Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
JUJUR SAMA GUE


__ADS_3

Zia, kembali dengan tatapan gugup. Namun Randi yang memegang tangan Zia, seolah menenangkan. Akhirnya ia segera keluar tanpa memperhatikan pria di belakangnya yang juga melihatnya sangat dalam. Terlihat seorang teman menepuk pundak Eros, untuk fokus.


"Bleeh, ayo kita harus cepat ini. Dia cuma mirip, bukan istri lo Halwa!"


Emir, ya! Zia tau, nama itu adalah Emir. Sementara Randi sedikit menoleh ke dalam Lift. Dan mengabaikannya lagi, setelah pintu tertutup. Zia masih berjalan dan melepas eratan tangan Randi. Sehingga kala itu, suasana kembali hening.


"Zia, gue rapihin semuanya di sini! Lo cepat ketuk pintunya!"


"Thanks ya Rand." senyum sempit Zia.


Hingga beberapa jam, mereka telah kembali ke loby parkiran. Zia ingin sekali pergi mencari taksi, tapi Randi menahan dan meminta Zia masuk ke dalam mobil.


"Jujur sama gue, tadi gue sempet denger pria sebelahnya itu panggil Halwa. Apa dia Halwa Lo?"


"Heuumph, lo pasti salah denger Rand, udah yuks. Cepet kita jalan!"


Randi dengan wajah kecewa, ia segera menyalakan mesin. Dan berlalu melewati keberadaaan Eros dan Emir yang terlihat keluar dari mobil parkiran, mengendarai sangat kencang.


"Rand, hati hati!" ungkap Zia terkejut.


"Kita ke pantai ya! Gue pengen lo happy saat ini!" bubuh Randi menatap Zia dan kembali fokus menyetir. Sementara Zia reflek mengiyakan.


Berbeda dengan Emir dan Eros, yang tadi kaget akan mobil yang melintas. Meski Eros melihat tatapan lurus wanita mirip istrinya. Ia masih berfikir baik tentang Halwa istrinya yang kini sedang mengandung bayinya.


"Ya elah, baru belajar nyetir. Apa dia lagi putus cinta. Ngebut di lahan sempit pengap?" beber Emir yang syok, kala mobil jeep melintas hampir mengenai baju lengannya.


"Udah yuk balik lagi! Gue masih penasaran. Kenapa Halwa selalu diam, pas gue tanya buku pink. Sama foto mereka kembar,"


"Trus bini Lo bilang apa?" kepo Emir.


"Adiknya! tapi udah lama pergi dan gue kaget, kala ayah mertua gue bilang. Udah meninggal."

__ADS_1


"Wah, jangan jangan hidup terlahir kembali. Udahlah, kita cepet masuk!"


"Heeuuh!! Nyesel gue cerita sama lo Emir." ungkap Eros dengan sebuah gulungan kertas di tangannya. Ia semakin penasaran, dengan keluarga sang istri.


DI PANTAI.


Zia, kini tersenyum melihat pantai yang amat indah. Ia berdiri di ujung tempat duduk kayu, lalu bersandar pada tangan kayu di sampingnya. Randi ikut menemani dan mencelupkan kedua kaki mereka setengah kaki. Randi sangat menyukai wajah Zia yang selalu tersenyum. Hingga dimana ia memberanikan bertanya.


"Pria itu mantan Lo ya?"


"Heuumph, yang mana Rand?"


"Ga usah menyembunyikan lagi, gue sempet denger soal Halwa waktu malam itu. Pria itu Eros yang lo maksud kan?"


Zia senyum mengangguk, menetes air mata begitu saja, hal yang membuat ia sakit adalah dirinya begitu tak suka kala mengingat perkataan Halwa yang meragukan dirinya akan merebut Eros kembali. Zia pun menceritakan segalanya pada Randi. Sehingga ia cukup tertawa menyembunyikan hatinya yang amat sakit saat ini.


"Hahaa, udahlah. Gak usah di pikirin, abaikan aja saat ini gue cerita Rand!" senyum Zia.


"Gue ngerti kenapa lo kaya gini, dan soal sikap Evan dan Eca keponakan gue. Gue bisa pastiin mereka ga akan ganggu Lo lagi."


"Tapi gue gak termasuk Zia, gue benar benar suka dan terima lo apa adanya. Gimana kalau kita pendekatan?"


"Maksud Lo, lo kan tau gue gak mau pacaran. Rand. Please don't expect full of me! Gue pasti bakal buat lo kecewa!" Zia meminta Randi untuk tidak berharap lebih padanya dengan tatapan emosi.


Zia sorry! Gue ga bermaksud memaksa Lo, tapi gue cuma buat penawaran. Kita pacaran bohongan, disaat Lo butuh gue buat acara gathering!


'Gathering. Why?'


Randi pun memberikan satu undangan, acara klien besar pak Frans dan Evan di gedung mewah. Acara tahunan kantor yang selalu di adakan, Zia tak bisa tidak hadir, karna ia belum resmi keluar dari kantor.


"Maksud Lo?"

__ADS_1


"Lo belum di pecat, gue berikan jaminan kalau lo bisa kerja di rumah saat ini, sambil bisnis online Lo itu berjalan. Dengan begitu Lo ga perlu hadir sama Evan, ada gue. Gue bakal lindungi Lo!"


Zia senyum tak percaya, berkali kali Zia mengatakan hal sakit untuk Randi. Tapi benar saja Randi masih bersikap baik padanya. Namun pikiran untuk tidak goyah dan takut jatuh cinta. Membuat hal tersambung di otaknya. Jika semua pria akan manis di awal, di akhir ia pasti akan kembali menyakiti hati wanita.


"Thank You. Randi gue harap Lo bakal nemuin wanita yang sayang sama Lo!"


"Dan gue pastiin itu adalah Lo Zia!" batin Randi membalas.


BERBEDA HAL DI KEDIAMAN HALWA.


"Ibu, tapi Halwa harus berterus terang. Rasanya Halwa capek buat ungkapin kala saat ini, kehidupan ini adalah Zalwa Tusabina. Apa ibu ga capek buat nutupin semuanya terus menerus, dan Ayah kenapa bilang kalau Halwa udah meninggal di depan Eros?"


"Jangan bodoh Zalwa! Keluarga Eros orang terpandang. Dia bukan cuma bakal memperkarain, tapi pernikahan kamu pasti bakal hancur begitu saja. Apa kamu mau keluarga ini berantakan, Zia lebih baik tidak menginjak rumah ini lagi!" ungkap Ayah Husein. Sementara Ibu Anih hanya sesak, meratapi kerinduan mendalam pada putri bungsunya. Dan hal itu terlihat oleh Zalwa.


"Apa ayah takut, kalau kenyataan besan Ayah menukar pengantin wanita. Pernikahan karna Mahar Eros untuk menebus hutang Ayah kala bersama madu Ayah. Dan semua karna Ayah, Halwa asli pergi dari ..?"


"Plaak! Cukup Halwa!" menatap tajam.


Sementara sang ibu yang sadar, anaknya akan ditampar. Ia lebih maju dan mengenai pipi diwajah sang ibu yang tertampar. Sementara Zalwa memeluk sang ibu untuk saling melindungi.


Ayah Husein pergi, membawa tasnya dan pergi begitu saja setelah meraih ponsel. Ia sebagai Ayah memang telah gagal, tapi ia juga punya maksud tersendiri untuk melukai hati istri pertama dan kedua anaknya. Mungkin hanya istrinya saja yang menginginkan semua ini cepat berakhir. Tapi jauh dalam lubuknya, ia menyesal karna membuat Zia putri bungsunya trauma dan melakukan janji semua sampai akhir. 'Kalian wanita hanya menyalahkan saja.' batin Husein tersulut emosi dan pergi.


"Bu, Halwa sedang Hamil. Apa ibu tidak ingin tinggal bersama Halwa dan Eros. Bukankah ibu tidak kesepian sendiri?"


"Ya nak, ibu ingin tanya. Bagaimana kondisi Zia, apa dia mau menemui ibu. Surat yang kamu kirim dengan tulisan ibu, apa Zia adikmu membalas?"


Halwa terdiam, ia sudah beberapa hari tak melihat surat balasan di tempat yang pernah mereka janjikan, tapi mengingat perkataan Halwa mungkin Zia masih marah akan ucapannya untuk tidak muncul di depan Eros.


"Wa, bagaimana kondisi adikmu Zia?" Ibu menatap dengan sedikit terbatuk.


"Bu, Zia baik baik saja. Tapi kondisi ibu, kita ke dokter Ya. Halwa bakal hubungi mas Eros untuk jemput kita di sini."

__ADS_1


TAP .. TAP!! LANGKAH SESEORANG MEMBUAT HALWA DAN SANG IBU TERDIAM.


To Be Continue!


__ADS_2