Sistem Pemindai

Sistem Pemindai
Fakta Mengejutkan yang Dikatakan oleh Gian


__ADS_3

"Kamu tunggu dulu di sini," kata Gian yang membuka pintu mobil, lalu dia pergi untuk masuk ke dalam bangunan apartemen di depannya.


Azam mengangguk dan segera memarkirkan mobil di area parkir luar. Lalu dia segera merogoh saku celananya untuk mengambil kamera mini yang sering dia gunakan untuk penyelidikan.


Azam segera menaruh kamera mini di bagian belakang tempat duduk. Beruntung interior mobil milik Gian berwarna gelap sehingga kamera mininya tidak bakalan terlihat kecuali memiliki mata elang seperti Azam.


"Maafin aku, tapi mau bagaimana lagi. Kalau kamu tidak salah, bakal aku hapus rekamannya. Tapi kalau kau bersalah, maka aku akan menyerahkannya kepada Bu Sandra," batin Azam sambil menghembuskan napas panjang.


Jujur saja, Azam tidak terlalu menyukai menggunakan kamera mini atau alat perekam suara karena ini termasuk pelanggaran privasi yang merupakan tindakan yang ilegal dan dapat dihukum berat.


Tapi mau bagaimana lagi, karena ini adalah satu-satunya cara tercepat untuk mendapatkan sebuah informasi yang akurat daripada menyewa detektif swasta atau menyelidikinya dengan usaha.


"Hah? Gerimis." Azam membuka jendela mobil, lalu dia mengulurkan tangannya keluar untuk merasakan rintik air hujan yang kecil.


Setelah menunggu selama setengah jam, hujan menjadi lebih deras. Azam melihat kalau Gian keluar dari apartemen bersama dengan wanita yang pernah bersamanya.


Azam mengambil payung yang ada di bawah kursi belakang, kemudian dia keluar dari mobil dan memayungi wanita di sebelah Gian terlebih dahulu ke dalam mobil, baru setelah itu giliran Gian.


"Ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Azam sambil menyalakan mesin dan memundurkan mobil.


"Super Mall Dirta," kata Gian kepada Azam.


"Super Mall Dirta? Oke." Azam mengangkat alisnya karena itu adalah mall milik keluarga Vanessa. Lalu Azam segera menginjak pedal gas mobil untuk segera menuju ke Super Mall Dirta.


"Gian, kita mau belanja di sana? Belanja apa?" tanya wanita yang duduk di samping Gian.


"Apa saja. Yang penting kita bisa jalan-jalan di sana. Kalau tidak hujan, kita mungkin bakal jalan-jalan di taman atau di outdoor," jawab Gian sambil tersenyum dan mengelus-elus kepala wanita itu.


"Apa aku boleh belanja boneka!?" Wanita itu bertanya dengan nada penuh harap sambil menatap mata Gian dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Pasti boleh. Masa aku tidak membolehkan kamu belanja." Gian tersenyum dan mengangguk.


"Asik!" Wanita itu berteriak dengan gembira karena dibolehkan untuk belanja boneka.


Azam mendengarkan percakapan mereka berdua dalam diam karena dia sedang mengolah informasi. Setelah beberapa percakapan, Azam mengetahui kalau wanita di sebelah Gian bernama Monica.


Dia mencari tahu di ingatannya apakah ada artis atau publik figur yang bernama Monica. Hingga pada akhirnya Azam harus menghembuskan napas panjang karena tidak menemukannya.


Tapi yang membuat Azam penasaran adalah dengan sifat Monica yang seperti anak-anak, mungkin lebih tepatnya kekanak-kanakan. Hal ini membuat Azam bingung karena dia tidak melihat kalau itu adalah sesuatu yang disengaja.


Rasanya seperti Monica ini memang memiliki sifat kekanak-kanakan, bukan karena dia ingin mendapatkan perhatian dari Gian agar bisa dimanja oleh Gian.


"Yah, semuanya akan terungkap." Azam membunuh pemikiran yang tidak perlu. Lalu setelah sampai di Super Mall Dirta, dia segera pergi ke area parkir.


Mereka bertiga segera masuk ke dalam mall, Azam juga ikut karena dia diminta oleh Gian. Meskipun Azam sudah tahu kalau tugasnya adalah untuk membawa barang nanti.


Pada saat ini, Monica masuk ke dalam toko boneka diikuti oleh Gian dan Azam. Gian selalu tersenyum saat dia melihat Monica yang membuat Azam terheran-heran.


Azam mengira kalau hubungan antara Gian dan Monica utu tidak murni dan hanya berdasarkan kepuasan batin saja. Namun pandangannya berubah karena dia bisa melihat cinta murni di dalam mata Gian.


Meskipun sekarang Azam dalam kondisi kebingungan karena masih belum tahu apa yang sedang terjadi karena semua hal yang pernah dia lihat saling tidak berkaitan satu sama lain.


"Mungkin aku jangan melaporkan hal ini ke Bu Sandra terlebih dahulu karena belum pasti. Aku saja masih bingung dengan apa yang terjadi antara Gian dan Monica," pikir Azam yang sedang bingung.


[Semuanya butuh proses dan proses memakan banyak waktu.] Sistem malah mengatakan sesuatu yang bijak yang membuat Azam tertegun karena Sistem biasanya bercanda, sangat jarang untuk serius seperti itu.


"Tapi yah, kamu benar. Semuanya butuh proses dan penyelidikan juga butuh kesabaran." Azam tersenyum tipis karena dia juga setuju dengan perkataan bijak dari Sistem.


"Oi Azam!" Gian berteriak memanggil Azam yang sedang dengan Sistem. Azam terbangun dan segera berjalan menghampiri Gian.

__ADS_1


Azam membawa barang belanjaan Giam dan Monica. Kemudian karena hari sudah malam, mereka berdua memutuskan untuk makan malam dan Gian juga mengajak Azam untuk makan bersama.


Azam tentu saja tidak menolak. Selain karena itu adalah makan malam gratis, dia juga bisa memiliki hubungan dekat dengan Gian.


Jadi, mereka bertiga pun makan malam bersama di salah satu restoran yang ada di mall. Kemudian saat jam 8 malam, Gian memutuskan untuk kembali karena melihat Monica sudah mengantuk.


...----------------...


"Dadah!" teriak Monica sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Gian.


"Dah!" Gian tersenyum dan membalas lambaian tangan Monica dengan melambai-lambaikan tangannya juga.


Monica tertawa, sambil membawa tas belanjaan yang berisi pakaian dan boneka, dia masuk ke dalam gedung apartemen. Lalu, Azam melihat kalau Gian membuang senyumnya dan raut wajahnya berubah menjadi sedikit murung.


"Sudah kuduga, ada cerita," pikir Azam. Dia penasaran, tapi tidak bisa bertanya juga.


"Azam, ayo duduk di sana sebentar." Gian menunjuk ke arah bangku yang ada di depan gedung apartemen, lalu dia berjalan ke sana diikuti oleh Azam yang menganggukkan kepalanya.


Waktu sudah malam dan langit sudah berubah warnanya menjadi hitam. Tidak ada bintang-bintang yang indah karena ini adalah Kota Jakarta yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi.


Lingkungan apartemen yang sepi dan udara dingin sehabis hujan membuat suasana menjadi sedikit menyeramkan. Gian dan Azam duduk di bangku, Azam tetap diam sambil menunggu Gian untuk berbicara.


"Aku tahu kok, kalau kamu lagi nyari informasi tentangku," kata Gian secara tiba-tiba yang membuat jantung Azam berdetak lebih kencang.


Azam mencoba untuk tidak mengubah raut wajahnya, dia berkata, "Nyari informasi? Apa yang kamu maksud?"


"Jangan berdalih. Aku lihat kamu akrab sama Mba Sandra. Terus, aku juga pernah lihat kamu mengambil foto saat aku sedang bersama Monica," kata Gian.


Azam membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu sebagai penjelasan, tapi pada akhirnya dia hanya mengucapkan satu kalimat pendek. "Jadi kamu sudah tahu ya."

__ADS_1


__ADS_2