
"Yo!" Azam mengangkat tangannya dan menyapa Devina yang berjalan menghampirinya sambil membawa tas.
"Kamu ada urusan di sini?" tanya Devina dengan penasaran.
"Ya. Aku ada urusan di sini, aku mau bertemu sama Zaidan," jawab Azam sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh, Zaidan. Dia..." Devina tidak menyelesaikan perkataannya, karena dia melihat Vanessa di sebelah Azam yang sedang melihat dirinya juga.
Azam mengikuti tatapan Devina, lalu dia segera berkata, "Kenalin, dia Vanessa, temanku. Vanessa, dia Devina, temanku."
Azam memperkenalkan mereka berdua secara singkat, padat, dan jelas. Karena dia tidak tahu harus mengatakan apa dengan situasi yang canggung sekarang ini.
Dia tidak tahu apa yang membuat Vanessa dan Devina saling menatap satu saka lain, tapi dia bisa merasakan kalau suasana di sekitar menjadi sedikit canggung.
"Halo, aku Vanessa, temannya Azam." Vanessa mengulurkan tangan kanannya, lalu dia berkata sambil tersenyum tipis kepada Devina.
"Aku Devina, temanya Azam juga." Devina mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Vanessa, lalu dia juga berkata dengan senyuman.
Ini tidak terlihat, tapi tatapan mereka sangat tajam, seolah-olah ada percikan api di antara mereka berdua. Azam tidak bisa berkata-kata dengan situasi ini, jadi dia berdehem untuk memberikan suasana.
"Ekhem. Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini, Devina?" tanya Azam dengan penasaran. Karena dia tidak tahu kalau Devina punya urusan apa di sini.
"Oh aku? Aku ini ikut Equestrian UI." Jawaban dari Devina membuat Azam terkejut sampai dia tercengang.
Azam tahu kalau Devina mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa atau disingkat UKM. Tapi dia tidak menyangka kalau Devina bergabung di Equestrian UI, tempat yang akan dia dan Vanessa kunjungi.
"Benarkah? Jadi kamu kenal Zaidan dong?" tanya Azam, dia bertanya-tanya kenapa Zaidan tidak memberitahunya, kalau Devina bergabung dengan Equestrian UI.
"Ya, aku kenal dia," angguk Devina.
Kebetulan sekali, pada saat ini, Zaidan keluar dari gedung karena dia sudah menunggu Azam cukup lama. Zaidan penasaran kenapa Azam tidak kunjung masuk, kemudian dia paham alasannya setelah melihat Vanessa dengan Devina.
Zaidan berjalan menghampiri Azam, lalu dia merangkul bahunya dan berkata, "Azam! Ayo masuk!"
__ADS_1
Azam melirik Zaidan, lalu dia mengangguk. Vanessa dan Devina berjalan duluan sementara Azam dan Zaidan berjalan di belakang mereka.
"Zaidan, kenapa kamu tidak memberitahuku! Kalau Devina bergabung dengan Equestrian UI!" bisik Azam kepada Zaidan.
"Lah, aku kira kamu malah sudah tahu." Zaidan menunjukkan ekspresi terkejut, karena dia berpikir kalau Azam sudah tahu karena Azam mengenal Devina.
Azam tidak bisa berkata-kata, dia juga tidak bisa mengalahkan Zaidan. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.
Mereka berempat masuk ke dalam gedung, lalu Zaidan mulai menjelaskan situasi Equestrian di Universitas Indonesia yang terbaru kepada Azam dan Vanessa. Sementara Devina pergi ke tempat lain.
"Azam, dan Vanessa kan? Tugas kalian berdua cukup sederhana, hanya melakukan kegiatan biasa. Tapi, kalian harus merekam dan mengunggahnya ke akun sosial media kalian," jelas Zaidan kepada Azam dan Vanessa.
Penjelasan Zaidan cukup sederhana. Azam dan Vanessa bebas melakukan apa saja, asalkan mereka berdua merekam kegiatan mereka, lalu mengunggahnya ke akun sosial media mereka masing-masing.
Hal ini agar orang-orang menjadi tertarik dengan Equestrian UI, dan mereka akan berpikir untuk bergabung. Jadi, Azam dan Vanessa memiliki tugas yang hampir sama seperti Brand Ambassador.
"Bagaimana? Kalian berdua sudah paham?" tanya Zaidan kepada Azam dan juga Vanessa.
"Bagus! Kalau begitu, kalian bisa bebas sekarang. Aku mau kumpul dulu, dah!" Zaidan tersenyum, dia berdiri dan langsung berlari dengan sangat cepat.
Azam dan Vanessa terdiam, karena Zaidan berlari dengan sangat cepat. Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Lalu Azam mulai berbicara.
"Mau pergi melihat kudanya dulu?" tanya Azam kepada Vanessa.
"Um, boleh," jawab Vanessa dengan menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua berdiri, kemudian segera pergi ke kandang kuda. Azam sudah dibawa keliling oleh Zaidan, sehingga dia sudah paham letak area-area di wilayah equestrian ini.
Saat sampai di kandang kuda, mereka melihat kalau ada beberapa anak muda yang sepertinya adalah mahasiswa baru. Azam dan Vanessa melirik mereka sebentar, lalu mereka pergi ke kandang yang lain.
"Vanessa, kamu pernah berkuda?" tanya Azam dengan penasaran sambil melihat kuda-kuda yang sedang makan dan sedang bersantai.
"Pernah kok, pas aku SMA. Kalau tidak salah, aku dipaksa oleh Ayahku, katanya biar aku sehat atau semacamnya," kata Vanessa dengan nada kesal karena dia mengingat masa lalunya.
__ADS_1
"Ahaha, kalau begitu ayo kita berkuda bersama," kata Azam. Sebelum Vanessa bisa menjawab, Azam langsung memanggil petugas yang bertugas di kandang kuda.
"Permisi Pak!" panggil Azam kepada seorang pria setengah baya yang memakai topi terbalik.
"Oh, iya mas?" sahut petugas itu.
"Pak, saya kenal sama Zaidan Haydar. Dia yang bawa saya dan teman saya ke sini. Jadi, kami mau meminjam kudanya sebentar," jelas Azam kepada si petugas.
"Oh, Mas Zaidan ya? Mas dan Mba sudah memilih kudanya belum? Kalau belum, biar Bapak yang pilihkan," usul si petugas dengan antusias, karena Azam mengenal Zaidan, orang yang cukup terkenal.
"Belum Pak. Kalau begitu maaf merepotkan Bapak," kata Azam sambil menganggukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih. Begitu juga dengan Vanessa yang melakukan hal yang sama.
"Tidak apa-apa, ayo ke sini," balas si petugas. Dia membawa Azam dan Vanessa ke kandang yang paling ujung, di mana di sana terdapat dua kuda dengan warna yang berlawanan.
"Warna kudanya cantik sekali," cetus Vanessa dengan suara kagum. Dia terkejut karena selain warna yang indah, bulu kedua kuda itu sangat bersih.
"Hahaha, semua kuda yang ada di sini memang terawat. Kalian berdua bisa memilih kuda ini, karena kedua ini selalu bersama-sama," jelas si petugas.
Kemudian si petugas menambahkan, kalau kedua kuda dengan warna hitam dan putih itu lahir dalam waktu yang sama. Mereka berdua tidak mau dipisahkan satu sama lain.
Tidak ada orang yang memilih kedua kuda itu karena mereka memang tidak mau. Jadi, saat si petugas melihat Azam dan Vanessa, dia langsung kepikiran tentang kedua kuda ini.
"Ohh, keren juga ceritanya. Kalau begitu kami pilih mereka berdua Pak," kata Azam yang memutuskan untuk memilih kedua kuda itu. Vanessa juga mengangguk, dia juga tidak keberatan.
"Sip. Kalian coba sentuh mereka dengan pelan." Si petugas mengacungkan jempolnya, lalu dia membuka pintu kandang agar kedua kuda itu bisa keluar.
Kedua kuda itu keluar dengan lambat, karena mereka sangat jarang keluar. Saat ini, mereka sedang bingung karena tiba-tiba si petugas membuka pintu kandang mereka.
"Halo!" Azam mengangkat tangannya untuk menyapa kedua kuda itu.
Tapi pada saat ini, kuda berwarna putih berjalan dengan cepat ke arah mereka. Azam melebarkan matanya dan bersiap untuk melawan, tapi targetnya bukanlah dia, melainkan orang dibelakangnya, yaitu Vanessa.
"Vanessa! Awas!" Azam berteriak dengan keras, dia bergerak dengan cepat agar bisa menghentikan kuda putih itu.
__ADS_1