Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
DUA PRIA


__ADS_3

"Lo dari mana semalam?" teriak Randi berlari kecil mengejar Zia ke meja kerjanya.


"Gue .., gue pulang duluan Rand. Sorry ya!" ungkap Zia yang tak ingin mengingat malam itu.


"Jujur sama gue! Lo beneran sama bang evan?"


"Gue. Enggak lo pasti salah liat, orang gue pulang duluan."


"Ga bisa ngelak, bang Evan bilang lo malam di anter sama dia. Jam dua malam, Hey! jangan lost dari gue Zia. Lo kan janji sama gue ..?!"


"Rand, kerja dulu ya! Gue capek, dan lo tau gua kaya gimana?" menatap dengan mata merah. namun Randi menuruti.


Meski langkahnya lesu, ada kemungkinan ia akan selalu menderita karna Zia tak pernah mencintainya. Sekeras apapun, Zia sangat tidak lunak untuk mempercayai cinta. Dan ketakutan Randi adalah ia akan kehilangan Zia.


Randi kembali ke ruangan Evan, kali ini bukan soal pekerjaan. Ia akan meminta Evan untuk menjauhi Zia.


Took!Took! Pintu terbuka, kala Randi ijin mengetuk sebelum masuk. Ada rasa tak percaya bagi Evan menatap adiknya yang harus ikut serta dalam kantor.


Meski Evan tau jika dirinya tak pernah suka semenjak ia hadir. Perseteruan dirinya dengan ibu Evan meski telah di dunia alam berbeda. Jelas membuat Evan murka, karna Randi begitu mirip dengan wanita kedua sang papa. Sayang dia memang jahat, tapi tidak serakah kala amanat sang ayah yang kini terbaring untuk terus berdamai. Hal itu membuat Evan mau tak mau menjaga Randi yang kini berubah menjadi Reno meski tak ingin. Meski ketika saat berdua, Evan akan memanggil adik tirinya itu Reno, adik kecil yang dulu ia sukai. Tapi saat semua terungkap, ia meminta papa untuk mengganti nama anak itu menjadi Randi.


"Ada apa, enggak ada jadwal meeting kan, buat masalah lagi sama tenant di luar kantor? Owh, butuh uang dan cek lagi buat wanita di tepian pantai?" meletakan bolpen dan menatap Randi ketika menggeser kursi.


"Kak, Please! What happen antara Lo dan Zia. Bisa untuk jauh dan gak pernah dekatin Zia lagi!" kesal Randi menatap tajam. Ia membungkukan pada pinggir meja dan memangku kedua tangan, menatap wajah saling tajam dalam jarak sepuluh centi.


Why should? Kenapa Harus Zia Tusabina. Dia wanita gue!! tajam Randi mengingatkan Evan.


"Ya, gue ngerti. Tapi kali ini gimana kalau Zia yang bakal menjauh dari seorang pria pecundang yang gak bisa terima takdir?" senyum menyempit Evan.


"Please! Lo bukan lagi saingan gue. Sekalipun gue harus bertarung nyawa sama Lo. Gue sanggup buat singkirin Lo Evan Sanders!"


"Hahaa, Hey! Randi Sanders. Ingat suatu saat Lo bakal kecewa. Ada takdir yang bikin gue sama Zia akan selalu terikat."

__ADS_1


Randi menggeser kursi, hingga terbentur dinding arah jendela. Lalu keluar menggebrak pintu terbuka hingga lebar, membuat staff lain ikut terkaget. Pintu itu tertutup kembali dengan kencang. Membuat retakan pada jendela kantor yang mengguncang bagai gempa.


Sementara Evan merebahkan kursi, lalu ia menarik dasi membuat emosinya tertahan. Ia tidak boleh terpancing emosi, apalagi sampai membuat darah turun hanya karna menyukai wanita yang sama.


'Zia, apa istimewa mu. Rasa malam itu, membuat aku penasaran. Bukan adikku saja yang tergila padamu. Melainkan Eros kekasihmu juga. Tapi kenapa kamu bicara tidak ingin berkomtimen. Tidak akan pernah jatuh cinta. Huh! wanita penasaran sepertimu langka?' batin Evan.


Tak lama Evan meminta staff untuk memanggil Zia. Agar ia bisa membawa berkas ke alamat yang di tuju.


"Lo dari mana Ran, lo kenapa?" tanya Zia setelah dari pantry.


"Ikut gue sekarang!"


"Kemana, ini masih jam kerja Rand. Please! kita bicarain nanti. Lo lagi kenapa sih?" tanya Zia.


"Gue lagi gak konsen. Gue bakal bawa lo ke papi, buat restuin. Dan minta sama dia, kalau lo calon istri gue."


Zia terdiam, menoleh ke arah karyawan lain dan office yang melihatnya. Zia segera menutup mulut Randi yang masih memperjelas dengan sebuah tangannya. Lalu menarik Randi ke ruangannya. Alhasil Evan yang melihat ia segera menghampiri ruangan Zia dengan tatapan lurus.


"Ran, lo gak seharusnya kaya gini. Ada masalah apa? kan kita udah sepakat. Gue belum siap membuka hati, lo kan tau alasannya kenapa?"


Zia gemetar, bisa bisanya pria brengsek itu berbicara lagi dengan terang terangan. Zia ingat kala malam itu Evan memberikan tanda ingatan kembali di malam itu. Meski kali ini tidak bringas, tapi ia sangat menyesal karna terbawa suasana. Suasana dimana Zia menatap Evan adalah Eros. Kecupan nikmat di manis bibir kala itu, membuat Zia menyambutnya.


"Gue harus pergi, kita bicara nanti pulang kerja ya! Lo tenangin diri dulu. Good luck." Zia menyemangati Randi dengan menepuk bahu, lalu keluar ruangan dengan beberapa berkas.


Zia pergi naik taksi, ia masih menatap jendela langit di dalam mobil. Menatap awan mendung bercahaya. Membuat diri Zia kembali bercampur penuh rasa.


' Gerhana bulan sedang terbit, Api membara di hatiku. Tapi aku belum pernah terjaga seperti ini. Siapa Evan, kenapa dia pria satu malam yang aku benci, aku temukan sosok Eros yang hilang. Rindu tapi tak bisa bertemu, ingin bertemu tapi terdapat pembatas.' ungkap Zia.


***


DI RUMAH HALWA.

__ADS_1


"Bu, gimana kalau kita akhiri. Zalwa sangat tertekan akan semua ini? Zalwa belum cerita pada mertua, kalau aku adalah kakak Halwa, dan karna sebuah ketakutan Zia karna ulah Ayah. Dan bodohnya Zalwa harus mengikuti, Zalwa takut kehilangan Eros bu. Karna aku .."


"Sudah Nak. Soal ini biar ibu dan ayah yang mengurusnya. Sementara waktu, kamu tinggal sama ibu. Eros keluar kota kan sepekan ini? Kamu kirim pesan jika kamu menginap sama ibu. Dan akan pulang sebelum Eros kembali." Zalwa mengangguk.


Zalwa masih tak bisa berhenti menangis, kala rindunya pada suaminya. Dirinya begitu jelas tau, saat itu Eros ingin menyeburkan dia ke kolam tanpa lembut, seolah ia tak perduli akan dirinya yang sedang hamil.


"Aku memang pantas, tapi jika kamu tau. Apa suamiku akan mengejar Halwa yang asli?"


Dengan senyum menatap cermin, Zalwa memencet tombol nama Zia. Berkali kali tak aktif, ia hanya bisa mengirimkan sebuah pesan.


" Zia, aku akan terus terang pada Eros semuanya. Apapun itu, aku memintamu untuk tidak pernah kembali pada Eros. Ingat kamu yang buat aku jatuh cinta dan tak ingin kehilangannya. Bantu aku Halwa tusabina, adikku tidak akan membuat hancur sang kakak kan?" klik.


Sementara Eros yang sedang keluar dari gedung, ia bersama Emis dan tak sengaja menabrak seorang wanita dari belokan ruang lift.


Brug! "Uups, sory mbak." ungkap Eros.


"Gak apa ap .." terdiam pasi saling menatap.


Eros mengambil beberapa berkas, Emis di samping pemandangan itu hanya bisa tertegun. Lalu menyingkir di bagian punggung tombil lift dengan pura pura tak melihat.


Zia berdiri dan lalu pergi, namun tangan Eros jelas memegang Zia dengan erat.


"Tunggu! Halwa Tusabina. Untuk apa kita kembali di pertemukan, jika pada akhirnya saling menyakiti?" ungkap Eros dengan mata penuh cinta yang amat dalam.


Zia membungkam bibirnya, ada rasa tak percaya kala semesta membuat mereka di pertemukan dengan keadaan yang sulit, Zia tidak mungkin menjadi duri dalam rumah tangganya. Meski kesalahanya adalah dirinya.


"Maaf, lepaskan tangan anda! Kita tak saling mengenal!" Zia melepas paksa, berlalu pergi tanpa menoleh tatapan dan wajah Eros yang ingin mengejarnya.


"Eros, ayo. Singkirkan masalah privasi, kita udah di tunggu pak Frans!" pinta Emir menepuk bahu Eros.


Zia yang berlari kecil. Tak sengaja menabrak bahu dada seseorang, yang mungkin sengaja membuatnya jatuh dalam pelukan. Atau karna Zia saja yang selalu menunduk untuk menyembunyikan.

__ADS_1


"Hey seriousl, are you crying. Zia?" ungkap seseorang yang menopang tubuh Zia.


To Be Continue!!


__ADS_2