Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
JELASIN SAMA GUE!


__ADS_3

"Kak, Wawa mohon. Agar kaka lepasin dendam kaka sama ka Zalwa. Wawa pasti bakal bantu masalah kaka, tapi mohon. Kejadian kecelakaan ka Ernest itu bukan salah ka Zalwa, saat itu ka Zalwa emang bertemu, tapi mereka ga ada hubungan apapun. Lepasin dendam ka Luna sama ka Zalwa ya. Wawa mohon!"


"Cuuuih, Zia. Elo jangan nyamar jadi adiknya. Gue tau lo, lo ancurin hidup Ernest karna lo ga suka sama kami yang udah tunangan kan. Bedebah lo wanita Ja*la*ng!" teriak Luna.


Hadeuh, capek juga ngomong sama teman kakak gue. "Terserah deh, gara gara ka Luna. Ka Zalwa jadi orang tertutup dan pendiam, ga berani bersosialisasi. Membusuk kau wanita!"


Zia membuka pintu ruang mediasi, ia berlalu ke meja pak polisi setelah mengintrogasi. Hingga di mana proses hukum tetap di lanjutkan, saat ia keluar pintu dan pamit pada pak polisi. Zia pun mengambil helm pinky yang retak akibat Luna gila.


"Aah, helm gue?" merasa sedih.


"Ada yang bisa saya bantu?" petugas polisi.


"Astaga, pak polisi kok ada yang tinggi banget? Bapak beneran polisi, kok kaya Pilot tampangnya. Eeh, maaf. Udah pak, saya sudah selesai tuh urus wanita gila. Eeupps, maksudnya wanita palsu. Saya permisi!"


"Baiklah, hati hati jangan lupa pengaman. Pakai helm dan jangan mengebut!"


Zia hanya mengangguk senyum, dan pamit tak ingin terlena dan mencuci matanya. Ia takut jatuh hati, hal jatuh cinta saja ia buang jauh jauh. Zia merasa takut akan pertemanan lebih. Jujur dalam benak hati Zia, hanya mas Eros yang membuatnya mempunyai kenangan. Tapi keputusannya, ia sudah tepat, meski luka jika suatu saat bertemu. Mas Eros lebih baik di dampingi dengan ka Zalwa.


Berhentii!! berhenti hai kau wanita tidak tau terimakasih!!


Zia mengerem dadakan saat masih dalam gerbang, lalu melepas helm yang retaknya itu. Hingga di mana ia menatap Sandi yang menghentikannya.


"Loh Sandi?"


"Lo harus jelasin semuanya, jangan semaunya aja loh. Lo jangan jangan jadi Zalwa deh!"


'Baaeecooet ni cowo gemoy. Pria model kaya gini mau jadi kaka ipar gue. Jangan ngarep dah,'


"Lo tunggu di sebrang deh, nih lo ga liat. Masih area kantor polisi. Ada kedai bakso tuh, gue laper. Ngobrolnya tar aja di sana!" cetus Zia langsung memakai helm dan berlalu pergi.


Tunggu gue,!! semakin jelas lo Halwa si tomboy yang sering kerjaiin gue. Bener bener gue gak ngerti, kenapa mata gue siwer. Yang gue liat tadi di rumah sakit Zalwa si wanita lembut yang gue idamanin. Benak Sandi merengek ingin menangis, tapi tidak jadi kala dua polisi berjaga menatapnya.

__ADS_1


Permisi pak, saya pamit sekarang!! ucap Sandi mengejar Halwa.


HINGGA BEBERAPA PULUH MENIT.


"Wa, lo ga jelasin gue semuanya. Ngunyah aja lo dari tadi. Bener bener apes gue kalau ketemu lo!"


"Lagi makan San, lo ga di ajarin tatakrama ya. Kalau lagi makan itu harus gimana?" celetuk Zia.


"Iya deh, Wa sorry." menyeruput es jeruk, pasalnya menunggu Halwa makan sudah habis dua porsi bakso dan mie ayam.


EEEHEEEUHKK!! BERSENDAWA.


Sandi hanya menutup matanya, pasalnya Halwa yang ia kenal memang seperti ini. Mungkin Eros bisa menikahi Zalwa karna kelembutan dan ga malu maluin. Lirihnya masih mencibir.


"Gerutu aja lo, kalau gak tau diem. Inget panggil gue Zia, awas klo panggil Wawa lagi. Tar video lo yang ngompol gue sebarin ke group alumni nih!"


"Ya elah, oke Zia. Sekarang gue turutin, jelasin dulu kenapa bisa. Eros lo nikah sama Zalwa. Dia kerumah sakit juga kan di pelita sakti tadi?"


"Apa maksud lo, rumah sakit itu deket banget sama gue tinggal. Lah kan Zalwa bukannya habis nikah menetap di jogja. Kok bisa kembali lagi ke sini?"


"Dih, dasar Pea Loh ya. Gue nanya, malah nanya balik!"


"Ya, udah gue masih banyak waktu yang harus gue kerjaiin. Gue harap, kita ketemu lagi ya. Nih nomor ponsel gue, udah gue save ketik di ponsel lo!"


"Tunggu!! Zia gue belum selesai ini ngomong. Lo mau kemana?"


"Woooiy!! Ini tagihan gimana?" kembali teriak.


"Pak, di bayarin ya. Biasa teman orang kaya, dia lagi ulang tahun tuh. Heeiy semuanya, kalian semua makan sepuasnya. Noh temen gue yang baik lagi berbaik hati, bakal traktirin." ucap Zia senyum melambai pergi.


Okee mbak cantik. Mas handsome makasih ya traktirannya!! ucap sekelompok orang yang sedang asik makan bakso.

__ADS_1


Ziiiiiaaa ... !! Sandi menutup wajah. Sialaan si Halwa dari dulu, ga pernah berubah. Kenapa juga gue selalu takut nurut tuh ma anak ya. Batin Sandi meringis kesal, lalu menatap dompet.


***


Zia yang telah sampai di rumah, ia meletakkan ranselnya. Meregangkan tangannya yang pegal. Mengingat pertemuan Sandi, jika ka Zalwa dan mas Eros berada di rumah sakit. Ia pun kembali mencoba dengan berat hati, menghubungi Ama Anih.


"Ama, apa kalian benar benar ga jadi pergi ke jogja. Tapi kenapa aku ga tau, atau memang Ama sengaja karna aku pernah berkata tak ingin kembali pulang dan berharap ka Zalwa bisa menjaga Ama."


Zia pun mengingat foto keluarga, andai saja Ayah tak pernah membuat hatinya luka. Mungkin ia masih bersama di dalam rumah yang kini masih terlihat bahagia. Ama dan kakak yang penyayang.


"Aah, sudahlah Zia. Untuk apa menyesalinya, tapi mengingat akan perkataan Sandi. Jika Ama di kota ini, kenapa aku rindu ingin bertemu."


Zia pun menutup album foto, ia berusaha tidak mengingat meski ia sangat rindu bertemu ibunya kini. Meski begitu, ia tak bertemu tapi tak pernah ia sedikit pun menelantarkan kewajiban dirinya pada sang ibu dari jarak jauh.


"Zia, lo kenapa?" tanya Dewi menggoyangkan tubuh Zia.


Ziiiaaa jangan bikin gue takut. Ziaa banguun!! teriak Dewi.


***


Sementara kediaman Ama Anih. Terlihat Ayah Husein datang, meminta atm rekening istrinya.


"Ayah, ayah mau apa. Kenapa mengacak buku rekening Ama?"


"Bu, kamu dapat uang kiriman dari siapa. Zalwa setiap bulan kirim kamu uang. Jangan diam saja, Ayah ga sengaja print untuk usaha kita yang baru. Tapi saldo ibu sebanyak ini. Jelaskan bu?" teriaknya.


"Tenang pak. Ibu cek dulu, ibu hubungi Zalwa dulu ya!"


Bu.. bu Anih, maaf ganggu bu. Ada surat ini dari pos!!


Bu Ajeng, pembantu yang di kirim Eros, meminta untuk selalu menemami mama mertuanya. Bekerja membantu di rumah istrinya, kala Halwa tidak menginap.

__ADS_1


"Makasih ya. Biar saya lihat dari siapa ini?" senyum bu Anih. Sementara ayah Husein ia terlihat kesal dan menatap penasaran.


__ADS_2