Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
MALAM BURUK


__ADS_3

Zia telah tampil cantik dengan gaun berwarna merah hati. Lalu dengan tampilan rambut yang di cepol rapih, membuat dada indah dan bahunya yang mulus terlihat jelas. Ukuran kerah yang berbentuk V membuat Zia terlihat anggun.


Meski warna maron itu terlihat tidak nyentrik, tapi sedikit gaun itu mempunyai warna double navy doop. Mirip terlihat couple dengan jas yang di kenakan Evan. Itu terlihat jelas, kala Zia menatap Evan meminta dirinya berdiri di sampingnya.


"Lihat apa, ayo kemari!"


Tanpa berkata, Zia mengedipkan mata. Membuang nafas dan berdiri sejajar seolah di samping Evan. Evan menyentuh tangan Zia, di lilitkan ke arah tangan kanannya. Sehingga membuat Zia menatap penuh dengan kebingungan.


"Zia, profesional. Kita pertemuan bisnis dengan sedikit pesta, fokus matamu ke depan. Jangan tebar pesona!" bisik Evan.


"Astaga Pria ini, siapa yang tebar pesona. Bukankah dia yang mengagetkan bersikap tadi." cibir Zia.


Sementara Randi, ia terkejut kala jasnya mirip dengan pelayan bar room pesta klien besar. Acara di mana beberapa bos besar berkumpul dan pertemuan di mana Zia dan Satu Klien yang telah janji temu di ruang private. Zia merasa terbujur kaku, kala tampilannya seolah benar saja membuat dirinya menggoda. Hingga di mana Zia tetap rileks dan fokus. Kala ia melihat saat menuruni anak tangga.


Ya, Eros dan Emir sedang memegang gelas cangkir ramping menatapnya tanpa berkedip. Hingga ia masih fokus tak mengenali dan melewati keberadaan Eros dan Emir yang berdiri di sisi meja panjang.


"Lo liatin pelayan ya, apa wanita mirip bini lo?"


"Diem, semakin gue penasaran. Gue tau Halwa di rumah, tapi yang jadi masalahnya kenapa cewe itu mirip Halwa. Meski gue tau, Halwa ga mungkin mewarnai rambutnya seperti bule jagung."


"Hahaha, ngaco lo. Cewe cantik rambut indah kaya gitu, di bilang rambut jagung. Udahlah, kita fokus. Tuh liat, pak Frans sama bule beneran datang. Cantik banget sekertarisnya ya?" ungkap Emir.


DI LAIN TEMPAT.


Zia selama beberapa jam, ia mencoba menyapa dan membuat persentasi dengan natural. Frans bos asing terkaya begitu menyukai kinerja Zia dan Randi. Hal itu di akui menyapa Evan rekan bisnisnya. Hingga mereka kembali bergabung dengan sebuah acara pesta, yang mungkin ini cukup asing untuk Zia.


"Zia, abaikan sikap kakak gue tadi ya! Mau gue temenin dansa gak?" ungkap Randi.


"Gue, jujur pertama kali. Gue ga tau kalau modelnya bakal semeriah dan taburan minuman botol itu, jelas banget ini asing buat gue."

__ADS_1


"Minuman yang mana, lo udah pernah nyoba?"


"Belum, dan gue gak minat. Jujur gue pernah liat beberapa di meja pak Evan, model Billionaire Vodka, Macallan 64, Tequilea Ley." jelas Zia.


"Tapi ada di ruangan ballroom nanti, lo jangan kaget. Pak bos, alias kakak gue. Saat udah jelas pak Frans dari Amerika itu deal tadi, lo bakal tercengang dengan satu minuman yang jarang lo temuin dimeja kerjanya."


"Apa, emang ada lagi?"


"Russo Baltique Vodka. Lo bakal tercengang, bahkan lo jangan sampe numpahin ataupun pecah. Hancur, harganya udah kaya beli rumah di luar negri. Lo ga bakal sanggup buat gantinya Zia." senyum Randi.


"Udah lah, gue gak peduli apa itu. Gue pengen cepat sampe kamar. Acara ini berakhir, ga sabar gue pengen cepet pulang. Kasian Dewi, online shop gue pasti lagi sibuk di handle ma dia. Bye the way, gue makasih ya soal orderan meledak itu?"


"Oke, is oke. No problem, tapi kayaknya kala lo mau liat terbitnya Fajar nanti pagi gimana? Yah, Sebelum pulang, kita lihat bareng. Anggap aja Zia, tanda terimakasih!"


Zia terdiam, hingga di mana ia mencoba menerima ajakan Randi. Dan sampai berjumpa nanti esok sebelum pagi datang.


"Oke, janji ya! Gue bakal hubungi lo nanti, gue kesana dulu. Si Evan udah melototin gue nih. Satu lagi, malam ini lo cantik Zia."


Hingga tak sadar, Zia kembali mundur melangkah. Lalu dengan tatapan tak biasa. Menatap pria dengan jas berwarna hitam doop yang ikut hadir. Lalu dengan berdebar Zia mencoba rileks, karna ia cukup tau siapa di hadapannya itu.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Zia.


Eros hanya menatap memandang Zia dengan rasa tak percaya. Hingga dimana Emir kembali menjawab karna Eros terdiam saja.


"Mohon maaf, apa mbak sekertaris pak Evan. Kenalkan kami dari perusahaan ini, bisa kami bertemu secara pribadi dengan pak Evan?" tanya Emir dengan memberikan kartu nama.


"Oke, saya akan coba membalasnya dengan email, lalu saya akan segera kabarkan segera nanti. Nama kalian siapa ya?" sedikit lama menjawab.


"Saya Emir, dan teman saya ini namanya Eros."

__ADS_1


"Oke saya Zia, sampai jumpa double E." senyum Zia mencoba tetap angkuh pada tatapan Eros melambai tangan berusaha sok akrab.


"Ohoo, double E. Ya cukup bagus, ia kan Ros, " sentuh Emir pada pundaknya.


Sehingga Zia pamit, kala Randi datang dan menatap mereka dengan penuh tatapan tajam.


Dari sudut tak jauh.


"Kalau begitu permisi, saya tidak bisa lama. Masih banyak pertemuan. Bos saya sudah mengeluarkan cakar ekornya." senyum Zia.


"Hahaa, ya baik. Baik bu Siapa ya tadi, Aah bu Zia kalau ga salah .. pandai juga dia bercanda. Ya kan Eros?" menepuk menyadarkan Eros yang masih terdiam menatap Zia.


***


Sementara Zia ia kembali, pergi menuju ruangan private. Di mana Randi tak terlihat, kala ia di minta untuk pergi ke ruangan di mana pak Evan menunggunya. Randi terlihat mengantar klien pak Frans yang akan kembali, Zia pun menurut dan berpisah kala di lift, karna Randi bicara akan menyusul karna akan bertemu satu klien lagi.


Jujur Zia sangat asing kala masuk ke lantai lift paling atas. Terlihat room dengan banyak pintu, yang hanya bisa di akses pertemuan penting dengan dua atau tiga klien. Mengingat jam, Zia sadar jika ini telah habis jam kerjanya dan telah amat larut, lalu kenapa pak Evan datang kemari.


Zia hanya menatap pesan Randi, kala ruangan itu berada tepat di lantai enam puluh sembilan. Namun seorang pelayan, meminta Zia naik di lantai tujuh puluh dua, dan di antar dengan sangat ramah. Dengan secara kebetulan, ponsel Zia lowbat dan hanya bisa menghela nafas, tak bisa menghubungi kembali Randi.


"Kenapa pak Evan pindah ruangan?"


"Saya tidak tau, silahkan saya hanya bisa mengantar sampai sini. Bu Zia silahkan masuk, jika ada apa apa. Pencet tombol akses kami ya!" ucap pelayan.


Zia masuk tanpa rasa kepanikan apapun, hingga di mana ia menatap sebuah ruangan dengan pintu terbuka lebar. Ia melihat pak Evan sedang duduk terkapar dengan sebuah botol terbalik begitu saja.


"Astaga, bapak gak apa apakan? Pak evan, lihat saya! Bapak ada apa, apa bapak sakit?"


Dengan tiba tiba, mata Evan terbuka merah menyala dan membalikan tubuh Zia diatas sofa dengan menindihnya.

__ADS_1


"Astaga, pak Evan sadar, jangan lakukan seperti ini. Aaaachh!!!" teriak Zia mencoba menghempas.


Hayoo!! Tebak tebak teka teki, ada apa dengan Zia nih guys. Ada yang tau .. ? Jejaknya boleh.


__ADS_2