
"Sini, uang ibu. Ayah pakai dulu, dari Halwa si anak pembakang itu kan?" teriak Ayah Husein.
"Yah, Ayah mau pakai untuk usaha beneran kan, Ibu sih ga masalah, tapi uang dari anak kita. Ibu mau tabungkan untuk pelunasan Haji. Ayah jangan pakai semua ya, Zia anak kita sudah bertahun tahun dia di negri sebrang. Jangan ayah pakai untuk Daun ..." Ama Anih terdiam, tak melanjutkan saat tatapan sang suami seperti pisau.
"Ibu, jangan belagu. Ayah usaha memang lagi bangkrut, rumah kedua sudah terjual. Ayah mau pakai, untuk tempat tinggal Mira. Ibu ikhlas kan, jangan pelit!"
"Tapi yah, Heuumph .. baiklah. Tapi tolong berikan sedikit. Ibu juga benar kehabisan, untuk belanja bulanan dua bulan lalu. Ibu sudah menguras tabungan enam bulan lalu yang ayah kasih. Ayah tolong pikirkan ibu juga!"
"Bu, kau ini sudah bisa mandiri. Berjualan kek? lagi pula. Si Zalwa sedang bagus itu, Suaminya Eros lagi jaya. Kau minta sama anak menantu mu lah, dan kartu ini. Ayah akan simpan mungkin Zia akan mengirim lagi. Jangan rewel, ga usah mengadu. Kalau usaha ayah kembali, pasti di ganti jangan perhitungan sama suami!"
Ama Anieh, memang terlalu sabar. Tapi ia tidak mempermasalahkan jika suaminya benar benar menggunakan untuk modal usaha. Tapi jika untuk istri kedua, dan anak tirinya yang jelas ia yakin bukan anak dari suaminya.
"Lantunan istighfar keluar dari bibir Ama Anieh dengan sebuah tasbih di jarinya. Sabarkan teguhkan aku ya Rob." menunduk lemas duduk di sofa.
Sementara Halwa yang ingin mengantar makanan sengaja ingin membuat surprise, berada di balik pintu rumah belakang. Ia tak di temani Eros, karna dadakan meeting di kantor. Sehingga melewati arah jalan halaman belakang, tak sengaja menatap lagi lagi perseteruan antara Ayah dan Ibu.
'Ayah, kamu begitu tega sama ibu. Kenapa karna orang ketiga, Ama seperti penuh beban. Senyumnya palsu, Zia adikku. Andai kamu tau, jika Ama ternyata tidak menyadari kamu mengirim uang, kakak sangat malu tak bisa berbuat apa apa. Impian Ama pegi haji, namun Ayah lagi lagi selalu membela Mira, istri muda Ayah.' menghapus air mata di pipi.
TLIIING .. TLIING. Dering ponsel Halwa ketika menatap pesan dari mas Eros. Tak lama bahunya di tepuk sang ibu.
"Wa, kamu nakal. Kerumah kok diam diam aja?" senyum sang Ibu.
__ADS_1
"Ama gak apa, beneran kan. Ama tinggal di rumah Zalwa aja ya. Ama kenapa masih saja menyembunyikan kesedihan. Bukankah anak anak Ama perlu tau, dan berhak tau?"
Zalwa saat berbicara dengan sang ibu. Ia akan memanggil nama aslinya. Tapi di saat bukan dengan sang ibu, ia akan kembali memakai nama Halwa. Hal itu meski beban untuk Zalwa, tapi ia masih bertahan karna janjinya dengan sang adik. Juga sudah terlanjur mencintai, entah apa ia akan menjadi kakak yang tidak tau diri atau..,
"Sayang. Ama ga apa apa. Ingat, kamu dan adikmu semangat Ama. Kalian tetap anak terbaik, yang gak akan pernah menyakiti hati Ama." sesak hati Zalwa memeluk sang ibu.
"Bu, kalau mas Eros tau semuanya. Bagaimana jika Zalwa tak ingin melepas mas Eros. Apa Zalwa serakah dan tidak tau diri?" sedih Ia masih mode memeluk.
"Anak ama, kalian memang mirip sangat jelas. Tapi Ama, Ama ibu kalian tak pernah sedikitpun tidak tau watak kalian. Kamu percaya dengan Halwa, dia adikmu tidak akan pernah berdusta. Hanya saja, Ama ingin bertemu. Agar anak itu jangan merajuk apalagi takut akan menikah. Tidak semua pria seperti Ayah. Ama punya kalian berdua sudah cukup."
Hal itu membuat Zalwa memgangguk, lalu mengajak masuk kedalam rumah. Tidak ada rasa yang begitu menyakitkan, kala dua hal yang Zalwa takuti. Melihat ibunya selalu menangis karna sikap Ayah, dan takut mas Eros berubah seperti Ayah. Ketika tau semuanya, ia merasa bodoh. Karna mahar mas Eros memang benar untuk menebus hutang Ayah. Andai ia dari awal tidak terjebak mengikuti kemauan adiknya. Mungkin saat ini, kebohongan ini tidak semakin lebar dan sulit untuk mengungkapkan.
'Semoga semuanya tak akan terjadi, setidaknya ijinkan anakku lahir mendapat kasih sayang Ayahnya. Mas Eros adalah pria baik, dan sosok pria yang setia pada keluarganya. Ia tidak mungkin mempunyai sifat buruk macam Ayah.' benak Zalwa saat tersenyum, mengajak makan siang sang ibu di rumah.
***
Zia yang lemas dan pingsan, ia lelah akan banyak pikiran. Dan lupa makan, membuat Dewi sahabat baiknya khawatir.
"Thanks ya, lo udah peduli sama gue. Dew!" senyum Zia saat di suapkan perlahan bubur madura kesukaan Zia.
"Gimana gue gak panik, jelas lah. Lo kalau kaya gini pasti ada masalah?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Gak ada. Beneran ga ada kok Dewi zeyeenk."
"Bual, jangan berdusta sama gue. Jujur sekarang, ga perlu ditutupin. Kalau masih mengumpat dari gue, olshop kita bubar!" ancam Dewi.
"Astaga. Sohib gue, kalau ngancam jelek banget. Oke gue jujur, sebenernya gue kaget. Kala ketemu Sandi lo masih inget kan, dia bilang kak Halwa dan mas Eros dari rumah sakit. Mereka tinggal di daerah sini. Gue ga bisa diam Dew, gue kira mereka semua pindah ke jogja."
"Astaga, terus masalah lo apa. Kan bisa ngehindar Zia?"
"Gak semudah itu ceu odah, masih satu lingkungan. Ini ibu kota antara utara sama barat jaraknya ga jauh. Gue kerja di pak Evan tentang apa, dan mas Eros itu lulusan apa. Gue yakin dia udah jadi insinyur. Gue harus cari kontrakan baru. Buat rumah ini, terlalu dekat dengan rumah sakit dari ka Halwa sering cek. Gue takut, gue gak mau ngerusak hubungan kakak gue. Karna kemunculan gue, bakal nyakitin orang yang gue sayang." jelas Zia.
Dewi merasa tersentuh, begitu bekunya hati sahabatnya karna sosok Ayahnya. Tapi ia rela berkorban, rela membuat kedua wanita berharga dalam hidupnya. Yaitu sang kakak dan sang ibu tidak menderita karna ulah Ayah, meski Zia sempat kecewa pada keputusan Ama untuk selalu bertahan pada Ayah. Itulah mengapa ia memilih pergi dan merantau meminta sang kakak menikah dengan mas Eros dan selalu menjaga Ama tidak boleh jauh jika mereka membeli rumah, harus dekat Ama. Setiap hari Zalwa harus sering mengunjungi.
"Zia, kok bengong?"
"Hah, ia Dew. Kenapa?"
"Ada tamu tuh, gue ga kenal soalnya. Beneran lo liat gih, atau mau gue bilang lo sakit ga bisa di ganggu?"
Zia terdiam, ia tak punya siapapun pria selain Randi yang tau tempat ia tinggal saat ini.
***
__ADS_1
Hai Hai Author mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan. Like dan jejaknya, menjadi semangat Author sepeti baterai Full terisi penuh. Terus ikutin kisah Splite Marriage ya. By, kalian ada di tim mana nih, Halwa atau Zalwa?