Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Terjadi Situasi Tidak Terduga di Magic KTV (Revisi)


__ADS_3

[Host, Yasir dan Agus langsung pergi ke lantai dua.] Sistem berkata kepada Azam.


"Oke, tolong pindai uang milik mereka." Azam mengangguk, dia berjalan dengan cepat sekaligus hati-hati agar tidak ketahuan.


Untuk menuju ke lantai dua dibutuhkan sebuah reservasi, tapi Azam berkata kepada penjaga di sana kalau dirinya merupakan pengawal Yasir dan Agus yang datang terlambat.


"Oh, jadi kamu pengawal. Yah, hati-hati jangan terlambat lagi, mereka berdua adalah pelanggan tetap kami," kata penjaga lantai dua kepada Azam dengan suara datar.


Azam terkejut di dalam hatinya, tapi wajahnya tetap tenang. Dia mengangguk dan berkata, "Ya, terima kasih banyak, Pak." Kemudian dia berjalan mengikuti Yasir dan Agus namun juga sambil menjaga jarak.


Alasan Azam terkejut tentu saja mengenai kebenaran kalau Yasir dan Agus adalah pelanggan tetap Magic KTV. Dia berpikir kalau yang terlibat pasti bukan hanya mereka berdua saja.


"Kasusnya menjadi semakin rumit, tapi yah, bayarannya juga bakal lebih besar." Azam menyeringai. Dia sama sekali tidak mengeluh dengan masalah yang bertambah rumit.


Mungkin karena dia punya Sistem Pemindai sehingga tantangan apapun yang datang akan dia hadapi dengan hati yang kuat.


Dan mungkin karena dia ingin naik level dan itu membutuhkan penggunaan sistem yang terus-menerus. Sehingga hal ini membuat Azam justru semakin bersemangat dengan apa yang terjadi.


[Host, Yasir dan Agus masuk ke dalam ruangan bernomor 111 yang ada di ujung lorong.] Sistem memberitahu Azam, lalu Azam juga kebetulan melihat kalau pintu di ujung lorong baru saja tertutup.


"Oke, terima kasih." Azam mengangguk. Sebelum lanjut, Azam menengok ke sekeliling untuk melihat apakah ada kamera CCTV di lantai dua ini.


"Tidak ada CCTV?" Azam sedikit terkejut karena dia tidak menemukan adanya kamera CCTV di lantai dua.


[Karena tidak ada CCTV, mungkin ini bukan hanya sekedar ktv untuk bernyanyi, Host.]


Azam menganggukkan kepalanya dan setuju dengan perkataan Sistem. Mungkin saja ktv ini memiliki sesuatu yang tidak senonoh, oleh sebab itu di lantai dua sama sekali tidak ada kamera CCTV.


"Yah, ayo lanjut." Azam mengangkat bahunya, dia segera pergi ke ruang 111 di ujung lorong dan melihat kalau pintu ruangan 111 tertutup.

__ADS_1


Azam menyentuh dagunya untuk berpikir sejenak. Lalu dia kepikiran sesuatu, jadi dia mengeluarkan kamera mini dari saku dan menaruhnya di celah pintu.


"Sistem, pindai uang dalam dengan pemilik di sekitar," kata Azam kepada Sistem sambil menaruh kamera mini di sudut yang pas.


[Ditemukan uang sebesar 500 ribu rupiah dalam jarak 6 meter dari Host.]


[Ditemukan uang sebesar 300 ribu rupiah dalam jarak 6 meter dari Host.]


[Ditemukan uang sebesar 300 ribu rupiah dalam jarak 5 meter dari Host.]


Sistem memindai banyak sekali uang dengan pemilik di sekitar. Tapi Azam fokus dengan jarak yang paling dekat. Dia tidak menemukan adanya uang yang bergerak, itu artinya tidak ada orang yang menyadari kamera mini yang dia taruh.


Setelah beberapa menit, Azam akhirnya selesai menaruh kamera mini di sudut yang bagus. Dia langsung turun ke lantai satu karena di lantai dua tidak ada tempat persembunyian, hanya ada satu lorong dan banyak pintu.


"Penyelidikan memang butuh kesabaran, tapi aku juga tidak ada kegiatan." Azam duduk di bar sambil memesan minuman beralkohol lagi.


Mungkin karena Azam sudah meminum air rebusan tumbuhan herbal sehingga dia bisa tahan dengan alkohol meskipun baru pertama kalinya dia minum minuman beralkohol.


"Hah?" Azam mengerutkan keningnya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi dia segera berdiri dan pergi ke pojok ruangan di tempat yang tidak mencolok karena pencahayaannya yang redup.


Hal itu dia lakukan karena insting detektifnya mengatakan kalau akan terjadi sesuatu yang merepotkan jika dia tetap duduk di bar barusan.


Lalu Azam melihat kalau ada banyak orang yang turun dari tangga. Tapi kebanyakan dari mereka adalah pria bertubuh kekar yang mengenakan setelan jas dengan kacamata berwarna hitam.


Pakaian mereka seperti seorang pengawal seseorang, Azam menyipitkan matanya dan memutuskan untuk mengamati situasi lebih lanjut karena dia masih penasaran dengan apa yang sedang terjadi di lantai dua.


"Di mana pemilik kamera ini!?" Pada saat ini terdengar suara Yasir. Kemudian Yasir turun dari lantai dua dengan wajah marah sambil memegang sebuah benda kecil yang ternyata itu adalah kamera mini milik Azam.


"Sial!? Aku ketahuan!?" Azam membelalakkan matanya karena terkejut saat melihat kamera mini miliknya ada di tahan Yasir.

__ADS_1


[Karena Yasir bertanya, mungkin dia tidak tahu kalau Host adalah pelakunya. Coba jangan bertindak mencurigakan kalau tidak ingin ketahuan.]


"Sial, jadi aku harus berbaur dengan yang lain ya." Azam melirik ke sekitarnya dengan cepat mencoba untuk mengamati bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya.


Kemudian Azam menarik napas dalam-dalam dan memasang wajah bingung karena orang-orang di sekitarnya juga begitu. Ekspresi yang dibuat Azam memang tidak sempurna, tapi dia ada di pojok ruangan sehingga Yasir tidak akan meliriknya.


"Di mana manajernya!?" Yasir berteriak dengan suara keras. Kemudian seorang pria yang seperti wanita berlari mendekati Yasir.


"Pak Yasir, kalau saya boleh tahu, apa yang sedang terjadi?" Pria yang seperti wanita itu adalah manajer dari Magic KTV. Dia langsung keluar dari ruangannya saat mendengar ada keributan di lantai satu.


"Manajer, periksa kamera CCTV di sini! Cari tahu siapa yang menaruh kamera mini di celah pintu ruanganku!" teriak Yasir kepada manajer Magic KTV dengan sangat keras.


"Ah, tapi seperti yang sudah kita ketahui kalau tidak ada kamera CCTV di lantai dua, Pak." Manajer ktv menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dan berkata dengan nada malu.


"Sialan! Kalau begitu temukan siapa yang menaruh kamera mini ini! Kalau tidak, aku akan menyebarkan berita menggunakan otoritasku sebagai petinggi Perusahaan Fiota Grup!" Yasir benar-benar marah.


Di sebelahnya, Agus tidak seribut Yasir. Dia menyipitkan matanya dan melihat ke sekeliling untuk melihat apakah ada orang yang mencurigakan di sekitar. Kemudian, dia melihat Azam yang sedang berdiri di sudut ruangan.


"Sial, dia melihatku!?" Azam berkeringat dingin di punggungnya. Dia bersiap untuk kabur, tapi kemudian dia melihat kalau Agus mengalihkan pandangannya.


Agus memang melihat ke arah Azam, tapi dia tidak mencurigainya karena sebagian besar wajah Azam tertutup bayangan yang membuatnya tidak bisa melihat ekspresi Azam.


Setelah itu, manajer ktv segera menenangkan orang-orang yang masih bingung dan berkata kalau dia akan memberikan minuman gratis sebagai tanda permintaan maaf.


Orang-orang pun menjadi tenang dan tidak membahas apa yang baru saja terjadi karena itu bukanlah urusan mereka juga, jadi mereka melanjutkan aktivitas yang tertunda.


Azam juga bersiap untuk pergi dari sana karena sudah tidak ada kesempatan setelah melihat kalau ada banyak pengawal di sekitar Yasir dan Agus.


Tapi saat dia hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, dia melihat kalau Elina ditarik tangannya secara paksa oleh manajer ktv ke dalam suatu ruangan.

__ADS_1


Azam akan mengabaikannya karena Elina bukanlah siapa-siapanya, tapi entah bagaimana Elina menoleh ke arah Azam dan menatapnya dengan mata memohon yang tidak bisa diabaikan oleh Azam.


"Oh sial, aku terlibat dalam sesuatu yang merepotkan." Azam memegangi kepalanya yang pusing, kemudian dia berjalan ke arah berlawanan dari pintu keluar.


__ADS_2