang dia sedang berada di luar bangsal pasien karena untuk mencari tempat yang tenang. Azam sedang berpikir bagaimana caranya agar dia bisa memanfaatkan Sistem Pemindai dengan maksimal.
Dia tidak bisa mencari uang secara terus-menerus di tempat umum karena penghasilannya kurang apalagi dia mungkin akan dicurigai oleh orang-orang di sekitar.
Azam berniat untuk mencari informasi lagi bersama Ari dan Aldi, tapi dia tidak ingin berhubungan dengan dengan mereka karena bisa saja informasi dirinya akan bocor dan dijual ke orang lain.
Meskipun itu adalah perusahan milih keluarga Devina, tapi hubungan mereka tidak sedekat itu. Devina bisa saja menjual informasi Azam demi untung yang sangat banyak.
"Hei Sistem, kamu punya saran?" Azam bertanya kepada Sistem karena tidak bisa mendapatkan ide yang bagus.
[Sistem ada beberapa saran yang sangat menarik dan patut untuk dipertimbangkan, apakah Host tertarik untuk mendengarnya?]
"Hah? Pakai tanya, langsung saja katakan." Azam tersenyum karena dia bisa melakukan sesuatu dari saran yang akan diberikan oleh Sistem.
[Baiklah, ada beberapa pekerjaan yang melibatkan pencarian sesuatu dan Host bisa menggunakan Sistem untuk pekerjaan ini.]
Pertama adalah detektif atau investigator. Mereka mencari bukti dan informasi untuk memecahkan kasus kriminal atau menemukan orang yang hilang.
Kedua adalah petugas keamanan atau penyelamatan. Mereka mencari orang yang hilang, hewan peliharaan yang hilang, atau menyelamatkan orang dalam situasi darurat
Ketiga adalah Arkeolog. Mereka mencari artefak dan bukti sejarah dalam penelitian dan ekskavasi situs-situs kuno di berbagai tempat yang bisa saja belum dijelajahi oleh manusia.
Keempat adalah Geolog. Mereka mencari mineral, sumber daya alam, atau mengidentifikasi potensi bencana geologis di berbagai macam tempat juga.
[Masih ada beberapa pekerjaan yang melibatkan pencarian sesuatu, tapi tidak Sistem sebutkan karena keempat pekerjaan itu lebih hebat dan bayarannya juga tidak main-main.]
Azam mengerutkan keningnya, dia juga tahu kalau empat saran pekerjaan dari Sistem memiliki bayaran yang sangat banyak sesuai dengan resikonya.
Tapi masalahnya, dia hanya punya satu fitur permanen yaitu mencari uang di sekitar dalam jarak 25 meter. Jadi empat saran yang diberikan oleh Sistem tidak bisa dia lakukan dalam waktu dekat.
__ADS_1
"Mereka tidak akan menerimaku yang datang entah dari mana, lalu apa yang harus aku lakukan?" Azam memejamkan matanya lagi dan berpikir mencari pekerjaan lain.
[Kalau begitu, bagaimana jika mencari klien lewat internet? Host bisa mencari klien yang butuh bantuan terkait pencarian lewat internet.]
Mata Azam menjadi cerah saat mendengar perkataan Sistem, dia menepuk dahinya dengan keras karena menyadari bahwa dia sangat bodoh sampai-sampai tidak kepikiran hal itu.
Sekarang adalah tahun 2030 di mana internet sudah sangat merajalela, hampir semua orang di dunia ini menggunakan internet kecuali orang-orang di pedalaman atau orang-orang yang memang tidak punya gadget.
Bahkan orang miskin yang katanya sulit untuk makan dan minum bisa punya ponsel dan memiliki paket internet di ponsel mereka yang membuat heran.
"Sistem, saranmu sungguh berguna. Aku pakai cara itu saja." Jadi Azam segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.
Dia mengunggah pesannya di sebuah platform media sosial bernama Wvoice atau World Voice di mana media sosial ini memungkinkan semua orang atau pengguna menulis apa yang mereka inginkan.
Di sana ada banyak berbagai jenis tulisan, dan pihak Wvoice sampai membuat kategori seperti kategori makanan, traveling, healing, dan lain sebagainya.
Setelah mengunggah pesan pencarian pekerjaan, Azam memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Kemudian dia menghembuskan napas panjang karena lelah berpikir.
Jalan aman untuk mencapai kesuksesan adalah dengan mencari tempat untuk bergantung. Seperti Azam yang bisa saja bergabung pada Fiota Grup karena cocok dengan Sistem Pemindai.
Tapi dengan melakukan hal tersebut, Azam harus merelakan kebebasannya karena dia pasti akan terikat kontrak dengan Fiota Grup.
Sebagai orang dengan sistem, Azam tidak mau hal itu terjadi. Meskipun dia punya sistem, jika dia kehilangan kebebasannya, maka hidupnya juga tidak akan tenang.
"Yah, namanya juga kehidupan. Semua hal bisa terjadi secara tiba-tiba, yang harus kita lakukan adalah menghadapinya tanpa rasa takut," pikir Azam.
"Azam, masuklah. Dinda mau bilang sesuatu," kata Adeng yang membuka pintu bangsal.
"Ya..." Azam mengangguk, dia berdiri dan masuk ke dalam bangsal. Di sana dia melihat kalau Dinda sudah bangun dan wajahnya juga sudah tidak terlalu pucat seperti sebelumnya.
"Kak Azam!" Dinda berteriak dengan gembira saat melihat Azam. Karena seperti anak-anak lain, Azam adalah bos bagi mereka.
__ADS_1
"Dinda, gimana kondisimu?" tanya Azam dengan lembut sambil mengelus-elus kepala Dinda.
"Aku jadi lebih enakan!" Dinda menjawab dengan senyum penuh kegembiraan karena merasa kalau kondisinya lebih baik dari sebelumnya.
"Itu bagus. Dinda tinggal di sini sebentar ya, agar tubuhmu cepat sembuh. Jangan khawatir sisanya, ada Kakak di sini," kata Azam dengan lembut.
"Um!" Dinda mengangguk dan menuruti perkataan Azam. Dia sangat percaya dengan Azam dan akan menuruti semua perkataan Azam.
Azam mengangguk, dia berbicara dengan Dinda sampai Dinda mengantuk. Kondisi Dinda masih belum pulih sepenuhnya sehingga dia harus banyak istirahat.
Setelah Dinda tidur, Azam dan Adeng keluar dari rumah sakit dan kembali ke panti asuhan. Azam menggunakan mobil Ferrari milik Vanesa ke apartemen sedangkan Adeng kembali ke rumah sakit.
...----------------...
"Azam, kamu sudah kembali." Vanessa berkata, dia sedang berbaring di sofa dengan bosan sambil memainkan ponselnya.
"Vanessa, kamu masih di sana?" tanya Azam. Dia mengganti sepatunya dengan sandal dalam ruangan, kemudian dia berjalan menghampiri Vanessa.
"Aku tidak mood untuk menulis novel. Ah tapi jangan khawatir, ide barunya masih ada di kepalaku!" Vanessa berkata dengan cepat karena takut Azam akan tersinggung.
Karena Azam sudah menemaninya ke Jakarta International Equestrian Park dan berhasil membantunya mendapat ide. Jadi dia takut Azam tersinggung saat dia berkata kalau tidak dalam mood untuk menulis novel.
"Yah, itu wajar karena kita baru mengalami hal yang tidak terduga." Azam tidak memikirkan hal yang sama seperti Vanessa. Dia mengangkat bahunya dan berkata dengan santai.
"Ngomong-ngomong, ada apa dengan panggilan tadi, kalau boleh tahu." Vanessa bertanya tentang tujuan panggilan Adeng.
"Maksudmu panggilan dari panti asuhan? Jadi begini..." Azam tidak berpikir itu adalah hal yang rahasia, jadi dia memberitahu semuanya kepada Vanessa termasuk rencananya untuk menarik donasi.
Vanessa mendengarkan dengan serius, dia juga ikut sedih dengan kondis Dinda yang terkena penyakit rakitis yang membuat tulangnya menjadi lebih lunak.
Tapi kemudian dia tertarik dengan donasi yang Azam katakan untuk membangun ulang bangunan panti asuhan yang sudah lusuh.
__ADS_1
"Azam, mau dengar rencanaku?" tanya Vanessa.