Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Masuk ke Magic KTV dan Mengambil Brankas


__ADS_3

Siang harinya, Azam sedang berada di dekat Magic KTV yang saat ini sedang tutup. Dia sudah hafal dengan setiap posisi kamera CCTV yang ada di sana sehingga saat ini dia berada dalam titik buta kamera CCTV.


Azam mengenakan jaket putih usang miliknya dulu dan masker berwarna hitam. Meskipun pakaiannya memang sedikit mencurigakan, tapi orang-orang hanya meliriknya sebentar lalu tidak peduli dengan Azam.


Memang seperti itulah kehidupan Jakarta di mana interaksi antara orang-orang sangat jarang dan hal ini adalah keuntungan bagi Azam karena dia tidak ingin ada orang yang ikut campur.


"Jadi, haruskah kita mulai?" Azam tersenyum, dia segera masuk ke dalam gedung Magic KTV lewat pintu belakang yang cukup kotor.


Sepertinya area di sekitar pintu belakang tidak pernah dibersihkan sehingga ada cukup banyak sampah yang menumpuk. Karena kotor, tidak ada orang yang menginjakkan kakinya di sana.


Jadi Azam bisa membuka pintu belakang dengan mudah karena memang tidak pernah diakses sehingga pintunya cukup berkarat karena tidak pernah dirawat.


"Sistem, cari uang milik siapapun di sini mau itu dengan pemilik atau tanpa pemilik." Azam memberi perintah kepada Sistem untuk mencari uang di dalam gedung Magic KTV.


[Perintah diterima.] Sistem menjawab, lalu dia segera melakukan pemindaian untuk mencari uang yang ada di sekitar Azam dalam jarak 15 meter.


[Ditemukan uang sebesar 100 ribu rupiah dalam jarak 3 meter dari Host, tepatnya ada di bawah meja.]


[Ditemukan uang sebesar 100 ribu rupiah dalam jarak 6 meter dari Host, tepatnya ada di celah antara rak.]


Azam segera bergerak untuk mengambil uang sesuai dengan hasil yang telah dipindai oleh Sistem. Dia mendapat banyak keuntungan di sini karena Magic KTV adalah tempat yang cukup terkenal.


Apalagi orang-orang di dalam ktv seperti ini biasanya adalah orang kaya yang menghabiskan banyak uang yang tidak terlalu peduli jika ada satu atau dua lembar uang yang hilang dari dompet mereka.


[Ditemukan uang sebesar 1 juta rupiah dalam jarak 7 meter dari Host, tepatnya ada di dalam laci meja nomor dua.]


"Ho? Ada uang yang banyak." Azam mengangkat alisnya, lalu dia segera pergi ke lokasi sesuai dengan arahan Sistem.


"Di dalam sini? Laci meja nomor dua." Azam melihat kalau di depannya ada sebuah ruangan, jadi dia masuk begitu saja dan segera mencari meja nomor dua yang ada di sebelah kiri dari arah pintu.

__ADS_1


Azam menyadari kalau laci meja nomor dua ternyata terkunci, tapi dia tidak repot-repot berpikir. Dengan kekuatan fisiknya, Azam langsung menarik laci meja itu secara paksa sampai terbuka.


"Ini enaknya punya tubuh yang bagus!" Azam menyeringai karena itu sangat mudah. Lalu dia melihat ada amplop berwarna coklat di dalam laci, dan dia segera mengambilnya.


[Host, carilah tas di sekitar sini. Bagaimana bisa host tidak membawa tas padahal mau mencari uang.] Sistem berkata kepada Azam.


"Ah? Benar juga ya!" Azam menepuk dahinya karena lupa kalau dia tidak membawa tas. Tas yang dia gunakan untuk kuliah sudah dia taruh di apartemen sehingga sekarang dia hanya membawa ponsel dan dompet.


Jadi setelah Azam mengambil amplop coklat itu, dia menggeledah ruangan tersebut untuk mencari apakah ada tas atau sesuatu yang bisa dipakai untuk menyimpan uang.


Azam mencari tas selama beberapa menit, kemudian dia melihat ada tas pinggang di bawah salah satu meja yang ada di tengah-tengah ruangan, jadi dia berjongkok dan mengambilnya.


"Aduh!" Saat Azam hendak berdiri setelah mengambil tas tersebut, kepalanya terbentur meja cukup keras sampai dia berteriak.


Azam mengelus-elus kepalanya dengan kedua tangan dan hendak berdiri, tapi dia melihat kalau di laci meja di depannya ada brankas mini yang membuat Azam menyipitkan matanya sampai melupakan rasa sakit di kepalanya.


Percobaan untuk merusak atau menghancurkan brankas milik orang lain dengan tujuan untuk mengambil isinya tanpa izin adalah hal yang ilegal dan bisa mendapatkan sanksi hukum.


Azam juga mempertimbangkan masalah ini, jadi dia memutuskan untuk menelepon Deva dan bertanya apakah dia punya saran untuk hal ini.


"Hah? Brankas min ya. Jangan dihancurkan, ambil saja, lalu bawa ke sini. Biar aku yang meminta seorang ahli untuk membukanya," kata Deva.


"Oke, Pak. Aku segera ke sana." Azam mengangguk, lalu dia mengakhiri panggilan.


Sebelum pergi ke Perusahaan Fiota Grup, Azam mencari uang di sekitar sambil memeriksa apakah ada barang atau dokumen yang bisa dijadikan sebagai bukti, tapi dia harus kecewa karena tidak ada yang seperti itu.


Tapi hal ini membuat Azam semakin yakin kalau isi dari brankas mini tersebut adalah barang atau dokumen terkait sesuatu yang sangat penting.


Jadi tanpa ragu-ragu, Azam mengambil brankas tersebut dan segera keluar dari gedung Magic KTV lewat pintu belakang. Dia menghindari kamera CCTV di sekitar dan sampai di tempat di mana dia memarkirkan motornya.

__ADS_1


Motor yang dipinjamkan oleh Deva adalah motor matic sehingga Azam bisa dengan mudah membawa brankas mini tersebut. Dia menyalakan mesin motor dan segera memutar gas untuk pergi ke Perusahaan Fiota Grup.


Setelah Azam sampai di Perusahaan Fiota Grup, di sana sudah ada resepsionis yang menunggu Azam dan segera mengantarkannya ke kantor Deva.


"Jadi ini brankas nya?" tanya Deva segera setelah Azam masuk ke dalam kantornya. Selain Deva, ada juga seroang pria paruh baya yang belum pernah Azam lihat.


"Ah, iya. Aku menemukannya di laci. Karena tidak ada barang berguna lain di sekitar, aku menduga kalau isi brankasnya adalah sesuatu yang penting," angguk Azam.


"Kerja bagus. Semoga saja ini akan menjadi titik penentu," kata Deva. Kemudian dia meminta pria paruh baya yang merupakan master kunci di sebelahnya untuk membuka brankas.


Master kunci mengangguk, kemudian dia segera mengeluarkan alat-alat terkait untuk membuka kunci dari tas ranselnya, lalu dia segera mencoba untuk membuka brankas yang dibawa oleh Azam.


Sementara itu Azam dan Deva duduk diam agar tidak mengganggu master kunci untuk membuka brankas. Kemudian, waktu berlalu sampai pukul 3 sore, sedikit lama karena brankasnya adalah brankas digital.


"Pak Deva, brankasnya sudah berhasil saya buka." Master kunci berkata sambil mengusap keringat di dahinya karena dia lelah karena butuh konsentrasi yang tinggi.


"Kerja bagus, kamu boleh pergi. Nanti aku akan memberimu bayarannya," kata Deva sambil mengangguk puas.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya undur diri dulu." Master kunci menganggukkan kepalanya, lalu dia memasukkan alat-alatnya ke dalam tas sebelum dia keluar dari kantor Deva.


"Lalu, Azam, kamu yang ambil isi brankasnya." Deva menoleh ke arah Azam dan berkata kepadanya.


"Eh, kenapa aku? Biasanya kan bosnya yang mengambil hal yang penting," kata Azam dengan suara kebingungan.


"Hah? Kata siapa? Harusnya bosnya yang memerintah bawahannya. Lagipula, aku takut kalau di dalamnya ada bom, hahaha!" Deva malah berkata dengan nada bercanda dan tertawa terbahak-bahak.


Azam sedikit terdiam dengan sikap Deva, dia berkata, "Meskipun aku bukan bawahan Bapak. Yah, akan aku ambil isinya."


Azam berjongkok, dia mengulurkan tangan kirinya untuk membuka brankas yang sudah tidak terkunci, dan menggunakan tangan kanannya untuk mengambil isi brankas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2