Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Bertemu Renata dan Membantu Anak-Anak (Revisi)


__ADS_3

Masih di lantai satu, tapi di area yang cukup jauh dari tempat Azam. Seorang wanita cantik berambut pendek sebahu sedang duduk di bangku sambil bermain dengan ponselnya.


Wanita cantik itu adalah Vanessa yang sedang menunggu ibunya karena masih ada urusan yang belum diselesaikan. Kemudian pada saat ini ada seorang wanita lain yang cantik datang menghampiri Vanessa.


Mereka berdua memiliki wajah yang hampir sama, jika orang melihatnya dari jarak jauh, orang itu pasti akan mengira kalau mereka berdua adalah sepasang kakak beradik.


"Vanessa! Maaf, Ibu terjatuh gara-gara tersandung tadi." Wanita itu datang dan langsung memeluk Vanessa. Bahkan Vanessa sendiri sangat terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba.


"Ibu! Kita sedang ada di tempat umum!" protes Vanessa. Karena dia merasa malu saat dipeluk oleh ibunya secara tiba-tiba, apalagi sekarang mereka ada di tempat umum.


"Oh, putri Ibu malu-malu!" Wanita itu tertawa kecil karena Vanessa malu, kemudian dia melepas pelukannya.


Jika Azam ada di sini, bisa dipastikan kalau dia akan terkejut setengah mati. Alasannya adalah karena wanita di sebelah Vanessa adalah Renata, wanita yang ditolong oleh Azam saat tersandung.


Azam tidak memikirkan kalau Rena mirip dengan Vanessa karena pikirannya fokus dengan makanan dan minuman yang ada di sekitar. Dia hanya tahu kalau Rena adalah seorang wanita dewasa yang sudah cukup umur untuk menjadi ibunya.


"Ngomong-ngomong, Ibu terjatuh? Di mana? Apa Ibu tidak kenapa-napa?" Vanessa segera bertanya dengan khawatir tentang kondisi ibunya yang tadi terjatuh.


"Oh, Ibu tidak apa. Tadi ada remaja tampan yang membantu Ibu, Ibu rasa kalian berdua cocok satu sama lain." Renata berkata sambil tersenyum lembut.


"Ibu! Apa yang Ibu katakan!" Vanessa berteriak, dia benar-benar kewalahan dengan sifat ibunya itu. Meskipun sebenarnya dia penasaran dengan siapa yang menolong ibunya.


Renata Rasita, seorang wanita dari keluarga terpelajar yang berpendidikan tinggi. Dia sudah mendapatkan banyak sekali pembelajaran dari berbagai tokoh dunia yang namanya dikenal oleh banyak orang.


Jadi, untuk bisa dipuji oleh Renata adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh Vanessa karena dia tahu kalau ibunya memiliki penilaian yang tinggi terhadap seseorang, apalagi jika menyangkut keluarganya.


"Tapi, aku penasaran bagaimana pendapat Ibu tentang Azam," pikir Vanessa secara tiba-tiba, kemudian dia tersadar dan wajahnya memerah yang dilihat oleh Renata.

__ADS_1


"Oh? Putriku sedang memikirkan seseorang?" Renata menjadi tertarik, tapi dia tidak bertanya karena tahu kalau Vanessa tidak akan memberitahunya.


Mereka berdua berbelanja menghabiskan waktu bersama sebagai orang tua dan anak. Tapi sebelum itu, Vanessa mengirimkan pesan kepada Azam untuk tidak perlu menunggu dirinya.


...----------------...


"Oh, Vanessa sedang belanja. Kalau begitu aku pulang saja, aku mau bersantai di apartemen." Azam membaca pesan dari Vanessa. Kemudian dia menyalakan mobil Ferrari milik Vanessa dan menginjak pedal gas.


Pada saat lampu jalan menunjukkan warna merah, Azam berhenti. Kemudian dia melihat ada banyak anak-anak yang muncul sambil membawa alat musik sederhana di tangan mereka.


Mereka memainkan alat musik sederhana di tangan mereka, ada juga dua anak yang bernyanyi. Meskipun suaranya tidak bagus, tapi melihat anak-anak berusaha dengan keras membuat siapapun yang melihatnya merasa kasihan.


Begitu juga dengan Azam, jadi dia menurunkan jendela mobil dan memanggil anak-anak tersebut dengan suara keras agar mereka bisa mendengarnya. "Hey, kalian. Sini!"


Anak-anak itu berhenti memainkan alat musik dan segera berjalan menghampiri Azam. Mereka menatap Azam dengan tatapan penasaran dan menunggunya untuk berbicara.


"Kalian sudah makan belum?" tanya Azam kepada anak-anak itu dan dibalas dengan gelengan kepala oleh mereka, tanda bahwa mereka belum makan.


"Oke, tunggu di pinggir jalan. Aku mau memarkirkan mobil sebentar," kata Azam. Lampu jalan berubah menjadi kuning dan sebentar lagi menjadi hijau, anak-anak segera menepi dan Azam juga memarkirkan mobil di pinggir jalan.


Dia keluar dari mobil dan berkata kepada anak-anak, "Ikuti aku, kita akan makan di rumah makan itu." Azam menunjuk ke arah sebuah rumah makan di dekat sana.


"Wah!" Anak-anak itu memiliki ekspresi wajah yang gembira saat mendengar perkataan Azam.


"Selamat datang!" Sebuah suara keras menyambut kedatangan Azam. Itu adalah seorang pria paruh baya yang sedang membungkus nasi.


"Bos, nasi pakai lauk ayam goreng, sayur kangkung, dan tempe. Minumannya es teh saja. Buatkan tujuh porsi," kata Azam sambil mengeluarkan dompetnya.

__ADS_1


Pria paruh baya itu terkejut dengan perkataan Azam, kemudian dia melihat anak-anak di belakang Azam dan segera mengerti tentang apa yang terjadi.


Jadi dia mengangguk dan berkata, "Siap! Tolong duduk dulu, makanan bakal diantar sebentar lagi!"


Azam menganggukkan kepalanya, dia berserta anak-anak duduk di kursi yang ada di dekat pintu masuk karena hanya itu yang memiliki meja besar yang bisa menampung banyak orang.


"Kalian punya keluarga?" tanya Azam kepada anak-anak yang dibalas dengan anggukan kepala oleh mereka.


Kemudian salah satu anak berkata kalau mereka sangat miskin sehingga mereka juga harus membantu orang tua mereka untuk mendapatkan uang untuk makan.


Mereka sudah biasa mengamen di lampu merah seperti tadi. Biasanya uang yang mereka dapatkan cukup untuk satu kali makan, tapi terkadang juga hanya cukup untuk membeli beberapa makanan kemudian mereka bagi rata.


Azam menganggukkan kepalanya, dia sudah memahami keseluruhan kondisi mereka. Dia juga pernah melakukan hal seperti itu saat kecil karena pada saat itu panti asuhan tidak memiliki uang yang cukup.


"Kalau begitu makan sepuasnya hari ini, nanti kalian juga bisa pesan makanan untuk orang tua atau saudara kalian, oke?" Azam tersenyum dan mengelus-elus kepala salah satu anak di sampingnya.


"Oke!!" Anak-anak itu terlihat sangat gembira dengan perkataan Azam karena itu artinya mereka dan keluarga mereka bisa makan makanan enak hari ini.


Azam tersenyum, dia berdiri dan memesan makanan lain yang dibungkus untuk keluarga anak-anak. Setelah itu dia membayar semuanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.


Karena Azam ingin bersantai hari ini, jadi dia langsung masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gas setelah menyalakan mesinnya.


Tapi apa yang tidak disadari oleh Azam adalah ada orang yang merekam saat dia membantu anak-anak tersebut. Orang yang merekamnya segera mengunggahnya di akun sosial media miliknya.


"Masih ada orang baik di dunia ini." Itu adalah pikiran orang yang merekam Azam secara diam-diam tadi.


Dan karena video ini, ketenaran Azam yang sebelumnya sudah melambung tinggi karena menyelesaikan perampokan bank menjadi lebih tinggi lagi karena membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu.

__ADS_1


__ADS_2