Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
GOSIP


__ADS_3

"Apa kakak baik baik saja?" tanya Zia.


"Kakak, baik baik saja. Mas Eros juga sudah kembali pulang, belum lama ini kakak antar ke bandara pagi tadi." senyum Zalwa.


Zia kini berada di sebuah cafe. Ia juga melihat tanda hasil usg. Zia tersenyum, kala keponakannya mungkin akan hadir kedunia. Hal itu membuat Zia memegang tangan Zalwa.


"Aku tidak salah, jika saat ini mas Eros mendapatkan kakak sebagai penggantiku. Kaka lebih baik, dari pikiran mas Eros saat ini. Zia harap kaka bersabar sedikit lagi!"


Zia kembali memeluk Zalwa. Ia tau apa yang dirasakan Zalwa saat ini sangat terluka, sama hal hatinya yang cemburu sakit saat mengatakan agar Zalwa bersabar. Terus terang hati Zia tidak tenang kala mengungkapkan semuanya. Tapi percaya jika dirinya harus melewati hal kesakitan saat ini untuk melupakan.


"Aku nanti malam akan bertemu di atap kantor mas Eros! Dia tidak keluar kota, mungkin dia tinggal di apartemen lantai 21. Jika kakak ingin melihat, kakak bisa datang!"


"Aku percaya sama kamu dek! Huuuch, kakak bukan anak anak seperti kamu yang mudah cemburu." senyum Zalwa mengipas tangisan yang hampir jatuh.


"Kakak selalu sama saja, berbohong seperti menyembunyikan tentang Ayah! Apa ka Zalwa tidak pernah percaya padaku?"


"Bukan begitu dek! kak Zalwa harap kamu gak perlu mengingatkan jika kakak sedang hamil. Bicara saja jika hasil itu adalah sebuah penyakit. Kekeliruan rumah sakit saat mengecek." jelasnya.


"Haah, apa kakak sedang bergurau. Please kak! apa yang ada dalam pikiran kakak saat ini. Bahkan bicara pada mertua, jika kakak tidak akan bisa hamil. Bicara jika saat ini hamil anggur. Lalu kakak akan membiarkan Eros sama seperti ayah kita. Mempunyai madu?"


"Cukup dek! kamu tidak tau apa apa soal semuanya. Jangan bicara hal buruk lagi tentang ayah. Kakak akan menerima jika Eros akan kembali padamu!"


Raih Zalwa mengambil tas dan pergi, hal pertemuan pagi ini. Zia merasa sebelum berangkat ke kantor adalah hal yang tidak tepat. Mood bekerja saat ini, terasa sangat malas untuk ia meeting bersama Evan.


Zia mencoba menahan tangisan, tapi lagi lagi sebuah uluran tangan dengan sapu tangan. Jelas terlihat dari pandangan Zia.


"Sudah cukup! ikut aku sekarang juga!" ketus Evan dan Zia segera menghapus tangisan setelah meraih tasnya.


Hingga beberapa saat, Zia kembali ke kantor. Hal itu membuat mereka berpisah, karna letak ruangan Zia berbeda. Ia mempersiapkan berkas berkas yang sebentar lagi bertemu dua perusahaan yang telah terjalin lama.


"Lo tau gak sih? denger denger mbak Zia deketin pak Evan. Belum lama pak Randi loh? kaya kemaruk gita gak sih. Setiap atasan kayaknya pede banget deket jaraknya." Eva admint.


"Hoh. Satu lagi nih ya asal lo pade tau! gue rasa dia udah pernah BO sama atasan kita itu. Belum lagi kan yang udah kerja sebelum mbak Zia. Mereka bilangnya apa coba?" ungkap Sera.


"Candle light dinner." serempak dua pegawai staff lain.

__ADS_1


"Nah udah pasti, dong habis itu mereka ngapain. Jelas besoknya mengundurkan diri."


Zia yang ingin menuju ruangan meeting dimana Evan dan Randi telah berada diruangan. Langkah kakinya terhenti di ruangan staff. Hal itu membuat Zia terdiam, lalu menoleh kepada karyawan lain yang berghibah tentangnya.


'Andai aku Evan, aku sudah memecat kalian. Membuang waktu kerja hanya untuk bergosip.'


Hal itu membuat Zia meraih map setinggi lima jengkal, lalu melangkah dalam pikiran Sean yang berkata Candle light dinner. Hal itu juga yang membuat pikiran Zia pada wanita bernama Wita.


"Astaga! buang jauh jauh. Untuk apa juga memikirkan Evan. Fokus Zia."


Sehingga kali ini Zia masuk menyapa dan menatap seorang klien yang baru saja datang. Kala Zia mempersiapkan proyektor. Berdiri di samping Evan. Ia segera menatap seorang pria yang sangat ia kenal. Ia datang bersama pak Frans rekan bisnis pak Evan yang telah terjalin lama.


Meeting kali ini berjalan sangat Alot. Ketika pak Frans kembali meminta Eros untuk menerangkan satu langkah lagi. Hal itu juga membuat Zia terdiam, menatap sambil mencatat akan profesionalnya saat bekerja.


¤ Situs ini menghadirkan intro video yang menarik untuk menambah sentuhan segar di situs dengan konsep keseluruhan yang mengagumkan.


Namun sayangnya, situs ini belum user friendly sehingga agak lama dalam membuka satu halaman ke halaman lainnya. Pengelolaan tata letak menu situs pun juga harus lebih diperbaiki lagi agar pembaca tidak bingung. Tapi secara keseluruhan konsepnya saya suka, video intronya bagus. ¤


"Cuma mungkin kedepannya pak Evan bisa memperbaiki beberapa kekurangan seperti menu situs dan user friendly agar situs ini menjadi lebih baik. Semoga masukan saya ini dapat di pertimbangkan!" jelas Eros.


"Saya senang bertemu anda di rapat kali ini bu Halwa Tusabina!" senyum Eros.


Zia merasa sesak, ia membalas senyum dan ikut menjabat. Setelah itu ia pamit lebih dulu pada Evan yang masih melanjutkan pembicaraan perkembangan mekanisme selanjutnya.


JAM MAKAN SIANG.


"Lo kenapa Zia?" tanya Dewi yang saat ini menghampiri Zia. Sekedar makan siang dekat kantor.


"Nanti malam gue harus ketemu Eros, tadi pertemuan meeting penting. Kali ini Eros panggil gue nama asli di depan klien dan staff lain. Dan lo tau kan, bakal apa yang terjadi besok?"


"Aach Gila! udah sering banget lo jadi bahan gosip. Kalau keterlaluan biar gue maju ya! Gue gak tahan sama semua mulut yang bisanya sibuk mikirin hidup orang lain."


"Dew, lo mau urusin gimana. Lo aja bukan bagian kantor yang sama. Gue pasti baik baik aja kok! gimana soal online langit indah?" elak Zia.


"Semuanya baik, lagian rumahnya gak jauh dari kantor. Lo beneran itu sewa cuma delapan juta pertahun, mirip apartemen mewah. Belum lagi kawasan elit yang tepat buat usaha. Besok kita udah mulai kerja lagi kaya awal."

__ADS_1


Zia menatap gambar kontrakan yang diberikan Dewi, meski berlebihan. Ia mengkesampingkan untuk bertanya pada Evan saat ini.


"Besok gue anter lo ke nyokap ya!" pinta Dewi pada Zia untuk mengunjungi ibunya.


"Gue jujur rindu. Tapi liat besok ya Dew, thanks banget loh!"


Hingga dimana empat karyawan yang ikut makan siang di sebelah kantor menyentil Zia saat ini. Tepat duduk di sebelah Zia bersama Dewi.


"Eheeum! kayaknya bakal trending nih. Kemarin topik hangat, sekarang bakal trending lagi. Pantes banget karier dia ini cepat berkembang ya. Selingannya para cowo tajir bo. Hahaaa." tawa Sean.


Dewi yang tau jika wanita sebelahnya membicarakan Zia. Ingin sekali berdiri mematahkan lidah mereka. Tapi Zia menarik dan menggeleng untuk tidak memperkeruh.


"Dew, udah ya! Gue juga mau cabut, kita ketemu lagi. Lagian udah biasa kak Sean seperti itu."


"Sean, sahabat Zalwa kakak lo?" bisik Dewi. Sehingga Zia senyum mengangguk.


Andai saja bukan area kantor Zia bekerja, mungkin Dewi akan mencakar wajah wanita yang sudah nyinyir saat ini pada sahabatnya itu.


MENJELANG MALAM.


Zia kembali mengambil sebuah map yang tertinggal di kamar tamu rumah Evan. Hingga dimana ia akan kembali membereskan barang sisa di kontrakan lamanya.


"Tante Zia!" teriak Eca.


"Heiy! kenapa kamu sudah malam belum tidur?"


"Dady pulang, tapi pergi lagi. Aku menunggunya! Bisakan tante temenin aku dikamar sampai Dady kembali. Paman Randi dan Tante gak ada dirumah. Bibi ijin pulang kampung!"


Mendengar hal itu, membuat Zia tidak mungkin menginap di rumah Evan. Tapi mengingat sudah pukul sebelas malam. Tidak mungkin meninggalkan Eca berusia enam tahun itu sendirian di rumah sementara satpam berjaga di luar.


"Heumph! Gimana ya?" lirih Zia.


Tlith! Nada pesan, membuat Zia terhenti dan menatap layar ponselnya.


To Be Continue!!

__ADS_1


__ADS_2