Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
KECUPAN


__ADS_3

Evan menatap wajah Zia, meski ia menahan sakit bahu dan punggungnya. Sementara pundaknya sedikit sakit, cukup untuk membuat Zia tidak terluka.


Evan telah mencari informasi Zia, baik itu silsilah kehidupannya. Keluarganya dan seluruh kesukaan Zia. Hanya sebatas intel, ia bisa mudah mengetahui wanita bernama Zia. Apalagi saat malam itu, ia merasa bersalah akan sentuhan dan noda merah yang terlihat dan itu adalah benar milik Zia.


Entah mengapa wanita unik ini tidak menggugatnya, bahkan melupakan begitu saja karna dirinya tak ingin berkomitmen atau jatuh cinta. Evan Sanders bukanlah pria tidak bertanggungjawab, apalah kesalahan malam itu telah merenggut seorang gadis. Gadis seperti Zia adalah wanita unik baginya membuat ia sering tersenyum tanpa beban.


"Apa kamu sakit?"


"Pak, sepertinya tubuh anda yang sakit. Anda yang menahan tubuhku agar tidak jatuh."


"Masih banyak yang lebih sakit, sesuatu membuat aliran diriku tidak bisa menahannya. Apa kamu tau ..?"


Haah! Zia terdiam, lalu dengan kilat ia merasakan gesekan sesuatu saat Evan membalikan tubuh Zia, menahan kepala Zia dengan sebuah tangannya.


Zia terdiam, ada rasa ketakutan. Meski ia tidak tau apakah pria di depannya ini benar benar mengatakan dengan tulus. Baginya karna sang ayah, ia menjadi takut. Semua pria akan manis di awal saja. Tidak pernah damai dalam satu meja berbicara dengan lembut. Teriakan dan emosi selalu membuat amarah bagi kedua orangtua Zia saat itu.


Zia segera berdiri, lalu duduk mengambil minum dan meneguknya. Dengan saat itu pula Evan mengekor dan meraih kunci mobilnya. Ia kembali setelah beberapa menit, masih melihat Zia duduk diam tanpa bicara.


"Belum ngantuk, mau minum denganku saat ini?" tawar Evan dengan membuka tutup botol dengan label putih.


"Anda sedang memancing, tamu berpesta di tempat tinggalku?" cibir Zia.


"Karna kamu aku terkunci di sini, bagaimana kita bertukar cerita?"


Zia pun mengambil tuangan minuman yang dibuat Evan. Saat ini ia juga bingung, memikirkan hatinya yang masih ada nama Eros. Belum lagi harus menunggu pagi, sangat lama sekali ketika ada atasannya berada di kediamannya berdua saja.


Crrrr!! tegukan beberapa gelas, membuat Zia meminumnya. Sementara Evan hanya menyaksikan betapa pilu hati wanita unik di depannya. Evan hanya meneguk sedikit saja, ia hanya ingin melihat Zia banyak bercerita. Dan ingin sekali ia mengungkapkan perasaan hatinya saat ini.


Bruugh! Posisi Zia sedikit terjatuh, Evan membawanya ke sofa. Lalu membantunya untuk tidur di kamar.


"Aku bantu, tidurlah!" Evan menggendong Zia dengan tubuh yang sedikit lemah.


Setelah tanpa pemberontakan, Zia di rebahkan dikamar. Lalu dengan jelas sedikit sadar, Evan mengusap rambut Zia. Mendekatkan wajahnya dengan jelas.


"Pak anda mau apa?"


"Jadi istriku! Aku ingin bertanggung jawab, dan aku rasa aku telah jatuh cinta padamu Zia Tusabina." lirihnya.

__ADS_1


"Anda sedang bermimpi pak."


"No. Aku benar benar jatuh pada wanita sepertimu, aku akan menunggu sampai hatimu pulih. Asalkan jangan pinta aku pergi dan jangan lari!"


"Pak, anda sebaiknya memperbaiki postur kita. Aku sesak, dan Huuup!"


Kecupan kilat itu membuat Zia terdiam, sehingga nampak sekali tatapan senyum Evan membuat mata Zia melihat Eros. Zia terdiam, ia membuka bibirnya seolah tidak percaya. Kenapa bisa Eros hadir dan sangat dekat. Kecupan manis itu sama lembutnya seperti mas Eros saat pertamakali menyentuhnya.


Evan yang salah sangka, ketika Zia menutup mata dan membuka bibirnya sedikit terangkat. Ia tau jika Zia menyetujuinya. Sehingga Evan membuat tanda dan meraih helai rambut Zia dan menyentuhnya saat ini.


"Mas aku ..." lirih Zia.


"Mas, kamu memanggilku. Cukup bagus, meski aku tidak tau apa yang saat ini kamu pikirkan dan lihat Zia. Kamu harus jadi milikku!"


Evan menyukai panggilan itu, sehingga Evan segera menutup dan menempelkan ranumnya ke dasar bibir manis Zia. Aliran itu tersirat membuat Evan ingin lebih, ada hal yang tak bisa ia ungkapkan.


Evan kembali mendekap dan menindih tubuh Zia, ia segera menggeser selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka. Zia masih tersenggal senggal, kecupan Evan membuat dirinya hanyut.


Saat itu juga ponsel Evan berdering, Evan segera meraih meski saat itu ia menahan tubuhnya yang terbaring. Zia mengecup seluruh tubuh indah dan kepemilikannya dan telah sampai diujung bawah sana. Membuka dengan sedikit kaku, Evan membantunya untuk Zia berfantasi saat ini.


"Hiro. Cepat urus berkas pernikahan! Aku sudah mengirim email. Uucch! tahan Evan."


Evan kembali menatap dengan sempurna, tali kecil Zia segera ia turunkan. Dengan sempurna membuat Evan merubah posisi Zia berada dibawahnya. Dengan berbagai gaya, Evan menunggangi Zia dan berbagai posisi lain ia hanyut dimalam itu.


Di tambah suara gemuruh hujan besar, petir yang terdengar. Seolah suara desisan mereka malam itu tidak akan ada yang dengar. Zia begitu sempurna, baginya ia sudah yakin jika anaknya kelak akan menyetujui jika Zia menjadi ibu sambungnya saat ini. Urusan Wita, ia akan urus berjalan waktu.


KE ESOKAN PAGINYA.


Zia menatap celah cahaya, ia menutup mulut dengan sempurna. Melihat tubuhnya polos hanya sebuah selimut tebal yang melilitnya. Pegal dan rasa sakit itu, membuat Zia kembali terasa.


Melihat wajah Evan dengan sama polosnya. Membuat Zia menarik perlahan piyama disebrangnya. Namun mata Evan membulat dan meraih kembali tubuh Zia.


"Pak. Apa yang telah terjadi?"


"Wanitaku, terimakasih. Lebih tepatnya, calon istri Evan Sanders. Semalam adalah hal yang sama saat pertama kita.."


"Cukup Evan. Anda kelewat batas, anda tau. Haah, jam berapa ini. Di bawah pasti sudah ramai. Dan Dewi .. Uuuuh." Zia meringis.

__ADS_1


"Tidak ada karyawan yang datang, aku sudah menghubungi Dewi dan yang lainnya. Saat ini kita pindahan. Aku sudah menugaskan mereka mencari beberapa truk untuk berkemas, sebagian ke furniture membeli alat kerja karyawan kamu lebih giat bekerja. Mungkin satu minggu mereka akan sibuk."


"Maksud anda?" terdiam Zia. Ia meraih ponsel di mejanya, tanpa sadar selimutnya turun memperlihatkan tubuh Zia yang membuat Evan tergoda. Evan hanya pusing melihatnya, lalu mendekap Zia berusaha menempel.


Pergi!! ungkap Zia.


"Semalam kamu sangat sempurna, kamu cocok untuk menjadi nyonya Evan. Sayang mmuach!" kecupan mendarat di punggung Zia.


Hal itu membuat Zia jijik, lalu ia membayangkan semalam yang ia ingat adalah kecupan mas Eros. Betapa bodohnya malam itu ia melakukan dengan Evan.


"Apa, anda bilang nyonya Evan?"


"Heuuumph! Saat ini kita kerumah orangtuamu. Aku telah menghubungi pak Husein dan ibu Anih subuh tadi. Mereka setuju dan kita harus bertemu untuk segera melangsungkan pernikahan!"


"Evan, jangan lelucon. Aku tidak sanggup berkomitmen. Apalagi hatiku, dan aku .."


"Yes. Saya tau, maka dari itu menikahlah. Kamu akan mengerti. Aku percaya dan paham jika hatimu ada sisa pria yang kamu buang, tapi aku bertanggung jawab. Legowo, membuat kamu bahagia tanpa pernah ada di pikiranmu. Jika semua pria sama akan manis di awal. Aku butuh kamu Zia. Jangan menolaknya!"


"Jika aku tidak ingin?"


"Kamu akan membiarkan benih itu hadir, tanpa seorang ayah. Apa kamu sanggup ..?" Zia terdiam.


Sehingga tak lama, ia mendapat panggilan dari Zalwa sang kakak. Zia pun meminta Evan untuk diam saat ini tak bersuara.


"Hallo. Ya, ada apa kak?"


"Kaka ikut bahagia. Kamu akan menikah, kami tunggu hari ini ya. Ibu dan Ayah sudah menunggu dan kami sudah siap siap untuk menunggu kalian. Kita makan besar bersama ya!"


Zia terdiam, ia menatap pria di sampingnya. Benar saja Evan telah menghubungi keluarganya, Evan benar benar telah mempersiapkan pernikahannya.


"Bagaimana jika aku tidak bisa jatuh cinta pada anda Evan?" lirihnya.


"Aku akan tetap di sisimu. Mencintaimu, dan akan tetap menunggu sampai nafas terhenti."


"Kenapa anda yakin?"


"Karna kamu wanitaku, takdirmu adalah menjadi jodohku. Aku melihat sisi ketulusan kekaguman di matamu. Tapi sisi egoismu menutupnya." jelas Evan.

__ADS_1


Tak lama, Zia membalutkan tubuhnya dengan sprei. Lalu Evan menariknya kembali, membuat mata Zia tertutup rapat dan berteriak.


To Be Continue!!


__ADS_2