Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
PERLU SANDARAN


__ADS_3

Dewi meletakkan teh hangat di dalam cangkir, lalu dengan banyak pertanyaan, ia semakin terkejut akan kakak kandung Zia, memang dasarnya wanita yang datang hanya mengenakan kerudung untuk menutupi setengah rambutnya. Mirip style ketika ingin melayat, namun tudung abu abu itu terlihat sempurna dengan warna kulit, dan kacamatanya.


'Astaga, Dewi Dewi. Kenapa jadi salfok sama style wanita mirip Zia sih, ya jelas dia itu memang kembarannya. Hanya saja rambut berwarna hitam kecoklatan warna umum rakyat jelata.' deru Dewi ikut duduk, setelah meletakkan nampan berisi kue.


"Kak Halwa, ini adalah Dewi. Teman study Zia, Dew kenalin juga dia kaka gue, ka Halwa lebih baik makan dulu ya! Udah saatnya makan siang juga?"


Tak lama mereka berkenalan, lalu makan siang bersama. Dewi sangat antusias melihat Zia yang saat ini kedatangan kakak kembarnya. Hingga di mana ia menerima panggilan dan pamit pada Zia dan Halwa.


"Zia, Ibu kita sangat rindu sama kamu. Blog online dari teman kakak, yaitu Sean. Kamu masih kenal kan? Dia yang cari info kamu beberapa waktu, syukurlah kakak bisa menemukan kamu. Tempat kita ga jauh loh ternyata."


"Ya kak, kita bisa berkabar. Kaka bisa chat melalui pos, Zia akan membalasnya di tempat kita dulu. Akan Zia tandai abjad Z dengan simbol merah. Jadi kakak udah tau, siapa pengirimnya. Kaka juga bisa buang dan robek setelah membaca. Dengan begitu semuanya akan baik baik saja kan?!"


"Baiklah, kamu kerja di mana saat ini?"


"Aku kerja di perusahaan X bagian denah kadang juga mirip kacung yang mengantar bos meeting di suatu tempat." sebalnya mengingat Evan.


"Asisten. Kamu nih Zia. Katakan sama kakak, raut wajah kamu ada yang gak beres. Cerita sama kakak, ada apa?!"


Zia menatap Halwa yang masih saja membaca dirinya sedang kesal, masalah secuil pun memang kembaran akan seperti itu. Namun Zia tetap saja menyembuyikan masalahnya dari sang kakak bahkan sang ibu.


"Kakak, kemari Eros ga curiga. Jangan sering temui Zia di rumah ini. Lagi pula Zia akan pindah, ke tempat yanga agak luas. Karna rumah sewaan ini jujur sebentar lagi akan habis, tidak bisa di perpanjang." alibi Zia.


"Zia, kakak merasa bersalah. Kamu bisa semandiri ini. Tanpa memikirkan Ibu, mana mungkin ibu tidak pernah menangis meski sebatas rindu padamu Zia."


Zia paham, hingga di mana terlihat ketukan pintu. Yakni Randi yang datang tiba saja, membawa sekotak makanan dan terlihat jelas plastik merah medis.


"Zia, gimana keadaan lo?" terdiam.


Halwa terdiam, ia langsung berdiri mengikuti sang adik. Di mana Pria itu juga ikut bingung menelan saliva, karna ia tidak pernah menyangka akan melihat dua Zia tanpa sedikit perbedaan. Bagus saja rambut Zia sedikit pirang kuning, sehingga ia bisa mengenali di mana Zia yang ia kenal.


"Randi, lo ga kerja?"


"Gue, panik pas di kantor bilang, lo ijin sakit. Gimanapun lo gak pernah dadakan kaya gini kan?"

__ADS_1


"Lebay loh." menepuk bahu Randi.


Eheuuum!!Eheuuum. Halwa menyadarkan.


"Eeh, Randi. Gue lupa kenalin, dia kaka gue. Halwa."


"RANDI."


"HALWA."


"Udah berjabat tangannya,?" kesal Zia.


"Hehee, jangan marah dong. Gue terpesona mirip banget sama lo." celetug Randi.


"Ya jelas satu rahim, sering main bareng." ungkap Zia membuat Halwa tertawa.


"Terus apa yang sakit, gue bantu dokter datangin cek lo ya Zia?"


"Apaan sih, gue gak kenapa kenapa."


Halwa yang melihat Ekpresi sang adik merasa terkejut, ia yakin Zia menyembunyikan sesuatu. Sehingga ia juga ingin mengungkapkan pertanyaan dan permintaan yang mungkin bagi Zia akan sakit hati.


"Zia, kakak akan pulang. Tapi bisa kita bicara berdua?" pinta Halwa yang menghampiri sang adik dengan tas genggamnya.


"Randi, gue cabut dulu ya. Gak apa apakan?"


"Is oke, buat wanita yang gue suka. Ga masalah nunggu seabad juga Zia." senyumnya menepuk rambut yang tak klimis.


Serah Lo deh! ungkap Zia, lalu membawa sang kakak ke kamar lantai atas.


DI KAMAR.


Zia menggambar lukisan kerinduan dirinya pada ibu dan Ayah. Meski begitu, dalam lubuk hati Zia hanya sang ibu yang ia rindukan. Entah mengapa setelah melihat kenyataan Pria lebih mudah menyakiti wanita. Ia semakin takut berkomitmen, dan hal itu juga membuat ia berjanji pada sang kakak.

__ADS_1


"Ini bisa kakak berikan pada ibu, mengobati kerinduan. Tapi jangan bilang kalau aku di kota ini! Apa yang kakak mau bicarakan pada Zia?"


"Dek, aku harap kamu tidak sakit hati. Tapi kakak hanya ingin mengatakan yang sebenarnya. Jangan lagi muncul di depan Eros, dan jika itu terjadi. Kakak harap kita tak pernah seakrab kita biasanya!"


"Maksud kakak?" terkejut Zia akan lontaran Halwa.


"Kaka terlanjur takut kehilangan Eros, dia pria baik. Apapun yang terjadi, kakak tidak ingin mengalami nasib seperti Ibu, sama perlakuan Ayah kita yang menduakan ibu. Karna .. "


"Karna kakak pikir, aku adik kakak bisa jadi yang kedua bagi Eros, dan aku mau menerimanya?" emosi Zia.


"Bukan begitu dek, maaf jika membuat kamu marah. Jangan salah sangka, kita itu .."


"Bahkan kakak tidak percaya dengan apa yang aku lakukan, oke. Aku ga akan meributkan masalah ini lagi. Apapun yang kakak inginkan, aku akan selalu membuat Eros mencintai satu wanita. Yaitu Zalwa Tusabina yang kini dan selamanya menjadi Halwa Tusabina binti Husein." lantang Zia yang membuang muka dengan sakit menyedihkan.


Halwa yang merasa sang adik emosi, ia berdiri dan mengambil tasnya. Lalu pamit dengan menghapus kesedihan. Mungkin ini adalah awal yang sakit bagi dua wanita yang telah mencintai selama dekade, dan satu wanita lagi yang telah resmi selama beberapa dekade, namun mereka tetaplah salah.


Halwa berlari dengan sebuah taksi online pergi begitu saja, kala taksi itu telah menunggu Halwa di depan gerbang. Lantas Randi dan Dewi yang sedang mempacking. Membuat kebingungan karna tamu itu terlihat histeris dan pergi begitu saja.


"Ada apa tuh Dew?"


"Auuw. Mana gue tau, kalau soal privasi. Gue juga takut sama Zia, kecuali kalau Zia yang mulai cerita." bubuh Dewi pada Randi.


Randi segera berlalu masuk ke kamar Zia, ia menaiki tangga dan terdengar suara tangisan yang membuat Randi Khawatir.


PRANG!! PECAHAN BENDA TERDENGAR JELAS.


"Zia, Lo jangan kaya gini. Buka pintunya, kalau enggak gue dobrak. Zia denger kata gue, lo kalau ada masalah bilang sama gue. Gue akan selalu ada buat lo, meski lo gak membalas. Tapi gue bisa jadi sandaran di saat lo butuhin! Zia buka pintunya!!" teriaknya.


Zia menghapus kesedihan, lalu membuka pintu itu dan menatap Randi yang ikut panik. Sementara Zia merasakan tangisan dan sembab yang memerah. Membuat hidung mata dan pernapasan semakin memuncak dan redup saat melihat.


"Peluk gue, nangis sekencang mau lo. Lo ga perlu bicara apapun. Kalau lo kesel, lo bisa tampar dan pukul gue. Kalau Lo rindu ibu, lo bisa peluk gue!"


Huhuuuu!! Tangisan itu membuat Zia memukul pundak Randi yang menahan. Lalu terlihat jelas, kala Dewi melihat Zia hancur berakhir memeluk Randi dan terjatuh, tapi Randi menahannya.

__ADS_1


"Apa gue terlihat wanita perebut kebahagiaan orang Randi?" pertanyaan Zia membuat Randi terdiam. Begitupun Dewi dengan sebuah kertas orderan, tak mampu melihat Zia serapuh itu.


DUH KETEMU KEMBARAN BUKAN HAPPY, MALAH SAD, BE CONTINUE!!


__ADS_2