Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
BOS DAN ANAK SAMA GILA


__ADS_3

"Ngapain lo masih liatin gue, minggir?!" teriak Zia.


"Ya elah, ga usah di masukin hati soal kakak gue si Evan. Zia, kan gue yang ngejar lo kenyataannya. Ga usah pikirin otak kakak gue yang bentar lagi lepas!"


"Sama kaya otak lo yang perlu dituker tambah Rand, mending lo urus yang lain. Kalau tugas lo dari pak Evan ga benar. Gue yang kena, please jangan bikin nyebelin juga kayak Eca anak si bos. Gaji gue bulan ini udah di potong dua kali, jangan buat gue kehilangan semuanya." ungkap Zia berlari kecil.


"Tunggu Zia, maksud Eca lo itu Ecarlos keponakan gue?" tanya sedikit lola. Zia hanya menggeleng, meski Randi masih saja ingin mengejar. Namun tertahan kala seorang memanggil untuk kembali meeting.


'Dasar Randi lemot, Ecarlos inget nama itu inget gue suatu hal otomotif. Apa si Evan sebenarnya suka itu hingga namanya di abadikan. Andai gue punya basic dan loker baru, ga mungkin gue bertahan sampai gue merasa di injek injek.' gerutu Zia.


***


PAGI HARI.


Halwa menyiapkan sarapan, Eros memeluk Halwa dari belakang dengan kilat, dan berkata.


"Sayang, apa kamu masih marah?" kecupnya.


"Mas, maafin aku ya. Aku semalam ga menuduh mas gimana gimana. Tapi aku juga bingung, hal yang aku sukai dan kamu mengungkitnya. Seolah aku sedih apa karna aku tak lagi menyukainya,"


"Baiklah. Mas mengerti jangan di pikirkan lagi ya. Mas hanya mau kamu happy. Jangan lagi berfikir buruk. Mas ga mau kelak kamu kenapa kenapa sayang, ada bayi kita yang ikut sedih!"


Eros menatap senyuman di wajah Halwa. Meski banyak keanehan dari awal mereka menikah. Tapi Eros melihat Halwa kini lebih kalem dari dia yang biasanya membuat tingkah lucu. Tapi kelembutan tata sikap bicara Halwa saat ini mengimbangi dirinya yang kini telah menjadi seorang insinyur ternama. Hal itu akan memudahkan dirinya memamerkan istri cantik anggunnya.


"Sayang, ada acara Gathering kantor. Apa kamu mau ikut?"

__ADS_1


"Mas, Gathering apa akan semeriah sampai malam?"


"Entahlah, tapi semalam dan selama apapun. Mas akan senang di temani istri mas. Besok kita kontrol ke dokter ya, ingat kebahagianmu mas utamakan. Apalagi mama dan ibu selalu bersamamu, mas tidak khawatir saat mas kelak pergi ke luar kota. Kalian semua adalah malaikat mas, jangan pernah tinggalkan mas ya!"


"Ya mas, pasti." senyum Halwa. Meski dalam batinnya, bukan dirinya yang meninggalkan. Tapi ketakutan itu adalah mas Eros yang meninggalkannya.


Halwa memeluk suaminya, dalam dekapan ia yang awalnya tak mempunyai perasaan. Kini semakin hari ia mengenal mas Eros. Ia semakin jatuh ke lubang apalagi di saat ia menatap payung mas Eros kala ia menunggu di suatu taman untuk menjelaskan dari awal. Itu adalah pandangan pertama Zalwa pada mas Eros menjadi Halwa seumur hidup.


Tak lama, mereka hanyut dalam pelukan. Eros tak segan menggendong Halwa ala brides style. Ia membisikan sesuatu sebelum berangkat bekerja, karna kebetulan kedua wanita paruh baya. Yakni mama dan ibu mertua mereka sedang pergi dari pagi bersama.


"Mas, kamu nakal." senyum Halwa.


"Mas nakal pada kamu istri mas sayang, untuk apa malu. Kita sudah sah, lagi pula mama dan ibu tidak ada kan?"


***


SEMENTARA ZIA.


Kali ini Zia harus kesal, karna rutinitas photo shotnya harus di percepat di jam kerja. Hari libur kemarin setelah selesai bersama Dewi, ia harus bergumam kala pak Evan meminta dirinya datang ke butik. Belum lagi tingkah kesal karna di tuduh mendekati Randi.


'Astaga pria kaya, kenapa selalu saja menginjak harga diri wanita. Memangnya siapa yang mau mendekati pria tajir seperti mereka. Sudah pasti banyak sekali para mantan yang berjejer berada di sampingnya. Hooh, yang ada aku bisa sakit hati."


EHEEEUUM.


Zia kembali berdiri dengan sebuah map hitam, mengikuti kemana pak Evan dan Randi di sampingnya untuk mewakili meeting. Kali ini pak Evan yang terjadi sesuatu ia meminta Zia untuk keruangannya dan jangan mengganggu dirinya selama empat jam kedepan.

__ADS_1


"Zia, berikan berkas ke Randi. Tugasmu adalah membuat Eca tidak berkeliaran di area kantor. Apapun keadaan nanti, kau harus menghandle!"


"Heeum apa. Baik - baik pak." Zia menurut.


Ia memberikan beberapa berkas pada Randi. Meski tangan Randi gatal mengelus Zia, tapi sebuah cubitan keras namun di tahan Randi kala ia mencoba berlaku tak pantas.


'Astaga Zia, kau wanita yang berbeda. Membuat ku semakin penasaran, ingin memilikimu.' batin Randi.


Sementara Zia berbelok arah, melewati ruang staff. Mereka berbisik bisik tentang kinerja Zia yang hanya sebagai baby sister. Sementara Zia hanya menghela nafas. Tak memikirkan, ocehan karyawan lain yang hanya sama sama mencari sesuap nasi.


'Hahaa, kasian ya. Di jadiin pengasuh, bukan asisten pak Evan. Malangnya, di terima kerja hanya untuk menghandle anak atasan yang super.' itulah kata kata terngiang diri Zia di kantor. Mereka tidak tau, jika hasil denah dan sebelum meeting terlaksana. Dirinya mengerjakan di rumah pak Evan, meski sebuah kerikil dan bencana perang kedua bagi Zia ia hadapi.


BRAAAGH!!


Astaga, Zia mengatur nafas. Kala membuka pintu ruangan pak Evan. Dengan sangat menyesal, ia harus sabar ketika Eca anak itu telah memberantaki semua peralatan kantor.


Namun ada yang berbeda, anak pak Evan itu terlihat duduk di bawah meja. Kala ia menatap anak itu, terlihat sesak dan berantakan sehingga sebuah laptop saja berada di bawah lantai.


ECAA!! TERIAK ZIA.


Zia yang panik, ia tidak tau kala anak kecil berumur Enam tahun itu terlihat sesak, seperti gelagap ingin bicara. Zia mengambil ponsel dan meminta bantuan. Ingin sekali ia berlari ke ruangan meeting. Namun mengingat pesan sang bos, ia langsung menggendong Eca dan pergi menuju loby dengan sebuah sepeda motornya.


MINGGIR KALIAN!!! ZIA BERUSAHA MENOLONG ANAK BERUSIA ENAM TAHUN ITU.


Sementara tatapan karyawan berbeda lantai terlihat berbeda menatap Zia.

__ADS_1


__ADS_2