Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
PATAH HATI


__ADS_3

"Kenapa gak antar aku pulang?" tanya Zia pada Evan.


"Pendekatan pada Eca. Kamu harus terbiasa Zia. Sudah larut, lagi pula masih ada kamar tamu agar kamu nyaman. Dengan begitu kamu tidak akan sedih seperti tadi!"


Ckrek! Membuka pintu mobil. Lalu Zia mengekor sebelum Evan membukanya. Jujur saja ia tidak terbiasa dengan semua ini. Bagi Zia, ini adalah hal sulit ketika harus berada dirumah Evan. Bagaimana jika Randi tiba, apa Evan sengaja terang terangan agar Randi memusuhiku dan menjauh.


'Evan ini sungguh gila. Bagaimana bisa ia membatasi persahabatan aku dengan Randi Hanya karna adiknya mencintaiku, jelas aku hanya anggap dia sebatas sahabat. Tapi bagaimanapun aku harus bertemu Randi untuk menjelaskan semuanya. Agar ia tidak banyak berharap."


"Kenapa Diam?" kembali Evan menghampiri dan menggenggam tangan Zia untuk ikut masuk.


Sehingga tatapan anak kecil sangat angkuh, membuat penghalang dua sepasang sejoli yang ingin melewati pintu utama.


"Dady! Kamu melupakan aku. Apa kamu ingat perjanjian kita?" ungkap Ecarlos dengan sorot tajam.


Hal itu membuat Zia mengigit jarinya, seolah akan ada tanjakan kerikil untuk bisa bersama pada Evan. Tak seperti dulu ketika ia menjalin hubungan dengan Eros. Membuat dirinya kembali bersikukuh dan tersadar lagi.


'Astaga, kenapa harus Eros lagi. Untuk apa juga dikaitkan.'


"Masuk kekamar! Kamu harus sopan pada Tante Zia. Mmmh! Lebih tepatnya ia adalah. .."


"Evan hentikan! Ma-maksud saya pak Evan. Cukup untuk tidak memberi penjelasan yang mengejutkan." menatap Eca bingung, karna tante Zia yang ia kenal ada karyawannya.


"Eca, I'm sorry. Tapi aku berada disini, karna ada sebuah pekerjaan. You don't mind? jika Tante berada disini?" senyum Zia.


Hal itu membuat Eca melepas eratan tangan Zia, ia langsung masuk pergi meninggalkan. Evan yang melihat, meminta Zia untuk sabar melatih agar terbiasa. Bagi Zia ia tersenyum getir, sudah biasa sikap Eca yang mood an.


"Aku gak apa apa! tenang aja!"


Zia masuk, kali ini tidak ada tante Merli. Ia biasa tinggal dirumahnya tak jauh dari kediaman Evan. Jujur saja tante Meri adalah adik dari Pak Edwind Sanders. Papa dari Rendi dan Evan. Jujur saja, tante Merli tidak punya anak setelah suaminya meninggal.


"Ini kamarmu!"


"Lho! bukannya ini dibelakang kamar ..?"


"Jelas, di kamar ini ada pintu ajaib. Masuk langsung kekamarku. Jika kamu kesepian atau takut, ketuk saja!" bisik Evan segera berbegas pergi tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Dasar pria gila, hah pria mana yang aku nikahi. Jelas jelas alibi dia sengaja berbuat seperti ini." batin Zia.


Zia segera melepas lelahnya, hingga dimana ia menatap pesan misterius. Hal itu ia cocokan beberapa saat dengan sambungan wechat ka Zalwa.


"Jam delapan malam. Di atas gedung BFC. Halwa aku tunggu kamu meski hujan seharian, kamu tidak datang aku akan tetap menunggu sampai kamu tiba!"


Zia kembali menutup layar ponselnya. Tidak ada hal yang tak biasa, ia hanya takut. Takut jika perasaan itu tumbuh kembali.


Bagaimanapun Halwa memang ingin sekali bertemu Eros untuk menjelaskan. Dan agar dirinya kembali pulang. Tidak tega melihat ka Zalwa yang sedang hamil muda, tapi jelas Eros belum juga kembali bertemu untuk pulang menyapa.


'Apa yang harus aku lakukan, bukankah semua ini harus di akhiri. Mas Eros, kamu tau kita harus melangkah dijalan masing masing.'


Tak sadar, malam membuat Zia menutup erat kedua matanya. Rasa rindu pada kisahnya dahulu masih remaja telah pupus. Kini ia menatap cermin, setelah membersihkan diri. Zia merasa telah jauh, jauh dari kata wanita yang menjaga kodratnya sebagai wanita. Bahkan mahkotanya telah rusak, maka hal yang harus ia lakukan adalah menerima Evan. Mungkin berjalannya waktu, rasa cinta yang dalam pada mas Eros akan hilang dengan sendirinya.


KE ESOKAN HARINYA.


Zia kembali bergegas kekantor. Kali ini ia segera merapihkan barangnya untuk bersiap meneruskan sketsa gambar denah. Meski online masih berjalan dengan bantuan Dewi, ia cukup meminta Dewi beroperasi setengah hari. Sisanya membereskan pekerja lain untuk mengecek rumah baru untuk kerja barunya lebih semangat.


"Hai, Eca. Tante Zia pamit bekerja dulu ya. Apa kamu mau menitip sesuatu?" senyum Zia.


"Yes! jangan lagi dekat dengan papiku. Meski aku tau, kamu pernah menolongku. Apa kamu akan seperti tante Wita. Yang selalu memanggil mama baru untukku?" ketus Eca.


"No! Tidak begitu, memang kamu benci dengan sebutan Mama. Why? bisakah kita menjadi teman. Aku jadi teman baikmu, dan aku jadi teman kerja papimu?"


Eca yang memajukan bibir, ia segera melipat kedua tangannya seolah sedang berfikir. Hingga dimana Eca menepuk tinju pada Zia.


"Aku akan memikirkannya. Pergilah bekerja tante!" ungkap Eca dan masuk ke mobil Evan saat akan mengantar Eca ke sekolah.


Berangkatlah lebih awal Zia sayang! sampai jumpa dikantor. Tanda smile hati pada pesan Zia saat ini.


Zia mengabaikan, ia memesan taksi online. Namun Randi meraih Zia untuk ikut dengannya. Ikut dan memakai jaket serta helmnya.


"Ikut gue Zia!"


"Rand, kita mau kemana. Setengah jam lagi, kita ada meeting loh?"

__ADS_1


"Jelasin sama gue! Kenapa lo sama abang gue Evan. Apa karna dia pemilik saham terbesar dibanding gue. Keluarga Sanders lebih besar dan kaya adalah Evan Sanders. Bukan Randi Sanders?" kesal Randi menahan cemburu.


Plaaagh!! tamparan begitu keras, mendarat di pipi Randi. Zia begitu kelepasan, kala Randi berfikir sepicik itu.


"Jaga mulut kamu Rand! Gue kecewa sama lo!" teriak Zia dan berlari pergi masuk ke dalam taksi.


Sementara Randi, merutug kesalahannya. Meski hatinya rapuh, jika dirinya tidak menerima jika Zia dekat dan intim pada Evan.


"Gue gak terima lo sama Evan. Zia lo harus jadi milik gue!" ungkap teriak Randi.


***


Berbeda hal dengan Zalwa.


Kali ini Eros pulang kerumah, meski Zalwa menyalam hormat. Tapi jelas, jika raut wajah Eros yang telah santai dan melipat pakaian kedalam koper seperti ingin pergi lagi.


"Mas, kamu akan keluar kota lagi?" tanya Zalwa dengan batin kesedihan.


"Heuumph. Mungkin."


"Mas, aku mau ke supermarket buat belanja keperluan bulanan. Boleh aku minta uang buat kebutuhan rumah," pintaku pada mas Eros saat ingin berbelanja bahan dapur.


"Aku udah gak pegang uang lagi, semuanya sudah kuberikan pada ibu," jawabnya membuat aku tercengang.


"Semua? baiklah. Aku yakin transportmu cukup banyak pengeluaran ya?" jelas Zalwa.


Eros tau, jika istrinya saat ini tidak ada topik pembicaraan lain. Jujur saja, tanpa bicara ia sudah mengirimkan pada rekening Zalwa untuk semua kebutuhan. Dan mungkin saja istrinya belum sempat cek. Atau berpura pura agar saat ini bisa saling bercerita.


"Mau ngapain kamu, Zalwa?" tanyanya membuat kaget. Jujur saja Zalwa ingin menunjukan sesuatu yang letaknya di saku celana mas Eros saat ini, tepat di balik pintu.


Aku hanya mendelik sebentar, setelah mendapatkan benda yang terlihat hasil usg kemarin bersama ibu.


"Aku ingin memberikan ini mas, kamu harus melihatnya?" menatap mas Eros berlalu di lain pintu.


Belum Zalwa menoleh, Eros sudah pergi dengan sebuah koper kecil tanpa kata kata. Hal itu membuat hati Zalwa teriris. Perutnya sedikit keras dan kencang membuat Zalwa menahan untuk tidak berteriak.

__ADS_1


"Maafin bunda nak! Bunda hanya belum mendapat maaf saja. Kelak setelah mereda, ayah pasti akan melihat perkembangan kamu." ucap Zalwa mengelus foto hasil usg. Ia duduk di kasur dan meremas hasil kertas usg.


To Be Continue!!


__ADS_2