
Dewi kala itu terkejut, saat melihat stok barang busana yang akan di kirim. Namun terlihat semua telah rapih berjejer yang mungkin oleh Zia. Tapi ada yang aneh, kala gulungan tisue dan beberapa helai berserakan di lantai.
"Astaga Zia, lo ngapain di bawah meja?"
Istighfar Dewi kala menatap wajah Zia yang merah dan kantung mata yang sangat hitam. Ia mengambil minum dan memberikan pada Zia.
"Lo semalam ga tidur, packing 1500 pcs semua ini sambil nangis?"
"Sorry!" masih mode termehek mehek Zia menangis.
"Lo kenapa lagi, berantem lagi sama bos gila lo?"
"Heuuuumph! Gitu lah, gue mengundurkan diri."
"Apaaa .., tapi kenapa? Anak bocil itu buat ulah lagi?" tanya Dewi tapi Zia terdiam.
Zia menyingsringkan hidungnya yang masih meler. Dengan suara serak banyak menangis, ia tak bisa menjawab pertanyaan Dewi. Hanya mengangguk dan menggeleng untuk kode jawaban.
TOOK!!TOOK!!
"Eeh siapa tuh, biar gue liat. Zia kamu liat print yang masuk ya! aku lupa hari ini pesanan stok busana offline. Biar gue antar ke alamat ini."
"Gue aja, biar gue siap siap dulu!" dengan suara serak.
"Zia, lo belum tidur. Gue aja, ga usah kemana mana. Yang ada bikin gue stres kalau sampe lo kenapa kenapa nanti."
"Gue butuh refreshing Dew, gue capek dengan semuanya. Evan si bos gila itu bener bener bikin gue gila."
Mendengar ocehan Zia, lagi lagi Dewi terkejut. Hingga dimana ia akan mencari tau, apa yang akan ia lakukan pada Zia.
"Ya udah, kita cabut sekarang ya, tapi ganti baju dan berhias dulu. Kalau perlu plaster itu di bawah mata item item."
"Napa sih, emang serem ya?" lemot Zia menatap Dewi yang syok.
Sementara terlihat sebuah surat, Zia pun mau tidak mau ia harus kembali membukanya. Ia lihat sampul putih itu, benar saja terlihat surat dari Halwa.
"Siapa, kakak Lo ya?"
__ADS_1
Kali ini ia menggeleng, dan meminta Dewi diam. Saat ini hanya seutas rindu, Zia perlahan membaca dengan serius. Lalu kembali menangis haru, hal itu membuat Dewi yang mengikat busana langsung mendekat pada Zia.
"Udah, peluk gue. Kangen Ya?"
Zia memeluk Dewi, setelah membaca surat dan ia masih jelas tau, betapa rindu dirinya bersama ibu. Hingga kini, ia belum juga muncul di depan sang ibu.
Zia, ada Randi di belakang Lo!!
Zia menghapus kesedihan, masih dengan tampilan kucel ia bicara, ingin mandi dan bersiap lebih dulu. Meninggalkan Dewi dan Randi saat ini di ruangan olshop mereka.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN.
"Zia ada masalah apa Rand?" meletakkan kopi hangat.
"Kayaknya soal kakak gue, gue kesini mau minta maaf atas perlakuan kakak gue sama keponakan gue. Pelik juga, gue juga ga bisa berbuat apa apa. Jujur gue belum nyampe ke tahap punya anak dan pernikahan gagal." jelasnya.
"Maksud Lo?"
"Evan dan Wita hampir menikah, udah bertunangan. Dan semenjak kakak gue mencintai satu wanita, dan anak itu adalah Ecarlos. Dia frustasi, ingin sekali mencari ibu kandung asli Eca. Wita sahabat dari kekasih ka Evan, namanya Selena tapi dia meninggal pas lahir Eca katanya, semenjak itu ka Evan jauh lebih buruk dan otoriter dengan masalah kecil."
"Tunggu, trus hubungannya apa sama Zia Evan. Lo bisa gak bikin gue ngerti?" ketus Dewi.
"Hahaa, stupid boy. Gila, gue ga bisa bayangin hati Zia remuk. Dan lo tau, keponakan Lo itu super banyak biang keributankan?"
Randi tersenyum, menepuk Dewi. Jika ia sudah tau, dan selalu percaya pada Zia. Hanya saja, ia bingung untuk membuat Eca lebih sopan dan tidak nakal.
"Keponakan lo, kurang perhatian. Kayaknya ada yang salah sama didikan. Ya udahlah, lo mending bantu gue jaga Zia. Antar pesanan 500 pcs ini ke alamat ini, bisa kan?!"
"Sure, with pleasure." senyum Randi dengan senang hati.
Zia telah rapih, kini ia memakai jaket dan celana jeans super ketat, dengan sedikit robekan di bagaian atas lutut. Hingga dimana Randi meraih kunci mobil, dan mengangkat barang pesanan Zia.
"Lo mau ngapain?" tanya Zia memegang tangan Randi. Hingga Randi tersipu sipu, senyum karna Zia memegang tangannya.
"Mau anter Ratulah, bidadari di depan gue, ga boleh gue lewatkan. Apalagi biarin sendiri pergi."
"Ga usah, gue sama Dew.."
__ADS_1
"Aduh, Zia. Lo tau kan, hari ini jadwal pulang les anak gue. Sory! gue lupa. Randi, tolong antar Zia sampai selamat di rumah Ya. Bye, miss U beb. Gue handle yang lain, lo kan perlu refreshing." senyum Dewi melambai pamit.
Astaga, makin geer aja Randi. Gue cuma takut Randi bakal sedih, karna sampai saat ini gue ga bisa jatuh cinta. Dan itu, gue batasin untuk gak pernah terjadi.
Alhasil, Zia mengekor kemana Randi lebih dulu membuka pintu mobilnya. Hingga dimana mereka berjalan selama kurang lebih setengah jam. Randi memarkir mobilnya, selama itu pula Zia lebih dulu keluar memastikan alamat tujuannya.
"Lo cek dulu deh, Gue nyusul sambil nurunin paket empat kotak ini!"
"Thanks Ya." senyum Zia.
Zia kembali menanyakan pada security, hingga ia berhasil diantar sampai lantai tujuh belas. Dimana ia mengantar sebuah pesanan, dan tiba ia menatap seseorang yang tidak asing baginya.
"Heeeh, Lo di sini. Ngapain wanita murahan?"
"Gue ga ada urusan sama Lo, dan gue ga ada hubungannya sama Evan. Dan gue juga udah mengundurkan diri. Jadi minggir dari lift, gue mau masuk!"
"Ciieh, dasar cewe murahan. Beraninya lo deketin Eca anak kesayangan itu, gue habisin Lo!"
"Wita, apa artinya Lo wanita yang selalu paling terakhir, di anggap ga penting dan selalu ketinggalan jaman. Smart people Girls, Lo dan Gue beda. Gue ga niat buat jadi istri pengusaha kaya dan sombong model Evan!"
"Sial, lo berani sama gue ..." PlAK!!
"Jangan bernai sentuh, atau tampar wanita gue!" ungkap Randi menahan tangan Wita.
"Haah, ada lagi. Jadi lo gak niat buat deketin Evan, lo deketin Adik tiri yang asal usulnya gajelas kaya gini. Hahaaa, kasian nasib Lo bakal mengenaskan kalau satu keluarga sama Gue!" senyum picik menepuk tangan dan bajunya seolah jijik.
"Zia, tutup kuping kamu. Ga usah ladenin wanita sihir yang bentar lagi di cabut nyawa!" ungkap Randi memegang tangan Zia, mendorong bahu Wita dan saling menatap. Hingga pintu lift tertutup, ketika mereka telah di dalam.
Zia merasa kesal, ia semakin emosi kala menemukan wanita yang picik menuduhnya. Tapi belum sebanding, kala mengingat pernyataan Halwa sang kakak yang memintanya menjauh dari Eros.
"Lo gak apa apa kan?" senyum Randi. Zia senyum membalas dan mengangguk.
TLIING!! PINTU LIFT TERBUKA.
Zia terkejut, kala dua orang pria menatap dan ingin masuk ke lift. Sementara mereka akan keluar, dan masuk ke lantai tujuh belas.
HAYOO!! SIAPA DIA YA?
__ADS_1
Be Continue!