Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Mengatasi Masalah dan Keluar dari Magic KTV (Revisi)


__ADS_3

"Oh sial," kata Azam.


Meskipun Azam merasa kalau masalah yang lebih merepotkan akan segera datang, tapi dia tidak menyangka kalau akan datang secepat ini bahkan sebelum dia keluar dari gedung Magic KTV.


Tapi, tidak ada rasa takut ataupun panik di wajah Azam karena dia memang tidak takut. Alasannya adalah karena dia yakin bisa mengalahkan semua pengawal yang ada di depannya.


Itu adalah pemikiran dan insting sebagai seorang ahli bela diri krav maga. Dia yakin kalau bisa mengalahkan semua pengawal yang berbadan besar-besar dengan cepat karena krav maga mengincar titik lemah lawan.


Lalu, karena tidak ada kamera CCTV di sini dan wajahnya juga ditutupi masker. Yang membuat Azam khawatir adalah kehadiran Elina yang bisa membuat dirinya terganggu.


"Azam, aku tahu pikiranmu. Kamu bisa buat celah sebentar? Aku akan kabur." Sebagai wanita yang cerdas secara intelektual dan emosional, Elina tentu saja bisa menyadari apa pikiran Azam.


Tapi Elina tidak kesal ataupun marah karena dia memang akan menjadi beban bagi Azam. Jadi dia meminta Azam untuk membuat celah sebentar saja agar dia bisa kabur dari sana.


"Bagus, serahkan padaku. Aku akan mengalihkan perhatian mereka, sementara itu kamu mengendap-endap di area yang tertutup bayangan," kata Azam sambil menyeringai karena dia suka Elina yang bisa membaca situasi.


"Ya, tolong ya, aku serahkan padamu." Elina tersenyum tipis dan mengangguk. Dia hendak menepi ke area yang gelap, tapi Azam memanggilnya lagi.


"Elina, ambil ini." Azam melempar kamera mini yang sudah merekam berbagai kejadian di ktv hari ini kepada Elina.


"Oke, kembalilah dengan selamat." Elina mengangguk dan memberi semangat kepada Azam.


"Cih, aku kembali tanpa meneteskan darah!" Azam menyeringai dan membalas dengan nada arogan yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Elina.


Setelah melihat Elina sudah menghilang di bayang-bayang, Azam langsung berlari ke arah para pengawal yang sedang memperhatikannya dari tadi.


Para pengawal juga sudah mendapat konfirmasi kalau orang yang membuat masalah adalah orang yang memakai pakaian serba hitam dengan masker hitam di wajahnya.


"Gunakan segala cara untuk menangkap orang itu! Terserah mau tulangnya dipatahkan, dihancurkan, atau apapun itu selama kita bisa menangkapnya!" teriak salah satu pengawal dengan kacamata hitam.


"Wah, kamu memakai kacamata hitam meskipun di sini tempat gelap? Kamu gila ya!?" Azam mengejek pengawal tersebut dengan seringai di wajahnya.


"Sialan!" Pengawal itu menjadi marah karena perkataan Azam, dia langsung berlari ke arah Azam dengan sangat cepat sampai menyusul rekan-rekannya.

__ADS_1


"Oh, dia terlatih." Azam tidak terkejut, karena pengawal memang harus terlatih. Malah akan aneh kalau seorang pengawal disewa hanya karena tubuhnya yang besar.


Azam yang sedang berlari menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, lalu dia menendang lutut pengawak itu dengan keras. Setelah itu, Azam menggunakan dua sendi jari telunjuk dan jari tengah untuk menyerang leher pengawal itu.


"Ugh!" Pengawal itu memegangi lehernya yang sakit.


Sementara itu Azam segera berjalan ke area tempat duduk di mana di sana ada banyak pengunjung yang sedang duduk terpaku karena ketakutan dengan apa yang sedang terjadi di sana.


"Maaf, tapi kalian harus membantuku!" Azam melirik orang-orang yang sedang duduk dan meminta maaf di dalam hatinya.


Azam segera merendahkan tubuhnya agar para pengawal kesulitan untuk menemukannya di area yang penuh dengan orang, tapi dia tidak menurunkan kecepatan larinya.


Para pengawal juga berhenti, mereka melihat ke arah sekeliling dengan kesal karena Azam menghilang. Pengawal dengan kacamata hitam segera memerintahkan rekan-rekannya untuk berpencar.


"Atasan berkata kalau anak itu harus ditangkap, memangnya apa yang sedang terjadi?" Pengawal berkacamata hitam yang bernama Panji sedang kebingungan.


Panji hanya diberi perintah oleh atasannya untuk menangkap Azam tidak peduli apa yang terjadi. Tapi dia tidak tahu apa alasannya sampai bisa membuat atasannya diliputi oleh kemarahan yang meluap-luap.


...----------------...


"Akan aku traktir kamu besok, jadi, terima kasih banyak." Elina melihat ke arah para pengawal yang sedang mencari Azam sebelum keluar dari gedung Magic KTV.


Dia kagum karena Azam bisa memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi. Tapi Elina juga tidak melupakan tugasnya, yaitu kabur dari sana agar tidak membebani Azam.


Setelah keluar dari gedung, Elina segera berlari ke arah acak, yang penting dia jauh dari gedung Magic KTV. Setelah itu, dia segera memesan taksi online.


...----------------...


"Sebelas orang, sedikit merepotkan." Azam sedang berjongkok di sudut ruangan sambil melihat para pengawal yang sedang mencarinya.


Pada saat ini ada dua orang pengawal yang berada di dekat Azam, jadi Azam mengambil kursi di sebelah dan melemparkannya ke arah mereka berdua.


Karena kedua pengawal teralihkan pandangannya, Azam jadi bisa maju ke arah mereka dan menendang pinggang salah satu pengawal. Sementara pengawal lainnya sedang terkejut, Azam memukul wajahnya.

__ADS_1


"Di sana! Tangkap dia!" Panji berteriak dengan keras, dia juga langsung mengejar Azam setelah melihatnya mengalahkan dua rekannya.


"Heh, ayo maju!" Azam tersenyum, dia juga berlari ke arah Panji, atau lebih tepatnya ke arah pintu keluar di belakang Panji.


"Kamu berani menantang!?" Panji salah mengartikan kalau tindakan Azam yang berlari ke arahnya adalah sebuah tantangan.


Jadi Panji menarik tangan kanannya dan mengumpulkan semua kekuatan, kemudian dia memukul Azam yang sedang berlari ke arahnya.


Azam melebarkan matanya, dia segera menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya untuk menangkis pukulan Panji. Dia sampai mundur beberapa langkah karena pukulan Panji sangat berat.


"Seperti yang diharapkan dari orang terlatih," pikir Azam sambil mengayunkan kedua lengannya yang sedikit sakit.


"Dia bisa menangkis pukulan kuatku!?" Panji sendiri sangat terkejut karena Azam bisa menangkis pukulan yang menurutnya sangat kuat.


Meskipun Azam tidak berlatih seni bela diri atau pergi ke gym untuk membentuk otot, tapi jangan lupa kalau dia adalah orang yang selalu bekerja paruh waktu dengan fisiknya.


Salah satu pekerjaan paruh waktu Azam adalah menjadi seorang tukang bangunan yang tugasnya mengangkut semen, batu bata, kayu, dan lainnya dari truk pengangkut ke lokasi pembangunan.


Otot-otot Azam sudah terbentuk berkat hal itu, ditambah dia juga sudah meminum air rebusan tumbuhan herbal yang dia beli di toko obat tradisional.


Satu hal lagi, orang-orang yang pergi ke gym memang punya tubuh yang berotot, tapi mereka itu hanya berlatih di dalam ruangan, sedangkan Azam harus bekerja di bawah terik matahari yang menusuk tulang.


"Ayo kita akhiri ini, aku sudah muak." Azam menepuk-nepuk debu di pakaiannya. Kemudian dia berlari ke arah Panji dengan sangat cepat dan memukul perutnya dengan keras.


Panji mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya yang dipukul oleh Azam. Dia bisa merasa kalau pukulan Azam tadi tidak terlalu berat tapi bisa sampai berdampak ke organ dalamnya.


Panji berdiri dan mengangkat kaki kirinya untuk menggunakan sapuan kaki kepada Azam. Azam berhenti dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan untuk memegangi kaki Panji yang datang.


Setelah itu Azam menggunakan kaki kirinya untuk menendang kaki kanan Panji dengan keras sampai Panji goyah dan kehilangan keseimbangannya yang membuat Azam tidak memiliki rintangan lagi.


"Istirahat yang tenang, hahaha!" Azam tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia berlari keluar dari gedung Magic KTV setelah menghindari beberapa pengawal yang masih berusaha untuk menangkapnya.


Setelah Azam keluar, dia langsung memesan ojek online dan kembali ke apartemen. Saat dia masuk ke dalam, dia mendengar suara dari arah dapur.

__ADS_1


__ADS_2