Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
RUMAH MERTUA


__ADS_3

Halwa yang sedang menyiapkan makan malam dengan ibunya di kediaman mertua. Ia cukup senang kala pembicaraan dua keluarga itu benar benar asik. Meski begitu, Ayah Husein dan Ayah sutejo atau di kenal keluarga Bahrein sulit untuk berkumpul.


"Yah beginilah jeng, kala suami selalu sibuk kejar cari uang. Kita sudah masa lanjut usia, hanya bisa apa. Contohnya nih, pak Tejo, selalu aja pulang berbulan bulan. Hingga akhirnya kami memutuskan bercerai namun tetap utuh untuk anak kami." ungkap mama Rita.


Halwa hanya terdiam, masih membantu memotong sepotong sayuran kecil untuk makan malam bersama mas Eros. Sang mama mertua memang selalu asik ngobrol bersama sang ibu. Penampakan makan malam tanpa kepala keluarga sudah biasa baginya. Ia sudah tak asing, mungkin karna mas Eros lah suasana wanita yang berkumpul saat ini, sangat hidup dan mewarnai untuk menggantikan.


"Jeng, pak Husein masih ga pulang juga, padahal kita mengharapkan pak Husein dan pak Tejo bisa kumpul makan malam. Apalagi berita Halwa menantuku sedang hamil. Aah, senangnya."


"Ia, pak Husein sedang menjalani bisnis baru." ungkap ibu Anieh.


"Tapi bae bae, kalau udah punya madu lagi. Buat apa bertahan, mending mengalah. Sibuk suami kalau sudah begitu lupa diri. Pilihannya adalah bertahan atau rela di madu. Kalau saya Woohohoh, jelas sama pak Tejo berpisah baik baik. Merawat Eros dengan banyak lika liku yang wah banget, sulit membaginya. Kita harus kuat jeng." jelas Rita ibu mertua Halwa.


Halwa yang meletakkan lauk, merasa terenyuh. Kala ia memikirkan jika mas Eros suatu saat bertemu adiknya. Apa yang harus ia lakukan kelak.


'Dek, jika keadaan kembali seperti awal. Apa yang harus kakak lakukan, apa kakak harus merelakan mas Eros kembali padamu. Atau memilih seperti Ama, rela di madu tapi dengan wanita itu adalah kamu dek.' batinnya memegang hati ketakutan yang mungkin sakit.


KLAKSON MOBIL MENYILAUKAN AREA HALAMAN.


Halwa menghampiri mas Eros, mencium tangan dan mencoba tersenyum guna menyapa layaknya sang istri.


"Mas, pasti lelah. Aku bawain ya!" senyum tak lupa Eros mencium kening Halwa.


Mama Rita dan Ibu Anieh tersenyum, mereka berbisik kala anak dan menantunya membuat sikap bucin kala mereka muda dulu.


"Semoga anak kita bahagia langgeng terus ya jeng," ucap Rita.


"Ya jeng, kita mendukung anak anak yang terbaik."


Ibu Anieh merasa bersalah, bahkan pada besannya ia masih belum bisa jujur. Kala dirinya bukan memiliki satu anak saja. Yang menjadi menantunya adalah Halwa palsu, bahkan ketika kelak semua terungkap dan Halwa asli meninggalkan karna mahar untuk hutang Husein, begitu memalukan. Bagaimana bisa seorang besan menyembunyikan semua hal besar ini. Bahkan Halwa merasa takut jika Eros akan seperti ayahnya kelak jika ia menikah lebih dulu dari kakaknya Zalwa. Zalwa yang kini menjadi istri Eros menantu baiknya.


"Jeng, Ayo kok bengong sih!" senggol Mama Rita pada besannya itu.

__ADS_1


Halwa dan Eros menyapa dan mencuci tangan. lalu berkumpul makan malam. Eros sangat bahagia, ia merasa keluarganya di penuhi bidadari orang tersayang yang penuh berarti.


"Lain kali Mama dan Ibu ga perlu repot masak, kita bisa pesan online. Jangan seperti ini, Eros merasa ga enak. Kenapa mama ga pake jasa pembantu masak sih Mah. Kan Eros udah bilang, buat bantu mama. Mama dan Ibu ga perlu capek capek?!" ungkap Eros tak ingin melihat sang mama lelah.


"Eros, jangan mubajir. Mending kamu harus banyak menabung untuk calon cucu Mama nanti. Masa udah mau jadi Oma, harus merepotkan kamu."


"Bukan begitu, Mama dan semua di sini udah tanggung jawab Eros. Eros mau Mama, Halwa dan Ibu senang senang aja menikmati hidup. Biar Eros yang selaku kepala tanggung jawab di sini memikirkan hal lain."


"Ya udah, kita makan yuks. Mas, aku sendokin segini dulu ya!" memotong pembicaraan.


Ibu dan mama mertua tau, jika Halwa tak suka melihat Eros terus saja berdebat di meja makan. Maka dari itu, ia merasa tak bersalah akan suasana makan malam yang tak asing.


Hingga tak terasa, mereka bersama kembali berbincang setelah makan. Namun tak terasa, Halwa pamit untuk ke kamar menemani mas Eros yang akan membersihkan diri. Hal itu pun di dukung sang mama mertua, karna ia tak sendiri ada besannya yang masih setia berbincang bincang di ruang tamu.


DI KAMAR.


"Mas, kamu sedang apa. Kok senyum senyum sendiri?" tanya Halwa yang menaruh air minuman dan herbal sebelum tidur untuk sang suami.


"Sini sayang, duduk di samping mas!" menepuk kasur.


"Mas, itu kamu sadap akun Emir, kok bisa?" tanya Halwa.


"Mas hanya ingin menertawakan cara Emir, sudah sampai mana ia mengejar wanita sayang. Lihat saja percakapannya, mas akan sabotase. Tapi kamu jangan cemburu, ini pyur mengerjai. Sama hal kaya kamu dulu kan?" goda Eros.


Hingga di mana senyum Halwa meredup akan perkataan suaminya. Ia sungguh bingung, karna dirinya tak pernah sama sekali mempunyai akun sosmed atau memainkan sebuah situs seperti itu. Namun yang di katakan adalah tentang suaminya dan adiknya, seharusnya dirinya tak tersinggung.


"Heiy, sayang. Kamu kenapa, jangan nangis! Mas ga bermaksud melukai hatimu. Oke mas ga akan ikut campur situs milik Emir lagi ya?"


Eros tau, pernah melihat buku soal kehamilan. Jika saat ibu hamil pada masa awal. Ia akan mudah sensitif, maka dari itu ia menghentikan dan memeluk sang istri. Dan akan lebih hati hati pada istrinya dengan sikapnya itu.


***

__ADS_1


BERBEDA HAL DENGAN ZIA.


Zia merasa kerepotan, kala ia menatap Randi. Ia sebal saat berada di sebuah mall, ia memanggilnya Halwa Tusabina.


"Wa, sini dong. Jangan jauh jauh!"


Zia tetap tak mendengar, ia juga sebal karna sudah semalam ini. Pak Evan memintanya memesan butik untuk acara gathering acara kantor dalam waktu dekat.


Masih menggenggam hanger dan beberapa model, ia tetap acuh pada Randi. Hal itu membuat Randi memegang tangan Zia.


"Oke, Zia. Gue bakal panggil nama kesukaan lo. Tapi jelasin, kenapa dan bisa gak. Lo ga usah menghindar, gue peduli sama lo. Terima ya!" jelas Randi.


Saat Zia kesal ingin menjawab, tatapan sorot tajam membuat Zia dan Randi terdiam peluh.


EHEUUUM.


"Randi, jika tak ada hal lain. Pergilah ke ruang gudang, saya sudah memerintahkan orang mengurus acara. Pergilah agar mereka tidak melakukan kesalahan!"


Zia menunduk, ia tau sikap atasannya ini bagai pisau. Bahkan sekelas Randi adik dari pak Evan saja takut. Randi pun begegas pergi meninggalkan Zia, bahkan Zia sebenarnya terbebas dari pertanyaan Randi. Tapi berada di samping bos arogan dan pemaksa. Membuat ia kesal semalam ini harus datang ke butik dekat mall.


"Pak, menurut saya bahan ini lebih baik dari yang .." terdiam kala penjelasan di potong.


"Ya, terserahlah. Lagi pula pilihanmu tak pernah mengecewakan, jangan dekati Randi. Ingat itu!"


Zia terdiam pucat pasi, jelas jelas bukan dirinya yang mendekati Randi. Bahkan jika sekelas bos yang bilang percaya pada pilihan kostum. Mengapa tidak melalui chat lain saja. Untuk apa sudah datang jauh jauh, harus di abaikan seperti ini.


"Gila, sungguh gue punya bos gila." teriak Zia meremas sebuah kemeja yang tegantung dalam hanger. Melihat sang bos pergi begitu saja tanpa terima kasih.


Zia menoleh, kala ia ingin mencari manager butik langganan perusahaan mereka. Namun ia cukup terkejut, kala melihat seseorang yang tak asing.


***

__ADS_1


HELLO AUTHOR MENYAPA, JANGAN LUPA BUAT MASUKIN "SM" HALWA DAN ZALWA DI RAK FAVORITE KALIAN YA!! JANGAN LUPA BUAT DUKUNG TERUS.


-- HAPPY READING ALL --


__ADS_2