
"Udah sadar Zia?" tanya Dewi.
"Dew, gue dimana?"
"Rumah sakit lah, gak liat ni model hordeng belang belang. Kaya hati Lo yang selalu redup terang, banyak abu abunya." ketus Dewi.
"Gitu banget sih," gerutu.
"Lo tau gak sih Zia, gue dukung lo nolak Evan. Dan lo tau gak, gue dapat info apa?"
"Soal apa?"
"Ternyata Evan teman baik Zalwa, satu Les gitu, dan Eros itu yang disukai kakak lo juga kan?"
Zia yang membenarkan postur tubuh, ia segera meraih pegangan. Di bantu Dewi untuk menopang bantal dalam punggung. Sehingga terlihat sulit bagi Zia mendengar apa yang Dewi katakan.
Dewi memberikan sebuah Diary. Sehingga dalam beberapa saat Zia sesak dan memegang dadanya. Terasa nyeri untuk Zia ingat, ia pikir nama itu hanya samaran. Dan ternyata Evan adalah pria yang pernah membully, mempermalukan. Merendahkan bahkan jijik padanya saat itu. Membuat gosip beberapa sekolah jika ia adalah gadis buruk rupa.
"Ini pasti gak mungkin deh, kenapa bisa dia orang yang sama. Gaya mereka aja berbeda, gue enggak yakin dia Evan yang sama waktu itu." elak Zia.
"Lo perhatiin baik baik. Dia keluarga Sanders Albino. Nih alamat rumahnya yang dulu, masih sama dan serta taman bangku yang pernah lo liat, saat Zalwa duduk sama Evan. Liat kan, bener kan?" ketus Dewi.
Zia menanyakan dari mana Dewi mendapatkan info semua ini. Tapi Dewi sedikit gugup dan mengelak, ia tak mungkin memberitau siapa yang telah memberitaunya saat ini. Yang jelas Zia harus tau, semua agar Zia tidak pernah terlena dengan pria seperti Evan yang pernah menyakiti Zia saat masih berseragam biru.
"Dahlah, gue gak mau mikirin ini dulu. Thanks buat semuanya Dew." senyum Zia.
"Ia lain kali jangan cari penyakit, bagus gue lewat gedung kantor. Dan gak sengaja juga ketemu Evan dari arah pintu atap, awalnya gue gak mau tau. Tapi ternyata lo malah hujan hujanan, gue aja berteduh lo malah nyari penyakit." jelas Dewi.
Zia kembali membuka satu persatu lembar diary. Ia bodoh, kenapa baru sadar jika ia keluarga Sanders Albino.
Nama keluarga Albino yang dulu ia benci dan kini ia harus terperangkap satu malam dan ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Hal itu membuat tatapan Dewi yang kembali setelah memotong buah untuk Zia.
__ADS_1
"Zia, lo gak apa apakan. Gue panggil dokter ya, keringet dingin lo kenapa Zia?" panik Dewi.
"Gu- gue gak apa apa. Gue mau sendiri dulu Dew, gue. Gue .. huhuu."
"Cerita sama gue! Lo udah seberapa jauh sama Evan Sanders?" ketus Dewi memegang bahu Zia.
"Gue gak pernah tau, kalau dia Evan keluarga Albino yang buat gue keluar dari sekolah. Dan buat gue harus pergi jauh, buat operasi wajah sempurna. Ini kesalahan bagi gue. Aaaaarghh." teriak Zia.
"Tenangin diri lo Zia!"
Dewi yang panik, ia cukup terkejut. Harusnya ia tidak memberi tau semuanya yang ia dapat. Di saat Zia terbaring lemah. Hal itu juga membuat Dewi menghubungi Randi untuk menjelaskan.
"Ya, ada apa kak Dew?" tanya Randi.
"Secepatnya lo kemari! gue butuh bantuan lo sekarang juga. Zia di rumah sakit kasih cinta!"
Hal itu juga membuat Randi, segera bergegas menuju rumah sakit. Meski kala itu, ia sakit saat menyetir di dalam mobil. Randi sedikit ragu, apakah Evan ada di rumah sakit. Jelas saat itu Randi tau jika Zia akan menikah dengan abangnya itu.
'Pria brengsek itu. Kenapa terus saja menjajahku, untuk apa juga aku kerumah sakit menjenguk Zia. Zia tak pernah menghargai perasaanku.' ungkap Randi.
BERBEDA HAL DENGAN ZALWA.
"Kamu yakin nak, kita seharusnya bertemu orangtua Eros dulu nak! Eros berhak tau jika kamu hamil. Kamu tidak boleh bercerai seperti ini. Sangat sulit ketika kamu kelak menghadapi semuanya sendiri!" ucap ibu.
"Lalu, apa ibu tidak cukup sulit. Menerima madu Ayah hingga kini. Ibu selalu sendiri dan bersusah payah merawat Zalwa dan Halwa. Ayah senang senang disana bu! tapi apa, apa kita masih di sebut keluarga harmonis. Setelah Halwa pergi dari rumah ini, tanda tanda kehidupan sudah tidak ada artinya kan?" kesal Zalwa. Yang memang masa kehamilan Trimester membuat Zalwa mood an.
"Nak, jangan katakan itu lagi!" sedih ibu.
"Cukup Zalwa! kamu tidak tau apa apa tentang masa kedua orangtua mu. Halwa pergi dari rumah ini, karna ayah membencinya. Apa kamu tau masalahnya?" tegap Ayah ketika sampai rumah dengan tas jinjing hitam.
Zalwa yang ikut terkejut dari balik pintu, ia harus meredam dan menunduk ketika ayah Husein datang. Sehingga tepat menghampiri Zalwa dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Tidak. Maafkan Zalwa Ayah. Ibu yakin, masa mood naik turun Zalwa karna pengaruh cabang bayi. Dia tidak bermaksud menyinggung. Salah ibu, semua ini karna ibu yang memulai. Jangan salahkan Zalwa!" memohon menghadang berada ditengah tengah. Antara ayah dan anak yang bersitegang.
Zalwa pun kembali pergi, ia masuk kekamar dengan sebuah tangisan. Mengunci pintu selama berjam jam, tapi ada yang aneh kala ia melihat sebuah pesan dari Dewi. Ia menghapus tangisan, kala dari arah luar sudah tak ada kegaduhan ibu dan ayahnya yang selalu cekcok. Tak pernah Zalwa alami ketenangan ketika ayah pulang, semua berubah dari keluarga harmonis dan hangat menjadi kelam.
Zalwa segera bersiap, ia lalu membawa beberapa baju. Untuk ia siapkan menjenguk Halwa yang berada di rumah sakit.
"Dew, titip Zia. Aku harus pergi ke suatu tempat!" balas pesan Zalwa pada Dewi.
Zia di rumah sakit masih menangis, ia meringkuk posisi menyamping dengan perasaan tak karuan.
Hingga dimana ia merasa sakit dan keram. Kala dokter datang mengatakan jika dirinya sedang hamil enam minggu. Hal itu membuat Zia frustasi.
'Bagaimana bisa, aku hamil pria yang belum aku cintai. Bodohnya aku, kenapa aku terbuai, pria itu. Si brengsek itu ternyata Evan Albino yang telah mencampakan aku. Meludahiku sebelum aku operasi wajah. Karna dia hidup masa depanku gagal, dan aku harus pergi jauh. Kenapa bisa aku kembali padanya.' sakit Zia merasakan di dadanya nyeri yang amat menusuk.
Zia ingat, kala wajahnya belum ia rubah mirip seperti Zalwa. Kembar identik dengan kelainan wajah hitam di sebelah kiri, membuat Zia di bully oleh teman sang kakak. Bahkan satu sekolah membuat ia selalu di pojok jika ia gadis buruk rupa seperti manusia setengah nenek moyang alias Pithecanthropus yang gagal, ia hidup dijaman modern.
"Hei gadis Pithecanthropus!" ejak Evan Albino. Ia adalah keluarga Albino yang di segani. Sehingga membuat Zia merasa malu untuk bersosialisasi.
Hanya nama Eros yang ia ingat, teman pria yang selalu bersama, ia salah satu teman Evan. Yang bersikap baik padanya.
Memperhatikan dan menjauh diam diam mendekati hanya untuk berteman dan membaca buku di rumah pohon. Hal itu juga membuat Zia tidak lupa sosok Eros. Karna beberapa bulan kejadian, sosok Eros pindah ke jerman, dan ia mengatakan bisa kembali bersekolah tanpa gangguan Evan.
"Gak mungkin, kenapa harus pria itu. Zalwa pasti sudah tau, kenapa dia tega melakukan semua ini sama aku." batin Zia, yang ia ingat sosok Evan adalah teman Zalwa saat kecil.
Took! Took!
Ketukan suara pintu masuk. Membuat Zia menoleh dan menatap siapa yang datang.
To Be Continue!!
Jangan lupa vote! dukung karya Story Halwa dan Zalwa ya.
__ADS_1
Jangan lupa baca dari awal, karna beberapa hari Author buat alur yang berbeda tentang mereka.
~ Happy Reading All ~