
"Halwa Tusabina, berhenti!!" teriak Randi.
Zia langsung menoleh, dengan paparan sinar matahari yang menyengat. Membuat wajahnya silau dan memayungkan kelopak matanya dengan tangannya sendiri. Sehingga tepatlah Randi tersenyum berlari menghampiri Zia.
BUG!
Klek! 'Auuw, kok lo tendang kaki gue Zia?' pekik Randi kesakitan.
"Panggil Zia, apalagi kalau lo sampe ikut dampingi nanti klien dari Pak Evan. Panggil nama gue itu lagi, gue gebok lo Ran. Males gue kenal model laki lemes kayak lo. Ga pantes lo jadi adik pak Evan," sebal Zia sambil berjalan.
"Tunggu, sorry deh Zia. Gue ga akan panggil itu lagi, lagian lo kenapa juga nyembunyiin nama asli lo. Itu bagus lo Zia, lo lagi ngapain sih. Wanita cantik kok ngambekan." gerutu Randi.
Zia hanya diam, ia masih mengepak sebuah plastik bening yang tertera nama brand fashionnya. Randi yang sengaja mampir ke rumah kontrakan Zia, ia melihat beberapa orang yang membantu Zia.
Randi melihat lihat kartu nama cantik, label brand Zia. Terlihat warna pink muda dengan tambahan warna ungu dan silver. langit indah by Zia.
"Bagus, tapi kok fashion cewek semua. Ga ada lagi apa model cowok?" tanya Randi masih di cuekin.
"Zia, kan gue udah minta maaf. Gue janji ga bakal ungkit itu lagi. Habisnya siapa suruh lo ketemuan di gang sempit sama preman itu. Dia panggil nama lo itu, salah gue di mana coba?"
"Diem lo, mending lo pulang Ran, bisa ga tiap sabtu minggu kita ga ketemu di kantor. Lo ga usah mampir ke sini?" ketus Zia.
"Ga bisa, gak bisa gue liat lo di kantor cuma sekilas, apalagi ka Evan buat lo sibuk terus ga ada berentinya lo keluar kantor."
"Gue keluar kantor terus, jelas gue kerja Bahlul. Lah elo, udah adik ga jelas jabatan juga ga ngerti apa tau. Masih aja belaga santai, ga bisa di andelin. Katanya adik dari Evan Sanders dari banyak cabang perusahaan. Tapi punya adek kaya lo, ga guna."
"Jiah, gitu aja merembet. Dah lah, gue diem. Gue cabut duluan, nerusin sepedahan alias olahraga biar ga sakit denger ocehan lo. Bye!"
Wuuush!! ga usah balik lagi loh. lirih Zia sambil mengepak paket untuk di ambil oleh kurir. Zia pun menata dan ikut membantu, ia mempercayakan pada Dewi teman baiknya yang menghandle kala Zia tak ada di rumah.
__ADS_1
Sementara Randi, menyembunyikan kartu dan label brand Zia. Ingin sekali ia membantu usaha Zia agar semakin berkembang. Hal itu membuat ia tersenyum manis, melaju dengan sepeda gunung yang memang ia selalu mampir melewati kontrakan Zia.
Dewi pun celetug pada Zia, agar ia tidak terus terus mengomel pada teman prianya itu.
"Dah, lah sih Zi. Buat apa lo sebel ma cowo tadi. Baek baek loh, nanti jadi bucin!" senyum Dewi.
"Hadeuh, ga banget deh. Lo tau gue kan semenjak gue tau kenyataan bokap nyokap gue yang harmonis. Ternyata ga bisa gue jadi panutan, gue ga mau nikah sampai kapanpun."
"Huuusst. Ga baik Zi, lo ngomong kaya gitu. Ya udah, ni empat puluh lima paket siap anter hari ini ya!"
"Heeeumhp. Ya nih, Dew. Thanks ya, karna lo bisnis ini makin lancar."
"Bukan cuma gue, tapi kita semua. Kan website lo juga selalu gencar tuh. Yang penting gue ingetin, jangan lupa nanti sore kita ke suplier sama toko kain. Kan kita janji mau beli mesin jahit buat bikin brand sendiri, emang ga mau?"
Zia tersenyum, bukan berarti ga mau. Tapi modalnya dari mana. Sementara tabungannya cukup untuk gaji tiga bulan karyawan jika bisnisnya sepi.
Namun sebuah pesan terlihat muncul dengan cepat. Membuat Zia kesal akan seorang bos tanpa ada expresi di wajahnya. Seperti beruang kutub dengan mata bulat seperti panda menyeramkan jika marah.
'Astaga, pak Evan ini bisa gak ya. Ga bikin gue sport jantung. Masa ia, gue dadakan diminta lembur lagi. Mana kerjaannya bikin gue jauh yang gue ga pernah gue bayangin.' deru nafas Zia duduk lemas.
"Kenapa lagi, bos beruang lo beri titah lagi Zi?"
"Heuuumph!" angguk Zia memeluk Dewi.
"Gue rasa, dia sengaja tuh. Bukannya anak laki lakinya yang kayak kena anak jin ga bisa diem, selalu usilin lo ya?"
"Justru itu, gue berharap online shop gue cepat berkembang. Eeh, online kita maksudnya. Gue sebal dengan perintah menjadi bawahan. Kita kalau jadi bos jangan kaya gitu ya?!"
"Yes. Heuuumph," Dewi mengangguk dan menjulurkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
***
BERBEDA HAL DENGAN HALWA.
Halwa merasa senang, meski sakit hati, kala mas Eros bicara. Jika kota Paris dan Amsterdam adalah tempat mereka ingin pijaki sebelum mereka menikah. Tetap saja itu adalah impian adiknya.
UEEEK !! UUUUEEK.
"Sayang, Wawa sayang, kenapa kamu mual lagi?"
"Mas, aku sedikit pusing. Gimana kalau minggu depan kita ga bisa terbang karna aku?"
"Tidak usah di perdulikan, kita ke dokter ya sekarang!" ucap Eros menggendong Halwa.
Halwa dalam perjalanan beberapa puluh menit, ia menatap layar jendela. Dengan tatapan tanpa sadar. Kala rumah sakit pelita sakti melewati perumahan kontarkan Zia. Mobil itu melewati ketika Zia dengan sepeda motornya ikut berlalu. Meski begitu, helm dan masker payet tak pernah absen dan lepas dari wajah Zia.
Tak sadar, Zia kesal akan sebuah mobil yang berjalan lambat. Ia mengklakson dan segera berlalu menatap mobil hitam berusaha menyelak ketika lampu hijau telah menyala. Meski begitu cepat, Zia tidak tau jika di dalam mobil itu adalah sang kakak dan suaminya.
"Ya ampun, sepeda motor pinky itu sangat tidak sabaran. Dia pikir ini jalan milik sendiri apa? tidak bisa bersabar!" ungkap Eros saat menginjak pedal.
"Mas, sabar. Mungkin dia sedang buru buru." balas Halwa dengan rasa sakit dan masih mual.
WUUUUSSH! TREK. Zia memarkir sepeda motornya dan berlalu ke sebuah pintu besar.
TINGNONG!!
Zia telah berada di sebuah rumah besar. Namun saat ia menoleh wajahnya kembali kesal memerah.
"Astaga. Stop .. Stop .. Hentikan!" teriak Zia menyembunyikan wajahnya dengan tangan.
__ADS_1